
Sejenak, Carine teringat akan pesan dari Raven. Setelah memarahinya agar tidak berbicara macam-macam pada Marc, Carine tak sengaja menatap sebuah gumpalan awan yang aneh di atas langit. Gumpalan tersebut, perlahan mulai menutupi langit yang cerah.
“Rav, coba periksa itu!” ucap Carine agak terkejut. Buru-buru, Raven berlari keluar dari ruangan. Sementara Carine, berusaha mencium aroma angin yang berhembus ke wajahnya.
“Nona, awan hitam... tiba-tiba menutupi langit di seluruh kota!” lapor Raven, sekembalinya dia usai memeriksa. Raven juga mulai bergerak mencari tahu keadaan langit, dengan kekuatan mata elang miliknya. Kekuatan itu, Raven akan mengetahui keadaan langit.
“Sepertinya, sebentar lagi akan ada iblis atau siluman yang muncul” duga Carine. “Berasal dari sihir si Penyihir itu?” tebak Raven. Carine mengangguk. “Perlu kulaporkan pada Yang mulia juga?” tanya Raven memastikan.
Carine terdiam sejenak. Kemudian, dia menjawab dengan penuh keyakinan,
“Aku mencium, ini hanyalah peringatan. Entah, kapan monster itu akan benar-benar muncul. Mau kapan itu aku yang akan menghadapinya. Kalau situasi benar-benar sudah tidak bisa dikendalikan, laporkan hal ini pada Yang mulia”
Dan akhirnya, hari ini terjadi. Penantian Carine akan monster tersebut, akhirnya usai. Kali ini, sosok siluman raksasa setengah banteng tampak berdiri di dekat gedung pencakar langit. Siluman tersebut, bersiap hendak menghancurkan gedung.
“Illusion!”
Pemandangan di sekitar Marc dan yang lain, terlihat berubah. Siluman tersebut, seperti telah masuk ke dalam sebuah ruang hampa yang mirip sekali dengan keadaan di kenyataannya. Gedung pencakar langit, dia tebas begitu saja dengan tangan banteng itu.
Marc menatap ke arah Carine yang sendirian menghadapi musuh di luar perisai. Meski Carine baru saja menyerukan sebuah mantra lain, hati Marc tetap tak bisa tenang. Dia cemas, Carine akan berada dalam bahaya.
“Jangan khawatirkan aku. Tetap diam di dalam sana!” perintah Carine, seakan menjawab keresahan hati Marc. “Berhati-hatilah, Nona. Jika anda tidak membutuhkan bantuan, kami siap melakukannya” ucap Robin penuh dengan tekad. “Kami akan memecahkan perisai ini, tidak peduli bagaimana ancaman yang kau katakan!” timpal Luc agak menekan.
__ADS_1
Carine tersenyum tipis. “Hhh, kalian juga tidak berubah. Bahkan kalian pun, masih saja menganggapku lemah seperti dulu. Apa boleh buat? Sifat itu, memang berasal dari salah satu sifat buruk Yang mulia menyebalkan itu. Duh!” gerutu Carine jadi kesal. Meski begitu, dia segera fokus pada tugasnya.
“Jadi, gumpalan awan hitam yang kemarin itu... ulahmu, ya?” sapa Carine begitu nyaring. Sontak, siluman raksasa tersebut langsung menatap ke arah Carine. “Halo!” sapa Carine lagi. Dengan begitu cerianya, tak lupa dia tampak melambaikan tangan.
“Nona, kenapa anda menarik perhatiannya?” tanya Marc tak habis pikir, dengan upaya yang dilakukan Carine. “Kenapa? Aku senang menggoda para monster, memang” jawab Carine asal. “Hah?” ucap Marc makin bingung dengan tindakan Carine.
Marc memang belum sepenuhnya mengenal Carine. Jika dia sekali lagi menyamakan Carine dengan Reine, itu adalah kesalahan yang amat sangat besar. Biar kuulangi lagi. Meski Reine merupakan reinkarnasi dari Carine, mereka berdua benar-benar sangat tidak mirip!
Kalau soal bertarung, Carine lebih aktif dan suka memprovokasi. Mungkin, ini ajaran yang didapatkannya dari Gray. Pria itu, dulu memang senang sekali pamer.
“Manusia!!!” teriak siluman tersebut tiba-tiba. Dia segera berlari menyerang ke arah Carine. “Nona, awas!!” pekik Robin takut. “Diamlah, aku enggak bisa konsentrasi!” pinta Carine kesal.
Namun, tentu saja, kalau hanya soal diserang dengan terarah begitu, Carine bisa menghindar dengan mudahnya. Dia terbang dengan langkah yang amat sangat cepat. Marc, Robin dan Luc sampai dibuat menganga oleh langkah yang amat kilat tersebut. Mereka bahkan, sampai mendongak ke atas. Mereka juga mengikuti gerakan Carine yang lincah, ke manapun wanita tersebut pergi.
Ketika Carine sedang bersiap melakukan penyerangan ke arah titik buta, siluman tersebut malah mengarahkan serangan pada Marc. “Pemburu... sialan!” ucap siluman tersebut dengan fasih, meski agak terbata-bata. Carine tampak mengerutkan kening diikuti agak memiringkan kepalanya.
