produk gagal

produk gagal
Kupu-Kupu Putih


__ADS_3

Reine bertahan dalam dinding persembunyiannya. Ketika Marc, Robin beserta Luc tampak meninggalkan ruangan tempat Lady Dia di kurung, Reine perlahan mulai bergerak. Dia juga memastikan, mereka bertiga benar-benar pergi dari sel.


Reine mendekat ke arah ruangan Lady Dia di kurung. Tempat itu, berpintu besi dengan ketebalan yang berbeda dari sel lainnya. Meski ruangan tersebut tampak tertutup, Reine masih bisa melihat keadaan Lady Dia lewat sebuah celah di jendela.


“Reine? Benarkah, itu kau?” panggil Lady Dia, ketika tak sengaja menatap ke arah jendela. “Lady Dia... kenapa anda bisa ada di tempat seperti ini?” tanya Reine mendadak sedih. Wanita yang tadinya sedang bersimpuh di lantai sel tersebut, buru-buru berdiri, mendekat ke arah jendela.


Lady Dia tampak memegang kedua tangan Reine lewat celah di jendela. “Kau tenang saja. Aku baik-baik saja. Sebentar lagi, mereka akan melepaskanku kok. Tidak perlu cemas...” ucapnya menenangkan. “Tapi, bagaimana bisa mereka setega itu dengan anda? Padahal, anda hanyalah manusia biasa. Ini adalah sel untuk para iblis, bukan manusia seperti anda!” ujar Reine agak emosional.


Bukannya ikut sedih, Lady Dia malah tersenyum. Dia juga berulang kali menepuk-nepuk punggung tangan Reine. Tak lama, dia mengangguk pelan, seakan sedang meyakinkan Reine.


“Aku baik-baik saja, sungguh. Mereka hanya ingin membuatku mengaku, makanya aku di kurung di tempat ini. Mereka... termasuk orang yang baik. Jika tidak, mereka pasti sudah membuatku lebih sengsara lagi”


“Memangnya, apa yang sudah anda perbuat hingga semuanya menjadi seperti ini?”


“Tidak ada yang spesial, Reine. Hanya... masalah tentang masa lalu”


“Lalu, kenapa anda mengorbankan hidup anda hanya untuk masalah yang tidak spesial?”


Pertanyaan Reine barusan, membuat Lady Dia merasa terpojok. “Sudah kuduga, Reine memang bukanlah wanita biasa yang terlalu bodoh. Kau benar, aku memang sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi, aku yakin kau juga tidak akan mau mendengarkannya. Jadi, aku memanfaatkan waktu, agar semuanya bisa kembali di tempatnya masing-masing” tanggapnya masih tanda tanya. “Aku mendengar, anda yang membuat Underwall hancur. Anda juga mengancam Max untuk melakukan sesuatu. Aku tidak akan menanyakan hal yang tidak ingin anda jawab. Akan tetapi, ada satu hal yang harus anda tanggapi. Satu saja” pinta Reine setengah memohon.


“Satu saja” kata Lady Dia membatasi. “Dari yang kulihat, eskpresi anda benar-benar menyebalkan ketika bertemu dengan Marc. Apakah anda... tidak menyukainya?” tanya Reine. Satu pertanyaan, seperti janjinya. “Kalau hanya tidak menyukai, aku pasti masih mau menatapnya. Tapi karena aku sudah tidak mau lagi ada kaitannya dengan Marc, jadi aku membencinya” ungkap Lady Dia berterus terang.


Namun, karena Reine ingin menepati janjinya, maka dia tidak lagi menanyakan hal lain. Meski sebenarnya, dia sangat penasaran tentang banyak hal. Reine hanya menanggapi dengan satu anggukan, bak jawaban Lady Dia telah memuaskan pertanyaannya.

