
Sesampainya di rumah, Indah langsung masuk kedalam rumah tanpa menunggu suaminya membukakan pintu seperti biasa untuknya. Ia segera pergi ke kamarnya.
Indah mengambil koper dan memasukkan semua pakaiannya. Ia tidak ingin tinggal lagi bersama suaminya. Sebelum pergi Indah menatap kamarnya yang sudah lama ia tempati dengan suaminya.
Sekarang ia tidak akan tidur di atas kasur yang empuk itu lagi. Ia menatap foto pernikahannya dengan suaminya. Pikirannya pun melayang pada beberapa tahun yang lalu, saat ia pertama kali datang ke rumah ini.
Ia meninggalkan putri dan juga suaminya demi menikah dengan lelaki yang ia cintai. Sekarang lelaki yang ia cintai itu telah menyakitinya. Bahkan mantan suaminya dulu, tidak pernah berkata-kata kasar. Justru dirinyalah yang sering berkata kasar pada mantan suaminya itu.
Setelah puas memandangi kamarnya, Indah segera mendorong kopernya keluar dari kamar itu. Ia akan pergi meninggalkan rumah yang sudah ia tempati sangat lama dengan suaminya. Indah pun menuruni anak tangga.
" Kamu mau kemana?"
" Pergi"
" Tidak! kamu tidak boleh meninggalkan ku"
" Lepaskan tangan ku Dre"
" Ayo masuk ke kamar"
" Aku nggak mau!"
Andre menarik koper besar itu dari tangan istrinya. Tapi Indah tidak tinggal diam, ia menarik koper itu dari tangan suaminya. Dan terjadilah tarik menarik diantara mereka berempat.
" Andre lepas!"
" Nggak! kamu harus tetap disini bersama aku"
" Aku nggak mau"
" Apa kamu ingin kembali bersama mantan suami kamu itu, hhmm?"
" Tidak! aku tidak punya muka lagi untuk bertemu mereka. Jadi tolong lepaskan tangan kamu dari koper aku"
" Kamu tidak boleh pergi, kalau tidak jangan salahkan aku berbuat kasar sama kamu"
" Silakan, aku tidak takut"
Andre menarik koper dengan kasar dari tangan istrinya. Indah sekuat tenaga menahan koper itu supaya tidak lepas dari tangannya. Namun naas, saat menarik kuat kopernya kakinya terpeleset. Tubuh Indah pun berguling ke bawah. Kepalanya mengeluarkan darah.
Aaaaaa..
" Sayang..!"
Andre setengah berlari menuruni anak tangga menyusul istrinya. Tubuhnya bergetar kala melihat darah yang banyak keluar dari kepala sang istri.
" Sayang, buka mata kamu. Jangan tinggalkan aku sendiri"
Andre segera membawa istrinya ke rumah sakit. Karena kalau menunggu ambulans datang bisa-bisa istrinya tidak bisa diselamatkan.
__ADS_1
...***...
Andre sampai di rumah sakit. Ia segera menggendong istrinya ke dalam rumah sakit. Ia tidak mempedulikan penampilannya lagi.
" Dokter, suster!"
" Ada apa tuan?" tanya Seorang dokter.
" Tolong selamatkan istri saya. Dia jatuh dari tangga"
" Cepat baringkan di sini Pak"
Andre membaringkan tubuh istrinya di atas Brankar. Dokter dan suster segera membawa Indah ke ruang IGD.
" Tuan tunggu di luar"
" Saya ingin masuk Sus?"
" Maaf tuan, yang boleh masuk hanya dokter dan juga suster. Jadi kalau tuan ingin istri tuan selamat, tolong keluar dulu. Biar dokter bisa segera menangani istri tuan"
" Baiklah, tolong selamatkan istri saya"
" Kami akan berusaha tuan"
Suster pun menutup pintu ruang IGD. Sedangkan Andre menunggu di depan ruang IGD. Ia duduk di kursi yang ada di sana.
Gara-gara dia istrinya bisa jatuh dari tangga. Andai saja dia tidak berebut koper dengan istrinya. Pasti sekarang istrinya baik-baik saja.
Menit demi menit pun berlalu. Tanpa terasa sudah setengah jam istrinya berada di dalam sana. Tapi belum ada tanda-tanda pintu ruangan itu akan terbuka.
