produk gagal

produk gagal
Dia Telah Kembali


__ADS_3

Dengan setengah berbisik, Reine berusaha menggapai telinga Marc. Pria itu, sedang berdiri tegak, hendak menyerang dan mendapatkan permata perak kembali. Namun kini, perhatiannya agak teralih.


“Hancurkan permatanya... dia tidak boleh memilikinya” pinta Reine pelan. “Tidak mungkin. Dengan begitu, dunia ini akan membeku! Perlahan, kita akan mati...” tanggap Marc berakhir lemas. “Hanya itu satu-satunya jalan. Jika memang Langit mengizinkan, kita semua pasti akan selamat” kata Reine penuh keyakinan.


“Aku akan mencoba merebutnya kembali. Dunia ini... Harus kulindungi, apapun yang terjadi. Percayalah padaku. Percayalah, pada Pemburu Kematian, sepertiku” ucap Marc bertekad. Sebelum Reine menjawab, Marc segera berlari menyerang. Dia, seolah memiliki energi cadangan yang tak pernah ada habisnya.


Ketika sudah dekat dengan permata, Marc kembali disingkirkan oleh penyihir hitam. Pertikaian pun, kembali bergejolak. Dan kali ini, Marc tak menyerah begitu saja.


Marc selalu berhasil menghindar dari penyihir hitam. Kala dirinya terdesak, Raven yang juga masih mengemban tugas, berdiri dan berjuang bersama Marc. Tujuan mereka sama, atas nama kedamaian dunia ini.


Ketika pertarungan berubah sengit, mereka bak melupakan soal permata. Mereka lebih fokus pada pertunjukan kekuatan dari pada permata. Sekali lagi, mereka... melupakan permatanya.


Hingga tanpa sengaja, penyihir hitam menjatuhkan permata perak. Raven berlari melindungi permata tersebut. Namun berbeda dengan Marc, yang justru menginginkan permata itu hancur. Dengan harapan, penyihir hitam akan membeku dan tak berhasil menghancurkan dunia manusia.


Ketika permata tersebut benar-benar jatuh dan terpecah menjadi beberapa bagian, kehancuran dunia yang sebenarnya, telah datang. Tanah yang mereka pijak, perlahan mulai retak.


Langit yang tadinya berkabut, menjadi semakin gelap. Para penduduk yang tubuhnya masih tergeletak di tanah untuk memulihkan diri, perlahan berubah menjadi batu. Raven, tak dapat melindungi permatanya.


“Yang mulia, dari awal langkahmu benar. Harusnya, aku tetap tersegel dalam hutan yang paling dalam. Maafkan aku...” sesal Raven putus asa. “Dan hal ini membenarkan kelemahan kalian. Dari dulu, kalian adalah bangsa iblis yang paling bodoh! Karena apa? Karena kalian selalu mementingkan perasaan! Apalagi, pada manusia biasa. Hingga... jatuh cinta?” sahut penyihir hitam diikuti tawanya yang terdengar mengesalkan. “Sampai kapanpun, kalian tidak akan bisa menandingi iblis yang murni... sepertiku! Hidup, bangsa Pvalka!” lanjut penyihir hitam.


“Kau! Langit pasti akan menghukummu! Di sini, kita semua akan binasa bersama-sama!” seru Marc. “Siapa bilang? Kenapa aku harus memilih jalan yang begitu menyedihkan seperti kalian? Dasar, tidak berguna!” balas penyihir hitam tak kalah keras. Marc tak habis pikir dengan perkataan penyihir hitam itu.


Saat tubuhnya mulai membeku, efek dari hancurnya permata perak, Marc malah melihat penyihir hitam sama sekali tak merasakan yang sama. Orang itu, bahkan sedang mengucap beberapa mantra. Dengan suara berat yang khas.

__ADS_1


Tak lama, sebuah portal muncul di hadapannya. Sebelum masuk, penyihir hitam tampak menoleh ke arah Marc. “Selamat menikmati siksaan dari Langit, Pemburu Kematian!” ujarnya diikuti tawa menggelegar. Sampai dia menghilang dari balik portal, tawanya masih terngiang di telinga Marc.


“Ternyata, rencana kita salah! Sial!” umpat Marc kesal. Kini, tak ada pilihan lain di dalam otaknya. Dia sudah putus asa. Dan dia, siap menerima konsekuensi dari kebodohannya.


Reine pun, sama sekali tak bergerak. Meski berulang kali Marc berteriak, wanita tersebut tak menyahut. Dalam situasi yang kalut, Marc hanya dapat menangisi kepergian Reine yang tak menyisakan sepatah katapun.


Kini, dia hanya tertinggal sendiri. Dalam kegagalan. Tak hanya ditinggalkan oleh wanita yang dia cintai. Namun juga, ditinggalkan oleh karibnya yang juga menjadi korban dari kejamnya penyihir hitam.


