Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
Aura pemimpin


__ADS_3

Dokter memeriksa kembali kondisi Wilson. Tidak ada satupun yang terlewatkan oleh dokter itu. Ia memastikan kalau tidak luka lain di tubuh Wilson.


" Keadaan tuan sudah mulai membaik. Kalau tidak ada keluhan lain, besok tuan sudah boleh pulang"


" Benarkah Dok, besok papa saya boleh pulang?"


" Benar nona"


Aluna dan Leo sangat senang mendengarnya. Karena besok mereka sudah meninggalkan rumah sakit. Karena jujur, ia sangat tidak suka bau rumah sakit. David pun ikut senang mendengar mertuanya sudah mulai membaik.


" Baiklah, karena pemeriksaannya sudah selesai, saya pamit dulu"


" Baik, sekali lagi terima kasih Dok"


" Sama-sama nona"


Seperti biasa, David mengantarkan dokter sampai ke pintu masuk. Saat dokter membuka pintu, ia melihat seorang laki-laki berdiri di sana.


" Maaf kalau mengagetkan anda dokter"


" Nggak apa-apa tuan. Saya permisi dulu"


" Silakan masuk Om"


Martin mengikuti langkah David masuk keruang rawat itu.


" Kamu datang?"


" Iya tuan. Bagaimana keadaan tuan?"


" Alhamdulillah sudah agak membaik"


" Syukurlah, saya senang tuan bisa melewati masa kritis'


" Ini berkat doa kalian semua. Apa kamu sudah menyerahkan suratnya pada wanita itu"


" Rencana hari ini saya akan memberikannya tuan"


" Lebih cepat lebih baik"


" Iya tuan"


" Biar Aluna aja Pa yang memberikan surat itu"


" Kamu mau ke kantor polisi?"


" Iya. Karena Aluna ingin melihat keadaan wanita itu"


" Nanti dia akan melukai kamu"


" Papa nggak perlu khawatir, aku bisa jaga diri kok"


" Betul Pa, istri aku ini wanita yang kuat"


" Kamu nggak akan mendampingi istri kamu?"


" Tidak Pa. Karena aku yakin istri aku bisa menghadapi wanita itu" kata David sambil menatap istrinya.


" Aluna pamit dulu ya Pa"


" Iya sayang, hati-hati di jalan"


" Siap bos"


David mengantarkan istrinya dan juga Om Martin ke depan pintu. Seperti biasanya, Aluna mencium tangan suaminya. Dan David membalas dengan mengecup kening sang istri.

__ADS_1


" Hati-hati ya sayang"


" Iya Dad. Aku jalan dulu"


Aluna dan Om Martin pun meninggalkan ruang rawat itu. David tidak menemani istrinya, karena ia menjaga mertua dan juga adik iparnya. Ia menutup pintu ruangan itu, setelah istrinya sudah jauh dari pandangan matanya.


" Nona bawa mobil sendiri atau gimana?"


" Aku bawa mobil sendiri aja deh Om"


" Baiklah"


Martin masuk kedalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit. Diikuti sama mobil Aluna di belakang. Kedua mobil itu melaju menuju kantor polisi.


Tanpa terasa mereka pun sampai di kantor polisi. Setelah memarkirkan mobilnya, Aluna dan Martin masuk kedalam kantor polisi.


" Selamat datang tuan, nona"


" Kami ingin bertemu dengan tahanan yang bernama Widya"


" Tunggu sebentar, saya akan panggilkan"


Aluna dan Martin menunggu di ruangan khusus untuk menerima tamu. Ruangan itu emang diperuntukkan untuk para keluarga yang ingin menemui para tahanan.


Tak berselang lama, polisi tadi kembali bersama Widya.


" Kalian!"


" Hallo Tante, bagaimana kabarnya?"


" Cih! tidak usah basa-basi, ngapain kalian datang ke sini?"


" Tenang, anda duduk dulu. Karena saya takut pas mendengar kabar yang akan saya sampaikan nanti, anda bisa-bisa mati mendadak"


" Anda tenang saja, ini nggak akan lama kok"


Widya pun akhirnya menurut, ia duduk di kursi seberang Aluna. Ia menatap tajam anak tirinya itu. Ingin sekali ia membunuh gadis itu.


" Baru satu malam tinggal di hotel prodeo, Anda sudah kelihatan kurus"


" Diam kau! cepat katakan apa mau mu?!"