Andre bangkit dari duduknya saat melihat dokter keluar dari ruangan IGD. Ia segera menghampiri dokter.
" Bagaimana keadaan istri saya Dok?"
" Karena benturan yang sangat keras di kepalanya mengakibatkan pembuluh darah di otak pecah. Jadi kami harus segera melakukan tindakan operasi tuan"
" O-operasi"
" Iya tuan. Karena kalau tidak segera dioperasi istri anda mungkin tidak akan bisa diselamatkan"
" Lakukan Dok. Selamat istri saya"
" Baik kami akan melakukan operasinya. Tapi sebelum itu tolong tuan urus administrasinya terlebih dahulu"
" Baik Dok"
Andre segera menuju ruang administrasi untuk mengurus biaya operasi sang istri. Setelah mengurus semua administrasi, barulah istrinya bisa menjalankan operasi. Ia berharap dokter bisa menyelamatkan istrinya.
...***...
__ADS_1
Wilson kaget melihat foto pernikahan dengan mantan istrinya terjatuh. Ya dia pergi ke kamar khusus untuk menyimpan semua kenangannya dengan mantan istrinya. Tapi saat ingin keluar dari kamar tiba-tiba foto pernikahannya terjatuh.
Ia memungut satu persatu pecahan kaca yang berserakan di lantai. Dengan sangat hati-hati ia memasukkan serpihan kaca itu kedalam tong sampah.
" Aneh, tidak ada angin kenapa foto ini bisa jatuh"
Selesai memungut serpihan kaca itu, Wilson mengambil foto pernikahannya. Ia pandangi wajah istrinya yang terlihat cantik dengan memakai gaun pengantin. Di sana terlihat Senyuman istrinya sangat tulus. Bukan senyuman yang dibuat-buat.
Andai saja mereka dua orang yang saling mencintai, mungkin sekarang ini dia akan menjadi orang yang paling bahagia. Dan Aluna tidak akan menjadi korban dari kebencian mamanya.
" Apakah kamu tidak pernah mencintai ku walau sedikit saja?" tanya Wilson ke foto mantan istrinya.
Ia tersenyum pahit. Walaupun dia hanya berbicara dengan foto. Tapi seakan-akan foto itu bisa menjawab pertanyaannya.
" Ternyata kamu memang tidak pernah mencintai aku. Walaupun kita pernah menghabiskan waktu bersama begitu lama. Tapi tetap saja aku tidak bisa membuat kamu cinta padaku. Cinta kamu hanya untuk dia"
Wilson memasukkan foto pernikahannya kedalam kotak dan menyimpannya kedalam lemari yang ada di kamar itu. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan kamar itu.
" Papa habis darimana?" tanya Leo saat berpapasan dengan papanya.
" Habis dari gudang. Kamu kenapa malam-malam ke dapur"
" Mau ngambil air minum Pa "
" Apa papa Ramdan bisa tidur dengan nyenyak?"
" Bisa Pa. Makasih ya Pa"
" Makasih untuk apa?"
" Karena papa udah bolehin papa Ramdan nginap disini"
Wilson mengusap kepala putranya itu. " Tentu saja papa membolehkan dia tidur di sini. Karena dia itu papa kandung kamu. Jadi papa tidak akan membiarkan orang tua dari putra papa pulang sendirian di tengah malam"
Leo memeluk papa sambungnya itu. Papanya itu selalu mementingkan kebahagiaannya. Walaupun dia bukan anak kandung. Tapi kasih sayang sang papa layaknya seorang papa kandung.
" Kalau Leo sudah tinggal sama papa kandungnya, jangan lupakan papa sama Kak Aluna, ya"
" Leo tidak akan pernah melupakan papa dan juga kakak Aluna"
Wilson tersenyum mendengar ucapan putranya. Bagaimana pun Ramdan adalah papa kandung putranya. Pasti dia juga ingin tinggal bersama putranya. Jadi dia tidak bisa menahan putranya agar tetap tinggal bersamanya. Semua keputusan ia serahkan pada putranya itu.
" Sudah malam, cepat kembali ke kamar kamu"
" Baik Pa. Papa juga harus segera istirahat. Ingat kesehatan papa"
Ayah dan anak itu pun kembali ke kamar mereka masing-masing.
To be continue.
__ADS_1
Happy reading 😚😚