produk gagal

produk gagal
Kembali Ke Tempat yang Sama


__ADS_3

Reine buru-buru bangun dari ranjang ruang kesehatan, usai tersadar. Dia tidak mengerti, mengapa dirinya bisa tertidur di tempat itu. Bahkan, tak ada orang yang memberitahukan apa yang telah terjadi pada dirinya.


Ketika sudah berada di luar ruang kesehatan, Reine dikejutkan oleh kemunculan seseorang. Orang itu, bukannya menunggu di dalam, malah terlihat sedang menunggu di luar ruangan sembari bersandar di salah satu dinding. Mengetahui keberadaan orang tersebut, Reine mendadak marah.


“Maximilien?! Apa lagi yang sudah kau perbuat hingga aku harus berada di sini dua kali?” ujar Reine agak setengah berseru. Namun, bukan Max jika dia tidak tersenyum khas dan berusaha menggoda Reine. “Aku serius” kata Reine, usai memutar bola matanya.


Max tampak berdiri tegak, setelah agak lama bersandar. “Padahal, kau tahu betul siapa yang membuatmu seperti ini. Cinta memang merubah segalanya. Yah...” keluh Max malah membuat Reine makin bingung. “Bisa kan, kau jelaskan secara detail? Aku hanya ingin tahu, kenapa aku berakhir di sini? Padahal, tadi aku sedang berada di ruangan Robin!” kata Reine sedang berusaha mengurutkan berbagai hal yang dilakukannya.


Max malah menghela nafas, ketika mulut Reine sudah tak lagi berteriak-teriak. “Kau sudah tahu, apa yang telah terjadi. Kenapa harus ku jelaskan dua kali? Lagi pula, bukan itu hal yang penting. Kau bilang, kau lebih tertarik dengan sesuatu yang ku temukan tentang Lady Dia?” ujar Max mengalihkan.


“Halah, apaan? Katakan saja, ini hanya tipuanmu. Kemarin, kau juga mengatakannya, tapi ujung-ujungnya, kau tidak memberitahuku dan mengalihkan ke topik lain!”


“Kali ini, sungguh... aku akan memberi tahukannya padamu”


“Sudah kedaluwarsa. Aku tidak tertarik lagi dengan itu”


“Baiklah, kalau begitu, aku pergi sendiri. Lagi pula, kemarin bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu. Sekarang, ku pikir sudah waktunya. Tapi karena kau menolak, baiklah tidak masalah”


Usai mengatakan hal tersebut, Max tampak berbalik. Dia hendak melangkah pergi ke suatu tempat. “Maximilien... wah, kau benar-benar cerdas kalau disuruh tarik ulur. Benar-benar...” tanggap Reine bernada keluhan. Akan tetapi, Max seolah tak peduli dan tetap terus melangkah. Bahkan kini, jarak mereka sudah agak sedikit jauh.


Akhirnya, mau tidak mau, Reine melangkah di belakang Max. Dia mengikuti Max tanpa mengatakan sepatah kata pun. “Robin... berusaha untuk mengambil permata peraknya. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan itu, benar atau salah. Yang pasti... aku merasa sedikit... kecewa” ungkapnya setelah diam agak lama.

__ADS_1


“Aku tahu. Sebab itu, aku masih terus mencari tahu tentang hal yang terjadi kali ini” tanggap Max, tanpa menatap ke arah Reine. Dia terus melangkah, dengan satu tangannya berada di dalam saku celana. Dia bagai, pria acuh yang sombong sedang berjalan di tengah kota.


Reine terdiam kembali, mencoba untuk memikirkan beberapa kemungkinan. “Apakah itu wajar, bagi seorang iblis pengisap darah seperti kalian? Sebagai contohnya, manusia memiliki hasrat yang kuat, ketika berhadapan dengan uang, tahta dan wanita. Apakah iblis... juga memiliki hasrat, ketika mereka berhadapan dengan hal yang mereka inginkan? Seperti, permata perak?” tanyanya. “Kadang. Tapi, kalau Robin... kemungkinannya kecil. Karena dia, bukan berasal dari iblis pengisap darah murni” jawab Max.


“Dia... bukan?”


“Dia keturunan darah campuran”


“Aku seperti, pernah mendengar hal ini sebelumnya”


“Benarkah? Mungkin, kau tak sengaja dengar”


“Tak sengaja mendengar, ya? Tapi perkataan itu... seperti nyata dan tak lama ku dengar” ujar Reine. Max berhenti berjalan. Dia berbalik ke arah Reine yang sedang melangkah pelan.


