produk gagal

produk gagal
Basa-Basi Belaka


__ADS_3

“Luc? Dan... Lady Dia? Aku masih sadar, kan? Lady Dia? Kenapa dia bisa ada di sini?” gumam Reine pelan. Dengan penuh rasa penasaran, dia masih bersembunyi di tempatnya. Dia mencoba untuk mendengar percakapan antara Luc dan Lady Dia.


“Sudah ku bilang, ini adalah daerah terlarang bagi manusia. Silakan kembali, sebelum aku menekan tombol darurat” pinta Luc tegas. “Hm? Kau yakin, mau mengusirku begitu saja? Rupanya, kau masih belum mengerti tentang apa yang ku katakan beberapa hari yang lalu” tanggap Lady Dia bernada penuh penekanan. “Aku mengerti, tapi hal itu tidak akan pernah bisa merubah apapun. Jadi, tolong anda segera pergi dari sini” pinta Luc lagi.


Lady Dia tampak menatapnya dengan tatapan marah. “Kau tidak mengerti maksudku! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menyerahkan Reine pada orang seperti Marc! Apalagi pada klan Deval yang busuk itu! Aku tidak sudi!” pekiknya kemudian. Mendengar hal demikian, Reine semakin terkejut. Sepertinya, Reine baru saja menyadari kalau Lady Dia, pasti mengetahui sesuatu tentang Underwall dan lainnya.


“Lady Dia! Anda benar-benar kelewatan! Klan Deval adalah klan terkuat di antara para klan penghisap darah. Dan klan mereka, juga merupakan klan yang paling terhormat. Jadi, tolong, jaga perkataan anda. Anda tidak berhak untuk menilai klan Deval!”


“Kau membelanya? Kau bahkan tidak ingat, klan Deval adalah satu-satunya klan yang kau benci, Tuan Marchand. Ingat itu!”


“Jangan mencoba untuk merubah ingatanku! Apapun yang kau katakan, aku adalah iblis dari klan Marchand. Reinkarnasi atau apapun itu, aku tidak peduli”


“Reine dalam bahaya, Tuan. Karena itu, aku tidak akan menyerah agar Reine, tetap di tempatkan dalam hotel kami! Dia adalah manusia biasa, bukan iblis!”


Mendengar Lady Dia tetap ngotot, Luc tampak menghela nafas panjang. “Berapa kali kukatakan padamu? Aku sedang mengusahakannya. Aku sudah membicarakan hal ini dengan Tuan Deval, jadi tolong... jangan menghasut para iblis hingga mereka berusaha menyerang Underwall. Hal itu, sangatlah dilarang. Jika para Pemburu Kematian tahu, kau pasti... akan segera dimusnahkan. Jadi, tolong pergi” ujar Luc memberi pengertian. “Beberapa hari yang lalu, aku memberimu waktu seminggu. Namun sayangnya, Reine tetaplah berada di sini. Jadi, aku tidak punya pilihan. Aku juga sudah mengatakannya, bukan? Kalau kau gagal membawa Reine kembali ke tempatku, maka aku tak akan tinggal diam. Menghasut para iblis untuk menyerang Underwall... aku tidak punya pilihan lain, Tuan Marchand” balas Lady Dia sembari terlihat angkat bahu cuek.


Kedua mata Reine kembali membelalak. Malam ini, Reine bak terkena petir menyambar-nyambar. Dia tidak mengerti, kenapa Lady Dia menghasut para iblis untuk menghancurkan Underwall, hanya karena dirinya. Mengapa dirinya tidak boleh berada di dalam perlindungan klan Marc? Apakah itu... akan semakin membuatnya dalam bahaya?

__ADS_1


Tapi, menghasut para iblis untuk menghancurkan Underwall itu bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan. Mengancam Luc juga, bukanlah sesuatu yang baik. Mungkin, Lady Dia hanya khawatir padaku. Namun tindakannya, tetap tidak bisa dibenarkan. Aku harus melakukan sesuatu. Demi Underwall. Dan juga, demi... menghilangkan kecurigaan terhadapku, batin Reine bertekad.


“Jadi, aku harus...” ucap Reine. Dia tampak melangkah keluar dari tempat persembunyian. Dia berjalan dengan santai, mengarah ke tempat Lady Dia dan Luc sedang berada. Berusaha alami, seperti baru saja menyadari keberadaan Lady Dia dengan mimik tak sengaja adalah hal yang Reine tengah lakukan. Dia tidak boleh ketahuan.


“Oh, Lady Dia?!” seru Reine syok. “Astaga, Miss Dallaire!” balas Lady Dia tak kalah kaget. Buru-buru, dia tampak berlari ke arah Reine. Namun, tangan Luc terlihat menghentikan langkah Lady Dia. Dia merentangkan tangannya, menghalangi tubuh Lady Dia yang hendak berlari ke arah Reine.


