Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
Ngidam pertama


__ADS_3

Mereka pun sampai di pantai. Aluna segera keluar dari mobil sebelum suaminya membukakan pintu untuknya.


" Apa senang itu kamu bisa ke pantai, hhmm?"


" Bukan senang ke pantai, tapi senang karena bisa keluar dari rumah"


" Apa kamu bosan berada di rumah?"


" Sangat bosan. Seharian di rumah tanpa melakukan apapun "


David kaget mendengar ucapan sang istri. Ia tidak pernah berpikir kalau istrinya akan bosan di rumah. Karena ia merasa kalau lagi hamil istrinya akan senang berada di rumah.


" Apa kamu ingin kembali kerja?"


" Sebenarnya sih ingin. Tapi aku juga nggak ingin membahayakan calon baby"


" Kamu boleh kembali bekerja"


" Benarkah?"


" Hhmmm"


" Terima kasih Daddy" ucap Aluna sambil memeluk suaminya.


" Sama-sama, tapi pergi kerjanya nanti setelah kita selesai melakukan resepsi pernikahan"


" Yeah masih lama dong"


" Biar aku lebih leluasa untuk mengantar jemput kamu"


" Baiklah"


Hari sudah semakin sore, matahari akan kembali keperaduan. Cahaya jingga di atas langit sungguh sangat indah. Ini kali pertamanya Aluna melihat sunset bersama suaminya.


" Udah mau malam, pulang yuk?" ajak sang suami.


" Hhhmm"


Mereka bertiga kembali ke dalam mobil. David melajukan mobilnya meninggalkan area pantai. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Leo "


" Iya Bang"


" Besok sidang mama dan kakak kamu. Apa kamu nggak mau pergi melihat mereka?"


" Nggak Bang "


" Kenapa nggak mau Dek?" tanya Aluna.


" Malas Kak. Lagian besok aku juga sekolah "


" Emang kamu nggak kangen sama mereka?"


" Nggak Kak. Lagian aku merasa damai kalau nggak ada mama sama kakak"


Eh! ini bocah beneran anak kandung Mak lampir itu nggak sih. Masa dia bilang damai nggak ada mereka. Tapi benar juga sih.


" Tapi menurut kakak kamu harus liat mereka. Bagaimanapun dia mama dan kakak kamu"


" Nanti aku pikirkan lagi Kak"


" Kalau kamu ingin melihat mereka, pergi sama Abang besok"


Aluna tau adiknya itu ingin bertemu dengan mamanya. Walaupun adiknya itu bilang tidak mau. Tapi sejujurnya dia juga merindukan sang mama.


Tanpa terasa mereka pun sampai di rumah. Aluna dan Leo turun dari mobil, sedangkan David memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Setelah itu mereka ia menyusul istrinya masuk kedalam rumah.


" Kalian bertiga habis darimana?" tanya Wilson.


" Habis dari pantai Pa. Bumil mau jalan-jalan" jawab David.


" Apa kamu ngidam Nak?"


" Sepertinya begitu Pa"


" Apa kalian sudah makan?"

__ADS_1


" Belum"


" Yuk kita makan dulu"


Mereka pun pergi menuju ruang makan untuk makan malam bersama. Setelah makan malam David baru akan bicara sama papa mertuanya soal operasi transplantasi ginjal.


Aluna tidak berselera makan kala melihat makanan yang terhidang di atas meja makan. Padahal di sana ada masakan kesukaannya. Tapi entah kenapa ia tidak ingin memakannya.


" Kamu kenapa?"


" Nggak selera melihat makanannya"


" Terus maunya makan apa?"


" Mau makan ikan asin sambal terasi"


David mengeyitkan alisnya. Pasalnya ia baru mendengar nama makanan yang disebutkan istrinya tadi.


" Cari dimana makanan seperti itu?"


" Nggak usah di cari. Minta tolong sama Bik Ijah untuk buatkan"


" Bik Ijah lagi istirahat sayang"


" Ada apa?" tanya Wilson.


" Aluna nggak selera makan Pa" jawab David.


" Kamu mau makan apa sayang?"


" Mau ikan asin sambal terasi Pa"


" Minta tolong sama Bik Ijah untuk membuatkannya"


" Bik Ijah lagi istirahat"


" Ya udah, suruh suami kamu aja yang bikin"


" Apa! aku mana bisa Pa bikin masakan kek gitu. Lagipula bentuk ikan asin itu aja aku nggak tau"


" Coba liat Bik Ijah. Siapa tau dia belum tidur"


David pun segera melihat Bik Ijah. Malam ini dia sangat beruntung karena Bik Ijah belum tidur. Wanita paruh baya itu sedang membereskan dapur.


