produk gagal

produk gagal
Tak Terkendali


__ADS_3

“Konsekuensi apa yang akan saya terima, bila setuju bergabung di hotel ini? Saya hanya manusia biasa, lho. Tidak seperti yang anda pikirkan. Selamat dari beberapa iblis yang menyerang, semata karena pertolongan orang lain dan kemampuan bertahan hidup yang biasa orang lakukan. Saya, tidak seperti yang anda pikirkan” ujar Reine menanggapi permintaan Marc. “Tidak seperti yang anda pikirkan? Kamu pasti belum mengingat, kejadian tempo hari” kata Marc mengalihkan topik. Reine mengerutkan keningnya.


Robin menatap ke arah Marc. Ekspresinya, terlihat khawatir. Wajahnya seakan berkata, ‘kau yakin akan mengatakannya sekarang?’ seperti itu.


Marc tampak menggenggam kedua tangannya, kemudian menggunakan kedua tangan itu untuk menopang dagu. Di saat Marc mulai bersikap demikian artinya, sesuatu yang besar akan segera diungkap. Dan yang pasti, berhubungan dengan Reine.


“Kejadian tempo hari? Apa?” tanya Reine masih tidak mengingat. Memorinya, seperti telah sirna hingga tak bisa dipanggil kembali. “Sebuah insiden buruk terjadi. Tepatnya, di malam hari. Di lorong yang berujung ke pintu belakang hotel” terang Marc memberi clue.


Reine masih belum ingat. Melihat keadaan yang seperti ini, raut wajah Robin tampak semakin khawatir. “Ini kesalahanmu, Marc! Jika kau tidak menugaskan Maximilien untuk pergi dari pesta, hal ini tidak akan pernah terjadi!” amuk Robin tak sabar lagi.


“Ini sebuah kecelakaan. Kau tidak bisa langsung menyalahkan Direktur Deval, Tuan Dimont... Lagi pula, Maximilien telah dihukum atas perbuatannya” respon Luc mencoba melindungi Marc. “Kecelakaan? Ini bukan hanya kecelakaan yang kau maksud. Setelah kau tahu, Miss Dallaire mampu melindungi dirinya dari iblis wanita berselendang merah, kau tertarik dan ingin merekrutnya. Lalu, apa? Malam itu, kau sengaja menugaskan Maximilien untuk menjemputnya, bukan? Dengan keadaan yang tidak stabil... membuat Max yang mudah terbawa hasrat, akhirnya melukai Miss Dallaire!” teriak Robin makin naik darah. “Tuan Dimont! Jaga ucapan anda!” balas Luc yang juga berteriak kencang.


“Aku tidak peduli! Kau bilang, kau akan melindunginya jika dia bergabung dengan hotel. Tapi saat Miss Dallaire di tangan iblis sekelas Max, anda tidak mampu melindunginya. Anda terlalu lemah, Tuan Deval. Sebaiknya, anda batalkan saja niat anda untuk merekrutnya” kata Robin melanjutkan. “Tuan Dimont!” seru Luc. Marc berusaha menenangkan Luc dengan merentangkan tangannya hingga menghalangi langkah Luc.


“Apa? Tunggu, jadi kejadian di malam itu benar-benar...?” tanya Reine syok. Rupanya, dia sudah mengingat. Seorang iblis pengisap darah lain, menghampirinya kala itu. Seperti tak ingin membuang waktu, dia langsung mengigit leher dan bibir Reine. Dia menghisap darah Reine, hingga wanita tersebut harus tak sadarkan diri selama beberapa hari.


Reine sadar, pria itu pasti rekan Direkturnya. Mungkin, malam itu dia juga turut menghadiri pesta. Kemudian, terjadilah insiden tersebut pada Reine. Karena itulah, Direktur merawat Reine yang tak sadarkan diri. Dan selalu meminta maaf, atas sebuah kesalahan yang sama sekali tidak Reine mengerti.


“Karena itukah, anda meminta maaf hingga tak dapat menatap wajahku?” tebak Reine tepat sasaran. Seketika, baik Robin maupun Marc, mereka terlihat menunduk. Mereka kehabisan kata-kata.

__ADS_1


Reine bergantian menatap ke arah Marc, Robin dan Luc. “Rupanya, teman kalian terlalu banyak mengambil darahku. Kalau aku saja sampai pingsan, dia bisa saja... sedang dalam bahaya saat ini” ucapnya kemudian. Marc tampak terkejut. Baru kali ini, dia memperlihatkan wajah panik itu ke semua orang. Biasanya, dia dikenal karena pembawaannya yang tenang dan berwibawa.


Raut wajah Luc pun, turut terkejut. “Kenapa? Baru sadar, ya? Harusnya, kalau mau merekrut orang, wajib dong dilihat latar belakangnya dulu” ucap Reine santai. “Luc, periksa keadaan Max” pinta Marc berusaha tenang. “Tuan, bagaimana dengan...” “Tidak ada waktu!” potong Marc. Luc terlihat bergegas meninggalkan ruangan.


“Kau... Iblis terkutuk. Salahkah, aku?” tebak Marc serius. Tatapan matanya yang tadinya hangat, berubah tajam. Layaknya, hendak mencincang Reine hidup-hidup.


