
Reine memegangi kepalanya. Usai terbangun dari pingsan di dalam sel Underwall sejenak, dia buru-buru keluar dari sana. Dia takut, seseorang akan menemukannya dan mengetahui kalau dirinya diam-diam melakukan penyelidikan sendiri.
Dia memutuskan untuk segera pergi ke kamarnya, meninggalkan Lady Dia yang sedang bersimpuh ke lantai begitu saja. Reine merasa bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Ketika tak sadarkan diri, dia tak merasakan ataupun mendengar apapun. Dia seperti, berada dalam ambang kematian.
“Sesuatu seperti telah keluar dari dalam tubuhku. Tapi entah mengapa, aku tidak bisa mencari tahu apa itu. Tubuhku... mendadak tak berfungsi. Kenapa? Tidak ada yang bisa menjawabnya. Bahkan Lady Dia saja, tak mau mengatakan apapun lagi. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” tanya Reine di sepanjang perjalanannya menuju kamar. Ketika hampir tiba di depan kamarnya, Reine tiba-tiba mengingat sesuatu dari kejadian tadi. “Kupu-kupu!” pekiknya saat teringat.
“Kenapa? Kau memimpikan sesuatu?” tegur seseorang dari belakang Reine. Buru-buru, Reine menoleh ke belakang. “Max?” ucap Reine agak kaget. Dia memang, belakangan ini sering tak muncul. Wajar saja, bila Reine terkejut melihat kedatangannya yang sangat tiba-tiba.
“Mungkin, sekawanan kupu-kupu mendadak muncul dalam sel Underwall? Warnanya putih, kah?” tebak Max lebih spesifik. Kedua mata Reine tampak melebar, tanda bahwa penyelidikan diam-diamnya, telah diketahui oleh orang. Namun, Max tampak bersandar ke dinding yang tepat, berada di hadapan pintu kamar Reine.
“Sedang apa... kau disitu?” tanya Reine berlagak bodoh. “Menunggumu, keluar dari sel. Ada masalah? Tampaknya, kau sangat kaget sekali” tanggap Max sambil besendekap. “Wajar saja aku kaget. Kau kan, jarang sekali muncul. Kau juga, tidak pernah datang langsung ke kamarku selain, ada keperluan kantor” balas Reine mengalihkan.
Max menatap ke arah Reine dengan senyum menggodanya yang khas. Kemudian, dia terlihat melangkah mendekatinya. Max mengincar telinga kanan Reine hingga wanita tersebut, harus kembali mengingat kejadian tak mengenakkan yang dilakukan oleh Max.
“Kau... baru saja kembali dari sel Underwall, kan?” bisik Max. “Apa maksudmu?” jawab Reine berusaha tenang. “Jangan mengalihkanku. Jawablah dengan jujur saja. Karena aku... tidak akan mengatakan hal ini pada Marc” ucap Max serius. Tak lama setelah itu, dia terlihat menjauh dari wajah Reine.
“Terus terang, aku juga penasaran dengan apa yang dikatakan oleh wanita dari Luxury Hotel itu. Bagi manusia biasa sepertinya, tidak akan mungkin bisa menembus perisai dua dunia. Kecuali, jika dia memiliki sebuah hubungan murni dengan seseorang yang ada di dunia iblis ini” ujarnya kembali bersendekap. Wajahnya terlihat acuh, ketika mengatakan hal tersebut. Max juga terlihat menatap ke arah langit-langit.
Reine melangkah ke arah pintu kamarnya. “Maksudmu, kau mencurigaiku? Bahwa, aku yang membuat Lady Dia masuk ke dalam Underwall?!” pekik Reine kesal, karena lagi-lagi merasa tertuduh. “Kubilang, hubungan murni, bukan? Memangnya, kau adalah anak dari wanita itu?” balas Max malah balik bertanya. “Bukan!” seru Reine buru-buru.
Max masih menatap ke arah langit-langit. Mungkin saat ini, dia sedang larut dalam berbagai pemikirannya tentang Lady Dia dan yang berhubungan dengan itu. Bahkan pertanyaan Reine, benar-benar diacuhkan olehnya. Akhirnya, Reine memutuskan untuk diam.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita... menyelidikinya?” tanya Max mengejutkan. “Apanya?” jawab Reine tak paham. “Kau bilang, penasaran dengan hubungan Luc dan Lady Dia?” kata Max. Tadinya, Reine berusaha sabar dengan perlakuan Max. Namun, kesabarannya tidak bisa bertahan.
“Kau tadi sebenarnya... dengar, kan? Kau mendengar perkataanku, tapi kenapa kau tidak mau menjawabnya?!”
“Eh, aku masih berpikir. Kau juga lihat, kan?”
“Telmi amat!”
“Tel...? Apa?”
“Telmiii!!”
“Telmi itu... telat mikir! Sebelas dua belas kok sama, orang bodoh. Sepertimu” olok Reine sekalian menjelaskan. Max yang tadinya bersedekap sambil bersandar di dinding, refleks langsung berdiri dengan tegak. Dia menatap tajam ke arah Reine, karena telah dibuat kesal. Wajahnya memerah, karena meledak.
“Kau mengolokku, setelah ku selamatkan dari kuali panas? Wah, keterlaluan sekali kau ini!”
