
Satu bulan kemudian.
Satu bulan setelah kejadian yang tidak menyenangkan di mansion kemarin. David tidak pernah bertemu dengan mamanya lagi. Ia pun juga tidak pernah datang ke mansion itu lagi.
Hubungan David dan istrinya juga banyak kemajuan. Walaupun Aluna belum bisa mencintai David. Tapi ia sudah merasa nyaman sama lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu. Tanpa Aluna sadari, kalau cinta itu juga bisa hadir karena rasa nyaman.
" Sayang, maaf ya nggak bisa datang di hari bersejarah kamu" ucap David saat mobilnya sudah berhenti di depan pintu gerbang kampus.
" Nggak apa-apa. Lagipula perusahaan Daddy lagi membutuhkan Daddy"
" Andai saja masalah ini bisa dilakukan sama Tomy saja, maka aku akan serahkan sama dia".
" Daddy nggak boleh gitu. Masa semua pekerjaan di serahkan pada Tomy. Lagipula daddy kan pemilik perusahaan, jadi harus Daddy dong yang menyelesaikan"
" Iya. Aku jalan dulu ya"
" Hati-hati"
" Semoga lulus dengan nilai terbaik. Happy Graduation"
" Aamiin, makasih daddy"
" Sama-sama sayang. Aku jalan dulu ya"
Aluna mencium tangan suaminya takzim. David membalas dengan mengecup kening istrinya. Ia pun masuk kedalam mobil.
Ia menatap mobil suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat ingin suaminya melihat acara wisudanya, tapi ia juga tidak boleh egois. Setelah mobil suaminya tidak terlihat lagi ia pun masuk kedalam kampus.
Semua mahasiswa yang akan wisuda sudah mulai berdatangan. Mereka datang dengan orang tua mereka masing-masing. Sedangkan dirinya hanya datang sendiri.
" Aluna"
Aluna yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh kearah suara. Ia melihat Raka berlari menghampirinya.
" Raka"
" Hai. Happy Graduation ya"
" Makasih. Tapi kan aku belum pake toga "
" Ya nggak apa-apa, aku ingin menjadi orang pertama yang ngucapin selamat ama kamu"
" Tapi sayangnya bukan kamu yang duluan mengucapkan itu"
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Wah siapa ya kira-kira yang sudah mencuri start dari aku"
" Ada deh"
__ADS_1
" Nggak apa-apa kalau aku nggak jadi yang pertama. Yang kedua pun tak masalah"
" Sayangnya kamu orang yang ketiga "
" What! ketiga?"
" Yeah"
" Nggak masalah. Yang penting tampang ku nggak seperti orang ketiga"
Aluna tertawa mendengar ucapan temannya itu. " Kamu ini ada-ada aja"
" Kamu sangat cantik hari ini"
" Terima kasih "
" Kamu datangnya cuma sendiri? orang tua kamu mana?"
" Papaku datangnya agak telat, soalnya ada kerjaan dikit yang harus dia kerjakan"
" Masa dia lebih mementingkan kerjaan daripada kamu?"
" Nggak apa-apa. Lagian papaku juga sudah minta maaf karena nanti akan datang terlambat"
" Ya udah, yuk masuk"
" Hhmm"
Para orang tua sudah duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh pihak kampus. Ada juga dari teman yang satu jurusan dengannya sedang asik berfoto bersama keluarga mereka.
Ada sedikit rasa cemburu dihatinya kala melihat pemandangan itu. Andai saja dia dan kedua orang tuanya bisa berfoto seperti itu, pasti akan sangat menyayangkan. Tapi sayangnya ia hanya putri yang tidak diharapkan. Aluna tersenyum getir melihat kearah teman-temannya itu.
" Mau foto berdua" ajak Raka.
" Boleh " kata Aluna sambil tersenyum.
Walaupun ia tidak bisa berfoto dengan kedua sahabatnya. Setidaknya ia bisa berfoto dengan temannya. Walaupun mereka berfotonya cuma berdua saja.
Raka dan Aluna mengambil beberapa foto dengan berbagai macam gaya. Mulai dari melet, dua jari dan juga tersenyum semuanya mereka coba.
" Aluna"
Aluna yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh kearah suara. Ia tersenyum kala tau siapa pemilik suara. Ia langsung memeluk lelaki paruh baya yang ia panggil dengan sebutan papa itu.
