
Balai Pengobatan Desa Kuno, sang Kepala Desa berhenti di depan sebuah pintu kayu. “Tuan Berger, ada di sini. Saya akan tunjukkan kamarnya” ucap Kepala Desa. Marc tampak membalas dengan anggukan, bak seorang Raja yang tegas dan bijak.
Dilihat dari cara kedua orang itu berbicara, sepertinya baik Kepala Desa, maupun Marc mereka telah sama-sama mengenal. Bahkan, keduanya layaknya seorang teman yang meski berbicara formal, sorot mata keduanya tetap terlihat hangat. Kepala Desa juga sangat menghormati Marc. Wajar saja, sebab klan Deval merupakan pimpinan tertinggi dalam dunia para iblis. Mereka adalah klan terkuat dan selalu memenangkan peperangan.
Reine adalah orang yang masuk paling terakhir dalam Balai Pengobatan tersebut. Di setiap langkahnya, dia selalu berhati-hati. Berada di luar Underwall, apalagi di tengah desa terpencil yang di kelilingi oleh hutan, Reine memang harus mempersiapkan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Kepala Desa menunjukkan kepada Marc, Robin serta Reine sebuah ruangan. Ketika pintu dibuka oleh Kepala Desa, sebuah ranjang kayu berada di sana. Namun sayangnya, tak ada pasien yang menghuni ranjang tersebut.
Kepala Desa dibuat kaget. Tak hanya Kepala Desa saja, tapi mereka bertiga juga. “Tidak lagi...” keluh Kepala Desa bernada susah. “Oh, tidak. Dia mungkin berada di sekitar sini. Aku akan segera menemukannya. Kau dan Reine, sebaiknya tunggu di sini” ucap Robin. “Sudah berapa kali aku memerintahkan seseorang untuk menjaganya. Asisten! Asisten Tabib! Kalian ada di mana?” seru Kepala Desa sembari melangkah ke arah pintu masuk dengan satu tangannya memegangi kepala. Dia terlihat pening, usai melihat kejadian ini.
“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Marc bingung. “Tuan Berger, dia selalu menolak untuk di rawat. Karena itu, dia selalu melarikan diri saat ada kesempatan untuk melakukannya” jelas Robin. “Dia pasti ada di sekitar sini, bukan? Aku akan mencarinya juga. Sebaiknya, kita berpencar. Rein, kamu tetaplah berada di sini” perintah Marc. Robin tampak mengangguk menyetujui.
“Aku akan pergi untuk mencarinya juga” tanggap Reine, yang kemudian terlihat melangkah keluar dari Balai Pengobatan. Meski Marc berulang kali mencegah kepergiannya, Reine tetap keluar tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia tak melawan.
Reine tak bersungguh-sungguh melakukan pencarian. Dia hanya berjalan ringan kesana-kemari, tanpa niat yang jelas. Malah, dia terlihat seperti seorang turis yang sedang berjalan-jalan.
Mengenai hal itu, tentu bukanlah hal yang mengejutkan. Ayahnya telah meninggalkan Reine sejak lama. Dan ketika berita itu muncul, ayahnya sudah terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang Balai Pengobatan.
“Lucu, bukan? Kenapa aku harus repot-repot pergi kemari, hanya untuk melihat seseorang yang sudah tidak mau lagi untuk melihatku? Buat apa?” kata Reine agak kesal. Tak lama kemudian, seseorang tampak berjalan menjajarinya. “Kamu boleh saja tidak menengoknya. Tapi, akan lebih baik jika kamu melihatnya, bukan? Kita memang tidak bisa mengetahui umur seseorang. Sebelum semuanya menjadi terlambat, bukankah lebih baik untuk menemuinya sekarang?” tanggap Robin mencoba menengahi.
Sejak tadi, Reine tahu bila Robin berjalan tak jauh di dekatnya. Namun, karena Robin masih merasa bersalah, dia memutuskan untuk diam dan mengawasi Reine dari jauh. Dia takut, Reine akan bertambah kesal dengannya. Belum lagi, masalah dengan Adrien.
“Bahkan sampai di titik terendahnya, pria itu tetap tidak mau bertemu denganku. Buktinya, dia kabur. Benar, bukan?”
__ADS_1
“Rein, aku tahu perasaanmu. Seseorang memberi tahuku tentang masa lalumu. Aku tidak berusaha untuk ikut campur atau apa. Tapi... menurutku, inilah saat yang tepat untuk membalaskan dendam”
“Membalaskan dendam? Maksudmu, aku harus pergi dari sini dan tidak jadi menjenguknya?”
“Bukan, bukan itu. Kalau kamu malah berniat seperti itu, bukan balas dendam namanya. Tindakan yang kamu pikirkan, malah akan membuat ayahmu senang. Bukannya merasa terbalaskan, atas segala perbuatannya”
“Kau berlagak seperti sudah merencanakan sesuatu. Kalau rencanamu buruk, aku tidak akan memaafkanmu selamanya”
Mendengar ancaman dari Reine, Robin menghela nafas panjang. Dia kembali menunduk, meski keduanya masih berjalan beriringan. “Aku memang harus meminta ampunan padamu, tapi sekarang ini... ayahmu masih lebih penting dari pada masalah kita. Jadi kurasa, aku akan mengatakan semuanya saat masalah dengan ayahmu selesai” jelasnya panjang. “Kau siapa? Wasit? Kenapa kau dari tadi seakan berusaha untuk menengahi masalah antara aku dan ayah?” tanya Reine menusuk.
Sebenarnya sih, dia tidak sedang marah. Hanya saja, Reine sedang berada dalam suasana hati yang buruk. Jadi, mulutnya mendadak agak kasar.
