
Setelah palu di ketuk sidang pun berakhir. David senang karena Widya dan Angel sudah mendapatkan hukuman atas semua kejahatannya.
" Makasih ya Om udah bantu menyelesaikan kasus ini?" ucap David.
" Sama-sama Vid. Ini juga kewajiban saya sebagai lawyer nya tuan Wilson"
" Are you ok, Leo?" tanya David.
" Aku baik-baik aja Bang"
" Apa kamu tidak ingin menemui mama kamu?"
Leo menggelengkan kepalanya.
" Pergilah, temui mama kamu"
" Nggak Bang"
" Nggak apa-apa, Abang tunggu di luar"
David, papanya dan Martin keluar dari ruang sidang. Sekarang tinggallah Leo, bersama mama dan kakaknya yang ada di dalam ruang sidang.
Ya polisi memberikan waktu selama lima belas menit untuk bicara dengan Leo. Setelah itu mereka berdua akan kembali dimasukkan kedalam sel.
" Apa kamu tidak ingin memeluk mama?"
" Tidak!"
" Leo! kamu benar-benar anak durhaka ya" kata Angel.
" Apa ada lagi yang ingin anda bicarakan sama saya?"
Deg.
Widya kaget mendengar ucapan putranya. Ia tidak menyangka sang putra akan bersikap dingin padanya. Se benci itukah putranya itu padanya.
" Maafkan mama Nak?"
" Anda tidak punya salah pada saya, jadi untuk apa anda meminta maaf "
" Leo! dasar adik kurang ajar! yang lagi bicara itu mama kamu, bukannya orang lain" kata Angel.
" Saya tidak punya mama dan juga kakak"
" Otak kamu sudah di cuci sama wanita itu"
" Jangan samakan kakak saya dengan anda. Karena kakak saya itu orang yang sangat baik hati"
" Yang kakak kamu itu aku! bukan dia!"
" Apa anda tidak dengar ucapan saya tadi. Aku tidak punya kakak yang jahat. Jadi anda jangan mengaku-ngaku sebagai kakak saya"
" Apa kamu benci sama mama Nak?"
" Iya, sangat"
__ADS_1
" Bagaimana bisa kamu membenci ibu kandung yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan kamu" kata Angel.
" Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan. Saya permisi dulu"
" Leo!"
Leo terus berjalan, ia tidak menghiraukan panggilan sang kakak. Ia terus berjalan menuju pintu keluar. Tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
" Jaga kesehatan anda. Karena saya tidak ingin melihat anda sakit. Saya harap anda segera bertobat dan menyesali semua perbuatan anda"
Widya tersenyum mendengar ucapan putranya itu. Ia tau kalau putranya tidak sepenuhnya membencinya. Ia terus menatap punggung putranya yang semakin menjauh dari pandangannya.
" Sudahlah Ma, biarkan saja anak durhaka itu pergi"
" Mama sudah membuat dia kecewa. Dia marah dan benci sama mama"
" Nggak ada gunanya mama menangisi anak durhaka itu. Aku juga tidak ingin punya adek seperti dia"
" Kamu tidak tau bagaimana rasanya dibenci sama anak sendiri. Mama yang mengandung dan melahirkan adik kamu, tapi sekarang dia membenci mama"
" Daripada mama nangis, mending mama pikirkan bagaimana cara kita cepat keluar dari sini. Karena aku udah nggak tahan berada di sini"
"Mungkin Leo benar, mama harus bertobat. Mama tidak ingin dibenci sama anak mama sendiri"
" Mama nggak salah. Lagipula dia itu sudah durhaka sama mama"
" Dia seperti itu karena mama"
" Terus mama nggak mau balas dendam lagi sama mereka"
" Nggak. Sudah cukup kita melakukan kejahatan Angel. Apalagi papa kamu sudah baik sama kita"
" Waktu kalian sudah habis " kata seorang polisi wanita.
Widya dan Angel pun dibawa kembali ke sel. Karena waktu yang diberikan untuk mengobrol sudah habis. Leo hanya melihat mama dan kakaknya dibawa kembali ke dalam sel.
