Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
Mengetahui


__ADS_3

Aluna membuka matanya. Ia merasa asing dengan ruangan itu. Ia pun mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.


" Papa!"


David terbangun karena mendengar suara istrinya. " Kamu sudah sadar sayang?"


" Dad, papa?"


" Tenang sayang, papa masih di ruang ICU"


" Aku mau liat papa, Dad"


" Nanti kita liat papa, sekarang kamu makan dulu"


" Aku nggak mau makan! aku mau liat papa"


" Iya sayang nanti kita liat papa, tapi sekarang kamu makan dulu. Aku nggak mau liat kamu pingsan kek tadi. Jadi makan ya"


Aluna pun menuruti perkataan suaminya. David pun menyuapi sang istrinya dengan nasi goreng yang ia beli di kantin rumah sakit.


" Daddy udah makan?"


" Belum"


" Kita makan berdua"


Pasutri itu saling menyuapi. Akhirnya satu piring nasi goreng pun habis tak bersisa.


" Apa sudah ada kabar dari polisi tentang kasus papa?"


" Belum sayang"


" Apa semua ini ada hubungannya dengan wanita jahat itu Dad?"


" Mungkin sayang. Tapi kita tidak boleh sembarang menuduh. Kita harus punya bukti"


" Aku sangat yakin wanita itu dalang dibalik kecelakaannya papa"


" Kita akan cari buktinya"


" Nasinya sudah habis, sekarang sudah boleh liat papa?"


" Boleh, ayo"


David membantu istrinya turun dari bed. Mereka pun segera pergi ke ruang ICU, tempat dimana Wilson di rawat.


Sebelum masuk, mereka berdua memakai pakaian khusus. Setelah itu mereka baru diperbolehkan masuk kedalam ruang ICU.


Aluna menatap tubuh papanya yang terbaring lemah dan beberapa alat medis menempel di tubuh sang papa. Baru tadi pagi ia masih bisa melihat senyum sang papa, tapi sekarang papanya sudah terbaring.


" Pa" lirih Aluna.


David mengusap punggung sang istri. Ia tau bagaimana perasaan istrinya sekarang ini. Apalagi sang istri baru bersama dengan papanya.


" Pa, bangun?"


Sang papa masih betah memejamkan matanya. Dia seperti enggan untuk bangun dan melihat dunia.


" Aluna janji akan menemukan siapa pelakunya. Dan memberi hukuman yang seberat-beratnya untuk pelaku itu. Jadi Aluna mohon papa harus bisa melewati masa kritis"


" Maaf, jam besuk pasien sudah habis. Mohon nona dan tuan keluar dari dulu"


" Baik Sus. Yuk sayang, kita keluar dulu"

__ADS_1


" Tapi kita baru saja masuk?"


" Sayang, kita tidak boleh lama-lama diruangan ini. Nggak baik untuk papa. Nanti kalau papa sudah melewati masa kritis, kita bisa besuk papa lama-lama. Sekarang kita keluar ya?"


" Baiklah"


David membawa istrinya keluar dari ruangan ICU. Karena jam besuk sudah habis. Mereka akan menunggu di luar ruangan itu.


" Apa papa akan segera bangun?"


" Kita berdoa saja ya sayang, semoga papa cepat bangun"


" Aku belum sanggup untuk kehilangan papa"


" Ssssttt, jangan bicara seperti itu. Papa pasti akan bangun"


David berdoa semoga mertuanya cepat melewati masa kritis. Karena ia tidak tega melihat istrinya bersedih seperti ini.


" David"


Mendengar ada yang memanggil namanya David langsung menoleh kearah suara.


" Papa"


" Maaf papa baru datang"


" Nggak apa-apa Pa"


" Bagaimana keadaan mertua kamu"


" Masih kritis Pa"


" Bagaimana dengan pelakunya. Apa sudah ketemu?"


Garry menatap menantunya. " Sabar ya Nak. Papa kamu pasti bisa melewati masa kritisnya"


" Makasih Pa. Aluna harap juga begitu"


" Apa tidak sebaiknya kalian berdua pulang dulu?"


" Kalau kami pulang, siapa yang akan menjaga papa Wilson?"


