
"Raa aku tahu kamu di dalam, tolong buka pintu nya aku mohon, ucap putra yang terus datang mencoba menemui sera yang tengah mengucilkan diri.
"Sera baru saja pergi membawa sebuh koper, ucap seorang tetangga disebelah kamar sera. Pria ini bergegas menulusuri jalan berharap masih bisa bertemu dengan sera yang mungkin saja akan melarikan diri. Berulang kali putra datang dan berharap bisa bertemu sera namun sera terus saja menghindari putra dan tak menghiraukan putra yang berusaha menemui nya.
"Seraa, ucap putra yang berusaha menyapa sera yang tengah duduk di sebuah halte tak jauh dari area rumah nya.
"Kenapa kamu disini put? tanya sera yang terkejut saat melihat putra datang dengan nafas yang tak beraturan.
"Kemana kamu akan pergi? kenapa kamu mengabaikan telpon dari ku? tanya putra yang ingin mendengarkan penjelasan dari sera.
"Aku akan pulang mengunjungi keluarga ku, aku gak harus melaporkan kegiatan ku kepada mu kan? guman ku dengan sedikit cuek.
"Jangan bohong kamu akan pergi kemana sera, aku berkali-kali datang tapi kamu selalu mengabaikan ku. Ucap putra yang terlihat marah.
"Terkahir kali aku sudah bilang bukan untuk membiarkan aku sendirian, tapi kenapa kamu terus datang? ucap ku ketus.
"Kamu gak harus menghiraukan gadis seperti ku put, aku baik-baik saja. Kamu harus terus hidup dengan baik. Guman ku sambil sedikit tersenyum. Pria ini tak menghiraukan sera dan memilih menemanin gadis itu duduk selama beberapa saat.
"Kalo kau tidak percaya pada ku kalau begitu ikut lah dengan ku. Ucap ku karna tak tahan melihat putra yang begitu memperhatikan ku.
"Boleh kah? apa aku tidak akan mengganggu mu? guman putra yang tiba-tiba kehilangan kepercayaan dirinya. Dia pria kedua yang ku bawa menemui kedua orang tua ku yang tinggal terpisah dari ku. Perjalan kami memakan waktu kurang lebih empat jam perjalanan menggunakan mobil milik putra. Hujan yang begitu deras menemani perjalan kami.
"Kamu berencanan untuk memberi tahu ibu mu tentang kehamilan ini? tanya putra yang membuyarkan lamunan ku.
"Tidak, aku akan tetap menyembunyikan ini apa-pun yang terjadi, ucap ku dengan suara parau.
"Kamu terlihat sangat pucat raa, berat badan mu juga seperti nya menyusut. Ucap putra yang memang benar ada nya. Semenjak kehamilan ini porsi makan ku malah berkurang dari biasanya, bahkan aku tidak bisa menyentuh makanan manis kesukaan ku. Aku hanya bisa memakan sepotong buah dan beberapa gelas susu yang ku paksa masuk. Kehamilan ini membuat ku begitu lemah dan lebih sering mengalami mimisan. Porsi tidur ku pun berantakan sepanjang malam aku terjaga dan pagi nya aku baru bisa memejam kan mata itu pun kalau tak terbangun oleh rasa mual yang sangat mengganggu.
__ADS_1
"Kamu sudah meminum obat kemarin? ingat bayi mu sangat butuh asupan itu. Ucap putra dengan penuh perhatian.
"Aku sudah bilang kan aku belum memutuskan akan kehamilan ini jadi tolong jangan membuat ku semakin takut. Guman ku karna tak ingin memikirkan hal lain selain bertemu dengan ibu ku.
"Pakai jaket ini raa, baju mu terlalu tipis raa untuk ukuran orang yang sedang hamil. Ucap putra yang malah mengalihkan pembicaraan.
"Sebelum sampai rumah mampir membeli sesuatu dulu ada yang aku ingin kan put, ucap ku sambil memikirkan berbagai buah yang sangat ingin ku makan. Pria ini hanya tersenyum dan menuruti semua kemauan ku tanpa banyak bertanya. Bukan kah sangat menyenangkan kalo saja bagas yang memenuhi semua kemauan ku tapi aku bahkan takut membicarakan kehamilan ini pada nya. Lebih dari sepekan semenjak kejadian itu kami tidak saling bertemu bahkan bertukar kabar. Sesekali aku mendengar kabar bagas datang ke kampus untuk menjemput helena ditengah kabar perpisahan kami yang sudah menyeruak karna ulah helena yang menyebarkan nya.
