
Tania terbangun antara sadar dan tidak, didepannya duduk seorang laki-laki berpostur tegap dengan sorot mata yang sangat indah sedang memadangnya. Bibir Tania gemetar sambil memegang wajah laki-laki itu air matanya mengalir dengan sendirinya.
"Mimpi ini terlalu indah Tuhan.., Tolong jangan bangunkan aku." Kata Tania masih meraba wajah pria itu.
Tania mengecup bibir pria itu, dan memeluknya dengan erat, isak tangisnya kembali terdengar.
"Hiks..,hiks..,hiks.,, Calvin aku rindu, aku berharap ini nyata. Jika suatu saat didunia nyata kita bertemu aku pasti akan memukulmu karena telah memilih dia dibandingkan aku. Kamu itu laki-laki paling egois dan jahat tapi mengapa hatiku memilihmu. Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan karena telah dizinkan untuk memelukmu walaupun hanya dalam mimpi." Kata Tania masih dengan tangisan kerinduannya.
"Aku mencintaimu Tania. Ternyata kamu masih secantik dulu bahkan lebih terlihat lebih cantik dan dewasa." Bisik pria itu ditelinganya.
Tania berhenti menagis dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Calvin..? Ini bukan mimpi.? tidak mungkin.. aku tidak percaya." Tania langsung berdiri dari sofa dan hendak pergi tapi tangannya ditarik oleh Calvin dan dia terduduk dipangkuan Calvin.
"Lepaskan aku..! aku membencimu sampai kapanpun..!" Kata Tania sambil merontah tapi tubuhnya tidak bisa bergerak karena pelukkan erat dari Calvin.
"Jangan pura-pura membenciku, aku tahu kamu sangat merindukan aku. Tapi jika kamu tidak menyukaiku berada disini lebih baik aku pergi saja...!"
"Tidak...! aku tidak ingin kamu pergi lagi Calvin., aku merindukanmu. hiks, hiks, hiks." Tania kembali menangis dalam pelukan Calvin dan membuang jauh gengsinya.
Calvin menjatuhkan tubuh Tania disofa panjang miliknya, dan dia mulai mengecup bibir Tania dengan lembut. Tania ikut terhanyut dalam permainan lembut yang diciptakan Calvin hingga tangannya meremas erat baju Calvin, dia tidak mampu manahan gejolak cinta yang sudah lama tidak bertemu.
"Haaahh kamu mau membuatku mati...?" Tania melepas paksa ciumannya dan mulai mengatur nafasnya dengan pelan. Jika dia menuruti hawa nafsu Calvin, yakin saja Calvin akan bertindak lebih jauh lagi dan bukan hanya sekedar bercumbu.
__ADS_1
"Maafkan aku Tania, aku kelepasan. Tan, bukan lebih baiknya kita menikah saja.? Aku takut akan bertindak lebih jauh lagi sedangkan kita belum terikat hubungan yang resmi.." Calvin menatap Tania masih dengan matanya yang penuh kerinduan.
"Bukanya kita masih terlalu muda Calvin..? aku tidak ingin kita menikah hanya karena tidak mampu menahan nafsu yang terpendam bukan karena cinta yang sesungguhnya."
"Tan, cinta dan nafsu itu berjalan bersama. Kita tidak bisa membedakan mana cinta yang sesungguhnya dan mana nafsu yang terpendam karena keduanya penting dalam suatu hubungan." Calvin kembali manarik tubuh Tania dalam pelukannya sepertinya cinta dan nafsunya berjalan seiringan seperti kata-katanya.
"Bagaimana dengan Jenifer..?"
"Aku dengannya sudah berakhir sejak kita berpisah.., aku tidak bisa membohonggi perasaanku jika sekarang hatiku hanya ada kamu didalamnya Tan."
"Bukannya itu terdengar jahat Calvin..?"
__ADS_1
"Tenang saja, itu tidak seperti yang kamu pikirkan. aku dan dia berteman baik sama seperti kamu dan Raka. Dia wanita yang cepat move on, baru sebulan aku putus dengannya dia sudah memperkenalkan aku dengan pacar barunya. Dia baik Tan, aku dan dia memang hanya sebatas sahabat walaupun aku sudah mencoba mencintainya tapi ternyata tidak bisa karena hatiku sudah terikat denganmu. Tan, aku ingin menciumu sekali lagi.., boleh..?" Calvin setengah memohon.
"Tidak boleh.." Tania menggelengkan kepalanya tapi Calvin tetap membungkam mulutnya dengan mulutnya hingga mereka pun melepaskan kerinduan dalam waktu yang lama disofa itu.