Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
Perubahan David


__ADS_3

David kaget mendengar ucapan sang istri. Ia tidak menyangka kalau istrinya ingat hari kelahirannya. Sedangkan dia saja lupa kapan ulang tahunnya.


" Apa kamu sengaja memberikan hak aku di hari ini? terima kasih, ini kado yang sangat indah yang pernah aku terima"


Ia memejamkan matanya. Berharap terbangun besok hubungannya dengan sang istri akan lebih baik lagi. Karena sang istri sudah mau menyerahkan dirinya dengan ikhlas pada malam ini. Tak berselang lama David pun menyusul istrinya ke dunia mimpi.


Keesokan harinya.


David bangun dari tidurnya saat cahaya matahari mengganggunya. Ia membuka mata, dan yang dilihat pertama kali adalah wajah istrinya yang cantik walaupun dalam keadaan tidur. Ia menyingkirkan beberapa helaian rambut yang menutupi wajah sang istri.


Ia tersenyum kala teringat pergumulannya dengan sang istri semalam. Ia sangat bahagia karena dirinyalah yang mengambil mahkota sang istri. David berjanji akan selalu membahagiakan istrinya.


Setelah puas memandang wajah cantik istrinya. David menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Ia tersenyum melihat bercak darah di atas seprei. Ia turun dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


David meringis menahan pedih saat air mengenai luka yang ada di punggungnya. Luka bekas cakaran istrinya semalam. Ia tau rasa sakit yang di rasakan sekarang tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan istrinya. Ia segera membersihkan dirinya. Karena pagi ini ia ada rapat di kantornya.


Selesai mandi, ia melihat istrinya masih terlelap dalam tidurnya. David berjalan menuju lemari pakaian. Ia mengambil kemeja dan juga jas yang akan ia pakai ke kantor.


Biasanya Aluna yang menyiapkan semua keperluannya. Sekarang istrinya itu sedang tidur, jadi ia tidak tega untuk membangunkannya. Karena ia tau, istrinya itu pasti kelelahan.


David menyisir rambutnya dengan rapi. Tak lupa ia memakai Pomade supaya rambutnya tetap rapi meski terkena angin. Setelah selesai ia mengambil ponsel, kunci mobil sama tas kerjanya.


Sebelum keluar dari kamar, ia menyempatkan mengecup kening sang istri. Setelah itu segera turun untuk sarapan bersama Bik Ijah. Pagi ini dia akan sarapan berdua saja dengan Bik Ijah.


" Pagi Bik"


" Pagi Den. Kok Aden cuma sendiri? non Aluna mana?"


" Aluna masih tidur Bik"


" Apa non Aluna sakit?"


" Nggak Bik. Aluna cuma kecapean" jawab David sambil tersenyum.


Bik Ijah tersenyum mendengar jawaban tuan mudanya. Ia mengerti apa yang di maksud tuan mudanya itu. Apalagi wajah David terlihat lebih segar dan berseri dari biasanya.


Ah ternyata Den David perkasa juga. Non Aluna dibuat kelelahan begitu.


David mulai menyantap sarapan yang sudah di siapkan sama Bik Ijah. Walaupun tidak di temani istrinya, ia tetap menikmati sarapannya dengan lahap.


" Bik, saya berangkat dulu ya "


" Iya Den"


" Nanti kalau istri saya bangun dan nanyain saya, bilang saya udah berangkat ke kantor ya Bik"


" Siap Den"


David melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya. Pagi ini dia begitu semangat pergi kerja. Mungkin karena semalam ia sudah dapat vitamin dari sang istri.


💓


💓


💓


" Pagi Lukman" sapa David pada security-nya.

__ADS_1


" P-pagi Pak"


Lukman menatap punggung bosnya yang perlahan mulai menghilang di balik pintu. Ia menepuk kedua pipinya, berharap semua yang terjadi ini bukan mimpi.


Entah ada angin segar apa, sang bos menyapanya terlebih dahulu. Ini kali pertamanya bos dingin dan datar itu menyapa dirinya.


Sama seperti Lukman, para karyawan yang biasanya tidak pernah melihat senyuman bos tampan nan dingin itu. Tiba-tiba pagi ini mereka melihat senyum sang bos.


" Daebak! senyuman CEO cerah banget"


" Cerah mentari mah lewat sama senyuman CEO David "


" Andai aja bisa melihat senyuman ini tiap hari, gue rela kerja nggak di gaji"


" Gue juga "


Mereka masih membicarakan CEO tampan yang tiba-tiba tersenyum ramah itu. Sedangkan orang yang dibicarakan sudah masuk kedalam lift.