“Batas anda, hanya sampai di sini” kata Luc tidak mengizinkan. “Apa... maksudmu?! Hubungan kami sangat dekat! Bukan hanya sebatas teman kerja. Dia sudah ku anggap seperti putriku sendiri. Singkirkan tanganmu!” amuk Lady Dia tak terima. Akan tetapi, Luc masih berada pada prinsipnya.


“Luc, tidak apa-apa. Kau bisa mengawasiku dari sini” pinta Reine mendadak. “Rein, dia...” sergah Luc terhenti. Reine tampak mengangguk. Seakan dia meyakinkan bahwa, “Semuanya akan baik-baik saja”.


Dengan berat hati, Luc mengizinkan. Lady Dia tampak kembali berlari ke arah Reine. Dia memeluk erat Reine, bak melepas rindu pada anaknya sendiri.


Keduanya, terlibat dalam percakapan yang menyenangkan sepanjang malam. Meski Luc, masih berada di sana untuk menemani Reine. Dan juga tentunya, mengawasi mereka.


Sepeninggal Lady Dia kembali ke tempatnya semula, Luc tampak mengantar Reine ke kamar tinggalnya. Sepanjang perjalanan, keduanya tampak terdiam. Tak ada percakapan yang muncul hingga Reine tiba di depan kamar.


“Jadi sebaiknya, ku sembunyikan atau... bagaimana?” tanya Reine sebelum melangkah masuk ke dalam kamar tinggalnya. “Hanya Tuan Deval yang tahu tentang hal ini. Semuanya terserah padamu” jawab Luc terkesan menakutkan. Reine sudah berada di balik pintu kamarnya.

__ADS_1


“Kalau begini, kau jadi terasa menyebalkan. Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun” ujar Reine agak terganggu dengan sikap Luc yang lebih menyebalkan dari biasanya. “Sorry, aku sedang banyak pikiran. Kau sih, terlalu sembrono” balas Luc mencoba kembali normal. Reine menggeleng pelan. “Aku pun begitu. Gara-gara dicurigai penyebab dari kekacauan Underwall, rasanya aku malas melakukan apapun” keluh Reine mendadak.


Begitu teringat, Luc terlihat mengacungkan telunjuknya. “Aku akan memperbaiki yang itu. Jadi, kau tidak perlu cemas. Pada dasarnya, bukan kau yang harusnya dicurigai” ujarnya kemudian. “Siapa? Kau yang patut dicurigai? Karena ternyata, kekacauan yang terjadi itu semua berawal darimu? Kau... bukan orang yang memberikan akses masuk pada mereka, kan?” tebak Reine blak-blakan.


“Rein, ku bilang, aku sudah mengatakannya pada Tuan Deval. Tapi, Tuan Deval bersikeras untuk tidak mendengarku. Dia seolah tak berbuat apa-apa. Dia yakin bahwa, kita semua pasti bisa melindungi Underwall dan kau. Karena itu, tugasku... hanyalah sampai di situ. Mengatakan padanya dan kemudian, melindungi Underwall. Untuk alasan mengapa, aku tidak peduli. Karena itu, bukan lagi menjadi tanggung jawabku”


“Itu berarti, selama ini kau tahu kalau orang yang memberikan akses para iblis itu ke Underwall adalah Lady Dia?”


“Itu merupakan konsekuensi dari penolakan Tuan Deval. Jadi, tentu aku tahu”


“Kenapa kau mendiamkannya? Kenapa kau hanya melindungi Underwall, padahal kau bisa langsung menyelesaikan ke akar masalahnya?”


“Pertama, karena bukan tanggung jawabku. Kedua, karena wanita itu memiliki hubungan baik denganmu”


Reine tampak mengerutkan keningnya. “Kupikir, itu bukan alasan yang valid, Luc. Kau... menyembunyikan sesuatu, bukan?” tebak Reine. Dan tampaknya, pas. Melihat ekspresi Luc yang seperti sedang terpojok. “Benar, kan?” lanjut Reine bernada lebih memojokkan.


“Kau benar. Akan tetapi, aku memutuskan untuk tidak akan memberitahukannya padamu, Rein...” jawab Luc mengecewakan. “Aku bisa membantumu” tawar Reine. Sayangnya, Luc kembali menggeleng. “Aku belum mengatakan hal ini pada yang lain. Dan ku putuskan untuk tidak mengatakannya, termasuk padamu juga. Jadi, tolong hargai keputusanku. Dan tunggu. Nanti, aku pasti akan mengatakan semuanya padamu” tolak Luc dengan perjanjian.

__ADS_1


Namun bagi Reine, perkataan itu hanyalah basa-basi semata. Dia tahu betul, ketika seseorang berjanji akan mengatakan segalanya nanti, itu artinya, mereka tidak akan pernah mengatakannya. Sama seperti yang terjadi padanya. Tepat pada saat dirinya, masih anak-anak dan ibunya, masih hidup di dunia ini.


__ADS_2