Angel menatap adiknya dengan penuh kebencian. Ia tidak akan pernah memaafkan adiknya itu. Dan ia akan membalas dendam pada orang-orang yang sudah memasukkannya kedalam penjara.
" Papa mau bareng aku ke rumah sakit atau gimana?" tanya David pada sang papa.
" Papa sama Martin. Karena tadi papa ke sini sama dia"
" Ya udah, kalau gitu aku duluan ya Pa, Om"
" Iya. Hati-hati dijalan"
" Siap Pa"
David dan Leo segera pergi dari sana. Mereka berjalan menuju parkiran. Sepanjang jalan menuju parkiran Leo hanya diam. Dan dia juga terlihat murung.
David berusaha menenangkan Leo. Ia tau kalau adiknya itu sedih karena hukuman mamanya. Tapi adiknya itu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu hukuman atas perbuatan jahat mereka.
" Menangis lha kalau kamu ingin menangis. Abang tau kamu sedih karena mama kamu"
" Aku memang sedih. Tapi bukan sedih karena mama lamanya mama di tahan"
__ADS_1
" Lalu?"
" Aku sedih karena tidak bisa menjadi anak yang baik untuk papa"
David tersenyum mendengar ucapan adiknya itu. " Kamu itu sudah menjadi anak yang baik untuk papa. Kamu sudah mau membongkar kejahatan mama kamu. Justru papa itu bangga sama kamu. Jadi jangan sedih lagi"
" Benarkah papa bangga sama aku?"
" Benar dong. Bukan cuma papa, kakak Aluna dan Abang bangga sama kamu"
" Apa Abang nggak benci sama aku?"
" Kenapa Abang harus benci sama kamu"
" Karena aku anak dari orang yang sudah buat papa celaka"
" Yang melakukan kejahatan itu kan mama kamu bukan kamu. Udah jangan sedih lagi, sekarang kita kembali ke rumah sakit"
" Hhhmm"
David melajukan mobilnya meninggalkan pengadilan. Mereka kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang papa. Apakah operasinya sudah selesai atau belum.
Karena hari sudah siang David memutuskan untuk mampir ke restoran dulu. Ia akan membeli makan siang untuk mereka nanti.
...........................
Ana sangat takjub melihat rumah yang akan dia tempati itu. Rumah itu sangat besar dan juga mewah. Ini kali pertamanya ia masuk rumah yang bagus seperti itu.
" Siapa nama anda nona?"
" Saya Ana"
" Mari saya tunjukkan kamar anda Ana" kata Bik Ijah.
Ana mengikuti Bik Ijah. Ia tidak tau akan dibawa kemana oleh wanita paruh baya itu. Tapi ia bingung kenapa ia dibawa ke belakang.
" Bik, kenapa kita kebelakang?"
" Karena kamar pelayan memang ada dibelakang "
" Saya bukan sembarang pelayan Bik"
" Emang anda pelayan apa?"
" Saya pelayan khusus tuan David. Jadi kamar saya tidak sama dengan pelayan lain"
" Maaf ya Ana, tuan David tidak bisa dilayani sama sembarangan orang. Dan tuan David tidak pernah bilang sama saya kalau anda pelayan pribadinya. Lagipula tuan David sudah punya istri, jadi dia tidak perlu dilayani sama pelayan"
Bik Ijah tidak habis pikir dengan gadis yang ada didepannya ini. Bisa-bisanya gadis itu bilang kalau dia pelayan pribadi tuan mudanya. Padahal tuan mudanya itu punya penyakit OCD, jadi mana bisa di sentuh sembarangan orang.
" Silakan itu kamar kamu. Setelah kamu membereskan pakaian kamu. Cepat ke dapur, karena kerjaan sudah menunggu"
Setelah mengatakan itu Bik Ijah segera meninggalkan kamar Ana. Sepeninggal Bik Ijah, Ana membanting kopernya. Ia sangat kesal sama Bik Ijah. Berani sekali pelayan itu menempatkannya di kamar pelayan.
Awas kau wanita tua.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