
Tomy sedang mempersiapkan diri untuk berbicara dengan Airin. Walaupun mereka sering pergi makan siang berdua, tapi sekarang ini rasanya beda. Setelah memantapkan hatinya, ia segera menghampiri meja kerja Airin.
" Rin"
" Hhmm"
" Ntar malam ada acara nggak?"
" Nggak, kenapa?"
" Dinner sama aku yuk"
Airin menatap lelaki tampan yang ada dihadapannya itu. Ini kali pertamanya lelaki itu mengajaknya dinner.
" Dalam rangka apa nih kamu ngajak aku dinner?"
" Nggak dalam rangka apa-apa. Cuma lagi pengen dinner aja sama kamu. Gimana? mau nggak?"
" Mmmm, boleh deh"
" Ntar malam aku jemput ya"
" Ok"
" Ya udah, sekarang kamu lanjutkan lagi kerjanya. Aku juga mau lanjutin kerjaan ku"
" Hhmm"
Airin tersenyum sambil memandang punggung Tomy yang semakin menjauh dari pandangannya. Hari ini lelaki tampan itu bertingkah sangat aneh. Tapi dalam hatinya ia sangat senang karena akan pergi dinner dengan lelaki tampan itu.
...***...
David baru sampai di rumah sakit. Ia sempat pulang untuk mengganti pakaian dan juga menyimpan cincin yang ia beli tadi.
Ia berjalan masuk kedalam rumah sakit. Orang-orang yang ada di sana terpesona melihat David. Bagaimana tidak, penampilannya saat ini sangat berbeda dengan yang tadi.
Ya sekarang ini ia memakai baju kaos t-shirt berwarna putih dan celana jeans panjang. Ia terlihat sangat tampan dengan memakai pakaian santai seperti itu.
" Siapa lelaki tampan itu? apa dia seorang artis?"
" Bukan. Dia itu tuan muda dari keluarga Wesley"
" Keluarga Wesley yang kaya itu?"
" Ya, di kota ini kan cuma ada satu nama keluarga Wesley"
" Tapi aku seperti pernah melihatnya di televisi?"
" Iya aku juga"
" Mungkin kalian melihatnya tadi pagi"
" Ah iya bener. Tadi pagi dia mengadakan konferensi pers. Di sana juga ada istrinya"
" Istrinya sangat cantik"
" Benar, mereka pasangan yang serasi. Lelakinya tampan, dan wanitanya juga cantik"
David terus berjalan melewati ibu-ibu itu. Ia tersenyum, karena tak sengaja mendengar percakapan ibu-ibu itu. Ia sangat senang ibu-ibu itu mendukung hubungannya dengan sang istri. Ia pun sampai di depan ruang rawat mertuanya.
Tok.
Tok.
Tok.
Leo membukakan pintu, saat mendengar pintu di ketuk.
" Abang datang"
__ADS_1
" Hhmm"
David masuk kedalam ruangan itu. Di sana masih ada kedua orang tuanya. Tapi ia tidak melihat keberadaan istrinya.
" Istri aku kemana Ma?"
" Ke kamar mandi"
" Apa Aluna muntah-muntah lagi?"
" Nggak. Dia lagi mandi"
" Mandi?"
" Iya, istri kamu itu tadi kegerahan"
" Di sini kan pake AC Ma, masa Aluna masih gerah"
" Istri kamu itu lagi hamil, jadi hormonnya beda dari biasanya"
David mengangguk tanda mengerti.
Setelah tau istrinya ada dimana, David menghampiri bed mertuanya. Ia ingin tau bagaimana keadaan papa mertuanya itu.
" Gimana keadaan papa?"
" Ya seperti yang kamu lihat "
David tau, papa mertuanya itu sudah bosan berada di rumah sakit. Tapi mau gimana lagi. Dokter belum mengizinkan untuk pulang.
" Papa mau jalan-jalan keluar?"
Wajah Wilson langsung berubah menjadi cerah. Menantunya itu memang tau apa yang ia inginkan.
" Bentar ya Pa, aku ambil kursi roda dulu"
David mengambil kursi roda yang tidak jauh dari bed mertuanya. Ia membantu mertuanya duduk di kursi roda.
" Keluar bentar Pa"
" Jangan lama-lama, jahitan papa mertua kamu belum kering"
" Iya Pa"
David mendorong kursi roda mertuanya keluar dari ruangan itu. Wilson sangat senang, karena ia bisa menghirup udara segar lagi.
" Kita ke taman aja ya Pa"
" Hhmm"
Mereka pun pergi menuju taman rumah sakit. Walaupun hanya pergi ke taman rumah sakit, Wilson tetap senang. Ia sudah bosan tidur terus.
