
Daniel benar-benar pusing karena uang di tabungan sudah menipis. Dulu sewaktu sama Aluna dia tidak pernah merasakan kekurangan uang. Karena Aluna memberikannya kartu kredit.
" Kamu udah coba hubungi nomor Aluna?" tanya Maya.
" Sudah, tapi nomornya tidak aktif"
" Bagaimana bisa nomornya tidak aktif"
" Mana aku tau" kata Daniel ketus.
" Apa kita samperin aja dia ke rumahnya"
" Ide bagus. Tapi biar aku sendiri aja yang ke sana"
" Kenapa?"
" Karena kalau kita pergi berdua, dia pasti tidak akan mau menemui ku"
" Alasan! bilang aja kamu mau bermesraan sama dia"
" Nggak! aku tu cintanya sama kamu. Jadi mana mungkin aku mau bermesraan dengan dia"
" Janji ya, kamu nggak akan tergoda sama dia"
" Iya sayang, aku janji"
" Ya udah cepat pergi sana! aku udah nggak betah tinggal di kos-kosan sempit kek gini"
" Iya, aku jalan dulu"
" Hhmm"
Sepasang kekasih itu memang tidak tinggal di apartemen lagi. Karena Aluna sudah mengambilnya, termasuk mobil yang sering Daniel gunakan untuk berpergian. Seperti apa yang di katakan Aluna, kalau dia akan menarik semua fasilitas yang pernah dia berikan.
Daniel mengecup bibir kekasihnya sekilas. Setelah itu dia keluar dari kosan itu. Ia akan merayu Aluna dengan kata-kata romantis seperti dulu dan dia berharap Aluna akan luluh.
Ia memesan taksi dari aplikasi yang ada di ponselnya. Tak berselang lama taksi yang dia pesan pun datang. Setelah Daniel menyebutkan tempat yang akan dia tuju, taksi itupun segera melaju.
Daniel meminta sopir taksi berhenti saat mereka melewati toko bunga. Ia akan membelikan bunga kesukaan Aluna. Siapa tau dengan melihat bunga kesukaannya kekasihnya itu bisa berubah pikiran dan memaafkannya.
Setelah 15 menit, Daniel pun sampai di depan rumah kekasihnya itu. Setelah membayar ongkos taksinya barulah ia turun dari taksi. Taksi itupun pergi meninggalkan Daniel di sana.
Daniel tersenyum sambil melihat buket bunga mawar yang ada di tangannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aluna nanti ketika melihat bunga yang disukai.
Ting nong..
Sambil menunggu pintu terbuka, Daniel merapikan penampilan. Ia harus terlihat sempurna di mata kekasihnya itu.
Ceklek.
__ADS_1
Bik Ijah menatap tidak suka pada Daniel. Ya dia tau lelaki ini sudah menyakiti nona mudanya. Padahal nona mudanya sudah sangat baik dan juga mau menghidupi lelaki kere itu.
" Mau apa lagi kamu kesini? apa kamu tidak puas menyakiti nona muda"
" Saya kesini mau minta maaf sama Aluna Bik. Dan saya janji tidak akan menyakiti Aluna lagi"
" Kamu pergi saja, karena nona Aluna tidak mau lagi bertemu dengan pemuda jahat seperti kamu"
" Biarkan saya bertemu sama Aluna Bik. Saya benar-benar menyesal telah menyakitinya"
" Tidak usah, karena nona Aluna juga tidak akan mau bertemu dengan lelaki seperti kamu"
" Aluna..!!" teriak Daniel.
" Hei! jangan berteriak di sini" kata Ijah.
Daniel tidak mendengarkan ucapan Bik Ijah. Ia terus berteriak memanggil nama wanitanya itu. Bagaimana pun caranya ia harus bertemu dengan Aluna.
" Aluna..!" teriak Daniel lagi.
" Berisik!" kata Aluna yang datang karena tidak tahan mendengar suara orang yang paling dia benci itu.
" Sayang, akhirnya kamu keluar juga"
" Jangan panggil gue dengan sebutan menjijikkan seperti itu lagi. Apa lo nggak denger apa yang di katakan Bik Ijah tadi"
Daniel langsung bersimpuh di kaki Aluna. Ia rela membuang harga dirinya. Tidak, lebih tepatnya dia tidak punya harga diri.
