
Makanan dari berbagai macam negara sudah tersedia di depan Aluna. Dia melirik lelaki tampan yang ada di sampingnya itu. Ia tidak habis pikir Om tampan itu akan membawanya ke restoran bukan ke KUA seperti yang ada dalam pikirannya sedari tadi.
Haha, aku mikir apa sih tadi. Bisa-bisanya aku membayangkan di bawa ke KUA, dasar pikirin picik. Batin Aluna dalam hati.
" Ayo makan"
" Semua Om?"
" Hhmm"
Gila! di kata gue pig makan segini banyak.
" Makan saya nggak sebanyak ini Om"
" Pokoknya harus habis"
" What..!!"
" Pelan kan suaramu"
" Om jangan bercanda dong?"
" Siapa yang bercanda, buruan makan ntar keburu dingin, nggak enak"
" Ck "
Satu ide brilian muncul di otak pintarnya. Dia mengambil dua piring makanan, kemudian dia membawanya ke meja orang lain yang kebetulan sedang menunggu pesanan mereka datang.
" Misi Mas, mbak. Saya mengganggu sebentar"
" Ada apa ya?"
" Gini Mas, mbak. Om saya yang tampan yang duduk di sebelah sana sedang ulang tahun. Jadi dia mau traktir mba sama mas makanan terenak dan termahal ini "
" Benarkah?"
" Iya, mau nggak?"
" Mau "
Aluna meletakkan dua piring makanan yang dia bawa tadi di atas meja orang itu.
" Selamat menikmati Mas, mbak. Jangan lupa minta makasih sama Om saya ya"
" Wah sepertinya emang enak. Makasih ya "
" Sama-sama mbak"
Aluna tersenyum bahagia, rencananya berhasil dengan sempurna. Lagian siapa yang bisa menolak kalau di kasih makanan gratis dan juga enak. Pasti nggak ada yang nolak lha, ( termasuk author).
" Kamu kasih makanan itu ke mereka? " tanya David setelah Aluna kembali ke meja.
" Iya om, kan sayang makanan sebanyak ini di buang. Mubazir Om"
Sudut bibir David terangkat sedikit membentuk senyuman. Tapi sayangnya Aluna tidak bisa melihat senyumnya yang tipis seperti lingerie pengantin baru.
Karena makanan itu masih banyak, Aluna membawa beberapa piring lagi ke meja yang lain. Alasannya masih sama, Om tampannya sedang ulang tahun.
David menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aluna. Bisa-bisanya gadis nakal itu memberikan makanan pada orang lain. Sungguh pemandangan yang langka.
" Sudah?" tanya lelaki tampan itu lagi.
__ADS_1
" Sudah Om"
" Ayo makan"
" Siap Om"
Aluna mulai menyantap makanan yang ada di depannya. Suapan pertama masuk kedalam mulutnya.
" Mmmm, daging salmon nya lembut banget"
" Kamu norak banget sih, kek nggak pernah makan makanan begituan"
" Biarin, week" kata Aluna sambil menjulurkan lidahnya ke David.
" Ck,, dasar bocah"
" Saya udah besar ya Om, bahkan udah bisa jadi seorang ibu"
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Kita kan sudah pernah melakukannya satu kali, terus kalau kamu hamil gimana?"
Uhuk..uhuk..
Aluna segera meraih gelas yang berisi jus jeruk, kemudian meneguknya hingga tersisa setengahnya.
" Om jangan bercanda dong? masa melakukan satu kali udah bisa hamil?"
" Siapa yang bercanda. Saya menumpahkan semuanya di dalam"
Deg.
Nggak! ini nggak mungkin. Om pasti hanya nakut-nakutin gue. Ya dia hanya nakutin gue doang.
" Kalau kamu hamil bukankah saya harus bertanggung jawab?"
" Nggak! nggak perlu, lagian kan belum tentu juga saya hamil. Ya kan?"
" Baiklah, kita liat saja nanti"
Selera makan Aluna hilang seketika. Dia tidak bisa membayangkan kalau beneran dia hamil. Ia belum siap untuk menikah.
" Jangan dipikirkan, santai aja"
Apa? santai dia bilang? mana bisa gue santai kalau emang bener gue hamil. Hidup gue akan berubah 360 derajat.
