
Hari sudah sore. Tapi suaminya belum juga masuk kedalam kamar. Divya pun berniat menghampiri suaminya itu di ruang kerjanya.
Tok..
Tok..
Tok..
" Pa, papa"
Tidak ada jawaban dari dalam. Ia pun membuka pintu ruang kerja suaminya. Divya melihat suaminya sedang terlelap di atas sofa. Ia berjalan menghampiri suaminya.
Divya tau pasti suaminya itu masih marah, makanya suaminya itu memilih tidur di ruang kerja daripada di kamarnya.
" Pa"
Garry membuka matanya saat merasakan sentuhan di pipinya. Ia melihat istrinya sedang tersenyum padanya. Ia segera bangun, dan menjauh dari istrinya.
" Papa"
" Maaf Ma, papa lagi nggak ingin bicara sama mama"
" Kenapa?"
" Mama pasti tau kenapa papa nggak ingin bicara sama mama"
Divya menundukkan kepalanya. Ia tau kesalahannya. Tapi ia baru saja di khianati sahabatnya, dan seharusnya suaminya juga menjauh darinya.
Garry bangkit dari duduknya. Ia tidak ingin melihat istrinya. Karena saat ini dirinya tidak ingin berdebat dengan sang istri.
" Papa, maafkan mama"
" Emang mama punya salah sama papa?"
" Hhmm"
" Mama tau dimana kesalahan mama?"
Divya menganggukkan kepalanya.
" Papa mau tanya sama mama. Apa mama menganggap papa ini suami mama?"
" Tentu saja "
" Kalau mama menganggap papa sebagai suami mama, lalu kenapa mama tidak mendengarkan ucapan papa. Dan diam-diam pergi menemui wanita itu?"
" Mama cuma khawatir sama dia Pa"
" Daripada mama khawatir sama dia, mending mama khawatir sama papanya Aluna. Karena dia yang mengalami kecelakaan itu. Bahkan ia sedang berjuang antara hidup dan mati"
" Iya Pa"
" Sekarang mama sudah tau bagaimana busuknya sahabat yang selalu mama banggakan itu?"
Divya lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
" Untung papa tidak menyetujui permintaan mama untuk menjodohkan David dengan putri sahabat mama itu. Kalau tidak, kita pasti sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang"
" Maafkan mama Pa. Mama juga tidak tau kalau dia punya niat seperti itu"
" Mama itu terlalu naif. Jadi mama mudah dikelabui sama sahabat mama sendiri"
Lagi-lagi Divya membenarkan apa yang dikatakan suaminya itu. Ia memang sudah dibutakan sama sahabatnya itu.
" Tapi ada bagusnya juga mama pergi ke sana, jadi mama bisa tau seperti apa sebenarnya sahabat mama itu. Kalau tidak, mama akan selalu dibodohi sama mereka"
" Iya Pa. Apa sekarang papa sudah memaafkan mama?"
" Belum. Karena bukan cuma itu saja yang membuat papa kecewa"
" Maksud papa?"
" Mama sudah menghina menantu papa. Istri dari putra kita. Apa mama lupa?"
__ADS_1
" Tidak Pa"
" Minta maaf lha sama menantu papa, maka papa akan pertimbangan mama untuk tetap tinggal di sini atau pergi meninggalkan rumah ini"
Setelah mengatakan itu. Garry langsung pergi dari ruang kerjanya. Ia berharap dengan mengatakan itu, istrinya bisa sadar dan juga meminta maaf pada menantunya.
Deg.
Divya tidak menyangka suaminya akan bicara seperti itu. Ia pikir kemarin suaminya itu tidak serius mengatakan itu. Tapi pikirannya salah, suaminya bersungguh-sungguh mengatakan itu. Ia hanya menatap punggung suaminya yang semakin menjauh, kemudian hilang di balik pintu.
...................
Aluna bangun dari tidurnya saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh jidatnya. Ia membuka matanya.
" Daddy"
" Udah bangun? rencananya aku mau kecup bibir kamu kalau kamu belum bangun juga"
" Dasar bebek"
" Buruan mandi, setelah itu kita kembali ke rumah sakit"
" Hhhmm"
Saat hendak berdiri, tiba-tiba Aluna merasa kepalanya pusing. Untung ia berpegangan pada nakas yang ada di samping bed nya.
" Sayang, hati-hati"
" Iya Dad"
" Kamu kenapa?"
" Nggak tau, tiba-tiba aja kepala aku pusing"
" Ya udah, sini aku bantu ke kamar mandi"
Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, David segera menggendong istrinya ke kamar mandi. Aluna mengalungkan tangannya di leher sang suami, supaya ia tidak terjatuh.