" Om, mana dokumennya"


Martin mengambil dokumen perceraian di dalam tasnya. " Ini nona"


" Silakan anda baca isinya" kata Aluna sambil melemparkan dokumen itu ke hadapan Widya.


" Apa ini?"


" Anda baca aja. Setelah itu anda tanda tangan surat itu"


Widya membaca dokumen yang diberikan Aluna tadi. Ia membaca dengan teliti isi dokumen itu.


" Tidak! saya tidak akan menandatangani surat perceraian itu"


" Anda tidak punya pilihan disini. Jadi mau tak mau anda harus tanda tangan surat perceraian itu"


" Apa kau yang menyiapkan surat perceraian ini?"


" Tidak, papaku sendiri yang membuatnya"


" Nggak mungkin. Karena saya tau dia tidak akan pernah menceraikan saya"


" Percaya diri sekali anda. Asal Anda tau, papa saya sudah tau kebusukan anda. Dan dia juga tau bagaimana dulu anda menjebaknya dan berakhir di atas ranjang"

__ADS_1


Deg.


" Nggak mungkin, kamu pasti bohong!"


" Om, putarkan video CCTV beberapa tahun lalu"


" Siap nona"


Martin mengambil laptopnya. Kemudian ia memutar video rekaman CCTV yang ia dapatkan di hotel tempat kejadian, tuannya di jebak oleh rekan bisnisnya.


Widya kaget melihat rekaman CCTV itu. Ia tidak menyangka kalau diam-diam suaminya mengumpulkan bukti kejahatannya.


" Ini pasti rekaman palsu"


Brak..


Widya dan Martin refleks memegang dada mereka karena kaget mendengar bunyi meja di gebrak.


" Kau bisa minta siapapun untuk mengecek keaslian video itu"


" Saya tidak peduli video itu asli atau palsu, intinya saya tidak akan menandatangani surat perceraian ini"


" Saya tadi sudah bilang, kalau kau tidak bisa menolak"


" Apa ini semua rencana mu untuk menguasai harta Wilson"


" Saya tidak perlu merencanakan apapun untuk menguasai harta papa saya. Karena kendatinya semua harta keluarga Wilson akan jatuh pada putri kandungnya. Dan kau tau pasti siapa putri kandung papa ku"


" Putri saya berhak juga atas harta keluarga Wilson"


" Atas dasar apa anak mu itu harus dapat harta keluarga papaku"


" Karena Angel juga putrinya"


Aluna tertawa mendengar ucapan Widya barusan. Ia tidak menyangka wanita itu berkata seperti itu.


" Apa anda bercanda?"


" Tidak"


" Putri mu itu tidak akan mendapatkan sepersen pun dari harta keluarga Wilson. Karena dalam tubuh putri mu itu tidak mengalir darah keluarga Wilson"


Widya tidak bisa berkata-kata lagi. Karena apa yang dikatakan Aluna memang benar. Kalau putrinya tidak mengalir darah keluarga Wilson.


" Cepat tanda tangan suratnya, karena saya tidak punya banyak waktu"


" Saya akan tanda tangan, tapi berikan 30 persen saham perusahaan Wilson "


" Bukankah sudah kukatakan tadi. Kalau kau dan putrimu itu, tidak akan mendapatkan sepersen pun dari harta keluargaku. Karena sudah cukup kemarin-kemarin papaku membiayai hidupmu dan putrimu yang manja itu"


" Kalau kau tidak mau, maka jangan harap aku akan menandatangani surat perceraian itu"


" Baiklah kalau emang anda tidak mau tanda tangan surat ini. Anda dan papaku akan tetap bercerai. Satu lagi, semua harta keluarga Wilson, sudah beralih nama menjadi namaku. Jadi saat anda keluar dari penjara nanti, anda kembali ke asal Anda sebelum menikah dengan papa saya. Karena saya akan mengambil semua fasilitas dan juga rumah saya kembali"


" Tidak! kamu tidak bisa mengambil rumah itu. Karena rumah itu milikku"


" Rumah itu peninggalan kakek saya. Rumah keluarga Wilson, jadi jangan pernah mimpi untuk mendapatkan ataupun tinggal di rumah itu lagi"


Awas kau anak tengik, setelah aku keluar dari penjara nanti. Aku akan mengambil semua harta milik anakku.


Martin tersenyum melihat ketegasan Aluna. Auranya juga sama seperti tuannya. Andai saja tuanya bisa melihat bagaimana putrinya melawan wanita ular itu, pasti dia akan bangga.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2