" Apa acaranya sudah di mulai?"
" Belum"
" Syukurlah. Papa pikir udah mulai"
Ehem..
__ADS_1
Aluna tersadar kalau masih ada Raka di sana. Ia pun mengenalkan Raka pada papanya.
" Pa, kenalkan ini Raka. Raka kenalin ini papa gue"
" Hallo Om, saya Raka"
" Saya Adrian Wilson. Kalau boleh tau Nak Raka ini siapanya Aluna?"
" Saya temannya Alun Om" Dan mungkin sebentar lagi akan jadi calon menantu Om. Kata itu hanya mampu di ucapkan Raka di dalam hatinya.
" Oh "
" Kita cari tempat duduk dulu yuk Pa"
" Iya sayang "
Aluna mencari tempat duduk yang agak depan. Karena dia ingin papanya melihat dia dengan jelas saat berdiri di atas podium. Ia berharap bisa lulus dengan nilai terbaik.
Acara wisuda pun segera dimulai. Aluna bergabung dengan teman-temannya yang lain di atas podium. Mereka akan menerima nilai yang akan mereka peroleh.
Rektor mulai memberikan kata-kata sambutan dan juga wejangan untuk para mahasiswa terutama untuk yang akan di wisuda hari ini. Semua mahasiswa mendengarkan dengan baik. Ada juga yang sampai menitikkan air mata. Bukan karena isi wejangan rektornya, tapi karena kakinya terinjak oleh teman di sebelahnya.
Akhirnya sampai lha di acara puncak. Acara yang di tunggu oleh semua mahasiswa dan juga para orang tua mereka. Termaksud Aluna dan Wilson.
Aluna merasa sangat nervous sekarang. Bahkan tangannya sudah mulai berkeringat. Bukan apa-apa, ia hanya takut mengecewakan papanya. Orang yang sudah berjuang untuk kehidupannya selama ini.
" Baiklah, tahun ini ada beberapa mahasiswa yang membuat kami terkejut akan pencapaiannya tahun ini. Karena ada diantara mereka yang dulunya suka bolos bikin tugas. Dan bahkan sering dipanggil ke ruangan saya" cicit Pak rektor.
Semua mata teman-teman Aluna langsung menoleh kearahnya. Ya mereka tau kalau Aluna lha orang yang di bicarakan oleh rektor itu. Yang di tatap pun hanya mampu memberikan senyumannya.
" Baiklah saya akan membacakan nama tiga mahasiswa yang mendapatkan IPK tertinggi tahun ini. Dan salah satunya mungkin ada diantara anak-anak saya yang berdiri di atas podium ini"
Teman sekelas Aluna melihat kearah Maya, mereka yakin kalau Maya salah satu dari mahasiswa yang mendapatkan nilai terbaik. Karena mereka tau nilai ujian Maya selama ini.
" Aku yakin, Lo pasti akan mendapatkan nilai yang paling rendah tahun ini. Dan Lo akan menangis darah" kata Maya dengan sinis pada Aluna.
" Ck,, kita lihat saja nanti, siapa orang yang akan menangis darah nanti. Dan gue harap Lo nggak mati mendadak saat mendengar nama gue yang berada di urutan pertama"
Maya tertawa mendengar ucapan mantan sahabatnya itu. " Mimpi jangan ketinggian. Kalau jatuh pasti akan sakit"
" Kita lihat saja siapa yang akan mendapatkan posisi pertama mahasiswa dengan IPK tertinggi. Gue atau Lo"
" Ok, kita dengar dan lihat dengan baik"
Maya sangat yakin kalau dia akan mendapatkan nilai IPK tertinggi tahun ini. Karena melihat nilai yang dia dapatkan selama ujian kemarin. Sedangkan Aluna, dia hanya seorang mahasiswi yang selalu cari masalah. Walaupun dia terkenal sebagai primadona kampus. Tapi popularitas itu tidak sesuai dengan nilainya.
Aluna juga tidak yakin akan mendapatkan nilai terbaik. Tapi ia juga tidak ingin selalu di remehkan oleh mantan sahabatnya itu. Makanya selama ujian kemarin dia sudah belajar dengan sangat baik. Dan ia harap hasilnya tidak akan mengecewakan.
To be continue.
Happy reading 😚😚
__ADS_1