
" Angel, kamu liatin apa?" tanya sang mama.
" Aku melihat David jalan sama cewek Ma"
" Benarkah? dimana?"
" Di seberang sana. Sepertinya dia habis nonton "
" Apa kamu melihat wajah wanita itu"
" Nggak Ma. Apa itu kekasihnya David ya Ma"
" Ngaco kamu. Kalau David punya kekasih mana mungkin mamanya menjodohkannya dengan kamu"
" Mungkin Tante Divya nggak tau kali Ma. Aku ingin secepatnya hubungan aku sama David di resmikan Ma"
" Tenang sayang, besok mama akan temui Tante Divya"
Tidak ada yang bisa merebut David darinya. Lagian pacar David belum tentu cantik dibandingkan dirinya. Jadi ia harus secepatnya meresmikan hubungannya dengan David.
Angel dan mamanya pergi dari toko perhiasan itu. Mereka memang habis membeli perhiasan untuk menunjang penampilan mereka.
Di restoran.
David dan Aluna sampai di salah satu restoran Italia. Ya di restoran itu hanya menyajikan makanan khas Italia. Aluna tipikal orang yang tidak pilih-pilih makanan.
" Kamu mau pesan apa?" tanya David.
" Aku pesan, Carbonara, Lagsana dan tiramisu"
" Apa muat makanan sebegitu banyak?"
" Ini aja masih kurang Om"
" Masih kurang?"
" Hhhmm"
" Ya udah pesan lagi "
" Oke kalau Om maksa. Aku pesan pizza"
" Udah?"
" Udah. Kalau Om pesan apa?"
" Carbonara aja. Minumnya apa?"
" Anggur merah"
David memberikan tatapan tajam pada Aluna. Aluna tersenyum kikuk melihat tatapan David padanya.
" Kamu mau mabuk lagi?"
" Becanda Om. Aku mau Vanilla latte "
" Dua Carbonara , Lagsana dan tiramisu. Minumnya dua Vanilla latte " kata David pada pelayan.
Pelayan pun mencatat semua pesanan Aluna dan David. Setelah itu ia pun pergi untuk memberikan pesanan David pada koki yang ada di sana.
" Om"
" Hhmm"
" Apa kita nggak minta izin sama papa aku dulu?"
David lupa kalau ia harus meminta restu pada kedua orang tua Aluna. Kalau sama mama Aluna gampang ngomongnya. Tapi kalau sama papa Aluna ia tidak yakin akan mudah.
" Om"
" Ah, i-iya"
" Om denger aku ngomong nggak sih?"
" Denger"
" Terus kenapa Om diam aja?"
" Saya lagi mikirin gimana cara ngomongnya sama papa kamu. Apa kita bilang aja kalau kita sudah pernah tidur bareng?"
__ADS_1
" Jangan!"
" Kenapa?"
" Aku nggak pengin liat papa kecewa" kata Aluna sambil tertunduk.
David menggenggam tangan Aluna. " Papa kamu nggak akan kecewa sama kamu. Dia pasti bangga punya anak seperti kamu"
" Apa papa masih akan bangga kalau tau aku sudah pernah tidur dengan lelaki. Nggak kan Om?"
" Terus gimana? apa kita nggak usah bilang aja sama papa kamu?"
" Kalau nggak bilang, papa pasti lebih kecewa lagi"
" Terus bagaimana?"
" Aku juga bingung"
Pelayan datang membawa makanan yang sudah mereka pesan tadi. Pelayan itu menyajikan makanan itu di atas meja. Setelah selesai, pelayan itupun pamit undur diri.
" Ya udah makan dulu, ntar kita pikirkan lagi"
" Hhmm"
Mereka berdua pun menyantap makanan yang sudah ada di depan mata itu. Aluna makan dengan lahapnya. Saat melihat makanan itu, semua kecemasan yang dia rasakan tadi seketika hilang.
David tersenyum melihat Aluna makan dengan lahapnya. Gadis cantik itu berbeda dengan wanita lain di luar sana. Jika wanita lain akan menjaga imejnya saat makan dekat pasangannya, tapi tidak dengan gadis cantik itu. Dia makan tanpa malu-malu.
" Enak?" tanya David.
" Enak. Om kenapa nggak makan?"
" Saya udah kenyang melihat kamu makan dengan lahap kek gitu"
" Rugi kalau Om nggak coba"
" Suap-in boleh?" pinta David.
" Om kan udah besar, masa masih minta di suap-in"
" Kata siapa cuma anak kecil aja yang boleh di suap-in?"
" Kamu salah, orang yang sudah besar pun juga saling suap-suapan. Coba kamu liat pasangan yang ada di meja seberang sana"
Aluna menoleh kearah yang di maksud oleh lelaki tampan itu. Benar saja Beberapa pasangan terlihat saling menyuapi pasangannya.
