
Kedatangan Wilson langsung di sambut oleh putrinya. Senyuman yang sudah jarang ia lihat sekarang tampak lagi. Ia pun membalas senyuman sang putri.
" Sini tasnya Pa, biar Aluna yang bawa"
Rasa bahagia tidak bisa ia ungkapkan. Padahal putrinya hanya memberikan perhatian yang kecil. Tapi rasanya sungguh menyenangkan.
" Papa sudah pulang" sapa sang menantu.
" Hhmm"
" Papa mau langsung makan, atau mau mandi dulu"
" Mandi dulu deh Nak. Soalnya papa sudah gerah"
Wilson berjalan menuju kamar tamu yang ada di rumah putrinya. Untung tadi dia membawa baju ganti yang ada selalu ia tinggalkan di kantornya.
" Kamu perhatian banget sama papa"
" Jelas dong. Diakan papa aku Dad"
" Tapi sama aku kamu nggak perhatian kek gitu?"
" Cie ada yang cemburu nih ceritanya?"
" Cemburu sih nggak, cuman sedih aja. Padahal kan aku juga pengin di perhatiin sama kamu"
" Bukannya udah di diperhatiin. Tadi pakaiannya siapa yang nyiapin?"
" Kamu"
" Itu salah satu bentuk perhatian aku untuk Daddy. Menyiapkan pakaian setelah mandi, melayani di meja makan"
" Melayani di atas ranjang nggak termaksud ya?"
Deg.
" A-aku mau nyiapin makan malam dulu"
" Eits,, jawab dulu" kata David sambil menarik tangan Aluna, hingga tubuhnya menabrak dada bidang milik suaminya.
Aluna dapat mencium aroma mint yang keluar dari nafas suaminya. Ia sangat gugup, karena jarak dia dan suaminya begitu dekat.
" D-dad, nanti papa liat" kata Aluna yang mencoba melepaskan diri.
" Jawab dulu, baru aku lepas"
" Jawab apa?"
" Apa kamu nggak mau melayani aku di ranjang?"
" Ma-mau, tapi nggak sekarang"
" Terus kapan?"
" Nanti Dad"
" Beri aku jawaban yang pasti Aluna" bisik David di telinga istrinya.
" Dad, aku mohon jangan kek gini"
" Baiklah, aku akan tunggu kamu menyerahkan diri kamu sama aku"
Aluna segera kabur ke dapur saat David sudah melepaskannya. Ia tidak ingin tertangkap lagi. Jujur saat ini ia belum bisa melayani suaminya itu. Karena ia belum mencintai suaminya. Begitu pun sebaliknya.
Wilson baru selesai mandi. Ia keluar kamar dengan wajah yang terlihat lebih fresh. Ia pergi ke ruang makan, untuk makan malam bersama putri dan juga menantunya.
" Yuk pa duduk" kata Aluna sambil menarik kursi yang paling depan.
" Sayang, papa duduk di sini saja. Biarkan suami kamu yang duduk di sana, karena dialah kepala keluarga sekarang"
" Tidak Pa, saat ini papa lha kepala keluarganya" kata David.
Wilson pun duduk di kursi yang paling depan. David duduk di sebelah mertuanya. Sedangkan Aluna duduk di samping suaminya.
__ADS_1
" Makanan ini kamu yang masak semuanya sayang?"
" Iya Pa. Semoga papa suka dengan masakan Aluna"
" Papa pasti suka, masakan kamu kan enak" puji David.
Aluna mulai melayani papa dan juga suaminya. Ia mengambilkan nasi dan lauk untuk papa dan juga suaminya. Setelah itu baru untuk dirinya.
Ini kali pertamanya Wilson makan malam di rumah putrinya. Ada rasa hangat di dalam hatinya saat ini. Ia seperti kembali ke masa-masa waktu mereka tinggal bersama dulu. Suapan pertama masuk kedalam mulutnya. Matanya membulat saat makanan itu menyentuh lidahnya.
Benar-benar seperti kembali ke masa dulu. Masakan putrinya sama persis rasanya dengan masakan istrinya. Andai mereka bisa berkumpul lagi seperti dulu, pasti sangat menyenangkan. Apalagi sekarang dia sudah punya menantu.
" Bagaimana rasanya Pa?" tanya Aluna.
" Enak sayang, seperti rasa masakan buatan mama"
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Dad dengarkan apa yang dibilang papa, masakan aku seperti rasa masakan mama"
Uhuk..uhuk..
