produk gagal

produk gagal
Sebuah Rahasia


__ADS_3

“Nona Carine, tidak pernah mengajari saya untuk membalaskan dendam, yang mulia. Meski saya merasakan kepedihan yang saya alami kala itu, tetap saja... membalaskan dendam bukanlah sebuah solusi yang baik. Saya juga yakin, leluhur pasti juga tidak ingin para penduduk lama melakukan hal itu” jawab Raven tegas. Gray mengangguk pelan. “Kalau begitu, kau sudah siap bertarung? Dengan para penduduk lama yang ingin membalaskan dendam?” tanyanya mendesak.


Raven mengangguk dengan penuh keyakinan. Seolah, tak ada keraguan lagi dari dalam hatinya. “Hhh... entah apa yang membuatmu bisa senurut itu padanya. Yang jelas, aku masih marah karena kalian berkomplot” kata Gray agak merajuk. Dia tampak bersendekap sembari memanyunkan bibirnya.


“Berkomplot? Maksud anda?” tanya Raven setengah kaget. “Kau membiarkannya pergi begitu saja, bukankah itu yang namanya berkomplot?” ujar Gray bernada kesal. “Yang mulia, anda memang tidak pernah berubah. Sebab itu, Nona tidak ingin menemani anda lagi. Hhh... ya sudahlah...” gerutu Raven menanggapi.


“Apa maksudnya helaan nafas itu? Kau mengejekku, ya?!” amuk Gray. Tak ingin membuat masalah lebih lanjut, Raven memilih untuk tutup mulut. Seketika, dia berubah kembali menjadi seekor gagak hitam yang menakutkan.


Seperti kedatangannya, bahkan ketika pergi dari ruangan Gray pun, Raven seolah tak bersuara. Dia selalu datang dan pergi dengan tenangnya. Melewati celah jendela ruangan Gray yang terbuka, Raven dapat dengan mudahnya terbang bebas dari sana.


Sembari menatap kepergian Raven, Gray tampak menghela nafas panjang. Beban berat yang selama ini selalu dia sepelekan pun, akhirnya telah tiba. Memang, masalah sepele baginya. Akan tetapi, dia harus sadar. Hal ini tidak akan menjadi sepele, jika Carine tak ada bersama dengannya lagi.


Tok!


Tok!


Tok!


Suara dari pintu ruangan Gray. Ketukan pintu tersebut, sampai terdengar menggema di seluruh sudut ruangan. Gray bersiap menerima tamunya. Meski entah siapa yang akan datang, Gray tampak duduk di kursi kerjanya. Seolah, tak ada yang terjadi di ruangan itu sebelumnya.


“Kau sedang sibuk?” sapa sebuah suara yang tak asing. “Rapat dengan perusahaan lain sudah ku atasi. Hhh... dasar, iblis merepotkan. Kalau kita mendapatkan penghargaan saja, mereka semua pada repot-repot meminta kerja sama” balas Gray yang tampak melorot sedikit ke kursi besarnya yang nyaman. Saat ini, dia malah terlihat agak tertelan oleh kursi.


“Sudah kuduga, memilihmu sebagai wakil pengurus hotel adalah hal yang sangat bagus” puji tamu yang berkunjung di ruangan Gray. “Terus saja... memuji dirimu sendiri, Deval” gerutu Gray kesal. Marc Deval tampak tersenyum puas, usai berhasil membuat Gray kesal.


Tamu Gray, tak lain adalah Marc. Entah kenapa, Marc sangat mengandalkan Gray. Bagi Marc, pria humoris, blak-blakan dan penggoda wanita itu bak penyelamatnya. Setiap kali Underwall mengalami krisis, dia selalu ada untuk mengatasinya.

__ADS_1


Gray mempersilakan Marc duduk di sofa miliknya. “Jujur saja, aku tidak ingin menjadi seseorang yang penting di sini” ucap Gray membuka percakapan. “Kenapa? Ada yang membuatmu merasa terganggu?” tanya Marc agak khawatir.


Gray menggelengkan kepalanya. “Kopi?” tawarnya kemudian. “Tidak perlu, terima kasih” tolak Marc halus. “Kalau begitu, mau” ucap Gray menyimpulkan seenak jiwa. Kelakuan inilah yang membuat Marc hanya bisa menggelengkan kepala. Kadang, Gray memang selalu menyebalkan.


Gray menyuguhkan secangkir kopi hangat di atas meja. Dia duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan Marc. “Jadi, kau kemari untuk meng-audit atau mungkin, memeriksa laporan?” tebak Gray. Marc menggeleng serius.


Melihat jawaban dari Marc, Gray pun mengerti. Dia segera menyilangkan kedua kakinya. “Masalah Underwall, para tetua, Arthur atau... Reine?” tanya Gray tegas. Marc tersenyum, seakan Gray mampu membaca pikirannya.


“Underwall, mungkin... akan baik-baik saja dengan adanya dirimu dan yang lain”


“Arthur?”


“Ku serahkan semuanya pada tim penyidik”


“Para tetua?”


