
Keesokan harinya.
Aluna dan suaminya sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit. Ya hari ini ia dan istrinya akan menemani Wilson ke rumah sakit untuk operasi transplantasi ginjal.
" Dad"
" Hhhmm "
" Bukankah wanita itu akan datang hari ini?"
" Iya, nanti Tomy yang jemput "
" Kita sudah mau berangkat, tapi Tomy belum datang. Nanti siapa yang akan menyambutnya?"
" Bik Ijah kan ada. Lagian wanita itu juga nggak penting. Yuk jalan"
" Hhmm"
David merangkul pinggang sang istri. Pasutri itupun berjalan menuruni anak tangga. Sebelum pergi ke rumah sakit Pasutri itu akan sarapan dulu.
Pagi ini Wilson tidak ikut sarapan sama anak dan mantunya. Karena hari ini ia akan menjalankan operasi, jadi dia tidak boleh makan dulu. Ya dia harus berpuasa.
" Sayang kenapa cuma makan buah?"
" Lagi nggak pengen makan nasi Dad"
" Makan sedikit ya"
" Nanti muntah kalau dipaksain "
" Kalau kamu nggak makan nanti anak kita kelaparan?"
" Ini juga mau anak kita Daddy"
" Maksudnya?"
" Anak Daddy lagi nggak pengin makan nasi"
" Terus mau makan apa?"
" Kalau sekarang cuma mau makan buah aja"
" Makan dikit ya, aku suap-in "
Aluna menggelengkan kepalanya.
" Sayang ayolah, satu suap aja"
Lagi-lagi Aluna menggelengkan kepalanya.
" Anak papa makan dulu ya" kata David sambil mengelus perut sang istri.
Entah karena kontak batin antara ayah dan anak akhirnya Aluna mau menerima suapan yang diberikan suaminya.
" Pinter"
Leo tersenyum melihat interaksi antara kakak dan Abang iparnya itu. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Ia berdoa semoga rumah tangga sang kakak akan selalu bahagia.
David senang karena istrinya mau makan. Malahan nasi yang ada di piringnya istrinya lha yang paling banyak menghabiskannya.
Katanya nggak selera makan. Tapi nasi satu piring sudah mau habis.
" Besok kalau nggak selera makan, aku suap-in lagi ya"
" Kenapa?"
" Biar kamu mau makan"
" Hhmm"
Akhirnya nasi satu piring tadi pun sudah berpindah ke dalam perut Aluna. Ia pun tidak menyadari kalau nasi yang ada di piring suaminya sudah habis.
" Yeah habis"
" Emang masih lapar?"
__ADS_1
" Nggak"
" Yakin?"
" Hhmm"
" Kamu sama Leo tunggu di mobil dulu ya"
" Daddy mau kemana?"
" Aku mau ngomong soal wanita itu sama Bik Ijah"
" Baiklah"
" Ajak papa sekalian ya?"
" Hhmm"
Aluna dan Leo pun meninggalkan meja makan. Sepeninggal sang istri, David memanggil Bik Ijah.
" Ada apa Den?"
" Nanti Tomy datang kesini dengan seorang wanita"
" Apa wanita itu kekasih Den Tomy?"
" Bukan Bik, dia pelayan baru di rumah ini. Tolong nanti bibik tunjukkan kamar pelayan untuk wanita itu. Dan bibik langsung kasih dia kerjaan apapun"
" Baik Den"
Setelah memberikan titahnya. David segera menyusul istrinya. Mereka harus segera ke rumah sakit. David melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Wilson.
....…..........................
Tomy sudah sampai di depan kontrakan ibu Rini. Ia melihat ibu dan anak itu sudah menunggu kedatangannya di depan pintu kontrakan.
Ana takjub melihat mobil mewah berhenti di depan kontrakannya. Ia yakin itu mobil milik asisten lelaki tampan itu.
Wah bagus banget mobilnya.
" Tidak apa-apa tuan"
" Lain kali kalau menjemput itu tepat waktu" kata Ana.
Tomy tidak mendengarkan ucapan Ana. Karena ia tidak ingin memperpanjang masalah dan lagi ia juga malas bicara dengan wanita itu.
" Mari Buk masuk kedalam mobil"
" Hei asisten! bawakan koper saya ke mobil"
Tomy menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Aluna. " Maaf nona, tugas saya ke sini hanya untuk menjemput. Bukan untuk jadi pelayan anda"
" Berani sekali kau!"
" Ana sudah"
" Tapi Buk, pelayan itu berani membantah aku"
" Wajar dia membantah, wong kamu bukan bosnya"
Dasar wanita tidak tau diri. Kau pikir dirimu itu siapa, sehingga berani-beraninya memerintah ku.
