Sayap Cinta Gadis Kesepian

Sayap Cinta Gadis Kesepian
Rasa-rasa kenal


__ADS_3

" Daddy sama papa darimana?" tanya Aluna saat melihat suami dan papanya baru masuk.


" Jalan-jalan ke taman sayang "


Setelah membantu papa mertuanya naik ke atas bed. David bergabung duduk bersama istri dan kedua orang tuanya.


" Oh iya, besok kalian berdua pergi fitting baju ya" kata Divya.


" Fitting nya dimana Ma?" tanya David.


" Di butik langganan keluarga kita"


" Emang persiapan untuk acara resepsinya udah berapa persen?"


" Sekitar delapan puluh lima persen"


" Cepat juga mama nyiapinnya"


" Iya. Bukan mama aja sih, papa juga ikut bantu mama"


" Makasih ya Ma, udah nyiapin semua keperluan pestanya" ucap Aluna.


" Sama-sama sayang. Lagipula ini sudah tugas mama sebagai mertua kamu"


Garry senang karena istrinya sudah bisa menerima Aluna sebagai menantu. Walaupun dulu dia sempat menentang pernikahan Aluna dengan David. Tapi sekarang istrinya sangat menyayangi Aluna.


" Kita mau makan siang dengan apa nih?" tanya Garry.


" Untuk hari ini kita pesan aja deh Pa" jawab Divya.


" Biar aku aja yang pesan Ma. Kamu mau makan apa sayang?" tanya David pada sang istri.


" Aku mau rujak Dad"


" Rujak?"


" Hhhmm"


" Ntar kamu sakit perut sayang"


" Aku pengennya makan itu Dad"


David terlihat berpikir. Sekarang istrinya lagi hamil, jadi dia tidak boleh membuat mood istrinya jelek.


" Kamu boleh makan rujak, tapi sebelum itu kamu harus makan nasi dulu"


" Hhmm"


Divya ikut bahagia melihat bagaimana putranya memperlakukan istrinya. Bukan hanya Divya, Garry dan Wilson pun iku bahagia melihat pasutri itu.


" Mama sama papa mau makan apa?" tanya David.


" Samain aja sama kamu"


" Kalau Leo mau makan siang sama apa?"


" Aku soto aja deh Bang"


" Ok, minumnya mau di samain aja atau gimana nih?"


" Samain aja"


" Kita pilih dua jenis aja minumannya, jus jeruk sama Mango Thai. Gimana? "


" Boleh juga"


David memesan makanan melalui aplikasi yang ada di ponselnya. Selesai memesan makanan ia menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


" Gimana sekolah kamu hari ini?" tanya David pada Leo.


" Baik Bang. Minggu depan udah mulai ujian"


" Belajar yang rajin. Kalau nilai kamu bagus, Abang akan kasih hadiah"


" Bener nih Bang?"


" Benarlah"


" Hadiahnya boleh apa aja?"

__ADS_1


" Iya apa aja"


" Janji ya"


" Iya janji"


" Aku pegang nih janji Abang"


" Hhmm"


Leo sangat senang karena Abang iparnya akan memberikan hadiah untuknya. Ia akan memikirkan hadiah apa yang akan ia minta pada Abangnya.


Tok.


Tok.


Tok.


Aluna yang mendengar suara pintu diketuk pun berjalan menuju pintu.


Ceklek.


" Maaf nona, saya mau nganterin pesanan atas nama tuan David" kata seorang bapak driver Gojek.


Aluna tidak mendengarkan ucapan bapak itu. Ia masih menatap wajah pria paruh baya itu. Wajah bapak itu sangat mirip dengan seseorang yang sangat ia kenal.


" Nona"


" Ah maaf Pak saya tidak dengar. Bapak ngomong apa tadi?"


" Saya mau nganterin pesanan atas nama tuan David"


" Itu suami saya Pak"


" Ini pesanan suami anda nona"


" Terima kasih Pak"


Setelah memberikan empat kantong plastik pada Aluna. Bapak itupun pamit undur diri. Karena ia akan mengantarkan pesanan yang lain.


Aluna menatap punggung bapak itu yang semakin menjauh dari pandangannya.


" Eh Daddy"


" Kenapa?"


" Nggak apa-apa, cuma Bapak driver gojek tadi mirip seseorang yang aku kenal"


" Siapa?"


" Aku lupa"


David tersenyum mendengar ucapan istrinya. Apa ini juga karena hormon kehamilan? jadi istrinya bisa melihat wajah orang mirip dengan seseorang yang ia kenal.


" Yuk masuk, aku udah lapar"


" Hhmm"


Aluna berjalan berdampingan dengan suaminya. Ia masih memikirkan driver gojek tadi.


" Kamu kenapa sayang?" tanya Divya pada mantunya.


