
Setelah makan malam, Aluna tidak diperbolehkan pulang oleh mama mertuanya. Mau tak mau Aluna pun menuruti keinginan sang mama mertua.
" Karena Aluna sedang hamil, jadi dia akan tidur sama mama"
" Apa!" kata David dan papanya berbarengan.
" Malam ini Aluna tidur sama "
" Jangan bercanda dong Ma?" kata David.
" Siapa yang bercanda. Kamu tidur sama papa malam ini"
" Nggak bisa! aku mau tidur bareng istri aku"
" Kamu libur satu hari tidur sama mantu mama" kata Divya sambil membawa Aluna ke kamarnya.
" Ma, mama! aku nggak bisa tidur kalau nggak meluk istri aku Ma?"
David mengacak rambutnya karena sang mama mengacuhkannya. Ia hanya bisa menatap punggung sang istri yang di bawa sang mama.
" Pa, cari ide dong?"
" Udah ikhlas saja. Lagian cuma malam ini mereka tidur bersama. Apalagi istri kamu sedang hamil sekarang, jadi dia membutuhkan seorang ibu untuk memberikan wejangan soal kehamilan"
David menghela nafasnya. Ia hanya bisa mengikhlaskan istrinya tidur dengan mamanya malam ini. Dan apa yang dibilang sama papanya benar. Istrinya memang butuh sosok seorang ibu sekarang ini.
" Ya udah, aku ke kamar dulu ya Pa"
" Kamar mana? bukannya kita di suruh tidur bareng sama mama kamu?"
" Nggak! Aku mau tidur sendiri di kamar aku"
" Jadi papa tidur sama siapa dong?"
" Sama guling"
" Tega bener kamu sama papa"
" Papa juga tega sama aku"
" Kenapa kesannya jadi papa yang salah?"
" Emang. Karena papa udah biarin istri aku dibawa sama istri papa "
Sekarang giliran Garry yang menatap punggung anaknya yang semakin menghilang di balik pintu. Ia tidak menyangka malam ini akan tidur bersama guling.
Di kamar Divya.
Aluna menatap kamar milik mama mertuanya. Kamar itu di dominasi sama warna putih dan juga warna biru langit. Interior kamar itupun sangat bagus dan juga elegan.
" Sayang, coba baju tidur yang ini" kata Divya pada mantunya.
" Bajunya baru Ma?"
__ADS_1
" Iya, mama khusus membelinya untuk kamu. Karena dari kemarin mama juga udah berniat untuk mengajak kamu tidur di sini. Dan mama harap ini sesuai sama kamu"
" Makasih Ma"
" Sama-sama sayang. Sekarang kamu coba dulu gih bajunya "
" Iya Ma"
Aluna pergi ke kamar mandi untuk mengganti dress yang ia pakai tadi dengan baju tidur yang diberikan mama mertuanya tadi.
" Bajunya Pas Ma"
" Syukurlah kalau bajunya pas. Dan bajunya terlihat cantik setelah kamu memakainya sayang"
" Mama bisa aja mujinya"
" Yuk, sudah saatnya kita istirahat"
Aluna membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk itu. Ini kali pertamanya ia tidur dengan seorang ibu. Karena sedari kecil ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya tidur dengan seorang ibu. Karena sedari kecil ia tidur dengan Bik Ijah.
" Aluna"
" Iya Ma"
" Maafkan mama"
Aluna tersenyum mendengar ucapan sang mama. Entah sudah berapa kali mama mertuanya itu meminta maaf padanya.
" Sungguh mulia hati kamu sayang. Wilson beruntung mempunyai putri sebaik dan secantik kamu"
" Tapi mama kandung Aluna tidak beruntung mempunyai putri seperti Aluna Ma"
" Itu karena mama kamu yang terlalu bodoh. Mama aja rela menukar seratus anak kandung mama demi mendapatkan seorang putri sebaik dan secantik kamu"
Aluna terharu mendengarkan ucapan mama mertuanya. Walaupun mama mertuanya itu pernah menghinanya, tapi sekarang mama mertuanya terlihat sangat tulus menyayanginya.