~~


Raven!


Bangun, mahluk bodoh!


Raven!!


“Tugasmu... Masih ada satu! Kau tidak ingat?” tanya Gray, yang berkomunikasi dari dunia seberang. “Maafkan aku yang mulia, tapi... Nona... sudah tewas” jawab Raven dengan setengah lemas. “Apa kau bilang?! Meski begitu, kau... Rav... Dengar...” tanggap Gray yang suaranya makin terputus-putus. Sebab, tangan Raven yang sedang mengenakan alat komunikasi, perlahan menjadi batu.


Raven menghela nafas panjang. “Tidak bisa. Aku gagal. Meski pedang itu bisa ku raih, Nona... telah terjebak dalam tubuh gadis itu. Terlebih lagi, gadis itu... sudah tewas. Nona... Maafkan aku...” ucap Raven lirih. Kala dirinya berputus asa, Raven menunduk tak menyadari sesuatu telah terjadi.


Sekumpulan kupu-kupu, tampak terbang beriringan. Kupu-kupu tersebut seakan menari mengelilingi tubuh Reine yang sudah tak bergerak lagi. Mereka, bak berusaha membangunkan Reine kembali.


Marc adalah orang pertama yang menyadari hal itu. Karena takjub, dia sampai tak bisa berkata-kata. Kupu-kupu tersebut, terus mengelilingi tubuh Reine hingga sebuah cahaya muncul menyilaukan pandangan.

__ADS_1


Tiba-tiba, di dunia yang berujung hancur itu, mendadak memunculkan semilir angin. Datang dengan begitu lembut dan berubah menjadi begitu cepat. Marc menyaksikan seluruh proses itu, hingga dia melihat tubuh Reine terangkat oleh angin. Dan masih, dikelilingi oleh kupu-kupu.


Marc kebingungan. Dia tak dapat berkata-kata. Meski otaknya, berulang kali memerintahkan mulutnya untuk bicara.


Tubuh Reine berputar di dalam angin. Bak tornado yang dahsyat, membuat Reine terperangkap di dalamnya. Beberapa detik setelahnya, sebuah kilatan cahaya muncul dari samping kiri Raven.


Seperti sebuah komet melintas, kilatan cahaya menembus lautan angin yang membuat Reine terperangkap. Raven terperanjat. Dia menyipitkan kedua mata, agar dapat melihat dan mempercayai apa yang sedang di hadapannya.


Kilatan itu, berubah menjadi sebuah pedang dengan gagang besi berukuran sedang. Pedang legenda yang hanya dimiliki oleh seseorang di dunia ini. Senjata yang dibuat khusus oleh langit untuk seseorang.


Saat pedang itu berhasil digenggamnya dengan erat, tubuh yang terperangkap dalam pusaran angin, perlahan diturunkan kembali. Ketika kedua kaki telanjang tersebut muncul dari balik pusaran angin, wajah Raven tampak kembali bahagia.


Diikuti sekumpulan kupu-kupu di belakangnya, seorang wanita dengan gaun selutut berwarna putih kebiruan tampak muncul. Dengan rambut sepanjang punggung yang tergerai indah, senyum wanita itu terasa menenangkan. Hanya mengayunkan pedang dan menancapkannya ke tanah, kehidupan di sekitar sana bak kembali seperti semula.


“Nona...” ucap Raven setengah terharu. “Anak nakal! Sudah ku bilang, panggil aku saat kau benar-benar membutuhkanku!” balas wanita tersebut yang malah, memarahi Raven. “Maafkan aku, Nona...” sesal Raven bersungguh-sungguh.


Wanita tersebut segera membereskan kekacauan. Dia tampak membentangkan tangan kirinya ke atas tanah. Sedetik saja, pecahan permata perak terlihat berkumpul di bawah telapak tangannya.


Ketika menggenggamkan tangan kirinya, permata perak telah kembali ke asal. Tak lupa, dia terlihat mendekatkan permata perak ke arah gagang pedangnya. Lagi-lagi, Marc dibuat terperanjat.


Permata tersebut, langsung masuk menempati ukiran yang ada di gagang pedang milik wanita itu. Bak, permata telah pulang ke rumahnya. Dengan tenangnya, dunia kembali berjalan normal.


“Siapa... Kau?” celetuk Marc tak sabar. Apa yang dilakukan wanita itu, memang sudah tak bisa masuk dalam pikiran Marc. Dia bahkan, sampai menyipitkan mata sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


Wanita tersebut segera menoleh ke arah Marc. “Aku? Hmmm, kau bisa memanggilku...” jawabnya terhenti sejenak. Dia tampak berpikir.


“Carine?”


__ADS_2