Strong Women

Strong Women
Part 142


__ADS_3

Setelah beberapa pekan aku mulai menerima kenyataan bahwa ada nyawa yang harus aku pikirkan, putra menjadi lebih akrab dengan kami karna terlihat lebih sering bersama ku ditambah andrew yang belakangan ini terus datang mengganggu waktu kerja ku. Sikap andrew yang gampang berubah-ubah membuat ku sedikit menarik diri karena tak ingin terus terlibat dengan sikap yang tak menentu. Aku hanya melewati hari demi hari dengan pengharapan bahwa esok akan lebih baik dari hari ini. Putra yang mengajarkan ku untuk lebih dewasa lagi menghadapi masalah ini. Aku mulai bekerja kembali di caffe dengan jam-jam tertentu yang sudah ku sepakati dengan putra agar tidak mengganggu kondisi kehamilan ku. Andrew pun tak mau kalah dia terus datang kepada ku tanpa menghiraukan ketidak sukaan ku karna ia terus saja mengganggu.


Panggilan kepada sera permana jurusan ekonomi tahun ajaran xxx untuk datang segera keruang administrasi.... Beberapa kali panggilan itu terdengar menyebutkan beberapa nama murid yang juga ikut dipanggil.


"Masalah beasiswa ya raa? udah waktu mengajukan ulang? tanya nisa yang tak begitu tahu urusan beasiswa karna walaupun dia pintar ia tak pernah mau mengajukan beasiswa karna keluarga nya yang cukup mampu untuk membiayayi dirinya.


"Bantu aku menyalin ini saa, aku pergi dulu. Ucap ku bergegas menuju ruangan tempat kami akan berkumpul. Benar saja ini masalah kebeasiswaan yang sudah jatuh masa untuk pembaharuan kebanyakan siswa yang datang senasib dengan ku hanya mengharapakan beasiswa ini untuk tetap dapat bersekolah di kampus bergensi ini. Kami berlomba-lomba mendapatkan nilai yang tinggi demi mendapatkan sejumlah uang untuk bertahan hidup.


"Untuk sera permana silahkan tunggu diruang rektor, ucap petugas.


"Kenapa saya saja yang lain tidak? tanya ku.


"Ada yang harus di tanda tanggani langsung dengan rektor jadi silahkan tunggu di dalam. Langkah kaki ku menjadi berat memasuki ruangan yang tak sembarang orang bisa keluar masuk begitu saja, tentu saja ditambah lagi bahwa rektor yang dimaksut adalah orang tua dari putra yang memang pemilik kampus tempat dimana sekarang aku belajar.


"Duduk lah dan tolong lihat ini, kamu bisa memilih salah satu nya. Ucap sang kepala rektor itu memberikan ku beberapa map yang berisi pilihan universitas yang berada di luar. Tentu saja aku tidak begitu mengerti dengan penjelasan singkat yang beliau berikan. Mata ku hanya memperhatikan sekeliling sambil melihat pria paruh baya ini masih sibuk berkutat pada beberapa berkas yang berserakan dimeja nya, wajah nya sama tampan nya dengan putra mereka hampir tidak bisa dibedakan kalau saja sang rektor ini tidak menunjukan rambut putih nya.


"Sudah ada yang kau pilih nak, ucap sang rektor yang mendekat dan duduk bersama ku.


"Tapi ini apa ya pak? saya belum mengerti, ucap ku penasaran.


"Ini semua universitas yang akan menampung mu dengan beasiswa. Ucap sang rektor sambil memilihkan beberapa universitas rekomendasi khusus dari nya.


"Putra belum memberitahu mu? kamu mendapatkan beasiswa khusus untuk belajar di luar negri. Ucap rektor memberikan ku sebuah map besar yang berisi berbagai informasi beasiswa khusus ini.


"Kalau boleh bapak membantu memilihkan, bapak akan senang kalau kau masuk di antara dua universitas ini. Bukan pilihan main-main beliu memilihkan ku universitas yang berada dibelanda dan australia.


