Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
Khawatir


__ADS_3

Aawww..


" Maaf"


David kaget melihat siapa wanita yang menabraknya barusan. Tapi ia lebih kaget lagi melihat penampilan wanita itu.


" Baby"


" Daddy"


David memeluk istrinya itu. Tangis Aluna pun pecah di dalam pelukan suaminya. David merasa sakit mendengar tangisan istrinya. Tak berselang lama Aluna pun pingsan.


" Baby bangun? Tom periksa CCTV yang ada di mall ini"


" Baik tuan"


David segera menggendong istrinya keluar dari mall. Tapi baru beberapa langkah, ia berhenti karena ada seseorang yang memanggilnya.


" A-aden" panggil Bik Ijah datang dengan nafas yang ngos-ngosan.


" Bibik di sini?"


" Iya, tadi terjadi sesuatu sama non Aluna?"


" Sesuatu?"


" Iya Den, tapi sekarang kita bawa nona Aluna pergi dari sini"


" Baik Bik. Tolong bawakan barang belanjaan Aluna Bik"


Bik Ijah mengambil barang belanjaan Aluna. David membawa istrinya ke mobilnya yang sudah terparkir di depan mall. Diikuti sama Bik Ijah di belakang.


" Bibik duduk di depan saja, biar saya yang di belakang sama Aluna"


" Maksud Aden, bibik yang bawa mobilnya? bibik nggak bisa atuh, Den?"


" Nggak Bik, nanti Tomy yang akan bawa mobilnya"


" Syukurlah kalau emang ada yang bawa mobilnya"


Tak berselang lama Tomy datang. Ia langsung masuk kedalam mobil.


" Kamu sudah liat rekamannya?"


" Sudah tuan, dan saya juga membawa salinannya "


" Good. Sekarang kita ke rumah sakit dulu "


" Baik tuan"


Tomy melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Karena ia tau bosnya sekarang lagi cemas pada istrinya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.


Bik Ijah hanya bisa berdoa agar mereka semua bisa selamat. Karena ia takut karena Tomy membawa mobilnya agak ngebut. Tapi ia juga tau kalau tuannya lagi khawatir sama istrinya.


Tidak butuh waktu lama, mereka pun sampai di rumah sakit. David segera keluar dari mobil, tanpa menunggu Tomy membukakan pintu untuknya. Karena sekarang ini keselamatan istrinya lebih penting.


" Dokter! suster!"


" Ada apa tuan?"


" Tolong istri saya "


" Istri anda kenapa tuan?"


" Dia pingsan Dok"


" Baik. Tolong baringkan nona di Brankar ini"


" Anda mau memeriksa istri saya di sini?"

__ADS_1


" Iya tuan"


" Tidak, bawa istri saya ke ruang IGD"


" Tapi istri anda cuma pingsan tuan"


" Jadi kalau hanya pingsan, kamu boleh memeriksanya sembarangan?!"


" Sabar tuan" kata Tomy.


" Gimana mau sabar, dia mau periksa istri saya cuma di lobi rumah sakit!"


" Ya sudah Dok, tolong turuti saja kemauan bos saya. Daripada rumah sakit ini diratakannya"


" Ba-baik tuan"


Akhirnya Aluna pun dibawa keruangan IGD. Dan ini kali pertamanya dokter itu membawa pasien pingsan ke dalam ruangan IGD.


Sesampainya di ruang IGD, David pun ikut masuk. Karena ia ingin memastikan sendiri kalau istrinya baik-baik saja. Dan lagi-lagi dokter tidak bisa menolak keinginan lelaki tampan itu.


" Kenapa kamu masih melihat saya, cepat periksa istri saya"


" Ba-baik tuan"


Dokter pun mulai memeriksa keadaan Aluna. Ia harus memeriksa dengan benar, kalau tidak David pasti akan memintanya untuk mengulang kembali memeriksa istrinya.


" Bagaimana keadaan istri saya?"


" Nona baik-baik saja tuan. Ia hanya shock"


" Kamu yakin hanya karena shock?"


" Yakin tuan"


" Lalu kapan dia akan siuman?"


" Benar ya, awas kalau kamu bohong. Saya akan buat kamu tidak bisa bekerja dimana pun"


" I-iya tuan. Apa nona sudah boleh kami pindahkan ke ruang rawat?"


" Hhmm"


Dokter itu lega karena David sudah mulai melunak. Ia meminta suster untuk segera memindahkan Aluna. Sebelum lelaki tampan itu berubah pikiran.


