Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
Sidang


__ADS_3

David, istri, mertua dan Adik iparnya sudah sampai di depan rumah sakit. Aluna turun dari mobil. Begitu juga dengan Wilson dan Leo, mereka juga ikut turun. Karena David akan memarkirkan mobilnya dulu.


Setelah memarkirkan mobilnya David segera menyusul istrinya. Mereka sama-sama masuk kedalam rumah sakit.


Kedatangan mereka langsung di sambut langsung oleh dokter yang akan menangani operasi nanti.


" Selamat datang tuan Wilson dan keluarga"


" Terima kasih Dok"


" Perkenalkan saya Erick. Saya dokter yang bertugas untuk memimpin operasi transplantasi nanti"


" Salam kenal dokter Erick " kata Wilson.


" Mari, kita keruangan saya "


Mereka berempat pun pergi ke ruangan dokter Erick untuk membahas tentang operasi transplantasi nanti. Mereka ingin tau seperti apa gambaran operasi nanti. Karena mereka tidak boleh masuk kedalam ruang operasi.


" Berapa persen tingkat keberhasilan operasinya Dok?" tanya David.


" Saya tidak bisa memastikan kalau operasi ini akan berhasil seratus persen. Tapi kami akan mencoba sebaik mungkin"


" Menurut dokter kira-kira berapa persen?"


" Mungkin delapan puluh lima persen, atau bahkan lebih dari itu"


" Bisa kita lakukan sekarang Dok?" tanya Wilson.


" Bisa tuan. Mari ke ruang operasi"


Dokter Erick dibantu sama tiga orang suster segera menyiapkan keperluan untuk operasi. Sedangkan Wilson pergi ke kamar mandi untuk menukar pakaiannya dengan pakaian khusus.


Semua persiapan dan juga peralatan untuk operasi sudah di siapkan. Ruangan operasi juga sudah di sterilkan.


" Apa anda sudah siap tuan?"


" Sudah Dok"


Wilson berpamitan sama anak dan mantunya. Setelah itu ia dibawa kedalam ruang operasi. Sedangkan Aluna, suami dan adiknya menunggu di luar ruang operasi.


Lampu yang ada di ruang operasi menyala. Itu tandanya operasi sudah dimulai. Aluna deg-degan. Ia tidak henti-hentinya berdoa di dalam hatinya.


" Sayang duduk yuk"


" Ntar saja Dad"


" Sampai kapan kamu mau mondar-mandir kek gitu?"


" Iya Kak. Apa kakak nggak kasian sama dedek bayi yang ada dalam kandungan kakak" kata Leo.


Aluna tersadar, kalau didalam perutnya sudah ada satu nyawa yang harus ia jaga. Dan ia hampir saja membuat calon anaknya dalam bahaya. Ia pun duduk di samping suaminya.


Hening.


Tidak ada yang bicara satupun. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. Dering ponsel menyadarkan mereka dari lamunan masing-masing.


" Dad, ponselnya bunyi tuh"


" Ah I-iya"


David mengambil ponsel dari dalam celananya. Ia melihat nama papanya tertera di layar ponselnya. Ia segera menggeser tombol hijau yang ada di sana.


" Hallo Pa"


" Kamu nggak pergi ke persidangan?"


" Nggak Pa. Aku lagi nemenin istri aku di rumah sakit"


" Aluna kenapa?"


" Istri aku baik-baik aja Pa"

__ADS_1


" Terus kalian ngapain di rumah sakit?"


" Mertua aku operasi Pa"


" Jadi pagi ini Wilson di operasi?"


" Iya Pa"


" Terus siapa yang pergi ke persidangan?"


" Om Martin Pa"


" Seharusnya kamu juga nemenin Martin di sana"


" Kalau aku ke sana, terus istri aku gimana Pa?"


" Nanti papa suruh mama ke sana untuk nemenin istri kamu"


" Baik Pa"


Sambungan telepon pun berakhir. David menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


" Papa ya?"


" Hhhmm"


" Papa bilang apa?"


" Aku di suruh pergi ke persidangan"


" Oh iya, hari ini kan sidang mama tiri aku. Kok aku bisa lupa ya"


" Kamu ikut sama Abang ya Leo"


" Aku?"


" Iya kamu"


" Apa kamu nggak mau bertemu sama mama dan kakak kamu?"