"Kamu jangan binggung masih ada waktu sebulan sebelum tanggal keberangkatan bagi siswa penerima beasiswa untuk memulai di musim yang baru disana nak, ucap pria itu memberikan ku beberapa penjelasan singkat tentang semua hal yang mendadak ini. Bukan kah ini kesempatan besar dalam hidup ku tapi semua terlalu cepat membuat ku binggung harus bertindak seperti apa.

__ADS_1


"Karna masalah ini sudah selesai bapak akan memberikan mu waktu untuk menentukan pilihan yang sudah pasti sulit karna ini untuk masa depan kalian kan. Ucap rektor ini dengan senyuman yang terlihat berwibawa. Senyum nya terus tersungging kepada ku membuat ku menjadi kaku dan sulit untuk berucap, aku sangat takut saat menatap mata berbinar itu.


"Sekarang bapak akan berbicara sebagai seorang orang tua mewakili anak ku yang sangat menyusahkan nak, ucap pria paruh baya itu yang tiba-tiba menjadi lebih serius dari sebelum nya.


"Bapak sudah dengar semua kejadian yang menimpa kalian dan putra juga sudah menjelaskan segala nya pada bapak. Guman pria tua ini dengan suara yang begitu tegas. Nafas ku menjadi berat saat perlahan mendengar suara pria paruh baya ini menjadi lebih tegas dan penuh penekanan.


"Sebenatar pak biarkan saya menjelaskan nya dulu, ini semua bukan salah putra. Ucapanku yang langsung diputus dengan bantahan oleh pria berwibawa ini.


"Bapak sudah tau semua terlepas dari ini atas keinginan kalian berdua atau karna kecelakaan atau karna apa pun itu. Bayi itu sudah hadir di antara kalian dan itu bukan suatu kesalahan nya dan dia berkah tersendiri bagi kalian berdua nak. Guman pria paruh baya itu membuat ku terkejut karna ia mengetahui kehamilan ku. Mata ku berkedut menahan tangisan yang tak bisa lagi kutahan, suara pria itu begitu lembut dan tutur kata yang bijak membuat ku bahkan tak bisa menolak setiap kata yang keluar dari bibirnya.


"Putra meminta bapak dan ibu untuk merestui kalian, awal nya saya gak bisa menerima semua ini tapi melihat dia berlutut meminta restu kepada kami membuat bapak luluh ia jujur dan mau bersikap bertanggung jawab atas perbuatan nya. Dan bagaimana aku akan tega membiarkan putra menjadi kambing hitam atas kesalahan ku sendiri, mendengar dia begitu tulus mengorbakan diri nya sendiri dan menghancurkan kepercayaan orang tua nya semakin membuat ku mengutuk diri ku sendiri atas kesengsaraan ini.


"Jadi kapan pun kamu mau nak bapak bersedia datang kerumah mu dan segera melamar mu nak, ucap pria paruh baya ini sambil menggenggam tangan ku yang gemetar.


"Pak biar kan saya dan putra yang menyelesaikan sendiri masalah ini, saya sangat berterimakasih dan sangat bersyukur bapak mau memperhatikan saya tapi saya mohon biar kan kami yang memutuskan sendiri pak, ucap ku sambil memohon maaf atas kesalahan ku yang membuat masalah pada keluarga nya.


"Tolong jangan seperti itu nak, bapak tau mungkin kamu tersinggung karna awal nya bapak tidak bisa menerima kelakuan kalian tapi bapak sadar bertanggung jawab lebih penting ketimbang rasa malu ini, kalian akan memberikan bapak cucu dan penerus keluarga jadi bapak mohon jangan berlutut seperti ini. Ucap pria paruh baya ini dengan lembut.


"Bapak mengerti kamu pasti butuh waktu nak jadi ambil lah waktu sebaik mungkin dan tolong jaga cucu bapak itu dengan baik, ucap pria paruh baya itu memusut rambut ku dengan lembut. Baru pertama kali kami bertemu tapi sikap nya begitu baik kepada ku, bisa saja ia mendorong ku untuk menjauh dari putra tapi kenyataan nya ia merangkul ku dengan sangat hangat.