" Bik"


" Iya Den"


" Bibik, pulang aja dulu ya. Aluna biar saya yang jaga"


" Nggak apa-apa Den, bibik mau di sini nemenin Aluna"


" Rumah sakit bukan tempat yang baik Bik. Lagian bibik juga pasti capek. Lebih baik bibik istirahat di rumah. Kalau Aluna sudah siuman, kami akan pulang"


" Baiklah Den, bibik pamit pulang dulu"


" Iya Bik. Tom, antarkan Bik Ijah pulang"


" Baik tuan"


Bik Ijah dan Tomy pun pamit pulang. Sekarang tinggallah pasutri itu di dalam ruangan itu. David duduk di kursi di samping bed istrinya. Ia menatap wajah istrinya yang pucat. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik sang istri.


Ia membelai lembut kepala sang istri. Setelah itu ia menggenggam tangan istrinya. Sesekali mencium tangan nan putih dan juga lembut itu.


" Baby bangun, aku kangen dengar omelan kamu"


David berpikir, apa ia harus memberi tau papa mertuanya. Tapi ia juga tidak ingin membuat mertuanya khawatir, pasalnya papa mertuanya juga sedang sakit.


Ia teringat akan salinan rekaman CCTV mall. David segera mengambil laptopnya. Baru sampai di pintu ia baru tersadar kalau laptopnya ketinggalan di mobil, dan sekarang mobilnya di bawa sama Tomy.

__ADS_1


" Bodoh banget sih gue"


David kembali ketempat duduknya tadi. Karena khawatir dengan istrinya, ia sampai melupakan rekaman CCTV tadi. Padahal tadi dia yang meminta Tomy untuk melihat rekaman CCTV itu.


Lamunan David buyar, saat tangan sang istri bergerak. Benar saja, ia melihat istrinya perlahan membukakan matanya.


" Kamu sudah sadar baby?"


" Emang aku kenapa Dad?"


" Kamu pingsan di mall baby"


Aluna mengingat kejadian satu jam yang lalu. Air matanya kembali jatuh saat berhasil mengingat kejadian di mall tadi.


" Hei kenapa kamu menangis? apa ada yang sakit?"


Aluna menganggukkan kepalanya.


" Mana yang sakit?"


" Di sini? kata Aluna sambil memegang dadanya.


David memeluk istrinya itu. " Jangan menangis lagi. Aku merasa sakit saat melihat kamu menangis seperti itu"


" Sakit Dad"


" Apa yang terjadi? siapa yang sudah membuat kamu sakit. Kasih tau aku, biar nanti aku yang membuat perhitungan dengan orang yang sudah menyakiti kamu"


" Jangan" kata Aluna sambil menggelengkan kepalanya.


" Kenapa?"


" Karena dia orang yang sudah melahirkan aku "


" Maksud kamu, mama kandung kamu"


" Hhhmm"


" Dia bilang apa sama kamu?"


" Dia bilang, aku anak yang tidak pernah dia harapkan"


Deg.


David mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka kalau ibu kandung Aluna tega bicara seperti itu kepada putri kandungnya sendiri. Apa gunanya ia bertaruh nyawa untuk melahirkan Aluna waktu itu. Kalau dia harus melukai perasaan putrinya seperti ini.


" Kenapa mama tidak mengharapkan kehadiran aku Dad?"


" Karena dia wanita yang bodoh. Bagaimana dia bicara seperti itu pada putri secantik dan sebaik kamu. Suatu saat nanti dia akan menyesal karena sudah membuang kamu. Sekarang buktikan pada mama kamu, kalau kamu bisa hidup bahagia tanpa dia"


" Apa Daddy akan meninggalkan aku sama seperti mama"


" Tidak. Aku akan selalu bersama kamu, sampai kapanpun"


Aluna menatap lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu. Ia sangat senang karena David tidak akan meninggalkannya seperti mamanya.


" Terima kasih"


" Sama-sama sayang. Sekarang kamu jangan sedih lagi. Karena kamu punya aku dan juga papa "


" Apa Daddy memberitahu papa kalau aku pingsan?"


" Tentu saja tidak, karena pasti nanti papa akan khawatir kalau tau kamu pingsan"


Aluna tersenyum. Lagi-lagi suaminya tau apa yang dia pikirkan. Mulai sekarang ia akan berusaha untuk mencintai suaminya itu.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2