Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
Jajan pinggir jalan


__ADS_3

David dan Leo pun sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, ia dan Leo segera masuk kedalam rumah sakit.


" Sayang"


Aluna menoleh kala mendengar suara yang sangat ia kenal. Ia tersenyum melihat suami dan adiknya sudah datang.


" Apa sidangnya sudah selesai?" tanya Aluna.


" Sudah, mama kemana?"


" Ke toilet tadi"


Aluna sengaja tidak menyinggung masalah persidangan. Karena ia tau sekarang adiknya itu lagi bersedih. Walaupun sang adik selalu bilang kalau dia baik-baik saja, tapi ia tau di dalam hati sang adik pasti sangat merindukan mamanya.


" Kamu sudah makan?"


" Belum"


" Pas kalau gitu. Tadi aku sama Leo udah beli makanan untuk kita"


" Papa Garry mana?"


" Ia nanti kesini sama Om Martin"


Tak berselang lama, Divya kembali dari toilet.


" Kalian sudah kembali? papa mana?" tanya Divya.


" Papa sama Om Martin dibelakang"


" Kamu bawa apa tuh?"


" Oh ini, makan siang untuk kita semua"


" Wah pas banget, mama sama istri kamu belum makan"


" Kita mau makan di mana?" tanya Aluna.


" Di kantin rumah sakit aja" kata David.


" Kalau kita ke kantin, gimana dengan papa?"


" Papa masih di ruang operasi, jadi kita pergi sebentar nggak masalah"


" Bener nggak apa-apa?"


" Iya, lagian operasinya masih lama"


" Baiklah"


Mereka berempat pun pergi ke kantin rumah sakit. Karena nggak mungkin mereka makan di depan ruangan operasi.


Sesampai di kantin, mereka mencari kursi yang kosong. Sebelum duduk, mereka sudah minta izin sama pemilik kantin.


" Daddy beli apa?"


" Banyak nih, ada cumi goreng tepung, gurame asam manis, kepiting saos Padang dan udang goreng balado. Kamu mau yang mana?"


" Aku mau cumi goreng tepung"


" Nggak mau makan nasi?"


" Nggak" jawab Aluna sambil menggelengkan kepalanya.


" Aku suap-in, mau ya?"


Aluna melihat mama mertua dan adiknya. Ia malu kalau disuapin di depan mertua dan adiknya itu.


" Kalau kamu malu, anggap mama sama Leo nggak ada" kata Divya.


Wajah Aluna memerah mendengar ucapan mertuanya. Ia tidak menyangka kalau mama mertuanya akan bicara seperti itu.


" Kamu malu sama mama"


" Hhhmm"


" Geser sini duduknya, biar gampang aku menyuapi kamu"


Aluna menggeser duduknya lebih dekat lagi dengan suaminya. Mereka pun mulai menyantap makanan yang sudah ada di depan mereka masing-masing.


Divya melirik putra dan mantunya. Ia sangat bahagia melihat bagaimana putranya memperlakukan istrinya. Ia pun teringat akan masa lalu. Saat dirinya mengandung David, papa David juga sering menyuapinya.


" Makan yang banyak Leo" kata Divya sambil menambahkan nasi dan juga lauk ke piring Leo.


" Makasih Tante"


" Sama-sama"


Nasi di piring David sudah habis. Dan yang paling banyak memakan nasi itu adalah sang istri. Mungkin karena istrinya lagi hamil, jadi nafsu makannya meningkat. Tapi ia sangat senang, karena istrinya mau makan nasi.


" Mau tambah lagi?"


" Nggak, udah kenyang"


" Bener udah kenyang?"


" Belum sih, tapi aku mau makan yang lain?"

__ADS_1


" Mau makan apa?"


" Bakso, boleh?"


" Bakso?"


" Hhmm"


" Emang di kantin sini ada bakso?"


" Nggak ada "


" Terus beli dimana baksonya?"


" Di depan sana ada abang-abang yang jual"


" Bakso pinggir jalan?"


Aluna menganggukkan kepalanya.


" No"


" Kenapa?"


" Nggak higenis"


" Kata siapa nggak higenis?"


" Kataku"


" Emang Daddy udah pernah beli bakso di sana?"


" Belum, lagian aku juga nggak pernah makan bakso "


" Masa?"


" Tanya aja sama mama"


" Benar Ma, Mas David belum pernah makan bakso?"


" Benar sayang. Kamu kan tau kalau suami kamu itu punya penyakit OCD, jadi soal makanan pun dia juga pilih-pilih"


" Berarti Daddy harus coba makan bakso"


" Kenapa aku harus makan bakso juga?"


" Biar Daddy tau gimana enaknya bakso abang-abang pinggir jalan"


" Tapi aku udah kenyang sayang"


" Ya udah, aku beliin dulu ya?"


