
Cuaca malam ini, mendadak berubah menjadi musim panas. Ciuman yang terbalaskan, membuat Marc terlena. Dia tak berhenti terus menyerang bibir Reine.
Dia ketagihan.
Bak buah ceri yang matang-matangnya, Marc menggilas bibir mungil itu, tanpa belas kasih. Kedua tangannya, perlahan, mendorong pelan tubuh Reine ke arah tempat tidur miliknya. Seperti aliran air yang selama ini tersumbat, cukup menggambarkan perasaan Marc yang menggelora hari ini.
Reine tak dapat mengatasinya. Bibir Marc terlalu kuat hingga membuatnya kewalahan. Ciuman itu, semakin memanas kala Marc mulai memainkan lidahnya.
“Hmmm”
Terdengar jelas ******* kecil dari bibir Reine. Marc semakin bersemangat untuk beralih ke leher Reine. Sepertinya, leher wanita itu akan habis seketika malam ini. Dia bahkan tak menyisakan ruang sedikit pun di leher Reine. Hampir di seluruh leher, Marc memberinya sebuah tanda kemerahan yang masih merona.
“Marc...” panggil Reine berusaha menyerah. “Aku mencintaimu, Rein...” bisik Marc pelan. Rupanya, iblis satu ini tak dapat berhenti begitu saja. Kalau soal menahan perasaan, Marc bukanlah orang yang jago. Dia mudah di tebak dan akan memberikan segalanya untuk menyenangkan hati Reine.
Udara semakin panas ketika mereka telah berada di atas tempat tidur Marc. Reine berada dalam posisi, tepat di bawah Marc. Dia mencoba mengambil beberapa oksigen untuk mengisi ulang paru-parunya.
Marc membelai lembut rambut Reine. “Dilihat dari lingkaran hitam yang menghiasi lingkar mata anda, sudah bisa diduga. Anda pasti lelah, Direktur. Bagaimana jika... Istirahat saja?” ujar Reine bernada imut. Marc dibuat tertawa, usai mendengarnya.
“Sudah kuduga, aku benar-benar tidak akan keluar dari kegagalan ini”
“Kegagalan? Huu... Anda jahat sekali! Anda akan semakin gagal, jika terus berusaha untuk keluar”
“Sebab itu, aku tidak akan berusaha memperbaiki kegagalan ini. Gagal dalam mengontrol perasaanku sendiri, itu agak... Lebih baik”
__ADS_1
Reine menyentuh kedua pipi Marc. Tak lama kemudian, dia tersenyum. Marc tampak mencium keningnya dengan lembut. “Tidurlah...” bisiknya.
Marc terlihat bangkit dari tempat tidur. “Bagaimana denganmu?” tanya Reine. “Aku tidak cocok tidur di jam begini. Mungkin, agak malam? Aku harus mengerjakan pekerjaanku. Bakal menumpuk saja, kalau semakin di diamkan” jawab Marc. “Uuhh, sudah kuduga, Tuan Deval... Anda benar-benar keren!” puji Reine mendadak.
Tak butuh waktu lama, kedua pipi Marc langsung memerah. Dia tampak menunduk sembari memegangi lehernya. “Ooh, Tuan Deval sedang tersipu! Tampannya...” goda Reine.
“Rein, kamu membuatku pusing. Istirahatlah, aku akan kembali satu jam lagi. Selamat malam” ucap Marc. “Kau... keberatan jika ku temani?” tawar Reine tiba-tiba. Marc kembali berbalik, setelah sempat mengambil langkah menuju ruang kerjanya. “Istirahatlah...” pinta Marc lebih lembut.
Reine segera mengangguk paham. Dia tidak bisa menolak permintaan Marc yang begitu mendebarkan. Lagi pula, mereka memang harus berpisah sejenak. Yah, setelah... ungkapan perasaan itu menjadi sebuah tindakan yang agak... vulgar?
Sepeninggal Marc, Reine buru-buru menutupi wajahnya dengan bantal. Ketika tak sengaja mencium aroma bantal tersebut, dia teringat akan pemiliknya. “Harum... sekali... Aih!!!!” seru Reine dari balik bantal.
Sementara itu, di ruang kerja Marc...
