
David sudah selesai bersiap. Sekarang ia sedang menunggu istrinya bersiap. Ia dan istrinya akan ke mansion untuk makan malam bersama kedua orang tuanya.
" Sayang udah selesai belum?"
" Udah Dad"
" Wow, look so beautiful "
" Makasih. Daddy juga sangat tampan malam ini"
" Cuma malam ini aja tampannya?"
" Nggak. Daddy mah hari-hari tampannya"
" Pinter banget sih mujinya" kata David sambil mencium bibir sang istri. Aluna pun membalas ciuman suaminya.
David kaget karena istrinya membalas ciumannya. Niatnya hanya ingin mengecup bibir sang istri, tapi istrinya malah membalas ciumannya. Biasanya sang istri pasti akan kesal kalau dia cium begitu, bahkan istrinya akan bilang ' bebek '
Aluna merasa kecewa karena suaminya melepaskan ciumannya. Entah kenapa ia masih ingin merasakan manisnya bibir suaminya itu.
" Nanti kita lanjut lagi. Sekarang kita berangkat dulu. Papa pasti sudah menunggu kita" kata David sambil mengusap sudut bibir sang istri.
Wajah Aluna langsung memerah. Ia pikir suaminya tidak mau lagi melanjutkan ciumannya. Ia lupa kalau mereka akan ke mansion.
" Yuk berangkat"
" Hhmm"
David merangkul pinggang sang istri. Mereka pun berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Sampai di bawah, pasutri itu berpamitan sama Wilson.
" Pa, kita jalan dulu ya?"
" Iya sayang, hati-hati dijalan"
" Ok Pa"
Setelah berpamitan, mereka berdua pun pergi. David melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Wilson.
Suasana jalan raya malam ini lumayan rame. Banyak pasangan muda mudi duduk di kursi-kursi yang ada di sediakan di taman dan juga di trotoar.
Para pedagang gerobak pun juga banyak. Mereka menjajakan jualan mereka di tempat yang sudah di sediakan pemerintah. Dagangan mereka pun beraneka ragam.
" Apa kamu menginginkan sesuatu baby?"
" Emang boleh?"
" Boleh, asalkan tempatnya bersih"
" Aku pengen permen kapas"
" No, itu nggak higenis. Coba kamu liat dimana dia memproduksi permen kapas itu"
" Dimana-mana para penjual permen kapas itu emang di pinggir jalan kek gitu Dad"
" Kalau gitu beli yang lain aja"
" No, aku maunya permen kapas"
David menghela nafasnya. Ia memang tidak bisa menolak keinginan istri cantiknya itu. Apalagi sang istri meminta dengan ekspresi menggemaskan seperti itu.
" Ok, kita beli permen kapasnya"
" Yeey.. makasih Daddy"
David menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari tempat penjualan permen kapas itu.
Aluna segera turun dari mobil sebelum suaminya membukakan pintu untuknya. David hanya bisa menghela nafas melihat tingkah istrinya.
" Bang mau permen kapasnya satu"
" Mau yang warna apa nona?"
" Yang rainbow aja Bang"
__ADS_1
" Ini nona" kata penjual permen kapas sambil memberikan permen kapas pesanan Aluna.
Aluna mengambil permen kapas itu dari tangan sang penjual. Tapi suaminya lebih dulu mengambilnya.
" Eh"
" Biar aku aja"
" Berapa Bang?"
" Sepuluh ribu aja nona"
" Dad uang nya?"
David mengambil uang dari dompetnya. Kemudian ia memberikan ke penjual permen kapas.
" Nggak ada uang kecil tuan, saya baru pecah telor"
" Saya pembeli pertama Bang?"
" Iya nona"
" Ya udah uang kembaliannya ambilnya aja Bang"
" Eh" kaget Abang penjual permen kapas itu.
" Uang kembaliannya ambil aja buat Abang"
" Ini teh serius nona?"
" Iya Bang"
" Terima kasih nona, tuan. Semoga Gusti Allah membalas kebaikan nona sama tuan"
" Aamiin"
Setelah membayar mereka pun pergi. David membukakan pintu mobil untuk istrinya. Ia melajukan mobilnya menuju mansion.
" Daddy mau nggak?"
" Cobain dikit aja" kata Aluna sambil menyodorkan permen kapas yang udah dia ambil.
