produk gagal

produk gagal
Membulatkan Tekad


__ADS_3

Raven membawa mereka semua agak menjauh dari Underwall. Tak ada yang tak terluka. Bahkan Raven sekalipun, rupanya juga tak menyadari tubuhnya penuh dengan luka.


Reine merawat Robin dan Marc dengan perlengkapan seadanya. Raven memberikan sebuah ramuan khusus pada Reine, agar dibubuhkan pada luka Robin maupun Marc. Ramuan yang terbuat dari beberapa tumbuhan penting yang dihaluskan tersebut, telah terbukti mampu mengobati berbagai luka.


“Kau harus tetap berada di sini. Aku akan mencari cara, agar kita semua bisa keluar dari dunia ini” ucap Raven sembari bersiap pergi. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Reine tampak menahan lengan Raven yang kini, telah berubah wujud kembali menjadi manusia normal.


“Kemana? Kenapa kau berbicara, seolah kita telah terjebak di dunia ini?” tanya Reine tak mengerti. Raven menghela nafas panjang. “Saat ini, penyihir hitam telah menguasai dunia ini. Tak akan ada iblis yang selamat, kecuali mau bergabung bersama mereka. Sebab itu, para Pemburu Kematian sedang melaksanakan tugas mereka” terang Raven. Reine tampak mengerutkan kening.


“Pemburu... Kematian? Tugas? Dan... kenapa kita harus bergabung dengan penyihir hitam, jika kita ingin selamat?”


“Pemburu Kematian, telah mengunci seluruh akses yang menghubungkan dunia ini dengan dunia manusia. Singkatnya, portal yang dulunya membawamu kemari... telah disegel”


“Apa?! Kenapa secepat itu? Apa mereka tidak tahu, ada orang-orang yang tidak ingin bergabung dengan penyihir hitam? Orang-orang yang hanya ingin hidup bebas, tanpa memiliki niat buruk. Kenapa mereka begitu gegabah?”


“Kalau kau mengetahui segalanya, kau pasti tidak akan mengatakan hal ini... Nona, hhh... aku tidak tahu lagi harus berbuat apa”


Reine semakin bingung, usai mendengar keluhan Raven barusan. Kalau dia terus menerus mencari tahu, kepalanya mungkin akan meledak. Dengan posisi yang jauh untuk sementara waktu dari bala tentara penyihir hitam, mungkin Permata perak akan aman. Meski waktunya sangat sempit, Reine masih bersyukur bisa merawat luka Marc dan Robin yang hingga kini, masih belum sadarkan diri.


Reine memutuskan untuk kembali fokus pada kedua pria tersebut. Akan tetapi, dia juga masih tak setuju dengan niat Raven yang tetap ingin pergi. “Kalau kau muncul keluar, keberadaan kita pasti mudah ditemukan. Jadi, tolong, diamlah dulu di sini. Meski aku tahu, kau adalah seseorang yang memiliki kekuatan lebih. Tapi tetap saja, aku ini hanyalah wanita lemah yang ditugaskan untuk melindungi Permata perak” ucapnya terus terang.

__ADS_1


“Walau begitu, aku harus tetap tahu keadaan diluar sana. Jika tidak...” “Jika tidak, memangnya apa yang akan terjadi? Hah?!” sela Reine. Raven menatap Reine dengan ekspresi tegang. “Dunia manusia akan hancur” lanjutnya.


Reine tersentak. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi, ketika mendengar dunianya akan hancur, dia mulai sedikit memahami alurnya.


“Maksudmu, penyihir hitam akan menyerang manusia? Karena itu, dia mengumpulkan semua iblis di dunia ini dengan cara kotor, memanipulasi pikiran mereka... semua itu untuk mencelakai manusia?” tanya Reine, beberapa detik setelahnya. Dia harus lebih dulu menstabilkan emosinya, usai mendengar jawaban yang keluar dari mulut Raven. “Sebab itu, Pemburu Kematian mengunci semua akses masuk dari dunia ini ke dunia manusia. Hal tersebut diperlukan, agar mereka tidak bisa menyentuh manusia. Dan kemudian, Pemburu Kematian akan mengeksekusi mereka semua yang berkhianat” jelas Raven agak mendetail.


Reine terdiam sejenak. Dia tampak menunduk. “Bagaimana jika... mereka berhasil mendapatkan permata perak?” tanyanya kemudian. “Mereka menggunakan itu untuk menambah kekuatan mereka. Jika permatamu berhasil mereka dapatkan, lalu ditambah dengan kekuatan 7 permata legendaris. Mereka... akan mendapatkan kekuatan dasyat yang bisa menghancurkan penduduk di dua dunia sekaligus” terang Raven.


“Bagaimana jika permatanya hancur, sebelum mereka menemukan 7 lainnya?” tanya Reine lagi. Raven menggeleng. “Itu bukan solusi yang terbaik” ujar Raven sembari menggelengkan kepalanya. “Bagaimana?” desak Reine tak menyerah.