Di taman rumah sakit juga banyak orang. Mungkin mereka juga lagi membawa keluarga mereka untuk jalan-jalan. David mencari tempat yang nyaman untuk sang papa mertua.
" Kita duduk dibawah pohon besar itu aja ya Pa"
David mendorong kursi roda mertuanya ke bawah pohon besar. Di sana tidak terlalu banyak orang, jadi aman untuk papa mertuanya.
" Vid"
" Ya Pa"
" Makasih ya udah bawa papa ke sini"
" Sama-sama Pa"
" Papa udah bosan di rumah sakit, papa ingin pulang"
" Kalau jahitan papa udah agak kering, baru papa boleh pulang"
__ADS_1
" Masih lama"
David tersenyum melihat ekspresi papa mertuanya. Ini kali pertamanya ia melihat papa mertuanya bersikap seperti anak kecil.
" Oh iya Pa, ntar malam aku mau melamar putri papa"
" Kalian berdua kan sudah menikah, jadi untuk apalagi lamaran?"
" Maksud aku bukan lamaran resmi yang dilakukan kedua keluarga Pa"
" Terus?"
" Lamaran yang hanya ada aku dan Aluna"
" Maksud kamu lamaran romantis?"
" Iya Pa. Kemarin aku belum sempat melamar Aluna. Karena pernikahan kami begitu mendadak. Jadi aku ingin melamar Aluna kembali Pa"
Wilson tersenyum mendengar ucapan menantunya. Tidak sia-sia dia memberikan restu pada David. Karena ia bisa melihat ketulusan lelaki itu pada putrinya.
" Lakukan apapun yang terbaik menurut kamu. Karena papa akan selalu mendukung kamu"
" Makasih Pa. Tapi papa jangan kasih tau istri aku soal lamaran ini. Karena aku akan memberi surprise untuk istri aku"
" Tenang, rahasia kamu aman sama papa"
" Doakan ya Pa, semoga surprise aku nanti malam berhasil"
" Tenang, papa pasti mendoakan kamu"
" Makasih Pa. Sekarang kita kembali ke ruang rawat papa ya. Ntar mama aku ngomel-ngomel karena bawa papa lama-lama"
" Udah habis ya waktunya?"
" Udah Pa"
" Yeah padahal papa masih mau di sini"
" Besok-besok kan masih bisa Pa"
" Ya udah deh"
David mendorong kursi roda mertuanya. Mereka akan kembali ke ruang rawat inap. Karena waktu sang papa mertuanya berada diluar sudah habis.
Tiba di lorong rumah sakit, Wilson berpapasan dengan mama mertuanya. David tidak menyapa mama mertuanya, ia terus mendorong kursi roda papa mertuanya.
" Apakah seperti ini sopan santun yang di ajarkan keluarga Wesley pada anaknya"
David menghentikan langkahnya kala mendengar mama mertuanya menyinggung soal keluarganya. Ia tidak peduli jika orang lain menghinanya, tapi ia tidak akan membiarkan orang lain menghina orang tuanya. David mundur beberapa langkah kebelakang.
" Maaf, apa anda bisa ulangi perkataan anda nyonya?" tanya David.
" Saya rasa kamu tidak tuli" jawab Indah.
" Anda menanyakan cara mendidik orang tua saya?"
" Ya. Kamu melihat saya, tapi kamu tidak menyapa saya"
David tersenyum kecut mendengar ucapan mama mertuanya. " Emang anda siapa, hingga saya harus menyapa anda?"
" Kamu lupa siapa saya? atau saya harus ingatkan kamu lagi?"
" Saya rasa anda yang lupa nyonya. Jadi alangkah baikannya anda berpikir dulu sebelum bicara. Apa saya perlu ingatkan anda Nyonya?"
" Vid, sudah. Nggak ada gunanya kamu bicara sama wanita yang tidak punya hati itu" kata Wilson.
" Iya Pa. Maaf nyonya, saya harus pergi dulu. Karena saya tidak punya waktu untuk berdebat dengan anda. Oh iya satu lagi, jangan pernah bertanya tentang bagaimana cara orang tua saya mendidik saya. Karena orang tua saya sudah mendidik saya dengan baik dan benar. Seharusnya nyonya introspeksi diri, apakah nyonya sudah menjadi ibu yang baik untuk putri nyonya. Permisi"
Setelah mengatakan itu. David pun pergi dari sana. Ia tidak ingin berlama-lama di sana. Karena itu akan merusak mood nya.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