" Sudah gue bilang jangan panggil gue dengan sebutan menjijikkan itu. Apa lo lupa, saat lo bercumbu dengan sahabatku, lo bilang tidak mencintai gue. Jadi sekarang cepat pergi dari rumah gue"
Daniel tidak kehabisan akal. Ia memeluk kaki Aluna. " Aku nggak akan pergi sebelum kamu mau maafin aku. Dan balikan lagi sama aku"
Aluna mendorong tubuh Daniel hingga tangan lelaki itu lepas dari kakinya. " Berharap saja dalam mimpi lo. Sampai mati pun gue tidak akan pernah kembali sama lo. Karena sesuatu yang sudah dibuang, pantang untuk dipungut kembali"
" Aku udah putus sama Maya, jadi tolong kembalilah padaku"
" Ckckck,, setelah lo tidur sama dia, terus lo bilang sekarang udah putus. Dimana harga diri lo sebagai laki-laki. Jangan mau enaknya aja, habis dipakai langsung di buang. Lo pikir dia itu tissue"
Daniel tidak bisa berkata-kata lagi, sepertinya perempuan cantik ini tidak bisa diluluhkan dengan cara halus. Dia harus ditaklukkan dengan cara kasar.
" Cepat angkat kaki dari rumah ku" kata Aluna sambil membanting pintu rumahnya.
Daniel hanya bisa menghela nafasnya. Ia akan mencari cara untuk membuat Aluna kembali lagi ke pelukannya. Ia pun pergi dengan perasaan yang hampa.
Aluna memijit pangkal hidungnya. Mimpi apa dia semalam hingga di datangi dua lelaki. Yang satu mantan pacar yang tidak tau diri. Dan yang satu lelaki Om tampan dengan sejuta pesona.
" Non"
" Hhmm"
__ADS_1
" Apa non baik-baik saja?"
" Aluna baik-baik aja Bik. Lain kali kalau dia datang lagi, jangan dibukain pintu lagi ya Bik"
" Siap nona. Bibik juga tidak tau kalau dia yang datang"
" Ya udah, Aluna ke kamar dulu Bik"
" Iya nona. Oh iya, tadi tuan menelpon. Dia bilang ' nomor nona tidak aktif "
" Ponsel Aluna rusak Bik"
" Rusak? bukankah ponsel itu baru di beli?"
" Biasa Bik, habis cium tembok"
Bik Ijah hanya menggelengkan kepalanya. Ia tau maksud nona mudanya itu. " Lain kali jangan di lempar lagi non, kan kasian ponselnya"
" Iya Bik. Kalau papa telpon lagi, bilang ponsel Aluna rusak ya Bik"
" Siap nona. Tuan juga bilang, weekend besok dia mau jemput nona"
" Jemput? emang mau kemana Bik"
" Tuan bilang mau ngajak nona liburan"
" Tumben papa ngajak liburan. Biasanya selalu sibuk dengan pekerjaan dan juga keluarga barunya"
" Mungkin tuan benar-benar kangen sama non Aluna"
" Mudah-mudahan benar deh Bik, papa kangen sama Aluna"
" Iya non, semoga tuan bisa meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk non Aluna"
" Semoga Bik. Aluna ke atas dulu ya Bik"
" Iya non"
Aluna berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia masih memikirkan ucapan Bik Ijah tadi. Tidak biasanya sang papa ada waktu untuk dirinya.
Sesampainya di kamar, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Ia menatap pigura besar yang terpasang di dinding kamarnya.
Foto dia dan kedua orang tuanya saat mereka masih tinggal bersama dulu. Aluna tidak tau alasan mengapa kedua orang tuanya bercerai. Tapi yang pasti, kedua orang tuanya bilang sudah tidak ada kecocokan satu sama lain lagi.
Apa nasib pernikahannya juga akan sama seperti mama dan papanya. Aluna menggelengkan kepalanya.
" Mikir apa sih gue. Pacar aja nggak punya udah bayangin pernikahan aja. Dasar otak error"
Tapi dalam hatinya Aluna berharap kalau pernikahannya nanti tidak akan berakhir seperti pernikahan mama dan papanya.
__ADS_1
To be continue.
Happy Reading 😚😚