
“Caroline! Kau harus mematuhi aturan! Jika tidak, kau akan gagal mendapatkan reinkarnasi!” ancam Gray, usai melihat Caroline mulai berlari mengejar Tobie. Namun, ketika mendengar “gagal mendapatkan reinkarnasi”, langkahnya terhenti sejenak. “Sudah kuduga, ini akan berhasil. Siluman mana yang tidak mau tereinkarnasi lagi?” ujar Gray agak lega.
Tapi, tidak untuk Carine. Dia merasa heran, akan keputusan Caroline. Padahal semenjak tadi, wanita itu selalu bertekad dalam hatinya untuk menghadapi Tobie. “Sayang, jika kau berhenti di sini, siapa yang akan mencari kebenaran tentang ayahmu? Bukankah kau bilang, ini semua demi dia?” kata Carine mencoba menguatkan.
“Tidak, Carol. Usahamu sudah cukup. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk ayahmu. Tapi, nasib tidak selalu baik. Mungkin kali ini, kau tidak bisa melindunginya. Karena waktumu telah habis dan kau harus segera pergi, maka aku yang akan membantumu untuk melindungi ayahmu” tawar Gray tak mau kalah. Carine mengerutkan keningnya ke arah Gray. Dia tidak setuju dengan tawaran Gray. Tapi, dia harus berhati-hati mencari kata yang tepat, agar bisa mengalahkan Gray.
“Bukankah, ini adalah hal yang sudah kau tunggu-tunggu? Aku tidak akan membuatmu bingung. Mungkin, perkataan si Pemburu Kematian ini... ada benarnya. Kau berhak untuk menyerahkan semua itu padanya, karena waktumu telah habis. Tapi, Carol... Selama ini kau sudah merencanakan segalanya? Kau sudah menjalani semua rintangan yang sulit sekalipun, hanya untuk menemukan Tobie. Benar, bukan? Kini, tinggal selangkah lagi. Jika kau serius ingin mengejarnya, aku akan mengulur waktu untukmu” ucap Carine panjang. Mendengar hal itu, Caroline sedikit tergerak. Dia berbalik ke arah Carine.
“Bisakah kau... Eh, anda... mengulur waktu untukku? Aku janji, aku tidak akan kabur. Setelah berhasil menangkap Tobie” sumpah Caroline bersungguh-sungguh. “Dengan senang hati, sayang. Serahkan padaku” balas Carine diikuti senyum khasnya. “Apa maksudmu, The Bride? Tidak! Aku keberatan, ini menyalahi aturan. Aku tidak setuju!” tolak Gray keras.
“Yang mulia, aku yang akan menanggung semuanya” pinta Carine. Gray menggeleng kuat-kuat sembari bersedekap. Caroline berbalik kembali ke arah Gray, untuk meyakinkan pula. Namun, jawaban Gray tetap tidak.
Carine menyuruh Caroline untuk cepat bergerak meninggalkan gudang. Dia harus bisa menemukan Tobie, sebelum siluman itu pergi jauh. Meski agak takut pada Gray, Caroline tetap menuruti perintah Carine. Dia pergi dengan segera.
“Caroline!” teriak Gray hendak mengejar. Akan tetapi, Carine pun tak kalah cepat. Dia buru-buru memegangi lengan Gray, agar pria tersebut tak bisa beranjak ke mana pun. “Carine, kau tidak patuh!” tegas Gray. “Maafkan aku, yang mulia. Aku janji, ini akan menjadi tanggung jawabku. Dia harus pergi untuk menemukan siluman itu” balas Carine memohon.
“Dia sudah tertulis dalam buku, Carine. Jika dia tidak segera ikut denganku, kau tahu pasti apa akibatnya”
“Karena itu, saya meminta untuk sedikit mengulurkan waktu, yang mulia”
“Bagaimana bisa?!”
“Yang mulia, Tobie adalah buron. Dia harusnya di tangkap oleh Petugas Underwall. Seperti yang sudah anda ketahui, Petugasnya... terluka parah. Dia tidak sanggup mengejarnya”
__ADS_1
“Bukankah masih ada kau? Aku tidak menerima alasan, Carine. Kau di dunia ini... adalah anak itu. Jadi, sudah tugasmu mengejar Tobie”
“Anda... Bukankah di dunia ini adalah... anak itu? Playboy menyebalkan yang suka bilang, Honey dan Honey. Dialah yang sebenarnya ditugaskan untuk menangkap Tobie. Tapi karena dia kabur entah ke mana, jadi... yah, tugasnya dilimpahkan pada yang lain”
Perkataan Carine, bak menutup mulut Gray dengan sangat baik. Carine tersenyum, seolah mendapatkan kemenangan mutlak. Untuk menghindari tangan Gray yang biasanya, menjewer telinga Carine saat merasa kalah, Carine buru-buru melangkah ke arah Luc.
Carine merawat Luc dengan kemampuan yang dimilikinya. “Kau selalu saja... Aku tidak tahu lagi, bagaimana caranya membuatmu untuk tetap patuh pada aturan” keluh Gray pada akhirnya. Dia terlihat menghela nafas panjang dan masih bersedekap.
Gray selalu kalah, dalam perdebatan apapun dengan Carine. Tidak, lebih tepatnya, dia mengalah. Dia lemah, terhadap mata yang selalu menatapnya dengan hangat tersebut.