Mau tak mau David pun memakan permen kapas yang diberikan sama istrinya.
" Gimana? enak nggak?"
" Lumayan"
" Makan lagi"
" Lagi?"
" Hhmm"
David hanya bisa pasrah saat permen kapas itu masuk kedalam mulutnya. Aluna sangat senang melihat suaminya mau makan permen kapasnya.
Akhirnya satu bungkus permen kapas itu dirinya lha yang menghabiskannya. Sedangkan sang istri hanya menyuapi dirinya.
Mereka pun sampai di mansion Wesley. Di depan pintu masuk Garry dan Divya sudah menunggu pasutri itu.
" Dad, mama nyambut kita juga?"
" Iya sayang. Yuk keluar"
Aluna merasa gugup. Padahal saat berangkat tadi, ia sangat bersemangat untuk pergi ke mansion. Tapi saat melihat mama mertuanya rasa gugup itu kembali datang.
" Tenang, ada aku"
" Hhmm"
David merangkul pinggang istrinya. Mereka berjalan menghampiri kedua orang tua yang sedang menunggu kedatangan mereka.
" Kalian sudah datang"
__ADS_1
" Iya Pa"
Divya menatap menatap menantunya yang pernah ia sia-siaka. Ia langsung memeluk sang menantu.
" Maafkan mama sayang"
Aluna kaget mendengar ucapan mama mertuanya. Ia menoleh kearah suaminya. David yang mengerti maksud istrinya, hanya menganggukkan kepalanya.
" Mama tau kesalahan mama sangat banyak sama kamu. Maka dari itu mama ingin meminta maaf sama kamu"
Aluna membalas pelukan mertuanya. Pelukan itu terasa hangat dan juga nyaman. Pelukan itu terasa sangat tulus. Sudah lama ia tidak merasakan pelukan seorang ibu.Tanpa terasa air matanya menetes.
" Kamu menangis Nak? apa mama memeluknya terlalu kencang"
" Ng-nggak kok Ma"
" Lalu kenapa kamu menangis?"
" Ini tangis bahagia Ma. Udah lama, Aluna tidak merasakan pelukan seorang ibu. Tapi malam ini, Aluna bisa merasakan lagi hangatnya pelukan seorang ibu. Terima kasih Ma"
Divya kembali memeluk menantunya itu. Ia tidak menyangka menantunya pernah mengalami hal yang menyedihkan seperti itu. Ya, ia sudah mendengar cerita tentang menantunya itu dari suaminya.
Garry ikut menitikkan air mata mendengar ucapan menantunya tadi. Begitu juga dengan David. David sangat tau bagaimana perasaan istrinya saat ini.
" Sekarang kamu akan selalu merasakan pelukan seorang ibu. Karena mama akan selalu memeluk kamu"
" Terima kasih Ma"
" Apa kamu sudah mau memaafkan wanita tua ini Nak?"
" Iya Ma. Aluna sudah memaafkan mama jauh sebelum mama meminta maaf sama Aluna"
" Terima kasih sayang. Sungguh hati kamu sangat mulia Nak" ucap Divya sambil memeluk menantunya kembali.
" Ma, lebih baik kita bawa mantu kita masuk dulu"
" Ah iya. Yuk sayang kita masuk"
David sangat senang karena mamanya sudah mau menerima istrinya sebagai menantu. Dan sekarang istrinya bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Walaupun bukan ibu kandung.
" Kita makan dulu ya Nak. Setelah itu baru kita bercerita" kata Divya.
" Iya Ma"
Mereka langsung menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan, Divya meminta Aluna duduk di sebelahnya.
" Sayang duduk di sini?"
" Nggak bisa? Aluna duduk dekat mama"
" No, Aluna duduk dekat mama"
" Sama aku Ma"
" Sama mama David"
Aluna tiba-tiba merasa kepalanya pusing. Ditambah lagi dengan perdebatan suami dan mama mertuanya.
" Stop! jangan buat menantu papa pusing"
Divya dan David menoleh kearah istrinya.
" Sayang, kamu kenapa?"
Aluna tidak menjawab pertanyaan suaminya. Kepalanya makin terasa pusing. Pemandangannya pun mulai kabur.
" Sayang!"
" Aluna"
To be continue.
Aluna dan David
__ADS_1
Happy reading 😚😚