
Pagi yang terasa lebih hangat itu, akhirnya datang hari ini. Semalam, Reine baru saja mengetahui bagaimana rasanya tidur dengan nyenyak. Setelah sempat beberapa malam, dia selalu merasa nyawanya sedang di ujung tanduk.
Mungkinkah, karena berada di rumah Marc, dirinya lebih dilindungi? Atau memang karena, Reine merindukan sebuah rumah, alih-alih tinggal di hotel untuk waktu yang lama. Namun, pekerjaan mengharuskannya patuh. Dan lagi, aku harus menemukan ayahku yang hingga kini masih tidak jelas keberadaannya. Aku berharap, dia masih hidup.
“Selamat pagi...” sapa Marc yang telah bersiap dengan setelan jasnya. “Kau sudah mau berangkat, ya? Aku telat bangun. Maaf. Aku akan segera bergegas” balas Reine agak panik. Namun, Marc tampak menggeleng pelan. Dia melangkah dengan tenang, menghampiri Reine sembari memegang kedua bahu wanita itu.
“Tidak perlu terburu-buru. Hari ini, tetaplah berada di sini. Kamu harus memulihkan tenaga dulu. Efek dari kekuatan yang diakibatkan oleh Arthur, mungkin masih terasa di tubuhmu. Dari sekian banyak manusia yang terkena kekuatan Arthur, hampir setengahnya tidak bisa bergerak secepat dirimu. Kamu termasuk wanita yang sangat hebat, dengan keadaan darah yang terasa mendidih begitu... kamu bertahan. Padahal, itu sangat sakit”
“Tinggal di sini, bersama denganmu dan yang lain, membuatku harus lebih tahan banting di segala situasi. Ingat, aku bukanlah manusia biasa seperti pada umumnya. Aku putri dari seorang Pemburu Iblis dan saat ini... aku sedang menggantikannya. Jadi, tidak perlu cemas”
“Aku memang tidak pernah meragukan keberanianmu. Akan tetapi untuk saat ini, beristirahatlah”
“Aku baik-baik saja. Semalam, ada hal yang terus kupikirkan. Bagaimana dengan kabar Arthur?”
Pertanyaan Reine, membuat Marc harus menghela nafas sejenak. Pasti, dia dan timnya bisa menghandle Arthur. Namun, Arthur bukanlah iblis biasa yang bisa ditandingi dengan begitu mudahnya.
“Aku sempat membaca sedikit dari sebuah buku di perpustakaan hotel. Maaf kalau aku masih pergi ke sana. Tapi, Max adalah penanggung jawabku selama berada di sana. Jadi, tolong berikan aku kelonggaran hukuman. Dari buku yang ku baca, Arthur adalah iblis pengisap darah dari golongan yang berbahaya. Dia ambisius dan selalu merencanakan segalanya dengan matang. Dia tidak pernah gagal untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Dan targetnya saat ini adalah...” ucap Reine terhenti. Dia mendadak mengeluarkan sebuah permata berwarna perak dari dalam sakunya. “Rei! Bagaimana bisa... permata itu keluar dari tubuhmu?” tanggap Marc syok.
Reine menggeleng. “Aku tidak tahu caranya, tapi yang jelas... permata ini tiba-tiba keluar dari tubuhku. Dekat jantung, tepatnya” jelasnya agak detail. Marc masih tak percaya dengan apa yang Reine katakan. Terlebih, ini merupakan yang pertama kalinya Marc melihat permata perak yang melegenda itu, di depan kedua matanya.
“Apa sih yang diperebutkan para iblis itu, hanya dengan permata ini? Apakah permata ini... bisa memberikan sebuah kekuatan yang sangat besar?”
“Awalnya, ku simpulkan memang begitu. Tapi setelah ku pelajari lebih lanjut, ternyata bukan itu jawabannya. Permata ini... tidak bisa memberikan kekuatan yang amat besar untuk para iblis”
“Lalu, untuk apa tujuan sebenarnya dari para iblis itu?”