“Mau bagaimana lagi? Aku terlanjur mendengar suara dalam hatinya, dari tadi. Dia... begitu keras kepala. Tapi, maksudnya baik” kata Carine, yang kini merawat luka di tangan Luc, usai tadi merawat luka Luc di bagian punggung. “Bagaimana jika mereka saling membunuh satu sama lain? Kau tidak merasa kasihan, pada serigala putih itu? Dia tidak akan mendapatkan jaminan reinkarnasi!” tanggap Gray ngotot. Baginya, rasa tak tegaan milik Carine itu, sangat tidak berdasar.
“Aku teringat seseorang, makanya aku harus melakukannya. Aku harus membelanya, meski bagimu salah”
“Mana ada?!”
“Sekarang, kau berani membentakku?!”
“Kau yang lebih dulu membentak tadi!”
“Apakah dengan begitu, kau pantas membalasnya? Meski, aku sudah memberimu kebebasan untuk mengulur waktu?!”
Dimarahi habis-habisan oleh Gray, memang bukan hal yang sekali atau dua kali terjadi. Akan tetapi, kalau kedengarannya begini, Carine memang patut di salahkan. Walaupun sempat menolak, Gray tetap memberinya kesempatan.
__ADS_1
“Maafkan aku...” sesal Carine. “Males, ah” balas Gray merajuk. Carine menghela nafas pasrah. Dia berusaha mencari cara, agar Gray memaafkan sikap tak hormatnya, tadi.
Sementara itu, Luc... Sepertinya, dia dan kita adalah salah satu di antara miliar orang di dunia yang sama sekali enggak mengerti tentang persoalan mereka. Tapi, mendengar obrolan yang hangat, meski hanya sekedar perdebatan sengit itu, entah mengapa Luc merasa sedang berada di era lain.
“Siapa tadi?” celetuk Gray tiba-tiba. “Maksudnya?” tanggap Carine tak mengerti. “Tadi... Mantanmu yang...” kata Gray, yang kemudian berhenti. Dia tak sanggup melanjut, setelah melihat Carine mengerutkan kening.
“Mantanmu... di era Kaiion” lanjut Gray menantang. “Mantan dari mana? Bagaimana bisa punya mantan, kalau kau tiiaap hari memata-mataiku dari bawah balkon kamar tidurku. Etis, kah?” balas Carine mendadak kesal lagi. “Etis! Tentu saja itu hal yang lumrah. Begini saja, aku akan memaafkanmu kalau kau jujur, siapa orang yang kau maksud. Kalau kau sampai menjawab itu adalah...” “Anda, yang mulia” sela Carine cepat.
Gray mengerutkan kening, menatap tak percaya pada Carine. “Orang yang keras kepala, ngeselin, suka usil dan yang selalu tidak mau diganggu. Siapa itu? Kalau bukan... Kau?” ungkap Carine mengejutkan. “Tapi kau bilang, hatinya baik?” ujar Gray, seolah mengingatkan poin penting yang harusnya, Carine katakan.
“Kalau dikasih pujian sedikit saja, senang sekali ngungkit-ngungkitnya” gerutu Carine. “Apa?” tanya Gray tak dengar. “Itu... Para siluman serigala yang sedang bertarung. Siapa yang akan menangkap, kalau mereka berdua ternyata sekongkol dan melarikan diri bersama?” jawab Carine asal.
Wajah Gray kembali muram. Emosinya meningkat. “Siapa yang tadi menyuruhku untuk mengulur waktu?! Katamu, kau yang akan bertanggung jawab?!” serunya naik pitam.
“Kan... Di dunia ini... Anda adalah...” ucap Carine yang refleks, membuat Gray balik kanan. “Aku pergi! Ku serahkan Petugas Underwall itu padamu! Akan ku bawakan dua anak siluman bandel yang kau sayang itu, kemari! Tunggulah!” perintahnya dongkol. Sambil ngomel-ngomel tak jelas, Gray akhirnya pergi ke tempat dua serigala tersebut yang sepertinya, masih saling berantem.
Di sela-sela dirinya dan Carine, Luc mulai berani membuka mulut. Sejak tadi, dia memutuskan untuk diam, karena mencoba untuk memastikan situasi. Apalagi, saat wanita yang mirip Reine itu, berulang kali mengekspos pekerjaan pribadi Gray.
Seorang Pemburu Kematian. Dan bahkan, dia adalah pimpinannya. Yang berarti, Marc pun merupakan bawahannya. Dan artinya, Luc harus menempatkan diri dalam sikap yang baik. Tak hanya pada Gray, namun juga wanita yang sedang mengobatinya itu.
“Jadi, anda... berada di dalam tubuh Reine? Atau... Reine yang berada dalam tubuh anda?” tanya Luc ingin memastikan. “Hmm, keduanya?” balas Carine tak jelas. “Lalu, bagaimana bisa anda...” “Nanti, akan ada waktunya, Luc. Seperti saat kau menunggu, kapan Marc akan mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Dan hari ketika itu datang, kau... pasti akan mengerti akan situasi saat ini” potong Carine.
Mendengar ucapan dari Carine, Luc tak dapat membuka mulutnya lebih jauh. Mungkin, saat ini memang belum saatnya bagi Luc. Sebab itu, menunggu adalah hal yang sangat dia benci.
__ADS_1