" Aku nggak kenapa-napa kok Ma"


" Tapi mama liat kamu seperti memikirkan sesuatu?"


" Mungkin perasaan mama aja"


" Kamu lagi hamil, jadi jangan banyak pikiran"


" Iya Ma"


Aluna berusaha untuk tidak memikirkan bapak tadi. Ia tidak ingin membuat suami dan juga keluarganya khawatir.


Divya memindahkan makanan itu satu persatu ke dalam piring dan juga mangkok. Setelah itu, ia menaruhnya di atas meja sofa yang ada di sana.


" Leo, yuk makan" kata Divya.


" Iya Tante "

__ADS_1


Wilson hanya bisa menelan ludahnya saat mencium aroma wangi dari makanan yang dibeli sama menantunya itu. Karena ia belum boleh makan makanan yang bertekstur kasar.


David menyuapi istrinya. Karena kalau nggak disuapi, istrinya itu pasti tidak akan mau makan. Seperti kemarin-kemarin.


" Udah Dad"


" Baru tiga suapan sayang?"


" Aku udah kenyang"


" Udah kenyang, atau pengin makan rujak"


" Pengin makan rujak"


" Ya udah, tapi makannya jangan banyak-banyak ya sayang"


" Ok Daddy"


Aluna langsung mengambil rujak yang sedari tadi sudah membuat air liurnya menetes. Ia mulai memasukkan potongan buah yang sudah diberi bumbu rujak itu.


Mata David memicing saat istrinya memasukkan mangga muda kedalam mulutnya. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana asamnya buah mangga itu.


Ia melihat istrinya tidak seperti orang yang keasaman. Malahan istrinya itu terlihat menikmati potongan buah mangga muda itu.


" Enak?" tanya David pada sang istri.


" Enak. Daddy mau?"


" Makasih. Tapi kamu aja deh yang makan rujaknya"


" Yakin nih Daddy nggak mau coba?"


" Hhhmm"


" Ya udah kalau emang nggak mau coba"


Aluna memasukkan kembali potongan buah mangga muda itu kedalam mulutnya. Rujak itu sangat enak. Apalagi bumbunya juga pas di lidahnya.


Akhirnya satu piring rujak pun sudah berpindah ke dalam perut Aluna. Ia ingin minta tambah, tapi suaminya tidak mengizinkannya untuk makan lagi.


" Besok boleh makan rujak lagi ya?"


" Boleh"


" Asik, makasih daddy"


David heran dengan calon bayinya itu. Kenapa calon anaknya itu tidak pernah minta makanan yang ada di jual di restoran-restoran mewah. Malahan calon anaknya itu selalu minta jajanan pinggir jalan.


" Sayang, kamu nggak mau belanja tas model terbaru?"


Aluna mengeyitkan alisnya mendengar ucapan suaminya itu. Kenapa suaminya itu membicarakan masalah tas model terbaru.


" Aku nggak kepengin beli tas"


" Sepatu?"


" Nggak juga. Daddy kenapa nanya kek gitu?"


" Aku merasa iri saja sama ibu-ibu hamil diluar sana"


" Kenapa harus iri"


" Karena mereka ngidam minta dibelikan barang-barang mewah. Sedangkan kamu, ngidam jajanan pinggir jalan terus. Bilang sama calon anak kita, kalau papanya mampu membelikan barang-barang mewah"


Aluna tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Ia pikir suaminya iri karena apa. Ternyata iri karena ia tidak ngidam seperti ibu-ibu hamil diluar sana.


" Daddy sayang dengar ya? setiap wanita hamil itu ngidamnya tidak sama. Dan lagi ngidamnya juga tidak harus barang-barang mewah. Aku senang karena tidak ngidam barang-barang mewah seperti itu"


" Kenapa?"


" Karena aku tidak ingin membuat Daddy kesusahan mencari barang-barang mewah seperti itu. Dan lagi, barang-barang mewah dan branded itu tidak selalu ada di sini. Kebanyakan di luar negeri. Dan aku nggak mau Daddy pergi keluar negeri hanya untuk membeli tas dan juga sepatu dengan merek terkenal dunia. Aku nggak butuh itu. Yang aku butuhkan daddy selalu di sini menemani aku"


David terharu mendengar ucapan istrinya. Ia tidak menyangka kalau istrinya ingin selalu berada di sampingnya.


" Daripada kita beli barang-barang mahal, lebih baik kita beli jajanan pinggir jalan. Itu bisa membantu perekonomian keluarga mereka"


Divya tambah kagum dengan menantunya itu. Aluna memang menantu yang di idam-idamkan oleh keluarganya. Sudah cantik, pintar dan rendah hati lagi.


To be continue.

__ADS_1


Happy reading 😚😚


__ADS_2