
Hari ini, Reine memilih untuk pergi keluar. Hari libur kantor adalah hari yang pas hanya untuk sekedar mencari hiburan. Tanpa ditemani oleh siapapun, Reine merasa bebas.
Semenjak dirinya memberi Max pengertian, sekarang tak ada lagi orang yang berusaha untuk mengacaukan rencana pribadinya. Meski bagaimanapun, dengan mereka sama seperti sedang membuat sebuah pertandingan tinju. Baik Robin, Max dan Luc, mereka selalu saja berebut untuk menemani Reine pergi.
Walau sedikit sepi, Reine mencoba untuk menikmatinya. Memikirkan segala hal yang terjadi belakangan ini. Dan yang paling penting adalah mencoba untuk mencari tahu soal kemunculan Lady Dia.
Jujur saja, Reine masih penasaran akan hal itu. Lady Dia orang yang sangat serius kalau soal menyelesaikan sesuatu. Dia mengenal pimpinannya tersebut. Pasti, ada sebuah masalah yang lebih rumit dari pada sekedar, “merebutnya dari perlindungan Marc”.
“Tidak sesederhana itu. Seorang Lady Dia, menghasut para iblis untuk menghancurkan Underwall. Dan lagi, bagaimana bisa dia masuk ke dalam perisai itu? Bukankah, manusia biasa dilarang memasuki perisai? Mereka juga tidak akan bisa masuk, karena ada sebuah filter yang berada di dalamnya” ucap Reine mengoceh sendiri. Dia tengah duduk di salah satu bangku di sebuah taman. Letaknya, tentu, masih di pusat kota. Tidak jauh dari hotel Underwall berdiri.
Beberapa orang tampak menatapnya dengan berbisik. Reine memang terlihat aneh, berbicara pada dirinya sendiri saat suasana sedang sepi. Wajar, jika mereka merasa heran dengan Reine. Tapi, justru sebaliknya. Reine malah abai, karena terlalu larut dalam pikiran pribadinya.
Meski tak menemukan jawaban, Reine masih bak pemikir jenius. Dia berulang kali mengelus dagunya, bak Holmes. Tak lupa, kakinya tampak disilangkan. Benar-benar pemikir sejati.
Tak lama, Reine tak sengaja menatap ke arah beberapa orang yang lewat. Rupanya, dia sadar kalau menjadi pusat perhatian. Namun, bukan itu yang sedang Reine persoalkan. Dia melihat ke arah lain.
Mendadak, dia bangkit dari bangku. Kedua matanya sedikit di sipitkan, agar terlihat jelas ke arah seseorang yang sedang lewat. “Tidak salah lagi...” ujarnya pelan. Reine segera mengambil kembali jaketnya yang tersampir di bangku. Buru-buru, dia berjalan ke arah seseorang yang tak asing baginya. Mencoba mengejar dan mengikuti dari belakang.
Reine melakukannya dengan sangat berhati-hati. Dia tak peduli pada yang lain. Bahkan, keselamatannya sendiri. Sebab, orang yang dia kenal sedang berada di depan mata. Dan itu, terlihat sangat mencurigakan baginya.
Berjalan dengan cepat, menengok kanan-kiri dan berusaha untuk bersiaga. Orang yang Reine kenal itu, seperti hendak menemui seseorang. Sepertinya, sangat rahasia hingga dia harus berhati-hati begitu.
Tak lama, Reine berada di ujung jalan. Orang itu, belok ke kiri. Reine pun, turut belok ke kiri. Dan seperti biasa, dia mencoba untuk se-alami mungkin.
__ADS_1
Ketika orang tersebut tampak belok ke sebuah gang kecil, tepatnya seperti gang yang penuh dengan tong-tong sampah besar, langkah Reine terhenti. Dia berlagak sedang melihat jam dan menunggu di dekat gang.
