
Mereka pun sampai di salah satu restoran mewah. David mengikuti langkah kaki kedua orang tuanya masuk kedalam restoran.
Pelayan mengantarkan mereka ke salah satu ruangan VIP. Ya sahabat mama David sudah menunggu mereka di ruangan VIP tersebut.
" Selamat datang Div " ucap Widya.
" Makasih, maaf ya Wid kami terlambat" ucap Divya.
" Nggak apa-apa. Saya mengerti. Apa ini David"
" Ah iya, ini David. David kenalkan ini Tante Widya teman mama"
" Hallo tante " sapa David.
" Kamu semakin tampan saja" puji Widya.
" Makasih Tante pujiannya" kata David.
" Ayo kita duduk dulu" ajak Adrian.
Mereka semua duduk di kursi yang ada di sana.
" Oh iya, putri kamu kemana?" tanya Divya.
" Dia ke toilet sebentar"
Tak berselang lama pintu pun terbuka, semua orang yang ada di sana menoleh kearah pintu. Kecuali David. Lelaki tampan itu sedang asik dengan ponselnya.
" David" panggil sang mama sambil menyenggol lengan David.
" Apaan sih Ma"
" Noh liat calon istri kamu"
David menoleh kearah gadis yang ada berdiri di seberang meja. Cantik, tapi tidak secantik gadis nakalnya. Menurut penglihatannya gadis itu pasti anak manja.
Gadis itu terpesona sama lelaki tampan yang ada di depannya itu. Walaupun lelaki itu terlihat dingin, tapi dia suka.
" Hai, aku Angel" kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
" David " ucapannya sambil menyambut uluran tangan Angel.
Baru menyentuh sedikit aja tangan Angel, OCD David kambuh. Ia segera mengambil tissue basah yang selalu ia bawa di saku jasnya. Ia segera menghapus jejak tangan Angel dari tangannya.
Kedua orang tua Angel kaget melihat David mengusap tangannya dengan kasar. Begitu juga dengan Angel. Apa David jijik bersentuhan dengannya. Itulah yang ada didalam pikiran Angel saat ini.
" Maaf ya Nak Angel, David punya penyakit OCD. Jadi dia tidak bisa bersentuhan dengan sembarang orang" kata Garry jude Wesley papanya David.
" Nggak apa-apa kok Om"
Setelah cukup lama barulah David selesai membersihkan tangannya. Walaupun masih memerah karena bekas dia usap dengan keras tadi.
" Udah mendingan Nak?" tanya sang papa.
" Sedikit Pa"
__ADS_1
" Angel sekarang kesibukannya apa?" tanya Divya.
" Kuliah Tante".
" Udah semester berapa?"
" Empat Tante"
Mendengar kata kuliah, David lagi-lagi teringat akan gadis nakalnya. Bukankah tadi ia bilang lagi mengerjakan tugas kuliahnya.
" Dengar-dengar tuan Wilson lagi sibuk mengerjakan proyek pembangunan hotel?" tanya Garry.
Mendengar nama Wilson, David seketika teringat pada gadis nakalnya. Bukankah nama gadis nakal itu ada marga Wilson juga.
Apa jangan-jangan dia papanya Aluna. Gumam David dalam hati.
" Iya, tapi nggak ada apa-apanya dengan proyek yang tuan Garry kerjakan"
" Itu bukan saya yang mengerjakannya David"
" Benarkah?"
" Iya Om. Sekarang papa hanya menerima hasilnya"
" Tuan Wilson belum mau pensiun nih?"
" Belum tuan. Nanti kalau putri saya sudah siap, baru saya bisa memberikan perusahaan sepenuhnya pada dia"
Widya tersenyum, pasti suaminya itu akan memberikan perusahaan pada putrinya. Angel juga sangat senang karena papanya akan memberikan perusahaan itu untuknya.
" Wah berarti Angel dong yang akan memegang perusahaan itu?" tanya Divya.
Wilson hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Ia tidak ingin terlalu menanggapinya. Karena semua hartanya tentu saja akan ia berikan pada putri kandungnya.
