
Setelah tau keuntungan yang akan di dapatkan perusahaannya. David pun membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang sudah diberi materai itu.
" Semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar tuan David"
" Aamiin. Semoga tuan Harun"
" Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu"
" Silakan tuan"
Tomy mengantar tuan Harun dan putrinya ke depan pintu. Setelah itu ia kembali ke tempat duduknya.
" Kamu nggak ada niat mau meresmikan hubungan kamu Tom?"
" Maksud tuan?"
" Saya tau kamu suka sama Airin"
" Tuan tau darimana saya suka sama Airin?"
" Daritadi kamu melihat dia terus"
" Tuan melihatnya?"
" Hhhmm"
" Saya takut ditolak tuan"
" Emang kamu udah pernah mencoba?"
" Belum "
" Kalau kamu belum mencoba gimana kamu tau akan ditolak"
" Feeling aja sih tuan"
" Coba dulu. lagipula kita tidak akan pernah tau hasilnya jika kita tidak mencoba. Siapa tau Airin menunggu dipinang sama kamu"
" Masa langsung dipinang tuan?"
" Terus mau pacaran dulu gitu?"
" Ya setidaknya kami perkenalan dulu"
" Untuk apalagi perkenalan. Bukankah kalian sudah saling mengenal. Bahkan saya juga beberapa kali liat kamu jalan sama Airin"
" Ya itu kan cuma sekedar makan siang aja tuan"
" Mau makan siang atau apalah itu namanya. Yang penting kalian cuma makan berdua. Ingat Tom, cewek itu butuh kepastian. Jadi cepat halalkan dia, sebelum kamu terlambat"
" Baik tuan, saya akan berusaha"
" Kamu mau bilang apa sama dia nanti?"
" Minta dia jadi pacar saya "
" Daripada pacaran, mending kamu pinang dia"
" Apa nggak apa-apa langsung dipinang?"
" Nggak apa-apa. Justru bagus kamu langsung meminang"
" Bagus gimana tuan?"
" Karena statusnya lebih jelas. Dan lagi kamu sama dia sudah nggak muda lagi"
Tomy memikirkan apa yang dikatakan tuanya. Ya sekarang umurnya udah tiga puluh satu tahun. Dan Airin sudah dua puluh delapan tahun. Jadi mereka tidak bisa untuk main-main lagi.
" Baiklah tuan, saya akan coba"
__ADS_1
" Bagus. Jadi kapan kamu akan melamarnya?"
" Saya mencari waktu yang tepat dulu tuan. Dan juga saya harus menyiapkan tempat yang romantis untuk acara lamaran saya"
Mendengar ucapan Tomy, David teringat akan istrinya. David pun ingin melamar istrinya. Karena kemarin mereka langsung menikah. Biarlah terlambat, daripada tidak sama sekali.
" Tuan saya pamit ke ruangan saya dulu"
" Hhmm"
Setelah Tomy keluar dari ruangannya, David menghubungi nomor istrinya. Ia ingin tau sedang apa istrinya itu sekarang. Tak butuh waktu lama telpon pun tersambung.
" Hallo sayang"
" Hallo Vid"
" Kok papa yang ngangkat telponnya?"
" Iya, istri kamu lagi di kamar mandi sama mama. Dari tadi dia mual-mual terus"
" Terus gimana keadaan istri aku sekarang Pa? aku ke sana sekarang ya Pa"
Belum sempat sang papa menjawab David sudah mematikan sambungan teleponnya. Ia sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Karena istrinya tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Baru sampai di depan pintu David baru ingat kalau dia tadi ke kantor dijemput sama Tomy. Ia segera menuju ruangan asistennya. Tapi sebelum itu, ia mampir ke meja sekretarisnya.
" Rin jadwal saya hari ini apa?"
" Untuk sekarang ini kosong Pak"
" Bagus. Kalau begitu saya bisa pulang cepat hari ini. Oh iya saya pinjam Tomy sebentar"
" Eh"
Setelah itu dia langsung meninggalkan meja Airin. David langsung menuju ruangan asistennya itu. Sedangkan Airin masih mencerna apa yang dikatakan Presdirnya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, David langsung masuk kedalam ruangan asistennya itu.
" Sekarang?"
" Iya Tom, istri saya lagi sakit"
" Baik tuan"
David dan Tomy segera keluar dari ruangan itu. Mereka bergegas menuju lift.
