
“Kenapa semua menjadi makin rumit? Dia ibuku, yang mulia. Dan saat ini, dia sedang sekarat. Apakah aku sebagai anaknya, tidak boleh menyelamatkan dia?” tanya Carine bernada kesal. “Sebentar lagi, Malaikat Maut akan datang. Kalau kau bersikeras, aku tidak akan membantumu untuk menyelamatkannya” ancam seseorang yang tadi menahan bahu Carine dari belakang. Dia, siapa lagi kalau bukan, Gray?
Semenjak Gray mulai minum beberapa botol anggur putih, Carine menyadari bahwa, inilah yang akan terjadi. “Kau bilang, kau terbiasa dengan ini?” ucap Gray mengingatkan. Carine mengangguk. “Tapi, ini terjadi di depan mataku! Aku harus melindunginya. Ini adalah ikatan, sebagai seorang anak!” ujarnya tetap tak setuju.
Carine melangkahkan satu kakinya ke depan. Namun, Gray menahan kedua bahunya. “Aku harus pergi ke sana” pinta Carine ngotot. “Tunggu di sini. Kau tidak diizinkan untuk menyalahi aturan, Rin. Ibumu telah muncul di dalam buku kuno Malaikat Maut. Begitulah caranya meninggalkan dunia di era ini” cegah Gray dengan berbisik.
“Aku harus melindunginya. Dia masih hidup. Dia pasti bisa...” kata Carine memelas. Gray tampak memeluknya dari belakang. Dia memeluknya dengan erat. Pria tersebut juga terlihat menahan bahu kanan Carine, dengan menyandar kuat di sana.
“Ku mohon, Gray...” bisik Carine dengan nada terakhirnya. “Maafkan aku...” balas Gray tak kalah pelan. Melihat Carine kehilangan sosok yang disayanginya, membuat hati Gray turut hancur.
Dia harus mematuhi aturan. Di sisi lain, dia juga tidak tega dan ingin membantu Carine. Namun, dia juga tidak ingin, Carine terlibat dengan hukuman yang amat sangat berat.
“Maafkan aku...” sesal Gray lagi. Carine hanya bisa menangis, ketika melihat Lady Dia menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Darah, mulai mengalir deras di lantai sel Underwall.
Beberapa tahanan yang menyaksikan, tampak berusaha untuk mencari bantuan. Mereka juga tidak sanggup, melihat kematian dramatis dari seorang manusia. Manusia biasa, yang tewas di tangan iblis terkeji hanya karena sebuah permata yang menjadi sumber dari dunia iblis, Permata Perak.
“Ibu...” panggil Carine dengan suara parau. Sementara Arthur tertawa di atas penderitaannya, Lady Dia tampak menoleh ketika mendengar suara putrinya. Dengan keadaan sekarat, dia sesekali memberi anggukan pelan. Seakan, dia baik-baik saja.
Lady Dia bahkan, terlihat tersenyum ke arah Carine. Lucunya, dia baru saja menyadari kesalahannya. Jika dia tidak terlalu gegabah. Hingga buru-buru menebak bahwa Luc adalah reinkarnasi dari Gray, dia mungkin tidak akan berakhir di dalam sel Underwall. Dia juga mungkin, tidak akan membuat keributan dengan menempatkan Reine dalam bahaya.
Yang terjadi sekarang ini, dia tertawa usai melihat bahwa Gray tereinkarnasi ke dalam tubuh Maximilien Geiger. Hal yang seharusnya, bisa di duganya sejak awal. Tertawa, membuatnya melupakan rasa sakit. Dan saat ini, dia menyerah.
“Gray Nicholas Émeric Bouthillier, The Great Savior. Kau adalah masalah yang membuat putriku... tidak bisa lepas darimu. Kenapa? Kenapa... kau harus mengambilnya dariku? Jika saja, kau tidak mengabulkan permintaannya yang konyol itu, dia pasti... akan selalu bersamaku. Dia pasti... akan selalu tereinkarnasi menjadi Carine, putriku... Kenapa? Kenapa dia harus selalu bersama denganmu, alih-alih bersama denganku? Kenapa, The Great Savior?!!! Brengsek!!!” ungkap Lady Dia, di sela-sela dirinya mencoba untuk bertahan. “Ibu...” panggil Carine lagi. Dia terlihat berusaha untuk menenangkan ibunya.