Reine berusaha mengintip diam-diam ke dalam gang. Orang itu, masih di sana. Akan tetapi, sudah ada orang lain yang berdiri di hadapan orang yang Reine kenal tadi. Kedua mata Reine, kembali membelalak kaget. Lagi-lagi...
“Tidak perlu penasaran. Biar ku beri tahu. Orang yang sedang ku ikuti itu adalah Luc. Dan orang yang sedang di temui Luc adalah... Lady Dia. Lagi?! Ada apa, sih ini? Luc selalu terlihat agak takut, ketika bertemu dengan wanita itu” gumam Reine. Oke, jadi itu Luc? Dan lagi-lagi, dia bersama dengan Lady Dia. Bisakah kau agak... condong ke dalam gang? Kau mungkin, bisa mendengarnya sedikit, Rei.
“Kau gila? Aku sudah mencapai batasnya. Aku bisa ketahuan, kalau semakin jauh. Lagipula, mereka bukan orang yang tak kukenal. Karena itu, pastinya mereka bakal bisa menebakku lebih cepat” ucap Reine bernada kesal. Ya, sih, tapi kau penasaran kan? Mungkin, kau bisa berpura-pura membuang sampah?
Reine terlihat menghela nafas panjang. Situasi saat itu, sepi. Siapa juga yang bakal lewat di ujung jalan yang buntu? Selain, kalau kau ingin membuang sampah. Kau bisa, mengambil jalan ke kiri.
Tiba-tiba, keberuntungan Reine datang. Seorang wanita tua sedang membawa sebongkah sampah berukuran besar. Dia sampai terlihat kesulitan saat hendak menaruhnya ke tempat sampah. Tanpa pikir panjang, Reine pun segera memberinya bantuan.
“Hai, Nek. Biar aku saja yang memasukkannya ke dalam tong. Sepertinya, anda sedang kesulitan” kata Reine sembari membantu membawakan sampah si nenek. “Ah, apa kau petugas yang baru?” tanya si nenek tersebut. Agak aneh memang, tapi ya sudahlah.
“Tidak, anda salah...” tolak Reine berusaha menjelaskan. “Itu, kan? Suamimu? Yang ada di dalam gang? Tidak heran, kalau kau meminta sampahnya. Atau kau bisa lemparkan saja sampah ini padanya, alih-alih memasukkannya ke dalam tong. Aku mendukungmu!” balas si nenek. Sepertinya, dia menduga kalau Luc adalah suaminya. Dan dia, sedang berselingkuh dengan Lady Dia.
Reine menggeleng pelan. “Kalau sesuatu terjadi, berteriaklah. Aku akan membantumu. Berjuanglah!” ujarnya memberi semangat. Tak lupa, dia terlihat memberikan Reine kepalan tangan. Yah, agar Reine makin semangat maksudnya. Aduh, ada-ada saja si nenek. Mana mungkin, Luc adalah suami Reine?
Akhirnya, Reine membuangkan sampah tersebut untuk si nenek. Tentu saja, jaraknya sangat dekat dengan tempat Luc dan Lady Dia sedang berdiri. Membuang sampah, Reine sayup-sayup mendengar percakapan mereka.
“Aku sudah mengirim iblis lain ke dalam Underwall. Kau tahu, sangat mudah bagi saya untuk mengirim mereka. Jadi, jangan mempermainkanku, Tuan Marchand” tegas Lady Dia memperingatkan. “Lady Dia, sekali lagi ku tegaskan, aku sudah mengatakan hal ini pada Tuan Deval. Jangan mengancamku, karena hal itu bukan tanggung jawabku” jawab Luc. “Terserah, saya tidak peduli. Reine, harus berada dalam perlindungan anda. Bukan dia, Tuan Marchand! Dia tidak berhak untuk melindungi Reine! Karena anda adalah... reinkarnasi dari suami Reine!” pekik Lady Dia.
“Lady Dia, tolong pelankan suaramu!”