" Mungkin kemarin itu mama belum terlalu mengenal kamu. Makanya mama menilai kamu seperti kemarin. Tapi sekarang mama tau, kamu itu sangat istimewa. Makanya putra mama sangat tergila-gila sama kamu"
Divya memeluk menantunya itu. Ia sangat menyayangkan sikap ibu kandung Aluna. Bagaimana ada ibu sekejam itu pada anak kandungnya sendiri.
" Sekarang kamu tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ibu lagi. Karena mama akan mencurahkan semua kasih sayang untuk kamu"
" Makasih Ma"
" Sekarang kita tidur. Bumil harus banyak-banyak istirahat" kata Divya.
Aluna hanya mengikuti semua ucapan mertuanya itu. Ia sangat bersyukur karena mama mertuanya sudah mau menerimanya sebagai menantu di keluarga Wesley.
Pelukan mama mertuanya sangat hangat dan juga nyaman. Ternyata seperti inilah hangatnya pelukan seorang ibu. Pelukan yang tak pernah ia dapatkan dari ibu kandungnya. Tidak butuh waktu lama, Aluna sudah berada di alam mimpi.
Waktu terasa begitu cepat. Matahari pun sudah menampakkan dirinya. Bahkan cahayanya pun sudah masuk melalui celah-celah fentilasi kamar itu.
Divya bangun lebih dulu dari menantunya itu. Karena pagi ini ia akan membuatkan sarapan sehat khusus untuk menantunya itu.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, ia keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Tapi langkah kakinya terhenti saat mendengar suara televisi yang masih menyala. Bukan itu saja, ia melihat sosok lelaki tampan yang sudah tidak muda lagi terlelap di atas sofa.
" Pa bangun"
" Sebentar lagi Ma"
" Sekarang. Nanti apa kata mantu kita karena liat papa tidur di sofa"
Mendengar kata Mantu, Garry langsung membuka matanya. Bagaimana ia bisa lupa, kalau sekarang menantunya sedang ada di mansion.
" Kenapa papa tidak tidur di kamar tamu?"
" Semalam papa nggak bisa tidur. Terus papa coba bawa nonton, akhirnya papa ketiduran di sofa"
Divya merasa bersalah pada suaminya itu. Tidak seharusnya ia membiarkan suaminya tidur di luar. Tapi mau gimana lagi, menantunya lagi hamil dan sangat membutuhkan seorang ibu.
" Maafkan mama ya Pa. Karena mama papa jadi tidur di sofa"
" Nggak apa-apa. Papa senang karena mama sudah menerima Aluna. Dan papa juga senang mama peduli sama mantu kita"
" Harus dong Pa. Karena seorang mertua harus bersikap baik kan sama mantunya"
" Betul sekali"
" Sekarang papa mau mandi atau mau melanjutkan tidur lagi?"
" Papa mau mandi aja deh Ma. Lagian papa udah nggak ngantuk lagi"
" Ya udah, mama mau ke dapur dulu. Mama mau membuatkan sarapan khusus untuk ibu hamil dulu"
" Iya Ma"
Garry sangat senang melihat istrinya sudah berubah. Sebenarnya istrinya adalah wanita yang sangat baik. Tapi karena hasutan sahabatnya yang jahat itu, istrinya jadi ikut jahat. Namun sekarang istrinya sudah kembali menjadi baik lagi. Dan ia bersyukur atas itu.
Di dapur.
Para pelayan kaget melihat sang nyonya sudah berada di dapur. Karena biasanya nyonya itu sangat jarang pergi ke dapur. Dan lagi ini masih pagi.
" Kenapa pagi-pagi nyonya sudah berada di dapur?"
" Iya Bik. Saya mau buatkan sarapan untuk mantu saya"
" Kan nyonya bisa minta bibik yang buatkan?"
" Makasih Bik. Tapi kali ini biar saya saja yang membuat. Bibik buatkan sarapan untuk David sama papanya "
" Baik Nyah"
Divya pun mulai memasak masakan untuk mantunya itu. Ia harus membuatnya dengan sangat enak. Dan ia berharap bumil itu akan suka makanan yang ia buatkan nanti.
To be continue.
Happy reading 😚😚
__ADS_1