Di momen ini, semua seakan menghilang dari tempatnya. Di sini seakan, Underwall hanyalah sebuah tempat kosong, yang di huni oleh tiga orang. Lady Dia, Carine dan juga, Gray.
__ADS_1
Sejak awal ketika Lady Dia di reinkarnasi untuk pertama kalinya, dia selalu mengingat Carine. Meski dalam wajah dan tubuh yang seperti apapun, Lady Dia selalu mengingatnya. Ada ikatan kuat yang terjalin dari dirinya dengan Carine, sebelum Lady Dia sendiri meninggalkan dunia untuk pertama kali.
Saat mengetahui bahwa, Carine adalah seseorang yang ditakdirkan dengan The Great Savior, Lady Dia merasa campur aduk. Bangga dan sedih. Sebab, seperti yang telah diketahui oleh banyak orang. Ketika era Kaiion berakhir, dunia akan terpecah menjadi dua.
Dunia di mana manusia biasa tinggal. Dan dunia para iblis tinggal. Panjang sejarahnya, jika ditanya mengapa hal tersebut terjadi.
Namun intinya, semua terjadi berawal dari era Kaiion. Sebab di era itu, seorang manusia berilmu sihir yang serakah, tiba-tiba membuat sebuah bencana. Dia meramu beberapa mantra sihir dan membentuk korelasi bersama Iblis.
Akibat dari terciptanya korelasi itu, sang penyihir tersebut menguasai Kaiion. Dengan kekuatan besar, dia mampu mengacaukan Kaiion. Kala itu, Carine adalah Ratu bagi rakyat Kaiion. Karenanya, dia memiliki tanggung jawab besar demi keselamatan rakyat Kaiion, atas serangan yang tak masuk akal tersebut.
Dan setelah pergolakan itu terjadi, The Great Savior memisahkan dua dunia dengan sebuah portal waktu. Dunia iblis di buat dari ruang hampa, dalam sebuah celah di dunia manusia. Karena efek portal, manusia biasa tidak akan pernah bisa masuk ke dalam dunia iblis.
Kecuali, jika mereka memiliki darah iblis. Mengapa bisa terjadi? Karena, saat dunia iblis terbentuk, ada beberapa iblis dengan hati yang baik, memilih untuk tetap tinggal di dunia manusia. Mereka itu disebut dengan, darah campuran.
Sebenarnya, bisa saja para iblis tinggal bersama manusia. Akan tetapi, The Great Savior memetakannya dengan sebuah filter di dalam portal. Filter itu yang akan menentukan di mana para iblis tinggal. Dan tugas hal itu, tak hanya menjadi tugas The Great Savior. Tapi juga, untuk seluruh Pemburu Kematian
Bahkan di eranya, para iblis berhasil menenggelamkan semua orang di era itu. Dan fakta yang paling menyedihkannya, Gray adalah satu-satunya manusia yang selamat di era tersebut. Akibat dari serangan iblis yang menghancurkan dunia, Langit menjadi murka.
Dan di sanalah terbentuk sebuah Pengadilan bagi para iblis. Dan dibentuklah juga sebuah tim bernama, Pemburu Kematian. Langit mulai merancang dunia iblis, mirip dengan dunia manusia. Agar, para iblis dapat diatur dengan sebaik mungkin. Agar, mereka juga tak merusak dunia lagi.
Itu sebabnya, Lady Dia menjadi sedih. Jika Carine menjadi salah satu Pemburu yang menjaga dunia dari para iblis, maka Carine tidak bisa mati sebelum memenuhi tugasnya. Dia akan terus bereinkarnasi, tanpa batas waktu.
Berbeda dengan manusia biasa yang hanya bisa bereinkarnasi empat kali. Meski para iblis selalu hidup dari regenerasi singkat, menua kemudian kembali muda, mereka tetap akan punah menjadi abu. Mereka akan kembali ke Langit, ketika masa hidup mereka berakhir. Ada tahapan di kehidupan mereka. Lahir, belajar, berkembang, berguna, kembali muda, berguna dan kemudian, punah.