" Nggak Kak"


" Leo dengerin kakak. Kamu harus pergi ke pengadilan sama Abang. Karena kakak tau kalau kamu ingin bertemu dengan mama dan kakak kamu"


" Tapi mama sudah mencelakai papa Kak"


" Iya kakak tau. Dan kakak pun juga marah karena itu. Tapi dia tetap ibu kamu. Jadi kakak harap kamu pergi sama Abang ke pengadilan ya"


" Baiklah "


" Kakak tau kalau kamu itu anak yang baik"


" Sayang nanti mama ke sini untuk nemenin kamu"


" Mama Divya?"


" Iya sayang. Nggak apa-apa kan?"


" Nggak apa-apa Dad. Malahan aku senang karena mama mau nemenin aku di sini"


" Nanti kalau mama sudah di sini, aku sama Leo baru pergi"


" Hhhmm"


Setelah beberapa menit. Divya pun tiba di rumah sakit. Ia segera menghampiri mantunya.


" Aluna"


" Mama"


Divya memeluk menantunya itu.

__ADS_1


" Mama cuma sendiri ke sini?" tanya David.


" Hhhmm"


" Emang papa kemana?"


" Papa kamu udah pergi ke pengadilan. Kamu buruan pergi ke sana"


" Iya Ma. Sayang aku berangkat dulu ya"


" Iya Dad. Hati-hati dijalan"


" Hhmm"


David dan Leo pun perginya dari sana. Walaupun Leo tidak ingin menemui mama dan kakaknya. Karena ia sudah kecewa sama mama dan kakaknya itu.


" Apa kamu ingin mama dan kakak kamu bebas?" tanya David setelah mereka berada di dalam mobil.


" Tidak. Aku ingin mereka dihukum dengan seberat-beratnya"


" Kenapa kamu ingin mama kamu di hukum seberat-beratnya"


" Karena kejahatan mama sudah banyak Bang. Terutama pada papa"


David tersenyum mendengar ucapan Adiknya itu. " Kamu pasti mendapatkan apa yang kamu inginkan. Sekarang kita berangkat"


" Hhhmm"


David melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit. Mereka akan pergi ke pengadilan untuk menyaksikan dan mendengarkan hukuman untuk ibu dan anak itu.


Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, mereka pun sampai di pengadilan yang ada di kota itu.


David memarkirkan mobilnya. Setelah itu ia dan Leo masuk kedalam gedung pengadilan. Mereka berdua beruntung karena sidang belum dimulai.


" Akhirnya kamu datang juga. Om pikir kamu nggak akan datang?" kata Martin.


" Rencananya aku nggak akan pergi Om. Karena aku mau nemenin istri aku di rumah sakit"


" Apa tuan sedang di operasi?"


" Iya Om "


Saat David sedang berbincang dengan Martin. Polisi lewat dengan membawa Widya dan Angel. Kedua wanita itu tangannya di borgol.


Leo memalingkan wajahnya saat mama dan kakaknya melewatinya. Ia tidak ingin melihat kedua wanita itu.


Widya yang melihat putranya memalingkan wajahnya merasa sedih. Mungkin putranya itu sangat benci padanya. Sedangkan Angel menatap adiknya itu dengan penuh benci.


" Coba liat putra mama itu. Berani sekali dia menampakkan batang hidungnya ke sini. Setelah apa yang dia lakukan pada kita"


" Sudahlah Angel"


Setelah Widya dan Angel masuk kedalam ruang persidangan. David, Martin, Garry dan juga Nando mengikuti dari belakang. Mereka akan membacakan putusan hakim.


David, papanya dan juga Leo duduk di kursi yang ada di sana. Sedangkan Martin duduk di depan. Karena ia bertugas sebagai pengacara dari pihak papa mertuanya.


Tok.. Tok.


" Sidang dibuka" kata hakim sambil mengetuk palu.


Majelis hakim membacakan kejahatan apa saja yang pernah pernah di lakukan oleh Widya dan juga Angel.


" Baiklah berdasarkan bukti yang ada. Saudari Widya akan dijatuhkan hukuman lima belas tahun penjara. Dan Saudari Angel yang tidak melarang sang ibu untuk melakukan kejahatan dan malah memilih bersekongkol dengan sang ibu untuk melenyapkan papa tirinya akan dijatuhi hukuman lima tahun penjara"


Tok... Tok


David dan Garry tersenyum bahagia mendengar hukuman yang akan diterima Widya dan juga Angel. Begitu juga dengan Leo, walaupun kedua wanita itu ibu dan kakak kandungnya, tapi mereka berdua sudah melakukan kejahatan yang fatal.


To be continue..


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2