Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
Memberi hukuman


__ADS_3

" Sayang, aku keluar sebentar ya?"


" Ngapain?"


" Ada janji sama Om Martin"


" Iya Dad"


" Aku jalan dulu. Nanti kalau ada apa-apa, telpon aja"


" Siap Dad"


David berpamitan sama papa mertuanya. Aluna mengantarkan suaminya sampai ke depan pintu.


" Kok belum pergi juga?"


" Kamu ngusir aku?"


" Bukan ngusir, kan daddy bilang mau pergi"


David melihat sekeliling, setelah dirasa aman. Ia mengecup bibir istrinya sekilas. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan sang istri. Sedangkan Aluna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya.


David melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Hari ini dia akan bertemu dengan para pelaku yang menyebabkan papa mertuanya masuk rumah sakit.


Mobil milik David terus melaju membelah jalanan ibukota. Mobil itu pun memasuki area sepi. Mobil mewah itu berhenti di depan bangunan tua.


" Maaf telat Om"


" Nggak apa-apa, Om juga baru nyampe"


Kedua lelaki tampan beda usia itu masuk kedalam bangunan tua itu. Kedatangan mereka langsung di sambut sama orang-orang suruhan David dan Martin.


David melihat tiga orang lelaki bertubuh kekar diikat di kursi. Ia yakin mereka bertiga lha pelaku yang sudah mencelakai mertuanya.


" Bangunkan mereka" titah David.


Salah satu anak buah David mengambil seember air, yang sudah mereka siapkan dari tadi. Air itu langsung disiramkan ke wajah ketiga lelaki bertubuh kekar itu.


Uhuk...uhuk


" Brengsek! " umpat salah satu penjahat itu.


" Akhirnya kalian bertiga bangun juga"


" Siapa kalian?!"


" Malaikat maut mu"


Bos penjahat itu tertawa.


Bugh..


David menendang perut lelaki itu. Martin refleks memegang perutnya. Ia seperti merasakan sakit bos penjahat itu.


" Berani sekali kau tertawa disaat aku sedang bicara"


" Apa mau mu anak muda?!"


" Saya ingin nyawa kalian bertiga"


" Kenapa kau menginginkan nyawa kami?"


" Karena kalian bertiga sudah bersekongkol dengan wanita jahat untuk mencelakai mertua saya"


" Mertua, siapa maksud mu"


" Lelaki yang kalian tabrak kemarin"


Deg.


" Ka-kami hanya di suruh. Dan lagi kami tidak tau kalau itu papa mertua Anda"


" Tangan ini yang sudah melajukan mobil itu"


" Ka-kamu mau apa?!"


" Tentu saja mematahkannya"

__ADS_1


" Jangan! saya mohon jangan"


Aaarrrgghhh..


Semua orang yang ada di sana bergidik mendengarkan bunyi tulang patah. Di tambah lagi suara memilukan dari bos penjahat itu.


David segera membersihkan tangannya dengan tissue basah. Karena kalau tidak OCD nya akan kambuh lagi.


" Bagaimana rasanya? sakit bukan?"


Bos penjahat itu hanya bisa menangisi tangannya yang sudah patah itu. Ia tidak menyangka kalau lelaki yang ada di hadapannya itu akan mematahkan tangannya.


" Rasa sakit itu belum sebanding dengan kesedihan istriku. Gara-gara kejahatan mu, istriku hampir saja kehilangan papanya!"


Martin menepuk punggung David. Ia berusaha menenangkan David. Karena kalau tidak, bisa saja David membunuh bos penjahat itu.


" Sekarang kita serahkan mereka ke polisi"


" Kenapa nggak kita bunuh aja Om!"


" Mati hukuman yang paling mudah untuk mereka"


" Ya udah terserah Om saja. Tapi saya ingin mereka di hukum dengan seberat-beratnya"


" Pasti. Om akan pastikan mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka"


" Di kantor polisi nanti, kalian juga akan bertemu dengan wanita yang sudah membayar kalian. Jadi kalian bisa reunian di sana"


Ketiga penjahat itu hanya bisa pasrah. Lagipula mereka tidak bisa melawan David dan juga Martin. Apalagi David dengan mudahnya mematahkan tangan bos mereka.