" Kan ada papa. Paa yang akan menjaga papa kamu. Nanti papa juga akan cari beberapa bodyguard untuk menjaga papa kamu"


" Apa yang papa Garry bilang benar sayang. Kita harus pulang dulu. Lagian kita masih berpakaian kantor"


" Tapi aku mau sama papa?"


" Nanti setelah mengganti pakaian, kita kesini lagi"


" Baiklah "


" Pa, Kami pulang dulu. Tolong jaga papa Wilson"


" Tenang saja, papa akan menjaga papa kamu disini"


" Terima kasih. Kalau ada apa-apa sama papa Wilson, tolong kabari kami ya Pa"


" Iya Nak. Kalian berdua hati-hati di jalan"


" Kalau begitu kami jalan dulu ya Pa"


" Iya Nak"

__ADS_1


David dan istrinya pun pergi meninggalkan ruangan ICU. Mereka akan pulang dulu untuk mengganti pakaian. Setelah itu mereka akan kembali lagi ke rumah sakit.


Mobil mewah milik David melaju meninggalkan area rumah sakit. Selama di perjalanan istrinya hanya diam. Biasanya sang istri selalu mengajak dia ngobrol. Alasannya supaya dia tidak ngantuk saat membawa mobil.


Ia harus secepatnya menemukan pelakunya. Karena ia tidak kuat melihat istrinya bersedih seperti itu. Kapan perlu dia akan membayar detektif untuk mencari pelaku kecelakaan itu. Ia harus segera mengembalikan senyum sang istri.


Mobil mewah itu pun sampai di rumah. Aluna turun dari mobil tanpa menunggu suaminya membukakan pintu mobil untuknya. Ia segera masuk kedalam rumah.


" Nona"


Bik Ijah langsung memeluk nona mudanya. Ia sudah mendapatkan kabar kalau tuannya kecelakaan. Dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit.


Aluna menangis dipelukkan Bik Ijah. Ia menumpahkan semua rasa sedihnya. Biasanya seorang anak akan berkeluh-kesah pada ibunya. Tapi dirinya tidak punya ibu. Ia hanya punya Bik Ijah.


" Papa Bik"


" Non yang sabar ya. Papa non pasti bisa melewati ini semua"


" Aluna belum siap untuk kehilangan papa Bik"


" Sssstt,, non tidak boleh bicara seperti itu. Papa non akan baik-baik saja. Non harus berdoa untuk keselamatan papa non"


David membiarkan istrinya dengan Bik Ijah. Ia akan menyiapkan pakaian untuk mereka bawa ke rumah sakit. Ia juga akan menelpon Om Martin untuk menanyakan perkembangan kasus papa mertuanya itu.


....................................


Widya bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia ingin melihat kondisi suaminya.Ia berharap suaminya itu tidak bisa di selamatkan. Dan semua harta warisan akan menjadi miliknya.


" Mama mau kemana?"


" Kita akan melihat papa kamu"


" Apa nggak apa-apa kita pergi sekarang?"


" Tentu saja tidak"


" Nanti orang-orang curiga sama kita"


" Justru kalau kita tidak ke sana orang-orang akan mencurigai kita"


" Apa nggak besok aja Ma"


" Sekarang! kita harus menunjukkan rasa sedih kita pada semua orang. Nanti orang-orang berpikir kita turut bersedih atas kejadian yang menimpa papa kamu"


" Apa untungnya untuk kita Ma?"


" Dasar bodoh! kalau kita tunjukkan rasa bersedih kita. Maka akan lebih muda untuk kita mendapatkan harta warisan papa kamu"


" Lalu bagian dengan Aluna?"


" Anak bodoh itu tidak tau seberapa kaya papanya. Jadi dia tidak akan memikirkan soal harta saat ini. Karena dia sibuk menangisi papa kamu. Dan saat itu kita pura-pura bersimpati pada dia"


" Wah ide mama benar-benar brilian"


" Tentu saja. Kalau mama tidak pintar, mana mungkin kita akan bisa menikmati hidup mewah seperti ini"


" Mama benar juga. Papa sama anak sama aja. Sama-sama bodoh"


Mereka tidak mengetahui kalau di depan pintu kamar, ada seseorang yang mendengar semua ucapan kedua wanita itu. Setelah itu ia pergi dari sana.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2