Ana dengan kesal menarik koper miliknya ke mobil Tom. Niat hati ingin melenggang masuk kedalam mobil. Eh taunya malah bawa koper juga.
Tom melajukan kendaraannya meninggalkan kontrak itu. Ia akan membawa ibu Rini ke rumah barunya. Karena ia minta dibelikan rumah sebagai ganti ginjal suaminya yang sudah meninggal.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit. Mereka pun sampai di rumah baru minimalis. Tomy turun dari mobil, diikuti sama Buk Rini dan juga Ana.
" Ini Buk kunci rumah sama sertifikat rumahnya"
" Terima kasih banyak"
" Sama-sama Buk, maaf saya tidak bisa ikut masuk kedalam"
" Tidak apa-apa tuan. Sampaikan terima kasih saya untuk tuan David"
__ADS_1
" Nanti saya sampaikan Buk. Kalau begitu saya permisi dulu"
" Silakan"
" Aku juga pergi ya Buk"
" Apa kamu nggak akan tinggal di sini aja bersama Ibuk?"
" Nggak Buk, rumah ini tidak cocok untuk aku"
" Ini rumah ini bagus dan juga besar"
" Aku mau tinggal di rumah bertingkat yang ada taman bunga dan juga kolam berenangnya Buk"
" Nanti kita juga bisa menanam bunga di sini"
" Di sini lahan untuk menanam bunganya sedikit Buk. Aku juga ingin hidup mandiri Buk"
" Baiklah kalau emang kamu tidak mau tinggal bersama Ibuk disini. Tapi ingat pesan ibuk semalam, jangan coba-coba untuk menggoda tuan David"
" Iya Buk. Udah ya aku berangkat"
" Sesekali datanglah ke sini untuk melihat Ibuk"
" Hhhmm"
Ana segera menyusul Tomy ke mobil. Ia tidak ingin berlama-lama di sana. Karena nanti ibunya pasti terus meminta dia untuk tetap tinggal di sana.
Rini menatap punggung putrinya yang semakin menjauh. Padahal ia ingin sekali tinggal dengan putrinya itu. Tapi sang putri malah menolak untuk tinggal bersamanya. Ia berharap Ana tidak mencari masalah dengan keluarga David.
Tomy melanjutkan perjalanan mereka menuju kediaman Wilson. Ia harus segera mengantarkan wanita itu. Karena ia tidak ingin berlama-lama dengan Ana.
Ana sudah tidak sabar ingin melihat rumah yang akan ia tinggali nanti. Pasti rumah itu sangat besar seperti yang pernah ia lihat di film-film.
Hening.
Tidak ada pembicaraan antara Tomy dan juga Ana. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Mereka seperti larut dalam pikiran masing-masing.
Tomy menambah kecepatan mobilnya. Ia merasa mobilnya agak lambat berjalan. Karena daritadi mereka belum juga sampai di kediaman Wilson.
Ana tidak protes karena Tomy menambah kecepatan laju mobilnya. Karena ia juga ingin segera sampai di rumah milik David. Ia tidak tau saja kalau David tinggal di rumah mertuanya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup membosankan. Akhirnya mereka sampai di depan pintu gerbang kediaman Wilson.
Wah pagar rumahnya besar sekali. Pasti rumahnya sangat besar dan juga bagus.
Mobil milik Tomy melaju memasuki rumah utama. Ia sangat senang karena sebentar lagi wanita itu akan turun dari mobilnya.
Lagi-lagi anak dibuat takjub sama pekarangan rumah itu. Ia melihat ada kebun bunga yang sangat indah dengan berbagai macam bunga ada di sana.
Saat mereka sampai di depan rumah utama. Ana tambah dibuat takjub sama rumah yang ada di depan matanya itu. Rumah itu benar-benar mirip seperti yang ada di film-film. Bahkan rumah itu lebih bagus dari rumah yang ada di dalam film itu.
" Selamat pagi Den Tom"
" Pagi Bik. Apa tuan sama nona ada?"
" Tuan sama nona sudah berangkat ke rumah sakit tuan"
" Sudah lama perginya Bik?"
" Iya Den"
" Ya udah Bik, saya hanya mengantarkan pelayan baru "
" Baik Den. Tuan juga sudah memberi tau saya akan ada pelayan baru di sini"
" Karena tuan tidak ada di sana. Jadi saya pamit dulu ya Bik"
" Iya Den"
Setelah berpamitan dengan Bik Ijah, Tomy pun pergi meninggalkan kediaman Wilson. Karena ia harus segera pergi ke kantor untuk bekerja, sekalian ia ingin melihat pujaan hatinya sudah sampai di kantor atau belum.
To be continue.
Happy reading 😚😚
__ADS_1