Kepala Reine tertabrak dada Max yang tiba-tiba berhenti. “Aduh. Kenapa kau... berhenti, sih?” protes Reine kesal. Dia menatap ke arah Max yang berada sangat dekat dengannya. Wajah Max tepat, berada di depan wajahnya.


“Tapi, jangan bandingkan hasratku saat mengisap darahmu waktu itu, dengan hasrat milik Robin yang berusaha untuk mengambil permata perakmu. Kedua hal itu, sangat berbeda” ujar Max mendadak membahas kenangan buruk yang menimpa Reine. Hingga wanita tersebut, harus berakhir tinggal di hotel Underwall. “Kenapa tiba-tiba membahas yang itu? Tentu saja, beda. Kau sengaja menghisap darahku, hanya untuk kepentinganmu. Bukan untuk keselamatanku, seperti yang dilakukan Robin! Dasar! Kalau saja aku tahu dari awal, kau itu playboy, aku enggak akan pernah sudi memberikan darahku padamu. Huh!” dengus Reine.


Setelah mengatakan itu, Reine buru-buru melangkah mendahului Max. Saat ini, dia sedang dalam mood yang sangat buruk. Dan meski begitu, Max hanya tertawa menanggapi balasan Reine. Dia juga segera melangkah, menjajari Reine.


“Kau mau kemana?” tanya Max, ketika mereka harusnya berbelok ke kanan. “Bodoh amat!” dengus Reine masih kesal. “Ke arah sini, lho” kata Max memberi tahu. Namun, Reine tetap berada ke arah jalan yang salah.

__ADS_1


Max menghela nafas panjang. Dia memaklumi sikap Reine, karena kesalahan yang dia perbuat. Meski tindakannya waktu itu, ada sebuah alasan yang kuat dan penting. Max, tetap tidak akan mengungkapnya.


Sampai nanti, hari itu tiba. Ketika semuanya telah terungkap. Maka di hari itulah, Reine harus mengetahui alasan, mengapa Max menghisap darahnya kala itu. Dan mungkin, Reine akan memahami tindakannya.


Reine di bawa oleh Max kembali ke perpustakaan rahasia di Underwall. Tempat yang sudah pernah Reine kunjungi sebelumnya. Tempat yang menyimpan banyak sekali jawaban, atas berbagai pertanyaan di kepala Reine.


“Waktu itu, kau membawaku kemari. Dan setelah itu, aku mendapat peringatan. Marc, tidak memperbolehkanku pergi ke sini lagi. Dan sekarang, kau membawaku kemari. Entah, apa yang akan terjadi padaku kalau Marc mengetahui hal ini” ucap Reine agak berat. Dia malas harus berurusan dengan amarah Marc, kalau ketahuan melanggar aturannya. Namun, Max kelihatan tenang.


Sembari membuka pintu perpustakaan, Max tampak menatap intens kedua mata Reine. “Tenang saja, Honey. Aku yang akan bertanggung jawab sampai akhir. Kali ini, aku akan bersamamu dari awal hingga selesai. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, seperti yang sudah terjadi” ucapnya berjanji. Reine terdiam, usai mendengar perkataan Max.


Deg!


Meski dengan nada agak manja seperti biasa, Max terlihat berbeda. Perkataan itu, membuat Reine merasakan hal yang lebih dalam. Di sisi lain hatinya, dia merasa sedih, kecewa dan terenyuh sejenak.


Seperti, ada tabrakan keras di dalam jantungnya. Max seakan, mengatakan hal itu untuk orang lain. Tapi, sorot matanya tulus memandang ke arahnya. Max, mengatakan hal ini padanya, bukan orang lain. Ya. Reine berusaha meyakinkan diri.


“Kenapa kau diam saja di sana? Kalau kau tidak cepat masuk, Luc akan menemukanmu dan melapor pada Marc. Dia sangat gesit sekali hari ini. Kau akan terkena hukuman nanti” ujar Max menyadarkan Reine. “Oh! Ya, aku datang!” jawab Reine sembari buru-buru masuk ke dalam perpustakaan. Ketika Reine masuk, pintu terlihat langsung menutup.


Pintu itu, dikelilingi oleh beberapa lapisan bening transparan. Dan akibat dari adanya lapisan itu, rahasia yang akan di bahas oleh Max maupun Reine di dalam, tidak akan pernah terdengar keluar. Walau, pintu perpustakaan dibuka sekalipun, keberadaan mereka tidak akan terdeteksi.


Itulah kekuatan khusus yang dimiliki oleh Maximilien.

__ADS_1


__ADS_2