" Kalian, cepat bawa ketiga penjahat ini ke kantor polisi. Kalau mereka masih di sini, nanti saya khilaf dan membunuh mereka"


" Baik bos"


Orang suruhan David segera membawa ketiga penjahat itu pergi dari sana. Setelah itu David dan Martin juga keluar dari bangunan tua itu.


" Om akan ikut mereka ke kantor polisi"


" Baiklah Om. Saya serahkan sisanya sama Om"


" Makasih Om"


" Sama-sama. Besok Om akan ke rumah sakit untuk melihat keadaan mertua kamu"


" Ok Om, aku tunggu kedatangan Om"


Martin masuk kedalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju kantor polisi. Diikuti sama anak buahnya dan juga anak buah David. Setelah mobil Martin keluar dari sana, barulah David melajukan mobilnya meninggalkan bangunan tua itu.


David melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia cukup puas karena sudah bisa membalas sedikit rasa sakit yang dirasakan mertuanya. Walaupun ia tidak bisa membunuh ketiga penjahat itu.


Tanpa terasa iapun sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya. Ia langsung masuk ke dalam rumah sakit.


Seperti biasa, David menjadi pusat perhatian orang-orang. Terutama para wanita. Mereka selalu menatap David dengan tatapan mendamba.


Lelaki tampan itu berjalan melewati orang-orang itu. Ia terus saja berjalan tanpa menghiraukan tatapan para wanita itu. Ia masuk kedalam lift.


Ting.


Lift berhenti di lantai tiga. David segera keluar dari lift. Ia berjalan menuju ruang rawat mertuanya.


Tok..


Tok..


Tok..


Ceklek.


David tersenyum melihat wanita yang berdiri di depan pintu. Sungguh ia sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada wanita cantik yang sekarang berstatus sebagai istrinya itu.


" Daddy mau masuk nggak"


David tersadar dari lamunannya. " Ah I-iya sayang"


David mengikuti langkah kaki sang istri masuk kedalam ruang rawat mertuanya.


" Papa tidur?"

__ADS_1


" Hhmm"


" Leo kemana?"


" Kamar mandi"


" Kayaknya kita harus tambah bed lagi deh sayang?"


" Untuk apa?"


" Untuk kita berdua"


" Kan kita bisa tidur di sofa Dad"


" Nggak enak sayang"


" Nggak enak gimana? nyaman kek gini kok sofa nya"


" Aku nggak bisa meluk kamu"


" Dasar mesum"


" Aku minta petugas untuk bawa satu bed lagi"


Tidak butuh waktu lama beberapa petugas datang membawa single bed. Setelah meletakkan di tempat yang diminta sama David, para petugas itu pun pamit undur diri.


" Bed untuk siapa nih Kak?" tanya Leo yang baru keluar dari kamar mandi.


" Bed untuk Abang sama Kak Aluna" jawab David.


" Adek tidur bareng sama papa ya"


" Apa nggak apa-apa, aku tidur satu bed sama papa?"


" Nggak apa-apa. Lagian bed papa muat untuk dua orang kok"


" Baiklah, adek tidur dulu ya Kak"


" Ok, kakak juga mau tidur"


Aluna menarik selimut sang adik hingga batas dadanya. Setelah itu ia mematikan lampu ruangan itu, dan menggantinya dengan yang agak redup.


" Sayang buruan dong"


" Sebentar Dad"


Aluna berbaring di samping suaminya. David langsung membawa istrinya kedalam pelukannya.


" Kamu wangi banget sih? "


" Dad jangan cium-cium di sana, geli "


" Terus dimana? disini?" kata David yang langsung mengecup bibir istrinya.


" Daddy bebek"


" Biarin! "


" Daddy jangan kek gini, nanti papa sama Leo liat"


" Nggak akan. Lagian papa sama Leo udah tidur"


Aluna menutup mulutnya, supaya suara yang bikin jiwa jomlo meronta tidak keluar. David tersenyum karena berhasil menggoda istrinya.


" Yuk tidur. Nanti punya aku bangun, aku yang repot"


"Ck, bukannya Daddy yang mulai duluan"


" Iya, makanya sekarang kita tidur"


Aluna tau suaminya sedang menahan hasratnya. Tapi kan suaminya duluan yang mulai, jadi tanggung sendiri.


Makanya jangan iseng. Bangunkan singa nya.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2