Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
David yang usil


__ADS_3

Airin tersenyum melihat wajah sendu Tomy. Baru beberapa menit yang lalu, lelaki tampan itu dengan lantangnya menyatakan cinta. Tapi sekarang lelaki tampan itu terlihat seperti kucing yang lucu yang minta di sayang.


" Tom, Aku--"


" Jangan dilanjutkan! aku nggak kuat mendengarnya. Maaf jika tadi aku sudah lancang mengungkapkan perasaan ku padamu. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya"


" Yakin nih kamu nggak mau mendengarkan jawaban aku?"


" Ya, karena aku tau kalau kamu akan menolak ku"


" Sayang banget, padahal aku mau jawab iya aku mau. Tapi karena kamu nggak mau denger aku tarik lagi kata-kata ku"


" Maksud kamu, kamu menerima aku gitu?"


" Iya. Tapi kamu nggak mau"


" Mau kok. Mau banget malah "


" Udah lewat. Lagian tadi kamu nggak mau mendengarkan "


Tomy berjongkok di hadapan Airin. Ia mengeluarkan cincin yang sedari tadi ia simpan di saku jasnya.


" Airin Anastasya, Will you marry me "


Mata Airin berkaca-kaca mendengar ucapan Tomy barusan. Lelaki yang selama ini ia sukai, melamarnya.


Ia pikir perasaannya akan terus ia pendam karena takut lelaki itu tidak menyukainya. Tapi kenyataannya sekarang, lelaki itu melamarnya.


" Yes I Will "


Tomy langsung memasangkan cincin bertahtakan berlian itu di jari manis Airin. Ia mengecup tangan wanitanya itu.


" Terima kasih sudah menerima aku. Itu artinya kamu juga menyukai aku?"


" Hhmm"


" Sejak kapan?"


" Sejak aku pertama masuk ke perusahaan Wesley"


Tomy kaget mendengar ucapan Airin. Ia tidak menyangka, kalau wanita cantik itu menyukainya sejak dari dulu. Dan ia tidak menyadari itu. Atau lebih tepatnya dulu ia yang terlalu cuek.


" Maafkan kebodohanku yang baru menyadari perasaan kamu"


" Aku maafkan"


Tomy membawa wanita cantik itu kedalam pelukannya. Untung dia mengikuti saran bosnya itu. Kalau tidak, ia tidak akan tau perasaan Airin padanya.


Ia menatap dalam mata wanita yang ada di hadapannya itu. Ia pandangi wajah cantik nan mulus itu. Mata Tomy pun tertuju pada bibir nan merah bak Cherry itu. Perlahan Tomy mendekatkan wajahnya ke wajah Airin.


" Stop! "


Karena kaget Airin sontak mendorong tubuh Tomy ke belakang. Alangkah kagetnya mereka melihat siapa orang yang berbicara tadi.


" Tu-tuan"


" Iya saya. Kenapa?"


Alih-alih menjawab pertanyaan tuanya, Tomy malah bertanya balik. " Kenapa tuan sama nona ada di sini?"


" Saya selesai dinner sama istri saya. Kamu ngapain di sini?"


" Saya juga dinner sama Airin"


" Dinner nya kok sama-sama dengan saya?"


" Saya mana tau kalau tuan juga mau dinner di sini"


" Tadi kenapa wajah kamu dekat sekali sama wajah Airin"

__ADS_1


Wajah Airin memerah karena malu. Ia tidak menyangka kepergok mau berciuman sama bosnya itu.


" Mata Airin kemasukan debu, jadi saya coba tiup"


" Kayak lilin ulang tahun aja pake ditiup segala. Kamu nggak mau buat mesum kan?"


" Nggak tuan. Saya bukan cowok murahan yang suka mesum di sana sini"


" Baguslah. Kalau kamu ingin melakukan ciuman atau apalah itu. Kamu harus halalkan dulu wanita mu. Mengerti?"


" Mengerti tuan"


" Baiklah, saya sama istri saya mau pulang dulu. Oh iya, selamat ya atas pertunangannya. Saya pikir tadi kamu nolak asisten saya, Airin"


Tomy kaget mendengar ucapan tuannya. Apa tuannya itu melihat dia menyatakan cinta dan juga melamar Airin tadi. Ia akan bicara, tapi tuanya sudah tidak ada lagi di sana.


" Tuan!" teriak Tomy.