" Ya kita kan bukan pasangan kekasih Om?"
" Kita bukan pasangan kekasih, tapi calon suami istri. Jadi kita harus yang lebih mesra dari mereka"
Mau tak mau Aluna pun menyuapi David. Tentu saja lelaki tampan itu tidak akan menolaknya. Kapan lagi bisa disuapi sama calon istri nan cantik bak bidadari.
Akhirnya semua makanan di meja tadi habis tak bersisa. Perut Aluna pun sudah kenyang. Gimana nggak kenyang, ia makan sebegitu banyaknya.
" Udah kenyang?"
" Udah dong" jawab gadis cantik itu.
" Sekarang mau kemana?"
" Pulang Om"
" Yakin? nggak mau beli sesuatu dulu"
" Nggak deh Om. Lagian aku juga udah ngantuk"
" Ck,, habis makan banyak ngantuk. Setidaknya bawa jalan-jalan sebentar biar makanan yang kamu makan tadi tidak menjadi lemak"
" Maksud Om, aku terlihat gendut gitu?"
" Hhmm"
" Sembarangan. Walaupun aku makannya banyak, tapi aku nggak pernah gemuk"
David menatap wanita cantik itu dari atas sampai bawah. Benar sih apa yang di bilang gadis nakal itu. Makan sebegitu banyak, tapi dia tidak terlihat gemuk.
" Kok bisa kamu nggak gemuk, padahal makannya banyak?"
" Aku juga nggak tau sih Om. Mungkin perginya ke tulang aku"
__ADS_1
" Mungkin. Yuk kita jalan lagi"
" Mau kemana?"
" Ntar kamu juga tau"
Mereka pun pergi meninggalkan restoran itu. Tapi sebelum pergi, David sudah membayar semua pesanan yang sudah mereka makan tadi.
Aluna kaget melihat mereka sekarang berhenti di mana. " Om, kita ngapain berhenti di toko perhiasan?"
" Tentu saja mau beli cincin untuk pernikahan kita besok"
" Emang kita jadi nikahnya besok?"
" Jadilah, masa nggak"
" Tapi kita belum minta izin sama papa"
" Tenang, kalau masalah itu biara aku yang urus. Kamu duduk manis aja nanti di samping aku"
Mereka pun masuk kedalam toko. Kedatangan mereka di sambut dengan baik di toko itu. Gimana nggak di sambut baik, wong toko perhiasan itu milik David.
" Selamat datang tuan, nona"
" Makasih"
" Kenapa tuan nggak bilang dulu kalau mau datang ke sini?" kata manager toko itu.
Aluna melirik lelaki tampan itu. " Apa Om sudah sering ke toko ini?" bisik Aluna.
" Nggak"
" Tapi kenapa manager nya terlihat hormat banget sama Om"
" Ya kan kita pembeli, wajarlah mereka hormat pada kita"
" Oh"
Aluna hanya ber- oh ria. Karena ia memang jarang pergi ke toko perhiasan. Terakhir dia ke toko perhiasan waktu umur sepuluh tahun. Ketika hubungan mama dan papanya masih baik-baik saja.
" Silakan pilih cincin yang kamu suka?"
" Apa tuan dan nona ingin mencari cincin untuk pernikahan?"
" I-iya mbak " jawab Aluna.
" Wah kebetulan sekali, kami ada cincin yang bagus. Cincin ini cuma di desain satu di Asia"
" Asia?"
" Iya nona"
David tersenyum melihat reaksi Aluna. Ya perusahaan mereka baru mengeluarkan desain terbaru. Ia tidak menyangka, kalau desain itu ialah yang akan memakainya.
Manager toko itu mengambilkan cincin itu. Untung saja dia tidak keceplosan ngomong tadi. Kalau tidak pasti ia tidak akan bekerja lagi di toko ini lagi. Atau lebih tepatnya di pecat.
" Ini tuan, nona. Silakan dilihat cincinnya"
Mata Aluna berbinar seperti Kilauan berlian yang ada di cincin itu. Cincin itu sangat indah dan juga elagan. Walaupun desainnya sederhana, tapi berkelas.
" Kamu suka?"
" Suka" kata Aluna sambil menganggukkan kepala.
" Kami pilih cincin yang ini. Dan lagi carikan saya satu set perhiasan lagi. Yang mewah dan bagus"
" Baik tuan"
David tidak pernah melihat Aluna memakai perhiasan setiap jalan dengannya. Padahal papanya juga seorang pebisnis yang sukses. Tapi Aluna tidak pernah memakai barang mewah selain mobil.
Setelah selesai membeli cincin pernikahan, mereka pun pergi meninggalkan toko itu. Sekarang mereka akan pulang, karena waktu sudah menunjukkan jam 9 malam.
To be continue.
Aluna.
Happy reading 😚😚
__ADS_1