
“Max, entah apa yang terjadi, jika kau mendegar pesan ini, tolong jawablah. Aku tahu, kau masih hidup dan berada di suatu tempat yang tak jauh dari Underwall. Aku tak akan bertanya, apa yang terjadi. Namun, jika kau tidak bisa menyelesaikan masalahmu sendirian, kami siap untuk membantu”
“Max, ini Luc. Tolong, balas pesan Tuan Deval. Dia sangat mengkhawatirkanmu”
“Maximilien, maafkan aku. Aku berjanji, aku akan memperbaiki sikapku dan tak akan mengacau”
Pesan beruntun dari Marc, Luc dan Robin, telah masuk ke dalam ponsel Maximilien. Sekitar 23 panggilan tak terjawab dan 11 pesan teks, tampak menghiasi layar ponselnya. Namun Maximilien, tetap melakukan hal yang sama. Pria itu, masih saja berdiam diri di dekat jendela besar rumahnya sembari meneguk beberapa gelas anggur
Pikirannya, diselumuti oleh kekalutan. Tangannya terus gemetar, akibat tak makan sesuap pun. Meski tak bisa mati begitu saja, dia tetap merasakan sakit.
Ketika melihat langit dengan bulan yang bersinar terang di depan wajahnya, Maximilien kembali teringat akan sebuah nama. “Kau kira, kau akan bertahan meski berusaha menghindariku? Sudah berapa kali, kau berusaha keluar dari tubuh anak itu? Walaupun berusaha bersembunyi di sana, kau tetap tidak akan bisa mengelabui orang lain. Mau berapa tahun pun, kau terus direinkarnasi, sikapmu selalu sama. Tak pernah berubah, ataupun berniat untuk belajar mengubahnya, menjadi yang lebih baik. Kau selalu saja tak patuh. Dasar, bodoh...” gerutunya kesal.
“Kau ingin, aku menghindarimu? Ya, akan kulakukan. Aku akan menghindar darimu. Kita akan lihat, seberapa keras kau mencoba untuk bertahan sendirian. Kau tidak akan bisa terus berdiam diri. Saat anak itu dalam bahaya, aku yakin kau akan turut campur lagi. Sebab, kau adalah tipe orang yang selalu seperti itu. Berbaik hati dan mengorbankan dirimu sendiri. Aku menyesal, tidak bisa mengajarimu hal-hal yang baik” lanjut Max bernada marah. Usai menghabiskan segelas anggurnya, Max mendadak melemparkan gelas kosong tersebut ke arah dinding. “Sial, aku emosi!” serunya.
Max terdengar menghela nafas panjang. Dia terkejut, saat buku besar kunonya, terjatuh dengan amat keras ke lantai. Suaranya seperti, bak buku yang dilemparkan penuh amarah dari atas meja.
Max segera mengambil buku tersebut. Sebuah halaman di pertengahan buku, tampak terbuka lebar. Tepat ketika, Max membawa buku itu dengan kedua tangannya. Dia sedikit mengerutkan kening.
“Caroline Walters? Putri dari klan tertinggi dalam siluman serigala? Meninggal akibat, kehabisan darah. Tempat, gudang Penampungan Losenyx. Wah, apa ini misi barunya? Terdengar lucu, ketika Pemburu Kematian tiba-tiba dikirim ke sana. Tempatnya para kriminal... tempat yang bagus untuk makan malam” kata Max sambil merapikan jasnya. Tak lama, dia tampak melangkah keluar.
Max, bak menghilang bagai cahaya melalui pintu rumahnya. Saat kau masih berkedip, dia sudah tiba di depan halaman Penampungan Losenyx. Tanpa ada keraguan, dia melangkah ke arah lokasi yang telah ditunjukkan oleh buku kuno.
__ADS_1
“Ah, merepotkan saja. Aku terlalu awal, tiba di sini. Makan dulu, ah...” ucap Max seenaknya. Dia pun, berbelok dan masuk ke dalam Penampungan. Di sana, banyak sekali iblis yang sedang memadati Penampungan.
Ada yang sedang berjudi, berkaraoke bersama, minum-minum, menari dengan para gadis bar dan ada yang hanya sekedar untuk ngobrol. Max terus melangkah masuk ke dalam sana. Dia menuju ke arah sebuah restoran yang tempatnya, berhadapan dengan bar yang sedang penuh.
“Bereinkarnasi menjadi iblis pengisap darah adalah hal yang cukup menyenangkan. Bisa mengawasi dari dekat begini... duhh, jantungku rasanya berdebar kencang. Pingin gitu, menombak mereka semua dengan sekali gilas. Dapat banyak, nih. Dan dengan begitu, aku pasti bakal bisa mengurangi jumlah hukumanku. Hmmm, kedengarannya sangat bagus” kata Max mengoceh sendiri. Dia mengambil tempat duduk, usai memesan beberapa menu makanan di konter pesanan. “Tapi, buku sialan ini... tentu tidak akan mau menurutiku, bukan? Prosedural! Semua harus sesuai dengan protokol! Aturan dari langit, harus selalu dijunjung tinggi oleh para Pemburu Kematian. Aish, membosankan. Kau kira, menjadi Pemburu itu pekerjaan gampang? Merepotkan, tahu! Harus mematuhi buku, mencari iblis yang mau mati dan mengirim mereka ke langit. Gajinya juga enggak seberapa lagi!” lanjutnya terus mengomel tanpa henti.
