Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
Kembali ke rumah papa


__ADS_3

Aluna mengemasi barang-barang sang papa. Karena hari ini papanya sudah diperbolehkan pulang.


" Baby"


" Hhmm"


" Kita mau pulang kemana? ke rumah yang biasa kita tempati atau ke rumah papa?"


" Ke rumah papa Dad. Karena di sana lebih banyak kamarnya"


" Di rumah yang biasa kan juga banyak kamarnya sayang?"


" Iya, tapi kasihan kalau rumah itu di tinggal"


" Bukannya barang-barang penyihir itu masih ada di sana?"


" Iya, nanti kita bersihkan"


" Ya udah aku ngikut aja"


David membantu istrinya untuk membenahi barang-barang mertuanya. Setelah selesai mereka pun keluar dari ruangan itu. Ia mendorong kursi roda mertuanya. Ya papa mertuanya memakai kursi roda sampai di mobil.


Sebelum keluar dari rumah sakit. David melunasi biasa administrasi papa mertuanya selama di rumah sakit. Setelah itu barulah mereka keluar dari rumah sakit.


David membantu memapah sang papa mertua ke dalam mobil. Setelah itu diikuti sama Leo. Sedangkan Aluna duduk di kursi depan di sebelah suaminya. Mobil mewah itu pun melaju meninggalkan area rumah sakit.


Cuaca siang itu cukup panas. Untungnya jalanan tidak macet. Jadi mereka tidak perlu berlama-lama di perjalanan.


" Dad berhenti bentar"


" Kenapa sayang?"


" Aku mau beli siomay"


" Siomay? apalagi tuh?"


Ya David juga baru pertama kali mendengar nama jenis makanan ini. Ia jarang beli, atau pun makan makanan yang ada di pinggir jalan. Karena kebersihan di tempat itu pasti tidak terjamin.


" Sejenis makanan. Seperti itu tu" tunjuk Aluna ke gambar yang ada di depan gerobak penjual Siomay.


" Makan yang lain aja ya sayang. Itu kayaknya nggak sehat"


" Nggak mau! aku mau makan siomay"


" Kita beli di restoran aja ya?"


" Di restoran nggak ada Dad. Kalau ada pun pasti rasanya nggak seenak yang di jual Abang itu"


" Justru yang enak, yang ada di restoran sayang"


" No. Lebih enak yang di jual sama Abang gerobak Dad"


" Itu nggak sehat sayang"


" Tempatnya bersih kok. Jadi boleh ya?" pinta Aluna dengan mata puppy eyes nya.


Huh!..


" Baiklah"

__ADS_1


" Ye,, makasih daddy"


Ia memang tidak bisa menolak keinginan istrinya. Apalagi istrinya meminta dengan memohon seperti tadi, membuat dia tak tega jika menolaknya. David menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Dan memarkirkannya tidak jauh dari gerobak siomay itu.


" Papa sama adek mau beli siomay juga nggak?"


" Mau Kak" jawab Leo.


" Papa juga mau"


" Ok, bentar ya"


Aluna dan suaminya segera menghampiri pedagang siomay itu.


" Kang pesan siomay nya empat"


" Isiannya mau apa aja Neng?"


" Campur aja Kang"


" Siap"


Mata Aluna berbinar kala melihat isi yang ada di dalam dandang itu. Berbagai jenis siomay ada di sana. Air liurnya seakan mau menetes kala membayangkan siomay itu masuk kedalam mulutnya.


" Segitu pengennya kamu mau makan itu. Hingga nggak sadar air liurnya udah netes"


Aluna refleks mengusap sudut bibirnya. Ia menatap tajam suaminya. Bisa-bisanya ia kena jebakan suaminya itu.


" Jangan liat aku kek gitu. Ntar aku cium lho"


" Dasar bebek"


" Ini Neng "


" Berapa Kang"


" Empat puluh ribu aja Neng"


" Dad, bayar"


David mengambil selembar uang seratus ribu. Karena di dompetnya memang tidak ada uang pecahan lain. Ia pun memberikan pada istrinya.


" Nggak ada uang lima puluh ribu?"