“Siapa yang menyuruhmu datang? Lagi pula, ada Luc di sana. Apalagi, pulangnya aku dibawa oleh Marc. Jadi curiga nih, kau... enggak benar-benar melindungiku, kan? Paling, aku salah lihat”
“Kau melihatnya! Kau melihatku melepaskanmu dari tali yang kalau dipotong nih, kau bisa berubah jadi bubur!”
“Ya, ya, ya... Bilang saja mau dipuji. Wah, Maximilien keren! Puas?!”
__ADS_1
Usai mengatakan hal itu, Reine langsung melangkah dengan dongkol ke arah kamarnya. Dia terlihat masuk sambil membanting pintu kamarnya dengan keras. Entah mengapa, Reine mendadak kesal dengan percakapannya dengan Max kali ini. “Padahal biasanya, dia selalu berucap manis. Honey-ku, Honey. Honey, honey apaan? Menyebalkan!” gerutu Reine yang masih berdiri di dekat pintu.
Melihat sikap Reine barusan, Max malah tersenyum senang. Dia merasa, sangat bahagia hingga melebihi kebahagiaan semua orang di dunia. Sesekali, dia terlihat tertawa-tawa sendirian. Sudah seperti, orang tak waras.
Tak lama kemudian, Max tampak kembali menatap ke arah pintu kamar Reine. Dari tempatnya, dia masih bisa melihat Reine berada di balik pintu tersebut. Sedang menggerutu, menyumpah serapahi dirinya. Mungkin, Reine kecewa dengan sikap Max dari yang manis mendadak menyebalkan.
“Yah, mau bagaimana lagi? Aku sudah tak tahan, kalau kau terus-terusan diperhatikan oleh yang lainnya. Padahal dulu, kau selalu menunggu perhatian dariku. Mungkin, ini adalah balasan atas perbuatanku ya?” ucap Max, arah pandangannya tetap tak berubah. “Maafkan aku...” sesalnya kemudian. Dia tampak menunduk, ketika mengucapkannya.
Max terlihat segera berbalik pergi dari tempat itu. Suara pintu yang sedang dibuka, sedikit mengejutkannya. “Max!” panggil suara itu lagi. Suara yang selalu membuatnya bernostalgia. Ke sebuah waktu yang jauh dan sangat jauh lebih lama, dari kelahiran para iblis yang saat ini, menjadi semakin berkembang. Sebuah zaman yang kuno dan terlalu indah untuk dilupakan.
“Apa?” jawab Max sambil kembali menoleh ke arah asal suara. “Baiklah. Ayo, kita selidiki!” seru suara itu. Suara milik Reine Dallaire. “Apanya yang di selidiki?” tanya Max tak mengerti. “Tentu saja, Luc dan...” “Aku tahu” sela Max dengan nada paling menjengkelkan di seluruh dunia. Rasanya, Reine hampir melempar Max dengan sepatunya. Namun, tentu saja hanya sekedar bayangan.
Melihat Reine menahan amarahnya, Max kembali tertawa. “Apanya yang lucu?! Dasar, bodoh menyebalkan!” amuk Reine pecah lagi. Max semakin tertawa keras hingga kepalanya, mendongak ke atas. “Jangan tertawa! Atau kulempar sepatu, nih!” ancam Reine sudah bersiap melepas sepatunya.
“Auh, perutku sakit. Baiklah, baik... aku menyerah. Habisnya, kau itu konyol sekali, sih. Ku pikir, kau tadi beneran ngambek. Ternyata, masih butuh toh...” kata Max tak habis pikir. “Mau bagaimana lagi? Cuma kau yang tahu tentang hal ini. Aku juga tidak bisa mengatakannya pada siapapun. Jadi...” ujar Reine terhenti. Dia terlihat mendekat ke arah Max. Kemudian, Reine mengulurkan tangannya.
“Mohon kerja samanya, Pak Geiger” lanjut Reine diikuti tatapan serius. Max menatap ke arah tangan Reine yang terulur di depan mata. Mendadak, pikirannya di kuasai oleh beberapa memori di masa lalu.
“Aku membencimu, The Great Savior. Sampai kapanpun, kita tidak akan pernah bertemu kembali. Jadi, jalani kehidupan masing-masing. Kuputuskan, untuk tetap bertahan menjadi diriku yang sekarang. Aku tidak peduli, mau membusuk di dunia ini dengan menjadi Pemburu. Yang terpenting, aku tidak bertemu denganmu lagi. Jika tiba-tiba aku datang di hadapanmu... tolong, abaikan saja aku” ucap suara tersebut. “Lalu, bagaimana jika kau sendiri yang mengulurkannya padaku? Apakah aku... tidak boleh menerimanya?” tanya Max. “Hah? Apa katamu?” tanya Reine tak paham. Namun tangannya, masih terulur ke arah yang sama.
“Baiklah, karena kau sendiri yang mengulurkannya. Maka, kuterima dengan sepenuh hati. Hm, oke?” balas Max sembari menjabat tangan Reine. “Hah? Apa yang kau...? Aih, sudahlah! Kalau begitu, mulai besok kita harus memulai penyelidikannya” kata Reine sudah penuh dengan rencana. Max mengangguk setuju. “Lebih cepat, memang lebih baik” tutupnya.
__ADS_1