Rasa iri tentu saja menyelimuti ku, aku sangat ingin di perhatikan di saat-saat seperti ini. Tapi keadaan membuat ku harus merasakan semua seorang diri. Rasa nya aku ingin meronta sekuat-kuat nya menyuarakan perasaan ku yang hancur saat bagas meninggalkan ku begitu saja, aku kehilangan seorang yang sangat mencintai ku, aku memberikan nya luka yang dalam. Tatapan mata bagas yang paling tak bisa aku lupakan sampai saat ini ditambah dengan setiap kata yang di lontarkan untuk menghina ku walau ku tahu ia mengatakan itu karna keadaan yang memang memaksa.
"Masuk lah dulu put seperti nya orang tua ku masih berada diluar. Rumah sederhana ini lah yang selalu ku rindukan.
"Aku akan menginap di hotel dekat sini saja ra, aku tidak ingin mengganggu waktu tenang mu. Ucap putra yang sungkan untuk masuk kedalam rumah ini.
"Aku lebih merasa tenang kalau kamu berada disini cuma kamu yang tahu keadaan ku. Ucap ku membujuk putra agar tetap berada dirumah ini.
"Siapa ini? seperti nya bukan bagas. Ucap ibu ku yang terbiasa dengan kehadiran bagas.
"Dia putra bu dia menemani ku kemari, duduk lah bu pasti sangat lelah. Ucap ku yang ingin bermanja-manja dengan kedua orang tua ku ini. Ayah ku memang tak banyak merespon pembicaran kami tapi aku tahu beliau pasti sangat senang melihat ku pulang kerumah ini.
"Putraa kemari lah duduk lah sini kenapa kamu hanya berdiri, ucap ku sambil menarik putra yang sedari tadi hanya berdiri mematung. Ku habiskan beberapa saat berbincang dengan ibu ku, mengeluarkan semua kerinduan yang tak dapat tersampaikan.
"Kamu bersama sera sekarang? tanya ayah ku secara tiba-tiba kepada putra.
"Saya sangat menyukai sera lebih dari apa-pun, ucap putra dengan tegas menjawab ayah ku tanpa ragu sedit pun.
"Sera memang keras kepala tapi dia anak yang baik dan juga mandiri, mungkin hanya butuh waktu bagi dia. Ucap ayah ku yang duduk menemani putra.
__ADS_1
"Saya akan terus berusaha menjaga sera, ucap putra yang berusaha meyakinkan orang tua ku.
"Bantu lah sera disaat dia kesusahan nak karna saya jauh dan dia bukan tipe anak yang ingin menyusahkan orang lain tapi dia pasti juga butuh bantuan, ucap ayah ku.
"Saya akan melakukakan apa-pun untuk sera pak, saya berjanji. Ucap putra dengan bersungguh-sungguh.
"Kenapa kamu mahal duduk disini sera? tanya putra yang melihat ku duduk ditaman samping sendirian.
"Aku hanya menikmati waktu ku saja, ucap ku datar.
"Pakai lah ini kamu bisa sakit dengan kondisi sekarang, ucap putra memberikan ku sebuah selimut.
"Kamu sudah mendapatkan hasil dari rumah sakit? ucap ku yang bertanya dengan ragu-ragu.
"Ra aku tau ini bukan waktu yang tepat tapi aku mohon biarkan aku menemani mu sampai kamu memutuskan keadaan ini, aku gak bisa hidup gelisah memikirkan mu terus menerus raa, ucap putra sambil menggenggam tangan ku.
"Ini bukan salah mu jadi kamu gak harus menanggung nya putra, aku gak mau merusak hidup mu masa depan mu sangat berharga dibanding aku, ucap ku.
"Beri aku waktu dan kesempatan aku akan buktikan aku layak bersama mu raa, ucap putra dengan bersunggung-sungguh.
"Kenapa kamu yang harus terseret bersama ku, ucap ku menangis dalam pelukan putra.
"Aku sangat takut gimana aku bisa mempertahan kan bayi ini? bagaimana aku menjelaskan saat ada yang bertanya tentang ayah nya, aku sangat takut put. Guman ku yang semakin terisak menjeritkan isi perasaan ku yang sangat kacau ini.
"Bayi ini adalah milik ku raa, kamu gak usah takut akan hal lain. Ucap putra berusaha menyakinkan ku akan keputusan nya untuk membuat ku menjadi miliknya.
Bersambung........
__ADS_1