“Betapa bodohnya dirimu, menerima uluran tangan itu, Carine... Kau pasti menerimanya, karena kecewa padaku, kan?” lanjut Lady Dia. “Maafkan aku, tapi bukan itu yang ku pikirkan saat memilihnya” jawab Carine. Ku bilang, Underwall seakan hanya ada mereka saja. Karena itu, mereka seperti sedang mengobrol satu sama lain.
__ADS_1
Kemudian, Lady Dia tersenyum. “Tapi, bagaimana aku bisa menghentikan takdir itu? Selama kau terus bersama The Great Savior, aku tak akan keberatan” ujarnya mulai menerima. “Ibu...” panggil Carine lagi-lagi. “Aku baik-baik saja, jika pergi dari sini. Maukah kau melepaskanku, Carine?” tanya Lady Dia diikuti air matanya yang mulai bercucuran.
“Malaikat Maut sudah tiba. Kau bisa melepaskannya?” bisik Gray. “Aku... tidak...” jawab Carine terbata-bata, akibat tangisnya yang kembali pecah lagi. Setelah tadi, sempat agak tenang. Sekarang, Carine harus menangis lagi.
“Carine...” panggil Gray lembut. “Kamu harus melepasnya, jika tidak ingin melihatnya semakin menderita. Aku tahu, ini pasti akan berat bagimu, meski kau bilang, sudah terbiasa dengan ‘kehilangan’. Karena itu, aku memberitahumu lebih dulu. Sayangnya, dirimu tetaplah dirimu. Kau lihat? Dia tersiksa” kata Gray, seolah berusaha membujuk Carine dengan sabar. “Tapi... aku tidak akan bisa... melihatnya lagi. Bagaimana jika... ketika dia tereinkarnasi, dia akan melupakanku? Bagaimana...” tangis Carine.
Sembari membalikkan tubuh Carine hingga menghadap ke arahnya, Gray kembali menenangkan dengan berkata,
“Dia selalu mengingatmu. Di manapun kau berada, dia akan selalu mengingatnya. Karena kau adalah Carine, putrinya”
“Gray, aku... tidak bisa...”
“Kau bisa melakukannya. Melepaskannya, bukan untuk membuatnya menjauh darimu. Dia hanya pergi, agar kau bisa selalu mengingatnya. Kau ingat kalimatku? Agar kau bisa mengingatnya di mana?”
“Hati... dan pikiran. Tapi, bicara adalah hal yang mudah, Gray. Aku... tidak bisa... bisakah kau membujuk Malaikat Maut untuk menundanya? Tak masuk akal memang, tapi bisakah? Beberapa detik saja”
“Carine...”
“Tidak bisakah?”
“Carine! Tatap mataku!” perintah Gray tegas. Dengan wajah yang berantakan, Carine mencoba untuk menatap ke arah Gray. “Kasih sayangmu tidak akan pernah terputus. Karena kasih sayang itu, kau harus melepaskannya” pinta Gray kembali melembut.
Di saat seperti ini, Carine selalu merasa buruk di hadapan Gray. Meski Gray adalah pria yang sangat menyebalkan di sepanjang hidupnya, tapi Gray bukanlah pria yang selalu begitu. Walau Carine membencinya, Gray tetaplah menjadi, teman kutu bukunya, sahabat terbaik, kakak laki-laki yang usil, adik kecil yang manja, ibu yang cerewet, seorang ayah yang tegas dan perhatian serta, suami yang begitu melindunginya.
“Carine?” panggil Gray, ketika Carine mendadak menutup kedua matanya. “Rin?!” panggil Gray berubah khawatir. “Baiklah” jawab Carine, secepat kilat. “Aku akan menyelesaikannya” lanjutnya kemudian.
__ADS_1
Carine tampak berdiri tegak. Dia kembali menatap ke tempat ibunya terbaring. Meski berat, Carine harus melakukannya. Karena sebuah takdir, telah tertulis sebelum manusia menyadarinya.