" Bik"


" Eh, iya Den"


" Boleh minta tolong nggak?"


" Minta tolong apa Den?"


" Istri saya nggak selera makan. Dia bilang ingin makan ikan asin sambal terasi"


" Nona ngidam Den?"


" Sepertinya begitu Bik. Apa bibik bisa membuatkannya?"


" Bisa Den. Sebentar bibik buatkan dulu"


" Makasih ya Bik"


" Sama-sama Den"


Setelah mengatakan keinginan istrinya. David kembali ke meja makan untuk melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi.


" Bagaimana, apa Bik Ijah sudah tidur?"


" Belum, dia lagi buatkan makanan pesanan kamu"


" Bik Ijah memang yang terbaik. Tidak seperti suamiku yang tidak bisa apa-apa"


" Maafkan suamimu ini sayang. Lain kali aku akan belajar masak "


" Serius kamu mau belajar masak?"


" Ah I-iya"

__ADS_1


David tidak menyangka kalau omongan itu dianggap serius sama istrinya. Padahal maksud hatinya cuma ingin menenangkan sang istri. Tapi kok malah jadi begini.


" Nggak sabar ingin mencicipi masakan buatan Daddy"


" Belajar aja belum sayang. Lagipula aku nggak yakin akan bisa masakin masakan enak untuk kamu"


" Makanya Daddy harus belajar dengan giat supaya bisa masak masakan yang enak. Masa Daddy kalah sama papa"


" Emang papa bisa masak?" tanya David sambil melirik mertuanya.


" Tentu saja bisa" jawab Wilson dengan bangganya.


" Palingan masak air doang"


" Sembarangan. Papa itu bisa masak masakan yang enak"


" Tapi aku nggak pernah liat papa masak?"


" Sekarang papa memang sudah jarang memasak. Tapi yang intinya papa bisa masak"


" Daddy harus semangat ya belajar masaknya "


" Iya sayang"


David berdoa besok istrinya sudah lupa dengan masalah ini. Apa kata dunia nanti CEO tampan sepertinya memegang spatula. Membayangkannya saja sudah membuatnya ngeri. Apalagi kalau itu sampai benar-benar terjadi.


Di tempat lain.


Wanita paruh baya yang baru kehilangan suaminya karena kecelakaan tadi siang terlihat sedang memandangi foto mendiang suaminya. Ia tidak menyangka suaminya akan pergi secepat ini.


" Sudahlah Buk jangan menangis terus"


" Apa kamu tidak sedih bapak kamu meninggal?"


" Sedih Buk, tapi kita tidak boleh terus bersedih karena hidup itu terus berjalan. Lebih baik sekarang kita berkemas karena besok kita akan meninggalkan rumah yang reot ini"


" Kenapa kamu tidak mau tinggal bersama ibuk?"


" Ana ingin hidup mandiri Buk"


Rini menatap putrinya itu. " Apa yang kamu rencanakan?"


" Maksud ibuk?"


" Kamu jangan berpura-pura bodoh Ana. Ibuk tau kamu pasti tau apa maksud pertanyaan ibuk"


" Aku benar-benar nggak ngerti Buk"


" Kenapa kamu ingin kerja di rumah lelaki itu?"


" Aku hanya ingin cari pengalaman kerja saja"


" Tapi tidak harus jadi pelayan di rumah mereka. Apa kamu mau menggoda lelaki itu?"


" Ti-tidak"


" Jangan pernah mencari masalah"


" Apa maksud ibuk?"


" Ibuk tau, kalau kamu menyukai lelaki itu. Tapi kamu tau, lelaki itu sudah beristri. Jadi jangan coba-coba untuk menjadi duri dalam pernikahan orang lain"


" Ibuk bicara apa sih. Lagipula aku tidak akan merusak rumah tangga mereka"


" Syukurlah kalau begitu. Karena kalau kamu sempat melakukan itu. Maka ibuk tidak akan pernah membantu kamu"


" Iya,, iya. Ibuk tenang aja aku nggak akan membuat masalah"


" Ibuk harap kamu tidak berbohong"


" Aku mau ke kamar dulu. Mau berberes-beres"


Ana segera pergi ke kamarnya. Kalau dia masih di sana, sang ibu pasti akan terus berceramah. Dan itu membuat kupingnya terasa sakit.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2