“Kita semua... akan berubah menjadi batu... Membeku... dan kemudian... hancur”


“Kamu baik-baik saja?” tanya Reine cemas. “Sudah lebih baik” jawab Marc menenangkan. Reine mengangguk mengerti sambil membantu Marc yang semula berbaring, berubah duduk. “Rein, apapun yang terjadi... kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kamu bilang, banyak iblis yang tidak setuju dengan tujuan penyihir hitam, bukan? Mereka semua... pasti akan melakukan segala cara untuk membuat penyihir itu runtuh. Percayalah. Kita bisa membuat mereka lumpuh, sebelum mereka dapat menyentuh dunia manusia” kata Marc kembali membahas fokus utama mereka.


Reine kembali mengangguk. “Dengan kemampuan seadanya... kita mungkin, pasti bisa sih kalau bergerak bersama-sama...” timpal Robin. “Rob!” pekik Reine kaget. Dia sangat khawatir, karena pria tersebut juga agak lama tak sadarkan diri. “Kau baik-baik saja?” lanjutnya.


Robin memberi senyum khasnya. “Tentu, berkatmu” jawabnya senang. “Syukurlah... kalian sudah bangun. Sekarang, yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan iblis lain yang menolak tujuan penyihir hitam. Aku yakin, mereka sedang berkumpul di tempat aman untuk mencari cara juga” celetuk Raven membuat semuanya kembali pada titik masalah. “Kau benar. Kita harus terus maju untuk melawannya. Tak lama lagi, para Pemburu akan segera tiba dan melumpuhkan mereka semua” kata Marc.


“Hm. Kita harus bertahan. Selagi kita bisa memeranginya, mereka pasti akan dapat dikalahkan” ucap Reine bersemangat. “Baiklah, ayo kita satukan kekuatan untuk melakukan perlawanan. Lagi pula, bukankah ini adalah tanah milik kita? Kenapa kita harus mau dihancurkan seperti ini, oleh mereka yang hanya mementingkan keegoisan? Maju!!” sahut Robin makin membuat situasi makin semangat.

__ADS_1


Marc, Robin dan Reine tampak melangkah melancarkan rencana mereka. Melihat kesungguhan mereka dari balik sana, Raven tampak sedikit senang. Meski tahu hal yang mereka rencanakan agak mustahil. Namun, dai tetap percaya.


Langit, tidak akan pernah diam saja melihat manusia berniat baik ini... sedang berusaha untuk melindungi segalanya. Yang mulia, ku harap, kau datang tepat pada waktunya. Atau kalau tidak, Nona... tolong, kembalilah, batin Raven memohon. Baru kali ini, dia begitu memohon dengan amat sangat. Kali ini, bukan masalah penyihir hitam yang berevolusi menjadi semakin kuat.


Akan tetapi, dia menjadi agak tidak tega saat melihat semangat Marc, Robin dan Reine yang bertekad kuat untuk melindungi dunia baru. Padahal, dunia ini adalah dunia buatan. Dunia kedua yang dibuat, untuk orang-orang yang terusir dari dunia mereka sendiri.


Kenapa mereka begitu menyayangi dunia yang seperti itu? Menyelamatkan dunia yang hanya tipuan? Agar membuat para iblis tak berkecil hati, usai keberadaan mereka di dunia manusia mendadak disepelekan? Bukankah, semua orang yang tinggal di dunia baru ini... tetaplah seorang manusia? Hanya saja, mereka dianugerahi dengan kekuatan yang berbeda.


Bukankah seharusnya, mereka diperlakukan secara adil? Mengapa bukan para manusia biasa saja yang dibuatkan dunia baru? Toh, mereka bukanlah mahluk yang memiliki kekuatan besar seperti para iblis yang ada di dunia baru.


“Raven! Perhatikan langkahmu!”


Suara itu, membuat Raven segera tersadar. “Kau mau ku kutuk menjadi batu?! Rupanya, seperti dugaan. Kau terpedaya oleh sihir si bangka itu, bukan?! Sudah kubilang, fokus! Di depan sana, Nonamu sedang berada dalam bahaya! Kau tahu betul bukan, konsekuensi yang akan kau terima saat Reine benar-benar akan memecahkan permata?!” seru suara tersebut kembali terngiang di otaknya. “Kau kira, semua bakal selesai begitu saja, ketika permatanya hancur? Kau tahu betul, bukan? Kau dan yang lain akan menjadi batu dan terjebak di sana selamanya. Lalu, bagaimana dengan penyihir bangka berengsek itu?! Sadarlah, bodoh!” lanjut suara itu lagi.


Dengan langkah penuh tekad, Raven berusaha memerangi pikiran-pikiran negatif yang ada di dalam kepalanya. “Maafkan aku, yang mulia. Aku berjanji, aku akan melaksanakan tugasku dengan sebaik mungkin” sumpahnya teguh. Dia benar-benar lupa akan tanggung jawab yang diterima. Dan dengan adanya hal ini, mungkin, Raven cukup sadar apa yang harus dia lakukan.


“Satu lagi” ucap Gray. Ya, dia mencoba berkomunikasi dengan Raven melalui sebuah jam tangan. Ketika sedang bertugas di lain tempat, Gray akan memberikan Raven sebuah alat komunikasi berupa, jam tangan. Alat itu yang akan membuat mereka tetap terhubung.


“Katakan, yang mulia...” balas Raven mendengarkan dengan seksama. “Jika keadaannya genting sekali...” ujar Gray berhenti sejenak. “Jika keadaan genting?” ulang Raven tak sabaran.

__ADS_1


“Berikan pedangnya”


__ADS_2