" Ikut"


" Di sini aja sama mama dan juga Leo"


" Aku mau ikut, boleh ya?" kata Aluna dengan mata puppy eyes nya.


David menghela nafasnya. Lagi-lagi ia kalah, karena tidak bisa menolak keinginan istrinya.


" Ya udah kamu boleh ikut"


" Asik"


" Ma, aku ke luar bentar ya"


" Iya, mama sama Leo juga mau kembali ke ruang operasi"


" Jalan dulu ya Ma" kata Aluna.


" Iya sayang, hati-hati "


" Ok Ma"


David dan istrinya pergi dari kantin itu. Mereka akan membeli bakso yang ada di pinggir jalan. Sedangkan Divya dan kembali ke ruang operasi.


Pasutri itupun sampai di depan pintu gerbang rumah sakit. David melihat di seberang jalan ada gerobak bakso. Mungkin bakso itulah yang diinginkan istrinya.


" Yuk Dad nyebrang"


" Sabar sayang"


David menggandeng tangan istrinya. Mereka pun segera menyeberang. Akhirnya mereka sampai di depan gerobak bakso.


" Yuk Dad, pesan baksonya"


" Kita makannya di kantin rumah sakit aja ya?"


" Nggak seru. Kalau makan bakso itu enaknya langsung di tempatnya"


" Maksud kamu makan baksonya di sini?"


" Hhhmm"


David melihat tempat duduk dan juga meja yang ada di sana. Semua kursi yang ada di sana sudah penuh sama pembeli.


" Udah penuh sayang"

__ADS_1


" Tuh ada yang kosong"


David melihat ada sepasang suami-istri yang baru selesai makan bakso. Jadi sekarang tempat duduk itu kosong.


" Yuk duduk di sana, sebelum tempat duduknya di ambil sama yang lain"


Ia pun mengikuti sang istri duduk di kursi yang kosong tadi. Kedatangan pasutri itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Karena mereka baru kali ini melihat Aluna dan David makan bakso di sana.


" Mau pesan apa Neng?"


" Bakso Bang"


" Bakso urat atau bakso telur"


" Keduanya Bang, urat satu sama telur satu"


" Siap Neng"


Abang penjual bakso pun segera mengambilkan pesanan bakso untuk Aluna dan juga David.


" Panas ya?" tanya Aluna.


" Hhmm"


" Sebentar ya"


" Mau kemana?" tanya David.


" Ke sana. Daddy tunggu di sini sebentar"


Aluna menghampiri Abang penjual bakso.


" Bang, ada kipas angin nggak?"


" Ada Neng"


" Tolong hidupkan dong. Arahkan ke meja saya ya?"


" Ok Neng"


" Makasih Bang"


Aluna kembali ke tempat duduknya.


" Kamu ngomong apa sama Abang itu?"


" Ada deh"


David menatap tajam istrinya. Ia tidak suka melihat istrinya ngobrol dengan lelaki lain. Apalagi tadi istrinya terlihat akrab sama penjual baksonya.


" Aku nggak suka liat kamu ngobrol seperti tadi sama laki-laki lain"


" Daddy cemburu?"


" Tentu saja cemburu"


" Masa Daddy cemburu sama Abang penjual bakso"


" Walaupun dia penjual bakso, tapi dia itu laki-laki"


" Daddy tenang aja, walaupun banyak lelaki diluar sana. Tapi hati aku cuma milik Daddy seorang"


" Ck, belajar menggombal dari siapa kamu?"


" Itu bukan gombalan, tapi itu isi hati aku yang sesungguhnya"


Tak berselang lama pesanan Aluna datang. Bersamaan dengan itu kipas angin pun menyala.


" Yuk cobain baksonya"


" Kamu duluan "


Aluna menambahkan kecap dan juga saos kedalam mangkok baksonya. Karena belum lengkap rasanya makan bakso kalau nggak pake kecap dan juga saos. Terakhir Aluna memasukkan sambal.


" Sayang jangan banyak-banyak sambalnya?"


" Iya Dad"


Aluna memasukkan bakso yang pertama ke dalam mulutnya. Bakso itu sangat lembut dan sangat enak.


" Daddy cobain?" kata Aluna sambil menyodorkan bakso kecil ke mulut suaminya.


Walaupun ragu akan rasanya. David pun memasukkan bakso itu kedalam mulutnya. Mata David membulat sempurna. Ia tidak menyangka kalau bakso kecil itu seenak itu.


" Gimana?"


" Enak. Mungkin karena kamu yang suap-in"


Aluna tersenyum mendengar ucapan suaminya. Sekarang giliran dirinyalah yang menyuapi suaminya itu.


To be continue.


Suami yang pengertian.



Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2