__ADS_1


“Kau tidak tanya alasannya?” tawar Lady Dia agak menggoda. “Seperti di awal. Aku hanya akan menanyakan satu pertanyaan saja” jawab Reine berpegang teguh pada prinsipnya. Lady Dia tampak tertawa kecil. “Dasar, kau itu...” keluhnya tak dapat berkata-kata.


Reine meminta izin hendak pamit. Dia juga menjanjikan, akan segera mendiskusikan hal ini dengan Marc. Ketika Reine telah berbalik hendak pergi, Lady Dia kembali mengatakan sesuatu.


“Sebenarnya, aku sudah berjanji tidak akan mengatakan ini padamu. Aku juga tidak akan membangunkanmu, karena kau... pasti sangat lelah, usai berjuang sendirian. Tapi saat ini, dunia semakin kacau. Semenjak The Great Savior membuatmu menghilang dari sini, dia pun juga meninggalkan tugasnya. Dan kehidupan, terus berjalan. Kami sebagai manusia, lagi-lagi lemah dan tak mampu menghadapi para iblis yang makin menekan. Karena itu, sekali lagi... tolong, lindungi kami, The Bride of Great Savior. Tolong, lindungi kami...” ucap Lady Dia, yang malah terdengar seperti sedang memohon.


Usai mendengarnya, Reine malah makin tak mengerti. Lady Dia, seakan-akan sedang berbicara dengan orang lain di belakangnya. Reine jadi agak panik dan langsung menoleh ke belakang. Kalau-kalau, ada Marc atau siapapun dari keempatnya yang tiba-tiba mengawasi dari belakang.


Namun, tak ada seorangpun di sana. Hanya dia seorang saja yang tengah berdiri, di hadapan sel Lady Dia di kurung. “Aku... tidak mengerti maksud anda. Bisa tolong jelaskan, apa yang sedang anda bahas sekarang?” tanya Reine kebingungan. Akan tetapi, Lady Dia semakin memohon. Dia terlihat bersimpuh kembali ke lantai sembari menggenggam kedua tangannya, sejajar dengan di dada.


“Iblis dari Timur telah membuat sebuah aliansi, The Bride. Mereka ingin membangkitkan kembali sihir hitam ke dunia manusia. Keinginan mereka hanya satu. Mengumpulkan para permata dan menguasai dua dunia. Kami sebagai bangsa dari manusia biasa, telah melindungi para permata dengan sekuat tenaga. Namun, jumlah kami semakin hari semakin sedikit. Segel dari para Pemburu, sudah tak mampu melindungi kami. Hanya anda dan The Great yang masih berada di dunia ini. Jadi, tolong lindungi kami”


“Lady Dia, apa maksud anda? Jika anda bisa mengatakannya lebih rinci lagi, aku pasti akan mencoba mengertikan segalanya”


“Ibu?”


Ibu? Siapa dia? Ibuku? Bukan, dia sedang berbicara pada orang lain. Tapi, siapa? Siapa orang yang diajak bicara oleh Lady Dia? Apakah dia sedang serius? Ataukah hanya... mempermainkanku? Aku... harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak mengerti, batin Reine semakin bingung.


“Carine!” panggil Lady Dia semakin keras. Suaranya, terdengar menggema di seluruh sudut sel Underwall. Tak ada perubahan besar yang terjadi. Namun, beberapa detik setelah itu, Reine mulai merasakan sesuatu pada tubuhnya.


Mendadak, sekawanan kupu-kupu berwarna putih tampak keluar dari dadanya. Mereka sangat indah, cantik dan serasi saat terbang bersama ke atas lampu sel. Sekawanan kupu-kupu itu, terlihat berputar, saling berbaris di atas langit-langit, mengitari lampu tengah sel Underwall.


Karena terlalu takjub oleh keindahannya, Reine dibuat terlena. Tak lama, kupu-kupu tersebut tampak berlari ke arahnya. Menjadi dua barisan dan menabrak lembut kedua sisi di pipinya. Tanpa Reine sadari, tubuhnya terjatuh ke lantai sel. Lunglai dan tak berdaya lagi.