“Deval, kau mengenalnya? Dia menyerang ke arahmu, lho!” tanya Carine dengan santainya, meski siluman itu berusaha mengoyak-ngoyak perisai yang melindungi Marc dan yang lain. “Aku tidak tahu!” jawab Marc bernada panik. Sebab, guncangan yang dilancarkan oleh siluman tersebut, terasa sangat kencang dari dalam perisai.
“Masa sih? Coba ingat lagi. Kalau tidak mengenalmu, dia tidak mungkin terus berusaha mengeluarkanmu dari perisai!” ujar Carine ngotot. “Sebenarnya, kau itu mau menyelamatkanku atau mengorbankanku, sih?!” dengus Marc, tak tahan karena siluman itu terus menyerang perisai. “Nona, perisainya bisa pecah!” timpal Robin bernada memohon.
Akan tetapi, Carine tetap tak melakukan tindakan. Dia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Ya, dalam keadaan genting begitu. Dia memang agak nyeleneh.
__ADS_1
“Kenapa sekarang, aku merasa seperti sedang menjadi Reine ketika dalam keadaan bahaya, ya? Dan wanita yang sedang berpikir, dengan kekuatan terbangnya yang sok keren itu... kita” celetuk Luc. Seketika, baik Robin maupun Marc langsung menatap ke arahnya. “Benar, kan? Bukankah dulu, kita bersaing menjadi yang paling sok keren dihadapan Reine?” lanjut Luc, bak memutar kembali waktu.
Marc dan Robin memilih untuk diam. Mereka langsung menunduk, ketika menyadari ucapan Luc benar. Waktu itu, siapa sih yang tidak berusaha mencari perhatian Reine? Semuanya, pasti sedang melancarkan modus mereka diam-diam. Tersembunyi, bak mengalir seperti air.
“Oh, 5070!” seru Carine, setelah berhasil mengingat. “5080!” protes Marc mengoreksi. “Tuh, kau ingat!” balas Carine kesal. “Hah? 5080? Siluman banteng dari Barat! Waktu itu, dia muncul menghabisi seluruh kota. Dia hampir saja memakan Reine bersama dengan bocah kecil. Dia bersama dengan kawanannya. Aku yakin, telah memusnahkannya secara langsung, saat itu juga!” jelas Marc.
Kini, Carine mulai mengerti. “Ini hanyalah asumsi. Kemungkinan, seluruh siluman yang tiba-tiba muncul dengan dalih ingin mencelakai Reine... semuanya berasal dari Penyihir hitam. Artinya, Penyihir hitam di zaman ini adalah seseorang yang berasal dari klan kalian!” duga Carine curiga. “Tidak mungkin!” seru Marc. “Bagaimana dengan klan Archeneux?” tanya Luc ikut menduga.
“Mungkinkah... klanmu... Deval?” cetus Robin, sukses membuat kaget. “Klan Deval?” ulang Luc. “Mungkin, itu cukup masuk akal” kata Marc.
Prang! Krakk!
Perisai yang dimantrakan Carine, mulai retak akibat pukulan dari siluman tersebut. “Nona!!!” teriak Marc, Robin dan Luc bersamaan. Masalahnya, semenjak mereka terluka dan dirawat dalam ruang perawatan, ketiganya masih tidak dapat menggunakan kekuatan masing-masing.
Sebenarnya, bukan karena tidak bisa. Namun, Gray memilih untuk menyegel kekuatan mereka sejenak, agar mereka benar-benar pulih secara total. Jika kekuatan tidak disegel, layaknya air, kekuatan tersebut akan terus mengucur dan menghabiskan energi. Yang ada, mereka malah tidak bisa sembuh total dari luka yang amat sangat mengkhawatirkan tersebut.
Dengan kecepatan penuh, Carine kembali membuat mereka bertiga takjub. Tongkat yang tadinya hanyalah sebuah tongkat, tiba-tiba berubah menjadi sebuah pedang. Seperti telah memusnahkan banyak sekali musuh, Carine tampak biasa saja menebas siluman banteng tersebut, tepat di titik butanya.
Seketika, mahluk tersebut musnah dan berubah menjadi abu. Namun untuk yang kali ini, Carine mengubah kembali pedangnya menjadi tongkat. Carine menyerap abu tersebut ke dalam tongkatnya. Abu, mulai menyerap ke dalam bagian kepala tongkat milik Carine.
“Nona, anda hebat!” seru Luc bangga. Baik Marc maupun Robin, mereka juga tampak bernafas lega. Ketiganya, terbebas dari perisai yang sempat membuat mereka was-was. Usai, siluman tersebut hampir saja berhasil menghancurkan perisai. Mereka tampak senang, kota kembali normal.
__ADS_1
“Carine Anne-Marie Vaillancourt!” panggil sebuah suara yang tak asing. Carine terlihat menghela nafas pasrah, saat mendengar panggilan tersebut. “Kau berutang penjelasan padaku” lanjut suara itu. Sepertinya, apa yang telah disembunyikan oleh Carine beberapa hari ini, akhirnya terbongkar juga.