" Nggak ada"


" Ini Kang. Kembaliannya ambil aja"


" Ini kebanyakan Neng?"


" Nggak apa-apa. Rejeki anak sama istri Akang"


" Terima kasih Neng. Semoga kebaikan Neng dibalas sama Gusti Allah"


" Aamiin. Sama-sama Kang, kami pergi dulu"


Aluna dan suaminya kembali ke mobil. Dan melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju rumah keluarga Wilson.


Tanpa terasa mobil itupun sampai di depan pintu gerbang yang sangat besar dan juga tinggi. David membunyikan klakson mobilnya, dan pintu gerbang pun terbuka.

__ADS_1


Jantung Aluna berdegup kencang kala mobil sudah mulai melaju memasuki pekarangan rumah. Ini pertama kalinya ia datang ke rumahnya lagi. Setelah beberapa tahun pergi meninggalkan rumah itu.


Memory beberapa tahun terakhir pun kembali terbayang. Dimana saat-saat ia tinggal dengan kedua orang tuanya. Walaupun dulu sang mama juga tidak pernah dekat dengannya. Tanpa terasa air matanya pun menetes.


David menggenggam tangan istrinya. Ia tau apa yang membuat sang istri bersedih. Dan ini lha hal yang ia takutkan. Istrinya akan teringat kenangan saat masih tinggal bersama mamanya.


Mobil pun berhenti di depan pintu utama. Kedatangan mereka langsung di sambut sama beberapa pelayan yang tinggal di sana. Dan di sana juga sudah ada Bik Ijah.


Aluna minta Bik Ijah datang duluan ke sana. Karena jarak rumah yang ia tempati dengan Bik Ijah, lumayan jauh dari rumah papanya.


" Selamat datang kembali nona muda"


" Terima kasih Bik"


Mereka semua pun masuk kedalam rumah. Aluna menatap seluruh isi rumah yang sempat ia tinggalkan dulu. Keadaannya masih sama, tidak ada yang berubah. Kecuali foto pernikahan yang tergantung di ruang tamu.


Dulu di sana foto pernikahan papanya dengan sang mama. Tapi sekarang foto itu sudah berganti dengan foto pernikahan papanya dengan wanita penyihir itu.


" Bik"


" Iya nona"


" Tolong turunkan foto pernikahan itu "


Bik Ijah menoleh kearah tuannya. Ia meminta persetujuan tuan besarnya. Wilson menganggukkan kepalanya tanda setuju. Karena sudah mendapatkan persetujuan tuan besar. Bik Ijah meminta pelayan laki-laki untuk menurunkan foto pernikahan itu.


" Maaf ya Dek, bukan maksud kakak untuk menyinggung kamu. Kakak hanya tidak suka melihat foto wanita itu ada di sana"


" Nggak apa-apa kok Kak. Lagipula wanita itu bukan istrinya papa lagi"


" Kamu sudah tau?"


" Iya. Dan aku sangat senang papa pisah sama mama"


Baru kali ini gue liat dan denger, ada anak yang senang Emak sama Bapaknya pisah. Gumam David dalam hati.


" Walaupun mama kamu sama papa sudah pisah. Kamu akan tetap jadi adiknya kakak"


" Terima kasih Kak"


" Eits, tidak ada acara peluk-pelukkan" kata David sambil menahan tubuh sang istri.


" Leo itu adek aku Dad"


" Aku tau. Tapi dia laki-laki"


" Dasar suami aneh" kata Aluna sambil berlalu pergi meninggalkan suaminya.


" Sayang mau kemana? jangan tinggalkan aku"


Wilson menggelengkan kepalanya melihat tingkah menantunya. Ia tidak menyangka kalau menantunya itu sangat posesif sama putrinya. Tapi ia juga bersyukur. Karena menantunya sangat mencintai putrinya.


Wilson meminta pelayan untuk membawa semua barang-barangnya yang ada di mobil. Setelah menerima titah tuannya, para pelayan itu segera mengambil barang-barang milik tuan mereka.


Sedangkan Leo pergi ke kamarnya. Ia ingin mandi karena di rumah sakit tadi dirinya belum sempat mandi. Dan sekarang tubuhnya sudah terasa lengket.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2