“Jadi, apa yang harus kulakukan agar bisa membalaskan kemarahanku pada ayah?” lanjut Reine kembali ke topik. “Bukan ide yang terlalu kompleks sih, tapi mungkin ide ini bisa kamu pikirkan dua kali” kata Robin. “Aku mendengarkan” ucap Reine serius.
“Jenguklah ayahmu”
“Tunggu sebentar. Aku belum selesai”
“Kalau begitu, jangan bernada seperti, kau sedang mengakhiri percakapan”
“Baiklah, maaf. Jadi, jenguklah dia. Kenapa? Tolong coba pikirkan, selama ini dia selalu meninggalkanmu. Dia tidak pernah menjengukmu sama sekali, bukankah begitu?”
“Hm, lalu?”
__ADS_1
“Kamu tahu, kenapa alasan ayahmu tiba-tiba kabur hari ini? Sebenarnya, ini bukan yang pertama kali. Cuman, drama kabur-kaburan ayahmu itu terjadi, setelah Kepala Desa mencoba untuk menghubungimu. Tapi, karena Kepala Desa beranggapan kalau, kamu berada di dunia manusia, jadi tidak ada jalan untuk membuatmu datang. Sementara, keadaan ayahmu semakin hari, semakin memburuk. Lalu, aku pulang ke desa...” “Kau tidak ceritakan itu padaku” potong Reine. “Apa?” tanya Robin terdengar bingung. “Kampung halamanmu. Aku sering bertanya-tanya, ku pikir, kita ini dekat. Tapi kenapa... kau tidak pernah mengatakan apapun padaku? Aku sudah berada di Underwall cukup lama, tapi aku masih tidak pernah tahu apapun tentang kalian berempat. Hanya kalian yang tahu tentangku. Semuanya. Sepertinya, kita memang tidak dekat. Aku hanya ingin mengatakan itu. Lanjutkan” ungkap Reine panjang.
“Bukan itu, maksudku...” sesal Robin kembali merasa bersalah. “Oke, tak masalah. Lanjutkan” tanggap Reine mempersilakan. Robin tampak berusaha untuk meminta maaf, tapi Reine selalu menolak hal itu dan terus ngotot agar Robin melanjutkan pembicaraannya tentang ide tadi.
“Lalu, aku pulang ke desa. Aku bertemu dengan Kepala Desa dan dia, berkeluh kesah tentang Reine Dallaire. Jadi, aku memutuskan untuk memberitahunya, kalau kamu berada di Underwall. Aku tidak bilang detailnya, aku hanya bilang, kamu ada di sana. Setelah mendengar hal itu, Kepala Desa memberitahukannya pada ayahmu. Dan tak lama setelahnya, ayahmu selalu kabur dari ruangannya di rawat. Dan mungkin, dia sedang berada di sana lagi” lanjut Robin. “Ke mana? Kau tahu, dia pergi ke mana?” tanya Reine tak habis pikir. “Tentu, lagipula sudah langganan. Mau ku temani ke sana?” jawab Robin.
Tanpa berkata-kata, Reine melangkah mendahului Robin. Merasa Reine setuju dengan tawarannya, dia segera menunjukkan jalan. Sebenarnya, tak jauh. Hanya beberapa menit dari Balai Pengobatan.
Ada sebuah bukit di sana. Angin yang berhembus juga, terasa nyaman dan sejuk. Kalau Luc berada di sini, pria besar mirip beruang itu, pasti sudah terlelap dalam tidurnya. Sebagai info saja, Luc adalah satu-satunya iblis pengisap darah yang hobinya tidur. Padahal, rata-rata iblis dari jenisnya, tidak pernah tidur selama berjam-jam. Tak seperti yang dilakukan Luc.
“Andai saja, Luc ada di sini. Dia pasti sudah ngiler dari tadi” ucap Reine takjub. “Tempat ini benar-benar indah, bukan? Kamu bisa lihat dari sini. Ada beberapa pepohonan yang di seberang itu. Pohon yang tampak bergerombol di seberang itu. Kamu bisa lihat?” kata Robin sambil menunjuk ke sebuah pepohonan yang saling berhimpit satu sama lain, tepat di seberang mereka. “Aku lihat” jawab Reine.
“Ayahmu, ada di salah satu pohon itu. Kamu bisa melihatnya?”
“Terlalu kecil, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas”
“Pohon yang pertama dari samping kanan kita”
“Oh, yang itu”
“Ya, yang itu. Kamu lihat?”
Reine segera mengangguk. Tak lama kemudian, dia mengerutkan keningnya. “Anginnya sangat kuat, kenapa dia berada di sana? Bodoh, bukankah dia tidak bisa jalan? Katamu, dia dalam kondisi yang sangat buruk. Kenapa dia bisa jalan ke sini?” tanyanya kesal. “Dia menggunakan kursi roda” jelas Robin. “Tidak masuk akal! Jalanan menuju ke mari sangat terjal. Bagaimana bisa?” seru Reine heran.
__ADS_1
Robin menatap ke arah Reine, yang tepat berada di sampingnya. “Menurutmu, kalau itu bisa membawa kembali kenangan masa lalu, apakah kamu akan tetap berada di atas tempat tidur? Bukit ini... adalah saksi dari sebuah kisah Adrien Berger di masa lalu. Tepatnya, ketika perjalanan keluarga kecilnya... telah dimulai” ungkap Robin. Kedua mata Reine dan Robin bertemu kembali, untuk ke sekian lamanya.
Dalam sorot mata itu, tak ada lagi hal yang perlu diragukan darinya. Seakan, sorot matanya telah menghapus segala hal buruk yang pernah terjadi di antara mereka. Ini bukan sihir untuk menghipnotis seseorang. Namun, sebuah perasaan yang terjalin kuat dari awal semenjak takdir menemukan keduanya.