" Yuk kita mulai saja acara makan malamnya" kata Widya.
Mereka pun memulai menyantap hidangan yang sudah di hidangkan oleh para pelayan tadi. Mereka semua menikmati makan malam itu dengan hikmat tanpa ada yang berbicara.
Angel mencuri-curi pandang pada David. Ia benar-benar jatuh cinta pada pesona lelaki tampan itu. Ia sangat bersyukur bisa berjodoh dengan David.
Jakun David terlihat naik turun saat meneguk air mineral itu. Angel menelan saliva-nya saat melihat pemandangan nan tampak seksi di matanya itu.
David melirik Angel dengan ekor matanya. Ia tau daritadi gadis itu terus memandangnya. Tapi entah mengapa itu membuatnya jijik. Apalagi cara gadis itu menatapnya, membuat dirinya mual.
Selesai makan, mereka pindah duduk di sofa yang ada di sana. Mereka akan melanjutkan obrolan yang tertunda tadi. Angel memilih duduk di samping David.
David mengambil ponselnya kembali, ia memainkan game yang ada di ponselnya.
" Aku boleh duduk di sini nggak?"
" Bukannya lo udah duduk "
" Iya juga ya"
" Dasar aneh"
__ADS_1
Angel kesal karena David lagi-lagi sibuk dengan ponselnya. Apa dia kurang menarik dari ponsel itu. Sehingga David tak menoleh sedikit pun kearahnya.
" Kamu tau kalau kita itu di udah di jodohkan?" tanya Angel lagi.
" Nggak, lagian kalau kita di jodohkan aku akan menolak "
" Kenapa?"
" Karena aku sudah punya kekasih"
" Kekasih?"
" Iya. Dan lo juga tau kalau gue tidak bisa bersentuhan dengan sembarang orang"
" Apa reaksi kamu juga seperti tadi saat kekasih kamu menyentuh kamu?"
" Tidak, gue baik-baik aja"
" Lantas kenapa dengan aku reaksi kamu seperti tadi?"
" Mungkin di tubuh lo terlalu banyak kuman "
Angel kaget mendengar ucapan David. Ia tidak menyangka lelaki tampan itu akan bicara seperti itu padanya.
" Tapi kamu tidak bisa menolak perjodohan ini, karena mama aku sama mama kamu sudah setuju untuk menjodohkan kita"
" Yang setuju kan mama gue, bukan gue" kata David sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar ruangan itu.
" David, mau kemana kamu?" tanya sang mama.
" Pulang Ma, lagian acara makan malamnya udah selesaikan" kata David sambil keluar dari ruangan itu.
Mamanya kan hanya meminta untuk di temani ke acara makan malam. Sekarang acara makan malamnya sudah selesai, jadi untuk apalagi dia berada di sana.
Angel mengepalkan tangannya menahan emosi. Ia tidak terima ditinggalkan begitu saja. Walaupun masih ada kedua orang tua David di sana. Ia tidak akan melepaskan lelaki tampan itu.
Kamu hanya milik aku David.
David memesan taksi online melalui aplikasi yang ada di ponselnya. Ia akan pulang ke apartemennya. Karena kalau ke mansion mamanya pasti akan menghujaninya dengan ribuan pertanyaan. Tak berselang lama ada sebuah taksi berhenti di depannya.
" Tuan David "
" Ya saya"
" Saya driver taksi yang akan mengantarkan anda ke tempat tujuan"
David masuk kedalam taksi. Taksi itu pun melaju meninggalkan restoran itu. David melirik jam tangannya. Jarum jam itu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Ia langsung memencet tombol call yang ada di layar ponselnya. Panggilan telepon pun tersambung, tapi tidak ada jawaban dari seberang sana.
Apa gadis nakal itu sudah tidur ya.
Sudah beberapa kali sambungan telepon itu tetap sama. Tidak ada jawaban dari gadis nakalnya itu. David pun menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
Tunggu hukuman kamu besok pagi gadis nakal.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