Sekretaris David membungkukkan badannya memberi hormat pada bosnya. Saat melihat lelaki tampan itu berjalan menuju ruangannya.


" Pagi Mona"


" Pa-pagi Pak"


Mona kaget mendengar bosnya menyapa dirinya. Saat bosnya sudah menghilang ke dalam ruangannya. Ia segera meneguk air putih yang ada di mejanya.


" Kamu kenapa Mon?" tanya Tomy tiba-tiba muncul entah darimana.


" Bos"


" Kenapa dengan bos"


Tomy mengeyitkan alisnya mendengar ucapan wanita cantik yang ada di hadapannya itu.


" Aneh gimana?"


" Sepertinya bos lagi sakit"


" Sakit?"


" Hmm"


Mendengar kata sakit Tomy segera masuk kedalam ruangan bosnya itu.


" Tuan"


" Astagfirullah, Tomy! "


" Maaf tuan"


" Bisa nggak kalau masuk kedalam ruangan saya, kamu ketuk pintu dulu"


" Bisa tuan. Apa tuan sakit?"


David mengeyitkan alisnya mendengar pertanyaan asistennya itu. " Saya sehat, sangat sehat malah"


Tomy melihat bosnya itu. Benar, bosnya itu tidak terlihat seperti orang sakit. Malahan wajahnya terlihat berseri-seri dari biasanya. Tapi kenapa Mona bilang bosnya itu sakit?.

__ADS_1


" Tuan benar nggak sakit?"


" Apa saya terlihat seperti orang sakit?"


" Tidak, malahan tuan terlihat lebih bersemangat dari biasanya"


" Benar, saya sangat bersemangat pagi ini" kata David sambil tersenyum pada asistennya itu.


" Apa yang membuat tuan bersemangat seperti ini?"


" Kamu masih kecil, jadi tidak perlu tau"


" Saya udah 28 tahun tuan, sudah dewasa"


" Iya, tapi kamu masih jomlo"


" Ngomong jomlo nya biasa aja kali tuan"


" Udah, cepat kembali keruangan kamu" usir David.


Ia tidak ingin mood nya rusak gegara asistennya yang nggak ada akhlak itu. Tomy yang tidak ingin gajinya di potong pun segera mengambil langkah seribu.


🍃🍃🍃


Aluna terbangun dari tidurnya, kala perutnya terasa sakit. Ia mengejapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


Ia melihat kesamping, ternyata kosong. Ia tidak mendapati suaminya. Aluna bangkit dari tidurnya. Tubuhnya seakan remuk karena ulah suaminya. Semalam suaminya benar-benar tidak memberikan waktu untuknya beristirahat.


Aluna menutup tubuhnya dengan selimut. Sakit, itulah yang ia rasakan sekarang ini. Dengan perlahan, ia berjalan menuju kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, Ia mengisi bathtub dengan air hangat. Setelah terisi penuh, ia meneteskan aroma terapi dan juga aroma Vanilla ke dalam air itu. Aroma yang sangat ia suka.


Aluna membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Alangkah kagetnya ia melihat tubuhnya yang sudah di penuhi tanda merah.


" Dasar, macan mesum!"


Ia masuk kedalam bathtub dan segera membersihkan dirinya. Aluna memejamkan matanya menikmati acara mandinya. Aroma terapi itu sungguh mampu membuatnya tenang.


Setelah tiga puluh menit, Aluna pun menyudahi acara mandinya. Sekarang tubuhnya sudah terasa lebih rileks dan rasa sakit di bagian bawahnya sudah berkurang. Ia keluar dari bathtub dan memakai jubah handuknya.


Hari ini ia tidak akan ke kampus. Karena tidak mungkin ia pergi dengan keadaannya seperti ini. Apalagi tanda yang dibuat suaminya itu memenuhi lehernya.


" Gimana cara menutupi tanda ini ya?"


Aluna mengambil bedak bayi untuk menutupi tanda yang di lehernya. Tapi bedak itu tidak mampu menutupi tanda merah keunguan itu. Ia pun memakai foundation . Ia lega karena foundation itu bisa menutupi tanda merah itu.


Setelah selesai, ia keluar dari kamarnya. Ia akan ke bawah untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Sungguh olahraga semalam sangat menguras tenaganya.


" Pagi Bik "


" Udah siang non"


" Masa sih Bik"


Aluna melihat jam dinding yang ada di ruang makan itu. Jarum jam itu sudah menunjukkan pukul 11. Aluna tersenyum kikuk kearah Bik Ijah. Ia tidak menyangka akan bangun se siang ini.


To be continue.

__ADS_1


Happy reading 😚😚


__ADS_2