produk gagal

produk gagal
Jalan-Jalan


__ADS_3

“Kupu-kupu...?” tanya Luc tak mengerti. Dia bukannya tak mengerti, namun hanya ragu. “Kupu-kupu pelindung?!” tebak Robin bernada takjub. Bukannya mengangguk atau mengiyakan, Carine malah berbalik pergi. “Tapi sebelum dimusnahkan dari dunia ini, aku juga seorang manusia!” ucapnya tak lama.


“Nona!” panggil Luc. “Kalau kalian ingin jalan-jalan keluar, ikut aku. Jika tidak, kalian bisa kembali ke kamar masing-masing” jawab Carine, tanpa berhenti melangkah. Seketika, baik Robin, Luc maupun Marc, tampak sedikit bergegas mengejar ketertinggalan mereka dengan langkah Carine.


Rupanya, cara keluar dari kastil tua itu sangat mudah. Mereka hanya tinggal melewati sebuah pintu kayu yang memang, tertutup oleh beberapa ranting pohon. Mungkin, karena saking lamanya tempat tersebut tak dihuni.


Mungkin, Gray memang jarang sekali pergi ke tempat itu. Wajar saja, karena Gray telah memiliki banyak sekali tempat tinggal. Bisa dibilang, Gray adalah konglomerat yang terselubung. Dia telah mengumpulkan hartanya dari semenjak dirinya hidup sebagai seorang raja.


Diakui oleh Carine sendiri, Gray merupakan seorang pebisnis yang handal. Itu sebabnya, di dunia manusia biasa ini, Gray telah memiliki berbagai macam bisnis. Dan semuanya, tak ada yang gagal!


‘Dia benar-benar tak pernah merasakan miskin sedetikpun!’ adalah jargon untuk Gray bagi Raven. Tentu, karena Raven telah menjadi pelayan untuk Gray hampir berabad-abad saking lamanya. Justru, Carine yang hanya tahu secuil tentang kehidupan Gray.


Bahkan, ketika Gray ditugaskan menjadi seorang Pemburu Kematian pun, Carine sama sekali tidak tahu menahu sebab akibatnya. “Dia benar-benar misterius. Atau memang... dia pelit berbagi, ya? Dia itu kan, selalu menutup diri dariku dulu” gumam Carine, ketika melangkah dengan santainya melewati garasi mobil milik Gray.


Garasi itu, berada di sebelah kastil Gray. Benar-benar tempat yang terpisah. Karena, koleksi mobil Gray sangatlah tak manusiawi. Carine pernah sekali masuk ke dalam garasi tersebut. Koleksi mobil Gray berderet-deret, layaknya donat di toko roti.


“Dia sangat sempurna, bukan? Tapi ya gitu, menyebalkan dan enggak punya peri kemanusiaan!” ceplos Carine. “Ya?” tanya Robin, Marc dan Luc bersamaan. Mereka pikir, Carine sedang memulai pembicaraan dengan salah satu dari mereka. Carine yang menyadari hal itu, segera menggeleng pelan.

__ADS_1


Malu sekali.


Carine membawa ketiga pria tersebut ke pusat kota. Mereka benar-benar menggila, ketika melihat peradaban yang begitu mirip dengan dunia mereka. Tentu, hal ini membuat orang-orang menatap mereka aneh, karena begitu antusiasnya.


“Tak heran, Reine sering bilang kalau, toko ini ada di dekat sini. Toko ini juga sama persis dengan di sana. Toko ini juga. Dan yang ini juga. Ternyata, dia benar!” kata Robin tak berhenti takjub. “Memang. Dunia ini kan... contoh dari dunia para iblis. Kalian tahu, kenapa?” ujar Carine tiba-tiba memberi pertanyaan. Sontak, mereka bertiga tampak menoleh ke arah Carine. Dengan serempaknya.


“Karena orang-orang yang ada di dunia baru, benar-benar merindukan dunia ini. Sebab itulah, mereka menjadikan dunia baru, persis seperti dunia manusia. Kalian juga pasti tahu, satu diantara banyak sekali manusia di dunia ini, pasti memiliki hubungan erat dengan para penduduk di dunia baru” jelas Carine sembari melanjutkan jalannya. “Entah itu, hubungan darah. Hubungan cinta ataupun keluarga” lanjutnya. Marc, Robin dan Luc tampak mengikuti langkahnya dari belakang.


Ketika mereka tiba di sebuah gedung pencakar langit, langkah mereka mendadak terhenti. Robin dengan takjub, mendongak ke atas. Di ujung bangunan pencakar langit tersebut, terdapat sebuah papan besar. Papan tersebut, biasa digunakan untuk pemasangan iklan.