__ADS_1
“Kenapa? Anda masih tidak percaya?"
“Itu hanya cerita masa lalu! Sudah ku bilang, aku Luc Marchand, bukan orang yang kau ceritakan! Meski kau bilang, aku adalah orang itu... sayang sekali, tak akan ada kaitannya denganku!”
Bak disambar petir, Reine kembali merasakan syok untuk yang kedua kali. Dia memilih untuk segera berbalik dan meninggalkan tempat itu. Masih berpura-pura, tak mendengar ataupun mengetahui yang di ketahuinya barusan.
“Reine?” panggil sebuah suara. Suara khas yang dimiliki oleh Luc. Sepertinya, dia menyadari keberadaan Reine. Namun, Reine tak menoleh dan tetap terus melangkah meninggalkan gang.
Melihat keberadaan Reine, Lady Dia segera memanfaatkan kesempatan ini. Rencananya, harus berjalan dengan sempurna. “Anda harus mengingatnya, Tuan Marchand” ucap Lady Dia kemudian.
Tak lama setelah mengatakan hal itu, beberapa iblis dikerahkan olehnya. Rupanya, tempat itu telah di kelilingi oleh para iblis. Semenjak pertama kali Luc datang.
Bagai kilat menyambar, Reine tertangkap basah oleh para iblis suruhan Lady Dia. Mereka, berasal dari klan yang sama seperti klan yang menyerang Underwall tempo hari, klan elang. Mereka membawa Reine ke sarang mereka.
Luc menatap semua hal itu bak sekelebat. Semuanya terjadi begitu cepat hingga dia, tak bisa melindungi Reine yang berjarak tak jauh darinya. “Reine!!!” teriaknya, baru saja bisa keluar usai jarak Reine semakin menjauh darinya.
“Lepaskan Reine!” perintah Luc, ketika dirinya menyadari, wanita tersebut masih berdiri di dekatnya. “Anda mau saya melepaskan dia? Tidak. Saya tidak akan melepaskan dia. Jika Reine berada dalam bahaya, anda akan mengingatnya. Mengingat segala kesalahan yang telah anda berikan padanya!!” teriak Lady Dia. “Sudah kubilang, aku bukan dia!!!” pekik Luc frustrasi.
Lady Dia mendadak terdiam, dia terlihat takut. “Tuan Deval, Reine dibawa oleh dua orang iblis, anda pasti tahu, kemana Reine dibawa pergi. Tolong, segera kirim bantuan ke sana. Aku harus mengurus wanita ini” pinta Luc lewat ponselnya. “Sayang sekali, Underwall juga sedang di ambang kehancuran saat ini. Mungkin, pria dari klan Deval itu sedang mengatasi yang di sana” komentar Lady Dia.
Luc menatapnya dengan tajam. “Kalau begitu, selesaikan saja yang di sini! Suruh iblis-iblis itu untuk melepaskannya. Dengan begitu, kau hanya berurusan denganku saja! Sejak awal, urusanmu bukanlah dengan Reine. Tapi, denganku! Jadi, jangan buat Reine berada dalam masalah!” balas Luc lebih tegas. “Tidak bisa. Reine, harus terlibat dalam masalah ini juga. Dan anda... hanya satu-satunya orang yang tersisa. Hanya anda yang bisa menyelamatkan Reine saat ini” ujar Lady Dia tetap ngotot.
Luc tampak menghela nafas kesal. Tugasnya hari ini harusnya, menangkap Lady Dia dan mengurungnya ke Underwall. Agar wanita tersebut, tak membuat masalah yang lain. Namun rupanya, dia melupakan keingintahuan Reine yang lebih besar. Hingga menyebabkan, wanita itu juga berada dalam bahaya.
__ADS_1
Hanya kau, satu-satunya yang bisa menyelamatkannya. Jangan buat semakin rumit. Lindungi dia, ucap suara aneh tersebut kembali mengisi segala ruang di kepala Luc.