"Kenapa ayah memaksa ku datang, ucap putra yang terlihat mengomel saat baru saja datang.


"Seraaaa, ucap putra yang terkejut saat melihat ku menangis di hadapan ayah nya.


"Sudah ku bilang biar putra sendiri yang akan bicara dengan sera, ayah kenapa mengambil kesempatan. Ucap putra yang malah berdebat dengan ayah nya.


"Ayah juga punya hak dong untuk cucu ayah itu jadi ayah bertindak dengan cepat, ucap pria paruh baya itu tersenyum menanggapi sang anak. Tangan putra menggenggam erat tangan ku, ia pasti merasakan dingin tangan ku karna rasa takut yang tiba-tiba menyerang ku saat ini karna setiap ucapan ayah nya membuat ku semakin merasa bersalah dan menjadi orang yang tidak berguna.

__ADS_1


"Kenapa kamu menjadi kan ku bahan gunjingan, aku sangat benci pada mu. Ucap ku yang sangat marah kepada putra.


"Siapa yang berkata seperti itu seraa, aku sudah bilang aku akan menjadi ayah dari anak itu jadi terima kenyataan nya. Ucap putra berteriak pada ku.


"Apa kamu bisa mencium ku? apa kamu bisa tidur dengan ku setelah kamu tahu ada bayi orang lain di tubuh ku? jangan gila putra. Ucap ku yang kembali melawan putra dengan emosi.


"Bisa, aku akan melakukan nya sekarang kalo memang kamu mau, guman putra mendekat kan wajah nya pada wajah ku.


"Kamu akan menyia-nyia kan sisa hidup mu kalau kau memilih bersama ku. Ucap ku berusaha menyadarkan putra.


"Aku gak bisa membiarkan kamu seorang diri raa, aku sangat mencintai mu. Ucap putra berbisik kepada ku.


"Jangan bodoh putraa, hidup ku sudah hancur aku gak akan mampu menanggung dosa lagi kalau harus menyeret mu dalam kesusahan ku. Ucap ku menangis dalam pelukan pria ini. Tak bisa ku bayang kan ia merelakan masa depan nya hanya untuk menolong gadis bodoh seperti ku, bahkan ia dengan suka rela mengakui bayi ini adalah milik nya di depan kedua orang tua nya tanpa ragu.


"Jangan terus menangis itu gak baik untuk kandungan mu seraa, tenang lah kita akan membicarakan ini setelah kamu tenang. Ucap putra yang membopong tubuh ku yang sudah lemas karna terus menangis.


"Semua ini karna bayi ini, kenapa dia harus ikut dengan ku kenapa aku yang harus menanggung semua ini sendirian. Ucap ku sambil memukul-mukul perut ku dengan cukup kencang.


"Seraaa, teriak putra menghantikan ku.


"Aku gak perduli putra aku akan bunuh diri kalau aku gak bisa menggugurkan nya, aku gak sanggup menanggung ini semua. Ucap ku kembali memukul-mukul perut ku sambil meronta.


"Dia bisa kesakitan raa, kamu jangan seperti ini dia juga berhak hidup. Ucap putra menggenggam erat kedua tangan ku agar aku tak melukai diri ku sendiri lagi. Putra memeluk ku dengan erat dan penuh kehangatan, berkali-kali ia mencoba menenangkan ku tapi aku masih terus melawan.


"Jangan gila raa, mungkin ini jalan satu-satu nya buat loe raa, ucap vina yang ikut mencoba menenangkan ku. Takdir ini begitu kejam hanya kepada ku. Aku harus merasakan malu dan rasa sakit ini bersamaan, batin ku meronta menginginkan bagas untuk tahu akan bayi ini tapi disisi lain aku tidak ingin bersatu hanya karna bayi ini. Aku sangat yakin kejadian malam itu bersama putra membuat bagas kehilangan kepercayaan pada ku karna aku telah menghianati dirinya.


*Bersambung......

__ADS_1


Happy reading sayang, semoga kalian semua selalu bersama author yang masih banyak kekurangan nya ini*.


__ADS_2