
" Jadi kapan Daddy mau ngajarin aku?"
" Kapan kamu mau? kalau aku sih kapan saja bisa ngajarin kamu"
" Benarkah? "
" Hhmm"
" Kalau sekarang bagaimana?"
" Ok"
David mengambil laptopnya. Ia mulai membuka file yang berisi tentang perusahaannya. Karena istrinya sudah lulus manajemen bisnis. Jadi ia rasa tidak terlalu sulit untuk mengajarkan sang istri.
" Kamu punya proyektor nggak?"
" Punya "
" Ambil dong. Aku ngajarnya pake itu biar gampang"
" Ok, aku ambil dulu"
Aluna mencari proyektor miliknya. Setelah ketemu, ia memberikan proyektor itu pada suaminya.
David mulai mengajarkan istrinya cara berbisnis. Ia mengajarkan step by step, supaya istrinya mengerti. Aluna mendengar dan menyimak semua yang di katakan suaminya.
" Sampai di sini kamu mengerti?"
" Mengerti Dad"
David tersenyum mendengar jawaban istrinya. Ia yakin, tidak butuh waktu lama untuk mengajarkan tentang bisnis pada sang istri. Karena notabenenya Aluna seorang gadis yang cerdas.
" Besok ikut aku ke kantor"
" Eh?"
" Kita langsung praktekkan ilmu yang kamu dapat saat kuliah "
" Harus ya Dad?"
" Tentu saja harus"
" Baiklah"
" Good girl, sekarang belajarnya kita cukupkan sampai di sini. Sekarang kita istirahat "
" Udah sore Dad, masa mau tidur?"
" Terus mau ngapain?"
" Ngapain ya?"
" Mau main sesuatu yang bisa mengeluarkan keringat nggak?" bisik David si telinga sang istri.
__ADS_1
Gleg.
Aluna tau kemana arah ucapan suaminya itu. Tapi ini masih sore, masa iya mereka harus olahraga. Apa kata Bik Ijah nanti kalau ia dengar suara mereka saat main.
" Sudah lupakan"
David menjauhkan wajahnya dari sang istri. Namun Aluna segera menahan tangan suaminya itu.
" Aku milik daddy. Jadi sentuh aku Dad"
David kaget mendengar ucapan istrinya itu. Apakah ini pertanda sang istri mengizinkan dirinya untuk melakukannya.
" Aku tidak ingin melakukannya karena terpaksa?"
" Nggak Dad, aku ikhlas. Aku ini istri kamu, jadi semua yang ada sama aku sudah menjadi hak kamu"
" Kamu sudah memberikan izin, jangan harap untuk bisa lepas lagi dari aku" kata David yang langsung menyambar bibir istrinya.
Aluna mengalungkan tangannya di leher sang suami. Ia membalas ciuman suaminya itu. Mereka pun berciuman dengan penuh perasaan.
David menggendong istrinya ke ranjang. Ia membaringkan tubuh sang istri dengan sangat hati-hati. Ia menatap wajah cantik sang istri dengan penuh cinta.
Setelah puas menatap wajah cantik sang istri. David kembali memberikan sentuhan pada istrinya itu. Tidak ada yang terlewatkan oleh lelaki tampan itu.
Ia mulai menanggalkan satu persatu penghalang yang ada di tubuh istrinya. Sekarang yang tersisa hanya penutup kedua aset sang istri. David pun menyingkirkan penghalang yang tersisa. Sekarang tubuh istrinya sudah polos.
Aluna menutup asetnya dengan kedua tangannya. Entah kenapa ia sangat malu ditatap seperti itu oleh suaminya.
David tersenyum melihat istrinya yang menutupi asetnya. Padahal ia sudah pernah melihat tubuh polos sang istri. Tapi istrinya itu selalu saja malu.
" Malu "
" Aku udah pernah liat juga, jadi kenapa harus malu"
David menyingkirkan tangan sang istri. Tubuh istrinya memang sangat putih dan juga mulus. Karena penghalang sang istri sudah tidak ada lagi. Ia pun menanggalkan semua yang melekat pada tubuhnya. Mereka pun sama-sama polos sekarang.
" Kamu siap sayang?"
Aluna menganggukkan kepalanya.
David pun mulai mengarahkan miliknya ke gawang sang istri. Walaupun sudah pernah ia bobol, tapi gawang itu masih aja terasa sempit. Jadi ia harus berusaha agak keras lagi. Akhirnya junior itu masuk dengan sempurna.