" Duduk di sini dulu, aku mau isi bathtub dulu"
" Kamu lagi pusing sayang, jadi duduk manis aja di sana"
Akhirnya Aluna mengalah, ia membiarkan suaminya yang mengisi bathtub. Ia hanya duduk manis di atas wastafel. Tak butuh waktu lama air dalam bathtub pun sudah mulai penuh.
David mengambil bubble bath cair kedalam bathtub. Dan tak lupa ia memasukkan minyak esensial atau minyak aromaterapi kedalam bathtub itu. Istrinya memang suka memakai minyak esensial saat mandi. Kata sang istri minyak esensial bisa membuat kulit lebih halus dan juga bisa mengangkat sel kulit mati.
Huek..huek..
" Sayang"
" Dad, aku nggak suka aroma minyak esensialnya"
" Bukankah kamu selalu memakai ini setiap mandi?"
" Iya, tapi wanginya bukan kek yang biasa aku pakai"
David melihat botol minyak esensial tadi. Dan benar, aroma yang ada tertulis di botol itu adalah lavender. Sedangkan yang sering istrinya pakai aroma vanilla.
Aluna menutup hidungnya supaya aroma wangi lavender itu tidak tercium olehnya. Karena kalau sempat tercium lagi, bisa-bisa ia mual lagi.
" Aku ganti airnya dulu ya"
David segera membuang air di dalam bathtub. Ia mengganti dengan air yang baru. Kali ini ia hanya memasukkan bubble bath ke dalam air mandi sang istri.
" Nggak apa-apa kalau nggak pake minyak esensial?"
" Nggak apa-apa Dad"
" Sini aku bantu mandinya"
" Nggak usah!" tolak Aluna.
" Kenapa?"
__ADS_1
" Karena nanti mandinya jadi lama"
David tersenyum mendengar jawaban sang istri. " Nggak kok sayang, aku cuma mau bantu doang"
" Nggak! sekali nggak, tetap enggak. Sekarang Daddy keluar"
" Aku tunggu di sini aja"
" No? keluar Daddy"
" Baiklah. Tapi kalau udah selesai mandi, panggil aku"
" Hhmm"
David pun keluar dari kamar mandi. Setelah suaminya keluar, Aluna segera mengunci pintu kamar mandi. Karena kalau tidak, suaminya itu pasti akan masuk lagi.
Setelah di rasa aman, barulah ia melepaskan selimut yang ia gunakan untuk menutup tubuhnya yang polos. ia langsung berendam kedalam bathtub.
Aluna merasa nyaman saat berendam di air hangat itu. Rasa pegal yang tadi ia rasakan hilang. Ini semua gara-gara suaminya yang membuat tubuhnya seakan remuk.
Tok..
Tok..
Tok.
" Sayang, kok mandinya lama benget?"
" Baru juga semenit Dad"
" Ini udah lima menit lebih lho sayang?"
" Masih belum, Daddy kan tau kalau aku mandinya berapa lama"
" Iya, tapi sekarang kan kamu lagi nggak fit. Tadi aja pusing dan juga mual-mual"
" Sekarang udah nggak kok Dad, jadi jangan di gedor-gedor lagi pintunya"
David pun menurut. Ia tidak lagi mengetuk pintu kamar mandi. Ia berdiri seperti patung di depan pintu kamar mandi.
Setelah menunggu lebih kurang 15 menit, akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan sosok wanita yang ia cintai.
" Daddy masih di sini?"
" Hhmm"
" Kenapa nggak di sana aja nunggunya"
" Aku takut kamu pusing lagi"
Aluna tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia tidak menyangka suaminya begitu mengkhawatirkan dirinya.
" Aku udah nggak apa-apa Dad"
Aluna berjalan menuju lemari. Ia baru teringat kalau dress nya di robek sama suaminya. Dan dirinya tidak membawa baju ganti.
" Dad"
" Hhmm"
" Aku nggak bawa baju ganti?"
" Tenang, aku udah beliin dress baru untuk kamu"
Aluna mengeyitkan alisnya. Kapan suaminya itu membeli dress.
" Aku minta Tomy tadi yang beliin"
" Oh"
Aluna mengambil paper bag yang diberikan suaminya. Ia melihat ada tiga dress dengan warna yang sangat indah. Pilihannya jatuh pada dress berwarna peach.
Setelah berganti pakaian. Mereka pun segera meninggalkan hotel itu. Karena ini sudah terlalu lama mereka pergi. Dan David harus mencari alasan lagi.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