“Luc, proposal mana yang harus ku baca? Adakah tugas yang mendesak? Akan ku selesaikan sekarang, jika ada. Aku tidak mau, ada pekerjaan yang menumpuk. Lagi pula, ini akhir tahun. Pertemuan bisnis akan segera di jadwalkan, bukan? Jadi, aku tidak mau menunda tugas lagi” tanya Marc melalui sambungan telepon. “Tuan, anda... telah mengerjakan semuanya. Jadi, harap segera beristirahat saja. Sebab...” “Bagaimana aku bisa tidur? Dia ada di sana?!” potong Marc dengan nada agak tinggi. Luc yang tak pernah mendengarnya, di buat kaget setengah mati.
“Bukan... Itu hanya... Serangga”
“Serangga tak tahu diri!! Serangga macam apa yang membuat anda merasa tidak nyaman seperti ini? Katakan, Tuan! Kalau begitu, saya akan segera mengirimkan bantuan”
“Luc, tidak perlu berlebihan. Aku hanya... tidak ingin tidur”
“Gawat, Tuan! Sepertinya, stres anda kumat. Saya akan segera...”
__ADS_1
“Luc! Hentikan! Aku hanya... ingin ngobrol denganmu” kata Marc agak emosi. “Maafkan saya, Tuan...” sesal Luc. “Aih, sudahlah... Ini bukan salahmu. Beristirahatlah. Sampai jumpa besok. Selamat malam” tutup Marc. Dia tampak melemparkan ponselnya ke arah sofa yang berada di dalam ruang kerja.
Ketika berdiam diri sejenak sembari menopang dagu dengan kedua tangannya, Marc malah kepikiran soal yang tadi terjadi. Dia kembali melihat bayangan dirinya, bibir milik Reine dan ekspresi wajah Reine yang tak bisa membuatnya berpaling.
“Auh! Pergilah sejenak. Aku tidak bisa berpikir jernih. Dasar... menyebalkan” keluhnya sambil tersipu malu. Marc memegangi keningnya dengan satu tangan. “Ya tuhan, apa yang telah ku lakukan... Benar-benar...” lanjutnya tak lama kemudian.
Ketika Marc melangkah kembali ke dalam kamar tidurnya, dia melihat Reine telah terlelap dengan nyenyaknya. Wanita itu, bak baru di hantam seribu ton batu. Dia terlihat sangat kelelahan.
Marc duduk di dekat Reine yang sedang tidur. Dia terlihat mengelus rambut Reine dengan lembut. “Kamu sudah berusaha dengan keras. Tadi, kamu pasti sangat takut sekali saat menyadari, kekuatanmu tak lagi bekerja. Maaf, aku datang terlambat. Maaf, telah membuatmu menjadi seperti ini. Maaf, sudah membuatmu ketakutan. Maafkan aku...” ucap Marc menyesal.
~~
Suara kicauan burung yang bertengger di dekat jendela, membuat Reine tak sengaja terbangun. Dia sedikit melakukan peregangan dan menggeliat sejenak di atas kasur. Namun, tangannya tak sengaja menyenggol sesuatu.
Ketika mendongak ke atas untuk mengecek, Reine mendapati Marc sedang tidur di sampingnya. Dan bahkan, Reine baru menyadarinya. Mereka tidur di tempat yang sama dengan menggunakan selimut dan bantal yang sama.
Auh...
“Kenapa kau tidak pernah membuatku berhenti terkesan, sih?” gerutu Reine pelan. Dia menggeser sedikit tubuhnya lebih ke atas. Kini, wajah Reine tampak lebih dekat dengan wajah Marc.
Perlahan, Reine menyentuh kedua pipi Marc. “Ini... tidak mimpi, kan?” bisiknya pelan. Reine terus menatap ke arah Marc. Bahkan, dia sedang menikmati pemandangan wajah Marc yang sedang tidur dengant tenangnya.
“Kenapa melihatku begitu? Kamu bisa terlena, lho” celetuk Marc, sukses membuat Reine agak berjingkat. “Oh, selamat pagi...” sapa Reine lembut. “Pagi, Miss Dallaire. Apa tidurmu nyenyak?” balas Marc diikuti senyum dinginnya yang khas.
__ADS_1
Reine buru-buru memalingkan wajahnya. Dia sangat sebal, dengan wajah Marc yang begitu. Sebab, wajah itulah yang waktu itu, sempat membuat Reine harus menjaga jarak dari Marc. Dia tidak mau Marc marah lagi, akibat kesalah kecilnya.
“Ada... yang salah?” tanya Marc sedikit waspada. Reine tak menjawab. Melihat Reine sedang mengelus kedua pipinya, Marc merasa ada sesuatu yang sedang di pikirkan oleh Reine. Sesuatu yang sangat penting hingga wajahnya terlihat murung.