Aluna menutup mulutnya karena takut suara merdu itu keluar dari mulutnya. Dan lagi ia juga takut Bik Ijah mendengar suara yang bikin panas dingin itu.
" Jangan ditahan, lepaskan saja"
Aluna menggelengkan kepalanya.
" Lepaskan saja sayang. Aku suka mendengarnya"
Wajah Aluna memerah karena malu. Ia tidak menyangka suaminya akan mengatakan itu di saat mereka sedang beraktivitas membakar kalori.
David sangat gemas melihat ekspresi istrinya yang malu-malu seperti itu. Ia kembali melanjutkan permainannya. Akhirnya suara d*s*h*n itupun lolos dari mulut sang istri. Suara itu membuat dirinya semakin bersemangat untuk menggempur istrinya itu.
__ADS_1
Aluna sudah tidak tahan lagi. Ia merasa ada sesuatu yang akan meledak di dalam dirinya. Ia pun mendapatkan pelepasan pertamanya.
David sangat senang dan bahagia karena sang istri sudah mendapatkan pelepasan pertamanya. Ia kembali melanjutkan permainannya.
Entah sudah berapa kali Aluna mendapatkan pelepasannya. Tapi suaminya masih saja berstamina. Sedangkan dirinya sudah mulai kelelahan.
David pun mempercepat ritme permainannya. Dan itu membuat tubuh ia dan istrinya bergetar hebat. Akhirnya ia pun mendapat pelepasannya. Ia menumpahkan semua laharnya kedalam milik sang istri. Dan berharap mereka cepat hadir di sana.
" Terima kasih sayang" ucap David sambil mengecup kening sang istri.
Aluna hanya membalas dengan senyuman. Karena ia sudah tidak bertenaga lagi. Tak berselang lama ia pun terlelap karena kelelahan.
David tersenyum melihat istrinya yang sudah terlelap karena ulahnya. Ia menutup tubuh sang istri dengan selimut. Setelah itu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tubuhnya sudah sangat lengket karena permainannya dan sang istri tadi.
Sedangkan di bawah, Bik Ijah mencoba menormalkan detak jantungnya. Ia tidak menyangka akan mendengarkan suara yang membuat kuping setiap para jomlo meringis.
Ya, tadi dia pergi ke kamar nona mudanya untuk menanyakan menu untuk makan malam nanti. Tapi bukan jawaban menu makan yang dia dapatkan, tapi suara yang bikin hatinya menangis. Karena Bik Ijah sudah lama menjanda. Tak ingin otaknya ikut bertraveling, ia segera pergi dari kamar nona itu.
" Jah, saya pamit pulang dulu"
" Astagfirullah. Pak Asep ngagetin aja"
" Makanya jangan melamun di sore hari. Ntar ke sambet "
" Ih, Pak Asep doanya jelek bener"
" Siapa yang mendoakan? saya teh cuma ngasih tau"
" Ya udah, kenapa Pak Asep kesini?"
" Saya mau pamit pulang sama non Aluna "
Mendengar nama nona mudanya di sebut. Ia kembali teringat kejadian beberapa menit yang lalu. Kemudian ia menatap sekeliling memastikan tidak ada orang di sana selain dirinya dan Pak Asep.
" Apa Pak Asep mendengarkan suara yang aneh tadi?"
" Tidak. Emang suara aneh seperti apa?"
" Ah nggak ada. Mungkin tadi saya salah denger"
" Apa kamu tadi ada mendengar suara aneh?"
" Nggak, saya cuma denger suara kucing kawin"
" Kamu jangan sering-sering denger suara kucing kawin, nanti kepengen lagi" kata Asep sambil berlalu pergi.
" Pak Asep! awas kamu ya, kalau kesini lagi nggak Ijah buatkan camilan"
Pak Asep tertawa mendengarkan ucapan Ijah. Ia sangat senang bisa menggoda Ijah. Kapan lagi bisa menggoda janda matang itu begitulah yang ada di dalam pikirannya.
Sedangkan Ijah merasa kesal karena lelaki yang tidak muda lagi itu. Bisa-bisanya lelaki itu bicara seperti itu padanya. Tapi apa yang dikatakannya ada benarnya juga. Sungguh malang nasibnya. Ia menyesali kebodohannya telah mendengar suara kucing kawin tadi.
To be continue.
__ADS_1
Happy reading 😚😚