Jam menunjukkan pukul 19:10. Sementara, waktu kematian dari Caroline akan tepat pukul 19:33. Masih banyak waktu yang tersisa bagi Max, hanya untuk sekedar mengisi perut kosong.
Ketika makanannya datang, dia segera melahap habis satu menu yang dia pesan tersebut. Tanpa ada sisa sedikit pun. Dia benar-benar kelaparan.
“Aih, sialan. Padahal, masih ada makanan seenak ini, kenapa aku malah memutuskan untuk berhenti makan tiga hari berturut-turut?”
“Padahal, kau akan terus memilikinya, Gray. Hanya nama dan waktu, yang akan membedakan semuanya. Bagaimana tidak, jodohku di dunia ini... hanya dia seorang. Meski sampai seratus kali pun direinkarnasi, dia tetap akan menjadi pasanganku
“Harusnya, aku tidak perlu repot-repot cemburu pada si anak ingusan dari klan Deval, itu kan? Toh nantinya, hubungan mereka... aih! Lagi-lagi! Lagi-lagi aku selalu membahasnya! Aku sedang makan, Carine! Bisakah kau meninggalkanku sendirian?!”
Semua obrolan di atas, adalah hasil dari kegabutan Maximilien seorang. Bukan, dia tidak sedang bersama dengan orang lain. Dia sendirian, sedang makan dan terus mengomel tentang pemikiran-pemikiran buruknya.
Ketika mengangkat garpu untuk suapan terakhir, secara mendadak tangannya telah dihiasi oleh sebuah gelang yang terbuat dari besi. Warnanya perak dan bersinar agak terang. Jika kau memiliki kemampuan mata elang, maka kau akan melihat sebuah tali dari benang wol tipis yang tersambung di gelang itu.
Tali dari benang wol, seakan terbentang jauh bak kabel di tiang listrik. “Lho?” tanya Max terkejut. Dia menatap ke arah gelang besi tersebut, dengan perasaan tak enak. Ikatan yang selalu membuatnya terus merasa cemas. “Kenapa... benangnya... sampai dari sini? Jangan-jangan...” ujarnya mulai mencurigai sesuatu.
__ADS_1
Sesegera mungkin, Max melahap suapan terakhirnya. Usai itu, Max terlihat melompat dari bangku makannya. Dia berlari sekencang mungkin, keluar dari Penampungan Losenyx. Langkah Max mengarah mengikuti tali dari benang wol itu.
Semakin Max mendekat ke arah gudang, semakin pula talinya memendek. “Tidak... mungkin...” ucapnya tak percaya. Max tak masuk ke dalam gudang tersebut, sebelum memastikan sesuatu. Dia mengintip dari celah di sebuah jendela gudang Losenyx.
Seorang wanita yang selalu diributkannya sedari tadi, telah berada di dalam sana. Di gudang itu. Di sampingnya, ada seorang wanita, Caroline, target Max. Dan di sebelah kirinya, Luc telah bersimbah darah, terjatuh di lantai gudang.
Max baru menyadari, wanita itu tampak mengeluarkan kekuatan perisainya. Tepat, ke arah depan. Entah, apa yang berusaha dia lawan. Harusnya, Max lebih mementingkan Caroline. Dia harus segera menjemput iblis dari klan serigala itu.
Sayangnya, wanita itu, pengantinnya, mau tak mau selalu menarik perhatiannya. Max sedikit bergeser ke arah kiri. Dia ingin memastikan, siapa yang menjadi lawan pengantinnya tersebut.
“Buron 3799?” tanyanya terperanjat. Tobie, sudah bersiap untuk memakan pengantin Max. Sebab, pria itu telah berubah wujud menjadi seekor serigala buas, yang kapanpun dia mau, dia akan menghabisi lawannya.
Ketika pengantin Max hendak melemparkan sebuah pisau kecil dari balik saku celana, tangannya mendadak mengeluarkan gelang yang sama dengan milik Max. Lengkap, dengan tali yang menjalar di sisi gelangnya. Dia buru-buru menoleh, berusaha mencari empu si tali.
Tak lama, kedua mata keduanya pun akhirnya bertemu. “Yang mulia?” ucapnya pelan. “Ca... Carine? Sudah kuduga, kau pasti akan keluar lagi. Sudah kubilang, tidak akan berhasil! Dasar, anak nakal!” seru Max, malah berubah marah.
“Daripada kau terus mengomel, mending segera jemput dia nih!” balas Carine, pengantin Max dengan nada tak kalah nyolot. “Aih, sayang sekali... aku tidak sedang ditugaskan untuk menjemput 3799. Caroline, kau kan itu? Ikuti aku. Waktumu di dunia ini, sudah habis” kata Max yang dengan cepat, beralih ke arah Caroline yang terlihat duduk dengan lesu. Max tampak mengayunkan tangannya, tanda bagi Caroline agar segera mengikutinya dan meninggalkan dunia.
Namun...
“Aku tidak mengizinkannya, yang mulia. Dia... masih memiliki tanggung jawab besar, yang belum sempat dia selesaikan. Jadi, tinggalkan kami segera!”
__ADS_1