Dan kali ini, papan tersebut telah terpasang sebuah iklan yang amat sangat menarik. Seekor paus besar, tampak muncul saat iklan ditayangkan. Paus tersebut, berenang seakan keluar dari papan iklan. Melihatnya saja, membuat Marc, Robin dan Luc terpesona.


“Itu... bukan paus sesungguhnya yang ditempatkan dalam akuarium besar, bukan?” ucap Marc. Perkataannya, membuat Robin, Luc dan Carine tertawa. “Tentu saja, bukan!” amuk Luc kesal. “Tuan Deval, kau benar-benar seperti orang katrok. Kau ini, bukan berasal dari klan yang rendah, bukan?” ejek Robin. “Dasar...” gerutu Marc kesal.


Meski marah, Marc memang tak bisa memukul atau berteriak seperti Luc. Dia mungkin hanya sedikit menggerutu atau mengucap kalimat pedas. Meski begitu, responnya tak jarang membuat orang yang mengejeknya jadi makin kesal.


Melihat mereka bertiga mengobrol dengan akrabnya, Carine tersenyum senang. Dari belakang, Carine terus mengawasi langkah mereka. Sama seperti kala itu. Hanya saja, mereka sudah tak berempat lagi.

__ADS_1


“Wah, mereka benar-benar sudah dewasa ya...” ucap Carine pelan. Dalam hati, dia sangat bahagia, bisa melihat ketiga anak itu tumbuh dengan baik, meski harus kehilangan satu orang. “Kalau saja, kami bisa menyelamatkan Max...” sesal Carine. Dia terdengar menghela nafas panjang.


“Nona!” panggil Robin. Carine segera menatap ke arahnya. “Hmm?” jawab Carine. “Kenapa jalannya pelan sekali? Kami sudah lapar sekali...” keluh Luc. Namun, pemandangan itu bukanlah berada di masa sekarang. Pemandangan itu, berasal dari memori dalam masa lalu Carine.


Ketika mereka bertiga masih anak-anak. Tiga anak yang ceria dan suka sekali jalan-jalan. Walaupun, tidak membeli apapun. Mereka hanya senang, bisa berjalan-jalan hanya untuk sekedar melepas banyak pikiran sulit.


“Nona? Anda... baik-baik saja?” tanya Luc dengan suara yang berubah. Pemandangan itu, kini kembali ke tempat semula. Tiga anak laki-laki yang dulu masih bocah, kembali menjadi tiga laki-laki yang telah tumbuh menjadi dewasa. Mungkin, Carine hanya merindukan saat-saat itu. Karenanya, otak Carine mendadak bernostalgia.


Robin dan Marc menatapnya dengan tatapan cemas. Tak lama, Carine tersenyum senang. “Tentu. Ayo, kita lanjutkan jalannya” ucapnya menenangkan.


Ketika Carine melangkahkah salah satu kakinya, perasaan akan bahaya mendadak muncul. Tanpa membuang waktu, Carine segera menarik mundur Robin, Luc dan Marc secara bersamaan. Dan benar saja, jika mereka bertiga masih berada di tempat itu, mereka akan terkena sebuah papan iklan yang terjatuh.


Orang-orang disekitar mereka tampak berteriak ketakutan. Banyak dari mereka, segera berlarian. Semuanya panik. Bahkan, Marc, Robin dan juga Luc pun, tak mengerti dengan situasi tersebut. Mereka tampak celingukan, mencari asal masalah.


Dari tempatnya berdiri, Carine sudah bisa mendeteksi asal serangan tersebut. Namun, keselamatan Marc, Robin dan Luc lebih penting. Dengan langkah cepat, Carine segera menyebutkan sebuah mantra khususnya.


“Scudo blu!”

__ADS_1


Seketika, sebuah perisai melingkar, melindungi Marc, Robin dan Luc di tempat mereka. “Jangan pernah melangkah keluar dari sana. Jika kalian melangkah keluar, perisai itu akan memakan kalian hidup-hidup. Mengerti?!” perintah Carine. Marc, Robin dan juga Luc, terlihat mengangguk bersamaan. Meski bingung, mereka tetap patuh pada perintah dari Carine.


Dalam situasi apapun, mau monster seganas apapun yang muncul, Carine sudah siap. Dia tampak menggerakkan tangan kanannya sedikit ke belakang. Dengan ajaib, sebuah tongkat muncul di tangannya.


__ADS_2