" Saya mau ke toilet dulu"
" Silakan"
Aluna segera pergi ke toilet. Tepatnya bukan ke toilet, tapi kabur. Ya dia akan kabur dari Om-om yang tidak jelas itu. Dia akan cari jalan untuk kabur dari sana.
Dia tidak melihat pintu lain untuk keluar dari restoran itu. Itu berarti pintunya cuma ada di depan sana, dan itu harus lewat dekat mejanya tadi.
Gue harus cepat kabur dari sini. Seorang primadona kampus tidak boleh menikah muda.
Aluna melihat petugas cleaning service sedang melakukan pekerjaannya. Ide brilian muncul lagi di otaknya yang cerdas itu. Ia segera menghampiri petugas cleaning service itu.
" Mbak " panggil Aluna.
__ADS_1
Perempuan itu menghentikan sejenak pekerjaannya. Ia menatap Aluna dengan penuh tanda tanya.
" Ya nona"
" Bisa pinjam bajunya nggak?"
Petugas cleaning service itu menatap Aluna dari atas sampai bawah. Semua yang di kenakan gadis cantik yang ada di hadapannya itu semua barang bermerek, tapi kenapa dia mau meminjam pakaiannya. Itulah kira-kira yang ada di dalam pikiran mbak itu.
" Saya bayar kok mbak"
Mendengar kata bayar, seketika otak dan kepalanya langsung bersinar seperti lampu. Kalau bayar, otomatis itu berhubungan dengan uang bukan?.
" Baiklah saya pinjamkan"
Dasar otak duit. gumam Aluna dalam hati.
Aluna dan mbak tadi langsung pergi ke toilet untuk bertukar pakaian. Sesampainya di toilet, mereka langsung menukar baju satu sama lain.
" Baju dinas saya tidak usah kembalikan, asal baju mbak untuk saya" kata mbak itu setelah berganti pakaian.
" Ini kan baju dinas mbak?"
" Nggak apa-apa, di sini masih banyak baju kek begitu"
Kalau tau banyak baju dinasnya di sini. Kenapa dia ngasih gue baju yang udah bau kek gini.
" Baiklah mbak"
" Kapan-kapan kalau mau tukar baju lagi, hubungi nomor saya ya" kata petugas cleaning service itu, sambil memberikan nomor teleponnya.
" I-iya mbak"
" Ok, saya mau lanjut kerja dulu" kata mbak itu sambil berlalu meninggalkan Aluna dengan pakaian barunya.
Aluna sekarang sudah berganti pakaian, sekarang dia bisa keluar dengan aman tanpa ketahuan sama Om tampan itu. Dengan percaya diri dia keluar dari toilet.
" Baiklah cleaning service cantik mau lewat"
Wanita cantik itu berjalan dengan anggunnya menuju pintu keluar restoran. Baru saja kakinya akan menginjak tanah kebebasan tiba-tiba ada yang menahannya.
" Mau kemana? toilet sebelah sana belum di bersihkan" kata suara orang itu.
Aluna menatap orang yang berbicara padanya tadi. " Maaf mas, saya bukan petugas cleaning service"
Lelaki itu tertawa. " Kamu bercanda ya, jelas-jelas kamu memakai seragam cleaning service restoran ini"
" Siapa yang bercanda Mas, lagian mana ada cleaning service cantik dan mulus kek saya"
Laki-laki itu melihat Aluna dari atas sampai bawah. Benar saja, wanita didepannya ini sangat cantik, putih dan juga mulus tentunya.
" Bagaimana? mas percaya kan?"
" Tidak! cepat kerjakan tugas kamu dulu, setelah itu kamu bebas meng-halu sepuas dan selama yang kamu mau"
" Benar lho mas, saya bukan petugas cleaning service" rengek Aluna saat tangannya di tarik menuju toilet.
Lelaki itu tidak menghiraukan ucapan Aluna, dia masih menarik tangan Aluna menjauh dari pintu masuk restoran. Tapi bukan Aluna Adelia Wilson namanya kalau tidak bisa kabur dalam situasi seperti ini.
Aluna menginjak kaki lelaki itu. Hingga cengkraman tangannya terlepas dari lengan Aluna. Gadis cantik itu tidak melewatkan kesempatan itu, dia segera kabur dari sana. Tidak ada yang bisa menandingi kelicikannya.
To be continue.
__ADS_1
Ayo mana ini dukungannya biar novel receh ini naikπ€π€
Happy Reading ππ