“Kalau begitu, pasti yang terakhir. Reine”


“Tidak Max, aku akan melindunginya. Dia akan baik-baik saja”


Gray terlihat menyeruput anggur pertamanya, pagi ini. “Kalau begitu, ada berita baru yang kau dengar. Aku penasaran” ucapnya tak lama. “Hhhm, ya. Ku pikir, semua mungkin akan baik-baik saja. Tapi sepertinya... bahkan Pemburu Kematian sepertiku pun, tidak bisa mengatasi yang ini” jelas Marc dengan raut wajah bingung.


Gray mengerutkan kening. “Apa yang kau dengar, hingga wajahmu jadi kacau begitu?” tanyanya khawatir. “Penyihir hitam... tiba-tiba muncul kembali. Dan dia berniat untuk menghancurkan dunia ini. Aku tidak habis pikir. Hal itu seperti awal dari kehancuran dari seluruh penghuni di dunia ini. Pembantaian masal, akhir dari dunia?” ungkap Marc, wajahnya tampak ketakutan.


“Tunggu, kau... Pemburu Kematian?” ulang Gray, bak pria bodoh nan polos. “Jangan bercanda, aku sudah memberitahumu berulang kali!” amuk Marc mendadak kesal. “Hah? Benarkah? Kapan kau mengatakannya?” tanya Gray lagi. “Aku sudah mengatakannya padamu! Dan bahkan, aku sering menggunakan kekuatan itu untuk mengatasi para iblis yang tidak bisa di atur” jelas Marc.

__ADS_1


Gray tampak manggut-manggut. “Apakah sulit, memberitahuku sebelum aku jadi terkejut gini? Kalau kau mengatakannya dari awal, aku mungkin akan tenang... karena ada kau di sampingku. Kau lebih kuat dari yang lain” ucapnya kemudian. Marc yang saat ini dibuat pusing. “Kau... apa maksudmu sih?” tanya Marc mulai marah.


“Kira-kira... begitulah yang akan dikatakan oleh Reine, sebagai tanggapan. Kalau-kalau... kau mengungkapkan rahasiamu” ujar Gray santai. Dia tampak kembali meneguk anggurnya. Lidah Marc terasa kelu.


Speechless


“Kau belum memberitahukannya pada Reine, kan?” tebak Gray. “Ku rasa, itu masih belum diperlukan...” tanggap Marc. “Setelah insiden Tobie, kau pikir Reine akan baik-baik saja dan kembali normal? Tidak, Deval. Kekuatannya menghilang, dia tidak berdaya. Sayangnya, dia pun menyadari akan kekurangan itu. Dia pasti merasakan perubahan dari kekuatan Permata yang tidak bisa melindunginya secara maksimal. Kau merasakannya juga, kan?” kata Gray. Marc terdiam, perkataan Gray seolah hanya terdengar faktanya. Dia tak bisa mengelak.


“Kau kira, dengan memberinya cinta setiap hari, kau bisa menghilangakan kekhawatirannya? Tidak. Dia khawatir, tentang semuanya. Jika kau tidak percaya pada perkataanku, periksa saja sendiri” tantang Gray. Meski berusaha mengelak, Marc tetap tak memiliki dasar yang kuat. Kenyataan yang dijabarkan Gray, terlalu menekannya.


Sembari memengangi kepalanya, Marc berujar,


“Apakah harus... memberitahukan padanya?”


“Kau dan dia adalah pasangan yang penuh rasa saling percaya. Kenapa tidak? Dengan begitu, kalian tidak akan mudah dikalahkan”


“Kau mengatakannya seolah... kau pernah mengalami hal ini. Kau terlihat sangat tenang”


Gray tersenyum simpul. Usai meneguk habis segelas anggurnya, dia menatap ke arah pemandangan dari jendela. “Lakukan saja, sebelum kau menyesalinya. Saat kalian sama-sama mengetahui kelemahan dan kekuatan kalian... semua akan menjadi mudah. Seolah pernah mengalaminya? Anggap saja begitu” ucapnya penuh dengan sorot menyedihkan. Lagi-lagi, dia teringat akan kenangan masa lalunya bersama Carine.


Sepeninggal Marc, Gray masih terus memandangi panorama kota dari jendela ruangannya.


Bolehkah aku memberikan solusi yang seperti itu? Bukankah aku akan semakin sulit mendapatkan Carine kembali, jika hubungan mereka berdua semakin erat?, tanyanya dalam hati. “Hhhmm, kalau tidak, mungkin akan menjadi bencana lain? Yah, akan makin repot kalau sampai si iblis menyebalkan itu tidak bisa melindungi Reine. Jika tubuh Reine hancur, kemungkinan terburuknya... Carine akan terjebak di dalam sana. Selamanya” ujar Gray berbicara sendiri.


“Dan begitulah... rencana anak nakal itu, agar dia tak bertemu denganku lagi. Dasar, menyebalkan!” dengus Gray kesal. Akan tetapi, raut wajah kecewanya tak dapat dibendungnya. Jujur saja, dia tak hanya kecewa. Namun juga...

__ADS_1


Sedih.


Hatinya terasa patah.


__ADS_2