“Mau aku iblis terkutuk atau bukan, kau tetap berhutang nyawa padaku” balas Reine diikuti tatapan mata yang tak kalah tajam. “Berhutang? Tentu saja, tidak. Kau sengaja, memasang jebakan agar Max mengarah padamu” kata Marc sembari tangannya, terlihat mempersiapkan sesuatu di bawah meja. “Tebakanmu salah besar, Tuan Deval. Teman anda lah, yang iblis terkutuk” ungkap Reine.


Marc mengerutkan keningnya. Senjata yang telah di siapkan, mendadak urung sejenak. Fokusnya, berhasil Reine alihkan sementara.


“Kau menuduh Max, agar aku bisa melepaskanmu? Tidak, Miss Dallaire. Ke manapun kau kabur, aku akan tetap menemukanmu. Robin, tutup semua akses keluar” perintah Marc. “Tunggu, kau tidak berpikiran untuk membunuhnya, bukan? Hentikan, Marc! Dia hanya manusia biasa!” sergah Robin. “Iblis terkutuk bisa melakukan segala hal, termasuk menyamarkan baunya, Rob. Ikat dia!” seru Marc sambil mengacungkan sebuah pistol ke arah Reine.


Ketika pelatuk tampak hendak ditarik oleh Marc, Robin melindungi Reine dari Marc. “Menyingkirlah! Pistol ini, telah dilumuri Abu Kematian. Kau akan lenyap, bila terkena tembakannya!” perintah Marc tegas. “Aku tidak akan menyingkir. Selama aku berniat baik dan tidak menyakiti manusia, Abu Kematian tidak akan pernah memusnahkanku” tolak Robin tetap ada pada pilihannya.


“Robin!” seru Marc dengan kencang. Bersamaan dengan itu, Luc membuka pintu lebar-lebar. Ekspresinya terlihat panik. Saat buru-buru menutupnya, seorang pria yang tak asing tampak langsung menghancurkan pintu. Luc dibuat kalang kabut dengan tindakan pria tersebut.


“Apa yang terjadi? Maximilien? Kenapa dia bisa keluar dari sel?!” tanya Robin kaget. “Kekuatannya tak terkontrol. Dia menghancurkan segalanya dan membunuh para iblis lainnya dalam sel. Dan sayangnya, aku tidak berhasil menarik mundur tindakannya. Dia terlalu kuat, Tuan Deval...” jelas Luc yang berakhir melapor ke arah Marc. Direktur Golden Luxury Hotel tersebut, terlihat menatap ke arah pria yang sedang marah di depannya.


Pria itu, Maximilien Jacob Geiger. Iblis yang menyerang Reine hingga harus tak sadarkan diri selama tiga hari. Seharusnya, dia masih mendekam di sel bawah tanah, seperti kata Robin.

__ADS_1


Namun, melihat wajahnya yang merah penuh dengan amarah. Tampaknya, perkataan Luc soal dia mengamuk di dalam sel hingga membunuh iblis lain, bisa dibenarkan. Entah, apa yang membuatnya menjadi terlihat lebih liar dari biasanya.


Robin membelakangi Reine, ketika Max menatap tajam ke arah wanita tersebut. Keselamatan Reine adalah prioritas. Robin tak ingin, kembali kecolongan saat Max mendadak menyerang manusia.


Sayangnya, Max dengan gerakan cepat, melompat ke arah Reine. Luc berlari menghambat serangan Max. Dia turun tangan, melindungi Reine tanpa diperintah.


Luc berhasil memukul mundur Max, dengan meninju wajahnya. Tubuh Max yang lebih kecil dari Luc, tampak terpental ke belakang. Kini, Marc yang terlihat melangkah menghampiri Max.


Marc berjongkok, mendekat ke arah Max yang masih berusaha bangkit dari lantai. Marc memegang bahu kiri Max, agar dia tak bergerak menyerang Reine lagi. “Max, apa yang terjadi padamu? Sadarlah!” ucap Marc berusaha mengembalikan Max seperti semula.


Namun, Max yang sudah gelap mata, tetap bersikeras menyerang ke arah Reine. Max bahkan, terlihat melibas tangan Marc hingga tubuh Marc tumbang ke lantai. “Tuan Deval!” seru Luc sembari melangkah hendak membantu Marc.


“Lindungi, Miss Dallaire!” teriak Marc. Sayangnya, Luc sudah lebih dulu terkena cakar Max. Entah sejak kapan, kekuatan Max sedikit demi sedikit makin keluar tak terkendali.


Pertahanan Robin pun, berhasil di runtuhkan oleh Max. Dia memang dikenal sebagai, iblis yang terkuat di antara Robin dan Luc. Karena itu, jika kekuatannya digunakan dengan sempurna, bukan tidak mungkin mengalahkan Robin dengan mudah.


Max melibas kepala Robin dengan satu tendangan maut. Kini, Max telah berada di hadapan Reine. “Menjauhlah dari sana, Miss Dallaire!” teriak Luc. “Tidak, Miss Reine! Lari!” pinta Robin.


Marc yang lebih dulu bangkit, tampak berlari ke arah Reine. Namun, Max telah lebih dulu mengaktifkan perisainya. Marc kembali terpental ke belakang.

__ADS_1


Max mendekati wajah Reine. Meski Max berbahaya bagi tiga iblis lain, Reine tak berkutik. Dia tetap berada di tempatnya berdiri. Reine seolah, tak takut pada iblis yang tiba-tiba berubah menjadi monster itu. Reine siap, dengan risiko apapun yang akan di dapatkannya hari ini.


__ADS_2