Aluna segera memberikan segelas air putih pada papanya. " Minum dulu Pa"
Wilson segera meneguk air putih itu, sampai setengahnya. " Makasih sayang"
" Papa hati-hati makannya"
" Iya "
Wilson tersedak karena mendengar panggilan putrinya untuk suaminya. Ia tidak menyangka hubungan putrinya dan suaminya sangat romantis. Padahal dia tidak tau kalau putrinya memanggil Daddy karena paksaan suaminya itu.
" Kapan kalian akan honeymoon?"
Uhuk..uhuk..
" Makannya pelan-pelan"
" Makasih Dad"
Wilson senang melihat putri dan mantunya yang begitu mesra. Ia berharap pernikahan putrinya akan selalu baik-baik saja, dan bahagia sampai mereka tua nanti.
" Jadi kapan, kalian akan honeymoon?" tanya Wilson lagi.
" Mungkin setelah Aluna wisuda Pa" jawab David.
" Lebih cepat lebih baik kalian perginya. Supaya papa cepat punya cucu"
Mata Aluna melotot mendengar ucapan papanya. Bagaimana kalau cucu yang diinginkan papanya sudah tumbuh di dalam rahimnya. Karena dia sudah pernah melakukannya sekali dengan suaminya di saat dia mabuk. Apakah papanya akan menerima anaknya sebagai cucunya?. Memikirkan itu membuat kepalanya pusing.
David melihat raut wajah istrinya berubah. Dari yang tadi ceria, sekarang terlihat sendu. Ia tau apa yang dipikirkan oleh istrinya itu.
" Apa papa akan menginap di sini?" tanya David.
" Sepertinya tidak. Tapi mungkin lain kali papa akan nginap di sini"
" Kenapa nggak nginap aja Pa?"
" Papa juga mau nginap di sini, tapi papa nggak mau mengganggu manten baru "
" Janji ya, kapan-kapan papa nginap di sini" kata Aluna.
" Iya sayang, papa janji"
Selesai makan, Wilson pun pamit pulang. Aluna dan David mengantarkan Wilson sampai ke teras depan rumah. Setelah mobil Wilson menjauh dari pandangannya, pasutri itu baru masuk kedalam rumah.
Aluna kembali ke dapur untuk mencuci piring kotor bekas makan mereka tadi. David pun mengekor di belakang.
" Baby"
" Hhmm"
__ADS_1
" Kamu mau honeymoon kemana?"
" Nggak ada Dad"
" Kamu nggak mau honeymoon dan mengabulkan keinginan papa" kata David sambil memeluk istrinya dari belakang.
" Dad, lepas. Aku lagi cuci piring"
" Cuci aja, aku nggak akan ganggu"
" Gimana mau mencucinya kalau Daddy peluk-peluk kek gini?"
" Tangan kamu kan masih bisa bekerja. Lagian aku meluknya pinggang, bukan tangan"
" Terserah "
Aluna melanjutkan kembali mencuci piringnya. karena kalau berdebat terus dengan suaminya itu, pekerjaannya tidak akan selesai-selesai.
David menghirup aroma wangi tubuh istrinya. Aroma yang sangat menenangkan. Mungkin sekarang wangi tubuh istrinya akan menjadi candu juga untuknya.
" Kamu kok wangi banget sih? pake parfum apa?"
" Aku nggak ada pake parfum Dad"
" Nggak pake parfum, tapi kok wangi banget " kata David sambil mengecup leher jenjang Aluna.
" Daddy jangan seperti ini?"
" Kenapa?"
" Geli"
" Bilang dulu kamu pake parfum apa?"
" Kan udah di jawab tadi. Aku nggak pake parfum apa-apa"
" Terus kenapa wangi banget "
" Aku cuma pake sabun sama shampoo yang ada di kamar mandi "
" Aku pake sabun sama shampoo itu juga, tapi nggak se wangi ini"
" Sama kok wanginya"
" Coba cium" pinta David.
" Apa?"
" Coba cium aku kalau wanginya emang sama"
" Nggak perlu cium, kek gini aja udah ke cium kok wanginya"
" Nggak mau. Aku maunya di cium"
Mau nggak mau Aluna pun mencium pipi David.
" Kok di sana sih ciumnya?"
" Terus dimana?"
" Di sini" kata David sambil menunjuk bibirnya.
" Nggak!" tolak Aluna cepat.
" Ayolah baby, nolak suami dosa lho"
Aluna pun terpaksa mencium di bibir suaminya itu. Tapi saat Aluna mau melepaskan, David menahan lehernya. Lelaki tampan itu memperdalam ciumannya. Aluna hanya bisa pasrah, karena melawan pun percuma.
To be continue.
Udah hari Senin nih, mana dukungannya untuk karya receh ini 🤗🤗
Happy reading 😚😚
__ADS_1