David tertawa mendengar teriakkan asistennya itu. Sungguh menyenangkan mengerjai sang asisten. Tapi dia turut bahagia karena asistennya itu tidak jomlo lagi.


" Daddy iseng banget sih"


" Nggak apa-apa, kapan lagi bisa ngerjain mereka berdua"


" Aku senang karena cinta Tomy diterima sama Airin"


" Iya. Sekarang kita tinggal tunggu undangan dari mereka"


" Hhmm"


Sebelum pulang mereka mengambil makanan yang yang sudah dibungkus oleh pelayan tadi. Setelah mengambil makanannya, pasutri itu pun pergi meninggalkan restoran itu.


Mobil milik David melaju membelah jalanan ibukota. Aluna melihat di pinggir jalan orang yang akan mereka beri makanan. Karena sayang kalau dibuang.


" Daddy stop!"


David menghentikan mobilnya.


" Liat ibu-ibu itu, udah malam dia masih berjualan. Mana Jualannya sambil menggendong bayi lagi. Kasihan banget adek kecilnya"


" Mungkin dagangannya belum habis"


" Gimana kalau Daddy borong jualan ibuk itu. Jadi dia bisa cepat pulang deh"


" Boleh"


" Yuk turun, kita borong semua dagangan ibuk nya"


David tersenyum melihat istrinya. Inilah yang ia suka dari istrinya itu. Suka menolong orang dan lagi tidak pernah memandang rendah orang lain.


" Malam ibuk"


" Malam Neng"


" Ibuk jualan apa?"


" Ini Neng, jualan opak singkong"


" Opa singkong?" tanya David.


" Opak Daddy, bukan Opa"


" Tapi kok mirip kerupuk ya sayang"


" Ya emang sejenis kerupuk juga. Tapi ini dari ubi"


" Emang Aden belum pernah makan Opak?" tanya ibuk itu.


" Belum Buk. Namanya aja saya baru denger"

__ADS_1


" Berapa satu bungkusnya Buk?"


" tujuh ribu Neng"


" Ya udah Buk, biar ibuk bisa cepat pulang? opak nya kita borong?"


" Semuanya Neng?"


" Iya Buk"


" Neng nggak becanda kan?"


" Nggak Buk, saya serius. Sekarang ibuk hitung berapa bungkus opak nya. Terus masukin kedalam kantong plastik"


" Baik Neng"


" Ini anak atau cucu ibuk?"


" Anak Neng, yang paling kecil"


" Umurnya udah berapa Buk?"


" Sepuluh bulan Neng"


Aluna membelai kepala bayi itu. Ia sudah tidak sabar juga ingin melihat bayinya hadir ke dunia. Kalau sudah lahir, pasti akan seimut bayi ini juga.


" Ini Neng opak nya"


" Berapa semuanya buk?"


" Seratus empat puluh ribu Neng"


" Daddy bayar ya"


David mengambil sepuluh lembar uang kertas seratus ribu. Kemudian ia memberikan uang itu pada istrinya. Karena kalau ia sendiri yang memberikan takut OCD nya kumat lagi.


" Ini Buk uangnya"


" Ini nggak kebanyakan Neng?"


" Nggak apa-apa Buk, untuk beli susu anaknya"


" Terima kasih Neng, Aden"


" Sama-sama Buk. Sekarang ibuk langsung pulang ya. Udah malam, kasihan anaknya"


" Iya Neng"


" Kami pamit dulu Buk"


" Iya Neng"


" Tunggu Buk, saya punya makanan untuk ibuk dan anak-anak ibuk. Sebentar saya ambil dulu"


Aluna segera ke mobilnya. Ia akan memberikan makanan tadi pada ibuk itu. Dengan begitu makanan itu tidak terbuang sia-sia. Tak berselang lama Aluna kembali dengan membawa dua kantong plastik berisi makanan.


" Ini untuk ibuk dan keluarga" kata Aluna sambil menyerahkan dua kantong plastik berisi makanan dari restoran tadi.


" Alhamdulillah, terima kasih Neng. Semoga Gusti Allah membalas semua kebaikan Neng dan juga suami Neng"


" Aamiin. Kita pamit pulang ya Buk"


" Iya Neng"


Pasutri itu pun kembali ke mobil mereka. David memasukkan dua kantong plastik opak kedalam bagasi. Setelah selesai ia masuk kedalam mobil.


David melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Ia melanjutkan perjalanannya kembali menuju kediaman Wilson.


To be continue.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya 🤗🤗


Happy reading 😚😚


__ADS_2