Tomy melirik tuannya melalui pantulan dinding lift. Terlihat raut kekhawatiran yang teramat dari tuannya itu.
Pintu lift terbuka. David segera keluar dari lift. Diikuti oleh Tomy dibelakang. Untungnya Tomy meminta security untuk mengambil mobilnya di parkiran, jadi mereka tinggal menunggu di depan pintu masuk.
Setelah mobil datang, security itu langsung membukakan pintu untuk bosnya. David masuk kedalam mobil, begitu juga dengan Tomy. Mobil mewah itu pun melaju meninggalkan perusahaan Wesley.
...***...
Tanpa menunggu dibukakan pintu oleh asistennya David segera masuk kedalam rumah sakit. Ia langsung menuju ruang rawat mertuanya. Tomy dengan susah payah mengejar tuannya.
Besok gue harus rajin olahraga. Biar nggak susah mengejar tuan.
David segera menerobos masuk kedalam ruang rawat mertuanya. " Sayang!"
Semua orang diruangan itu kaget mendengar teriakkan David. Termasuk Aluna. Ia kaget kenapa suaminya tiba-tiba ada di rumah sakit. Bukankah suaminya itu lagi di kantor.
" David, kamu kenapa berteriak begitu?" tanya sang papa.
David tidak menjawab pertanyaan papanya. Ia segera menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa sambil menikmati buah.
" Mana yang sakit?" tanyanya setelah duduk di samping sang istri.
Aluna mengeyitkan alisnya. Ia tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan suaminya.
__ADS_1
" Aku baik-baik aja Daddy"
" Tadi papa bilang kamu muntah-muntah"
Sekarang Aluna tau kenapa suaminya ada disini Sekar ini. Ternyata papa mertuanya memberitau suaminya kalau tadi dirinya sempat muntah-muntah.
" Iya, tadi sempat muntah-muntah. Tapi sekarang aku udah baik-baik aja"
" Kamu yakin. Apa nggak seharusnya kita periksa saja?"
" Nggak perlu Dad. Aku baik-baik aja"
" Nanti kalau muntah-muntah lagi gimana?"
" Aku baik-baik saja Daddy. Mama bilang itu biasa terjadi di kehamilan trimester pertama"
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Tadi mama juga sudah minta sama dokter obat untuk mengurangi rasa mual"
" Syukurlah kalau gitu"
" Apa Daddy kesini karena mengkhawatirkan aku sama calon baby?"
" Hhhmm" sambil menganggukkan kepala.
Aluna tersenyum mendengar jawaban suaminya. Ia senang dan bahagia karena suaminya sangat mengkhawatirkan dirinya dan juga calon bayinya. Ia membelai pipi suaminya.
" Makasih ya "
" Kenapa bilang makasih?"
" Karena Daddy sudah mengkhawatirkan aku sama calon baby"
" Tentu saja aku khawatir sayang. Karena kamu dan calon baby segalanya bagi aku" ucap David sambil memeluk istrinya.
Divya ikut senang dan bahagia melihat betapa besarnya rasa cinta putranya pada istrinya. Tidak hanya Divya Garry dan Wilson pun juga senang melihat hubungan pasutri itu.
Ehem!.
" Sampai kapan kamu mau peluk menantu mama, Vid?"
Aluna melepaskan pelukan suaminya. Ia baru sadar kalau di sana tidak cuma ada mereka berdua saja. Ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
David tersenyum melihat istrinya yang malu-malu seperti itu. Istrinya itu terlihat sangat menggemaskan. Andai saja disini cuma ada mereka berdua. Sudah pasti ia akan mencium istrinya itu.
" Tuan"
Semua orang di sana baru tersadar kalau ada Tomy di sana. Begitu juga dengan David. Bagaimana dia bisa melupakan asistennya itu.
" Eh, ada Tomy" kata Divya.
" Iya Tante"
" Sejak kapan kamu berdiri di sana?"
" Sejak tadi Tante"
" Astaga, maaf ya. Duduk sini"
Beginilah nasibku menjadi makhluk yang tak terlihat.
" Maaf ya Tom, sudah mengabaikan kamu. Habisnya saya tadi panik sama keadaan istri saya"
" Iya nggak apa-apa tuan muda, saya mengerti" Lagi pula saya sudah biasa dicuekin seperti tadi. ucapan itu hanya bisa ia ungkapkan di dalam hatinya.
To be continue.
__ADS_1
Happy reading 😚😚