__ADS_1
“Legenda Tujuh Permata”
Reine mengerutkan keningnya, usai mendengar hal tersebut keluar dari mulut Marc. “Apa itu?” tanyanya bingung. “Permata milikmu itu, sebenarnya hanya sebuah kunci dari keseimbangan dunia ini. Karena terbuat dari sekumpulan ruang hampa, dunia ini memiliki titik pusat. Jika ingin menghancurkan titik pusat itu, harus menggunakan permata perak. Dan jika ingin tetap mengembalikan dunia ini seperti semula, maka permata itu harus di tempatkan di sebuah batu khusus. Tepatnya, ada di sebuah bukit di ujung dunia ini. Tempat itu merupakan sebuah kastil lama yang menjadi saksi bisu kehidupan sebelumnya” terang Marc. “Bagaimana bisa menggunakan permata ini untuk menghancurkan dunia para iblis? Ada caranya, ya?” tanya Reine makin penasaran.
Marc terlihat duduk di sofa yang berada di dekatnya. Dia tampak menunduk. “Menghancurkan permatanya...” ucapnya pelan. Sekarang, Reine mengerti tentang apa yang sedang di bahas oleh Marc. “Lalu, apa fungsi Tujuh Permata itu?” tanya Reine mengalihkan. “Kamu akan mati di tangan mereka, Reine. Karena itu, aku berusaha mati-matian, agar bisa melindungimu. Aku... tidak ingin kehilanganmu, Reine... sungguh...” ujar Marc yang diliputi perasaan khawatir tingkat akut.
Reine menghela nafas. Dia tampak melangkah mendekat ke arah Marc yang masih duduk di sofa. Wanita tersebut juga terlihat sedang memeluk Marc dengan erat. “Aku tidak akan kemana-mana tanpamu, Marc” ucapnya hampir setengah berbisik di telinga Marc. “Berjanjilah, untuk selalu berada di dekatku. Jangan menyalahi perintah. Jika ku bilang, tetap berada di tempat yang aman, maka kamu harus patuh. Mengerti, kan?” tegas Marc.
Reine memberi hormat ala militer dengan tangannya. “Siap, pak!” serunya meyakinkan. “Kalau begitu, karena hari ini ku perintahkan untuk tetap tinggal... maka kamu harus...?” tanya Marc, seakan menyuruh Reine untuk melanjutkan perintahnya. “Maka, harus tetap berada di sini” jawab Reine pelan. “Bagus, begitu baru benar” puji Marc sembari membelai lembut rambut Reine.
Kini, kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain. Reine tampak tersenyum ke arah Marc. Tanpa menunggu waktu, Marc buru-buru menyambar bibir Reine dengan lembut. Beberapa detik, mereka hanyut dalam ciuman hangat yang mendalam.
“Tunggu sampai aku tiba, oke?” pinta Marc, usai mengakhiri ciumannya. “Ya. Aku akan menunggu” jawab Reine menurut. Marc mengangguk sambil kembali memeluk Reine dengan kedua tangan hangatnya.
~~
Ketika jam pulang kantor, Marc buru-buru kembali ke rumah. Padahal biasanya, dia masih menyempatkan diri untuk makan malam diluar. Atau... minum segelas anggur di bar langganan.
Tapi kali ini, dia membuka pintu rumah dengan riangnya. Senyum Marc kembali mengembang, kala melihat seorang wanita yang amat sangat dicintainya. Wanita tersebut juga terlihat menyambutnya dengan senyum cerah.
“Selamat datang kembali...” sapanya hangat. Marc tak peduli lagi dengan tas berisi dokumen pekerjaannya. Dia melemparkannya seenak jiwa dan langsung memeluk Reine dengan erat.
“Aduh, kaget nih. Kenapa? Tidak bisa fokus?” tebak Reine setengah menggoda. “Fokus, masih bisa fokus. Tapi, penyakit yang mendadak menyuruhku buru-buru pulang, jauh lebih mengkhawatirkan. Kamu benar-benar...” keluh Marc. “Benar-benar apa? Meresahkan? Menyebalkan? Atau... apa ya?” canda Reine. “Meresahkan?” tanggap Marc. “Baguslah” kata Reine agak bangga. Marc tampak tertawa pelan sembari mengacak rambut Reine.
Tak mau kalah, Reine langsung menepuk bahu Marc dengan pelan. “Rambutku bisa jadi acar, kalau kau selalu melakukan itu. Jujur saja, nyebelin tahu!” dengusnya agak kesal. Reine kembali berusaha merapikan rambutnya. “Baguslah” jawab Marc, seakan memberi balasan. “Aih, menyebalkan!” seru Reine sembari menepuk bahu Marc beberapa kali.
