
Aluna menatap kamar yang sudah bertahun ia tinggalkan. Kamar itu masih tetap sama saat ia tinggalkan dulu. Mungkin papanya menyuruh bibik untuk membersihkan kamarnya.
" Ini kamar kamu?"
" Hhmm"
" Bagus. Sepertinya kamar ini selalu di bersihkan?"
" Sepertinya begitu"
" Berarti papa nggak pernah lupain kamu. Aku yakin dia sama tersiksanya sama kamu. Karena kalau papa nggak sayang sama kamu, mana mungkin dia meminta bibik untuk membersihkan kamar ini"
" Iya Dad. Seharusnya aku nggak ninggalin papa sendirian di sini, dan membiarkan papa melawan nenek sihir itu sendirian"
" Ya udah jangan diingat lagi. Yang terpenting sekarang, kamu sudah tinggal bersama papa lagi"
" Makasih, karena daddy sudah mau nemenin aku sampai saat ini?"
" Sama-sama sayang"
David masih asik melihat-lihat kamar sang istri. Di dinding kamar banyak foto sang istri. Mulai waktu dia bayi sampai saat dewasa. Tapi fotonya bersama sang mama mertua sangat sedikit.
" Dari kecil kamu udah cantik ya sayang?"
" Chubby kek gitu kok dibilang cantik sih By"
" Beneran cantik lho sayang"
" Makasih atas pujiannya Dad"
" Sama-sama sayang"
Saat David sedang asik melihat kamar sang istri. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia segera mengambil ponselnya yang ada didalam saku celananya. Ia melihat nama sang papa tertera di sana.
" Hallo Pa"
" Kamu dimana?"
" Di rumah mertua aku Pa. Kenapa?"
" Kalian akan tinggal di sana?"
" Iya Pa. Supaya nanti kami bisa mengontrol kesehatan papa mertua"
" Bagus itu"
" Oh iya, ada apa papa telepon aku?"
" Ntar makan malam di mansion"
" Makasih deh Pa. Tapi maaf, aku sama Aluna nggak bisa datang. Papa pasti tau lha alasannya kenapa kami tidak datang"
" Tau. Tapi ini mama kamu sendiri yang ngundang"
" Ini nggak alasan mama untuk bisa menghina istri aku kan Pa?"
" Nggak. Mama kamu mau minta maaf sama istri kamu"
" Apa papa nggak salah ngomong?"
" Nggak. Pokoknya kamu bawa aja istri kamu nanti malam ke mansion"
" Tapi aku kok nggak yakin ya Pa, kalau mama mau minta maaf sama istri aku?"
" Kita lihat saja nanti "
" Baiklah, nanti malam kami akan ke sana"
" Papa tunggu kalian di mansion"
" Iya Pa"
__ADS_1
Panggilan telepon pun berakhir.
" Papa ya yang telpon?"
" Hhmm"
" Papa bilang apa?"
" Mama ngundang kita makan malam di mansion"
" Mama?"
" Iya sayang"
" Bukankah mama benci sama aku. Lalu mengapa dia mengundang kita makan malam ke sana?"
" Nggak tau juga sayang. Tapi tadi papa bilang, ' ada yang mau mama omongin mama sama kamu "
" Kita akan datang ke mansion nanti malam"
" Kamu yakin?"
" Yakin Dad"
" Aku takut kamu terluka lagi karena kata-kata mama"
" Nggak akan Dad. Aku punya kamu dan juga papa. Jadi aku akan baik-baik saja"
" Baiklah, aku ngikut aja"
David merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu. Walaupun kamar itu sudah lama ditinggalkan istrinya. Tapi aroma tubuh sang istri masih tertinggal di sana. Tak berselang lama ia pun terlelap.
" Dad"
Tidak ada jawaban dari suaminya. Aluna pun menoleh kebelakang, ternyata suaminya itu sudah tidur.
" Pantes aja nggak nyaut, taunya udah tidur"
Aluna menatap wajah tampan suaminya. Di saat tidur seperti itu, suaminya itu terlihat sangat lelap dalam tidurnya. Ia pun ikut berbaring di samping suaminya.
...........................