__ADS_1


Bersamaan dengan tumbangnya Reine, sosok lain berwajah sama persis dengan Reine, tampak muncul menggantikannya. Seorang wanita dengan sorot mata yang tenang, namun tegas disertai penampilannya yang anggun, menggunakan sebuah gaun panjang berwarna putih. Gaun itu, tampak menutupi seluruh tubuh sang wanita dari bahu hingga ke ujung kaki.


Melihat seluruh proses perubahan yang terjadi di depan kedua matanya, Lady Dia tampak menganga, syok dan kehilangan kata-kata. “Ca...rine?” tanyanya terdengar bingung. “Kita bertemu lagi...” balasnya tak melanjutkan. Dia lebih dulu memberi hormat pada Lady Dia, bak putri mahkota yang agung. Tak lama, dia kembali menyambung ucapannya.


“Ibu...”


Buru-buru, Lady Dia membungkukkan tubuhnya. Ketika mendengar wanita itu masih memanggilnya dengan sebutan, “ibu”, Lady Dia merasa sangat bahagia. Di sisi lain, dia juga merasa hancur.


Namun, kemunculan wanita itu, tak boleh di sia-siakan oleh Lady Dia. Karena, ada sesuatu yang lebih penting yang harus dia sampaikan padanya. Sebelum wanita bergaun putih tersebut, bersemayam dalam tubuh Reine kembali.


“Maafkan aku, The Bride. Harusnya, aku tidak memanggilmu dengan keadaan yang seperti ini. Tapi, waktuku tidak banyak. Seperti yang sudah kukatakan tadi... para iblis dengan sihir hitam ingin membangkitkan para permata dan menguasai dunia. Saat ini bahkan, kuasa mereka perlahan telah merasuk ke dalam dunia manusia. Karena itu, tolong, berikan kami petunjuk agar bisa menyelesaikan ini semua, The Bride...”


“Aku hanyalah Pengantin Sang Pelindung, ibu. Aku tidak akan bisa melakukan apapun, tanpa adanya perintah dari The Great. Dan lagi, sihir hitam yang ibu maksud, tidak akan bisa menghancurkan manusia untuk sementara waktu. Karena aku masih merasakan, tabir pelindung dari para Pemburu Kematian tetap bertahan, menyelimuti dunia manusia”


“Tidak, The Bride! Tabir pelindung sudah menghilang dari dunia manusia. Filter yang membatasi antara Underwall dan Luxury, juga sudah retak di segala sisi. Buktinya, aku mampu melewatinya tanpa merasakan sakit”


“Ibu, tenanglah. Marc Deval akan menyelesaikan segalanya. Karena hal itu, telah menjadi tugasnya sebagai pimpinan Pemburu lainnya. Jadi, tolong percayalah padanya, meski ibu membenci klan Deval”


Lady Dia sudah tak mau lagi mendengar, meski sedang dibujuk. Wanita bergaun putih bernama, Carine tersebut tampak menghela nafas panjang. Agaknya, dia sudah tidak ingin lagi berdebat dengan sang ibunda.


“Asal kau tahu saja. Dia... juga menghilang dari dunia ini, The Bride” ucap Lady Dia berusaha memberi tahu tentang sesuatu. Carine terlihat mengerutkan keningnya. “Hanya aku yang menghilang dari dunia ini. The Great Savior... dia masih ada di dunia ini. Dan dia pasti, akan melindungi ibu dan semuanya” balas Carine tetap ngotot. Lady Dia tampak menghela nafas sedih.


“Sayang sekali, The Great Savior... juga menghilang setelah anda, tak kembali ke dunia ini” ungkap Lady Dia dengan suara pelan. Seketika, tubuh Carine terlihat langsung ambruk. Dia seperti, mendapatkan tumpuan beban yang sangat berat di pundaknya hingga tak dapat berdiri kembali. “Tidak mungkin...” ratapnya menyedihkan.

__ADS_1


“The Great Savior...”


__ADS_2