__ADS_1
Malam yang sangat manis itu, berharap akan selalu bertahan. Selalu bertahan hingga nanti tiba waktunya. Waktu, ketika semuanya harus kembali ke tempat masing-masing.
“Tadi, aku sangat sibuk sekali menghabiskan buku yang kau berikan. Benar-benar... membuatku agak tercengang sih” kata Reine membahas topik lain. “Buku tentang Legenda Tujuh Permata? Kamu menghabiskan seluruh babnya?” tanggap Marc heran. Reine menggangguk dengan normalnya. “Aku membutuhkan seminggu penuh untuk menghabiskan keseluruhan babnya. Kamu benar-benar, wanita yang hebat” puji Marc masih terheran-heran.
“Entah kenapa, sepertinya atmosfer Underwall benar-benar baik. Dulu, aku selalu tidak pernah sempat membaca satu buku pun. Ketika berada di sini, buku sudah seperti makanan wajib bagiku. Aku pun kaget dengan perubahan yang signifikan pada diriku sendiri” kata Reine heran. Marc tersenyum senang. “Syukurlah, kalau begitu...” ucapnya sembari mencium kepala Reine.
Marc memang, ahlinya dalam hal yang romantis. Berbeda dengan Max yang selalu menggodanya. Atau... Luc yang agak kaku. Dan juga, Robin yang terlalu perhatian. Dia seperti, seseorang yang sangat sempurna di mata Reine.
Tak mau terlalu malu, Reine buru-buru mengalihkan. Pipinya yang merona, membuatnya menjadi tak fokus nanti. Sebelum Marc memberinya sentuhan romantis lain, Reine segera bertanya,
“Marc, aku agak bingung, ketika berusaha mempelajari yang ini. Di bab kelima, bukunya bilang kalau, jika tujuh permata ini berkumpul menjadi satu... para iblis yang terperangkap di dalamnya akan kembali mengancam. Lalu, apakah ini yang sedang di inginkan oleh para iblis sekelas Arthur? Mengapa dia terobsesi pada penghancuran dua dunia?”
“Sederhana. Mereka hanya ingin memakan darah manusia. Bagi mereka, manusia adalah santapan yang lezat. Darah paling nikmat di seluruh dunia”
“Hanya itu?”
“Hmm, jangan lupakan sugesti yang merasuki pikiran mereka, setelah meminum darah manusia. Menurut sugesti mereka, iblis akan menjadi semakin kuat berkat meminum darah manusia. Tapi Rein, bukan hanya iblis sekelas Arthur yang mengambil alih kekuasaan dua dunia”
“Hah? Selain mereka, masih ada orang lain? Siapa?”
“Hari ini, kami semua memfokuskan diri untuk menyelidiki Arthur. Kami telah menginterogasi Arthur, sepanjang hari ini. Dia mengaku, bukan hanya dia yang menginginkan dunia. Tapi juga...” ujar Marc terhenti sejenak. Dia terlihat melangkah ke arah rak buku miliknya. Marc mengambil sesuatu yang mirip seperti, sebuah gulungan. Ketika membuka gulungan itu, sebuah lukisan tampak timbul di sana.
“Para penyihir hitam. Mereka ingin kembali memecahkan para monster terkutuk, yang tersegel di dalam tujuh permata, hasil dari kerja keras para Pemburu Kematian” lanjut Marc sambil menunjukkan rupa salah satu penyihir hitam legendaris yang telah terlukis dalam gulungan tersebut. “Apa tujuan mereka?” tanya Reine kembali penasaran. “Pemburu Kematian. Mereka ingin memusnahkan para pemburu” jawab Marc.
“Jika mereka adalah penyihir, maka akulah yang harus mereka hadapi. Sebelum dunia hancur, kita akan menghentikan mereka bersama-sama. Kau mau kan, berjuang bersamaku?” tawar Reine penuh dengan tekad. Marc tersenyum lembut. “Kapanpun dan di mana pun itu, aku selalu siap berada di sampingmu, Rein...” janji Marc tak main-main. Reine mengangguk pelan.
__ADS_1
“Tapi sebelum itu, kamu harus mendengar sebuah berita” kata Marc mendadak mengalihkan. “Berita? Apa?” tanya Reine penasaran. “Ayahmu...” ungkap Marc terhenti. Reine mendadak tegang. Dia menatap ke arah Marc dengan ekspresi seriusnya.
“Kami telah berhasil menemukannya”