Divya menatap suaminya. Ia tau suaminya masih marah padanya. Tapi ia benar-benar tulus ingin minta maaf pada menantunya itu. Karena ia sadar selama ini sudah memperlakukan menantunya dengan buruk.
" Bagaimana? apa mereka akan datang?"
" Hhmm"
" Mama akan masak makanan enak untuk mereka nanti"
" Papa harap mama tulus meminta maaf pada Aluna. Bukan karena takut papa usir dari sini"
" Iya Pa. Mama sudah menyadari semua kesalahan mama. Semoga Aluna mau memaafkan mama ya Pa"
" Kalau mama benar-benar sudah menyadari kesalahan mama. Papa yakin Aluna pasti mau memaafkan mama. Karena menantu kita itu sangat baik"
" Mama yang tidak bisa melihat kebaikan menantu kita"
" Sekarang buktikan pada putra dan mantu kita kalau mama benar-benar sudah berubah"
" Iya Pa. Ya udah kalau gitu mama masak dulu ya Pa?"
" Hhhmm"
Divya bangkit dari duduknya. Sore ini ia akan memasak makanan yang sangat lezat untuk putra dan menantunya. Dan ia harap Aluna menyukai masakannya.
Sesampainya di dapur, Divya langsung menuju kulkas. Ia akan melihat bahan masakan yang ada di dalam kulkas.
Bibik kaget melihat nyonya nya berada di dapur. Sepertinya sang nyonya sedang mengobrak-abrik isi kulkas.
" Nyonya di sini?"
__ADS_1
" Iya Bik. Sore ini biar saya yang masak untuk makan malam nanti. Bibik bantu menyiapkan bahan masakannya aja"
" Siap nyonya"
Setelah menemukan bahan masakan. Divya pun segera mengeksekusi bahan-bahan masakan yang ia temukan di kulkas tadi.
" Ada tamu yang mau datang ya Nyah?"
" Kenapa Bik?"
" Karena nggak biasanya nyonya turun tangan langsung ke dapur"
" Iya Bik. Malam nanti kita akan kedatangan tamu yang sangat istimewa"
" Tamu istimewa? siapa Nyah?"
" Tuan muda dan istrinya"
" Beneran Nyah?"
" Iya Bik"
" Pantas saja nyonya turun tangan sendiri untuk memasaknya"
" Iya Bik. Saya ingin memberikan masakan yang enak untuk mereka"
" Tuan muda sangat serasi dengan nona muda ya, Nyah"
" Iya Bik"
" Nona muda orangnya sangat ramah, dan juga sopan. Beda dengan nona Angel"
" Emang Angel kenapa Bik?"
" Anaknya kasar Nyah. Dan lagi dia juga memerintah kita seenaknya"
Bibik langsung menutup mulutnya karena keceplosan ngomong. Ia merutuki kebodohannya karena tidak bisa merem omongan tadi.
" Nggak apa-apa Bik. Karena apa yang bibik katakan itu benar"
" Nyonya nggak marah?"
" Untuk apa saya marah"
" Karena bibik sudah ngomong gitu. Dan setau bibik, nyonya juga sangat memanjakan nona Angel"
" Itu dulu Bik, sewaktu saya belum tau kebusukan mereka. Sekarang saya sudah tau kebusukan mereka"
" Syukurlah kalau nyonya sudah tau bagaimana kelakuan nona Angel"
" Iya Bik"
Divya bersyukur karena Tuhan memperlihatkan kebusukan mereka lebih awal. Karena kalau tidak, ia akan menghancurkan kehidupan putranya dan juga keluarga besarnya.
" Apa tuan muda dan istrinya akan menginap di sini Nyah?"
" Sepertinya nggak Bik. Soalnya papa Aluna baru keluar dari rumah sakit"
" Emang papa nona muda kenapa?"
" Habis kecelakaan Bik"
" Astagfirullah"
" Tapi untungnya sekarang sudah tidak ada luka yang serius?"
" Syukurlah, bibik ikut senang mendengarnya"
" Iya Bik"
Akhirnya ikan, cumi dan juga udang sudah siap dibersihkan. Sekarang waktunya untuk memasak semua bahan-bahan laut itu. Divya berharap menantunya menyukai masakan yang ia masak nanti. Karena ia tidak tau masakan kesukaan menantunya itu.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