Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
Suamiku Bosku two, part 65


__ADS_3

Pagi hari matahari sudah bersinar dengan sempurna tapi Calvin masih saja enggan untuk membuka matanya.


"Calvin..?" Teriak Tania dari dalam kamar mandi.


"Iya." Jawab Calvin dengan malas karena masih berada ditempat tidur.


"Lihat ini, cepat..!" Tania masih berteriak panik.


Dengan sedikit terpaksa Calvin bangun dari tempat tidur dan menghampiri Tania dikamar mandi.


"Kamu keluar darah Sayang? Jangan-jangan kamu mau melahirkan?" Tanya Calvin panik sambil memegang tubuh Tania.


"Tapi ini belum waktunya sayang, perutku juga belum terasa sakit."


"Telpon mami?" Ucap Calvin.


"Kita kerumah sakit saja sayang, kalau tunggu mami nanti bisa kelamaan." Ucap Tania ketakutan, tangannya sudah teraba dingin.


"Aku akan menggendongmu sayang." Ucap Calvin.


"Bajumu akan kena darah, aku berjalan saja."


"Ayolah Tania, jangan membuatku bertambah takut."


Calvin menggendong Tania dan langsung bergegas ke rumah sakit. Didalam perjalanan darah semakin banyak keluar membuat Calvin tidak bisa fokus mengemudi. Sampai saat ini mereka belum menghubungi siapapun tentang kondisi Tania. Setelah sampai dirumah sakit, Tania langsung masuk kedalam UGD dan dilakukan pemeriksaan oleh dokter kandungan.

__ADS_1


"Suami nyonya Tania?" Seru seorang bidan memanggilnya.


"Iya." Calvin langsung berdiri.


"Silahkan masuk pak." Ucap bidan tersebut.


Calvin langsung masuk dan bertemu dengan dokter. Dokter tersebut terlihat sedang menjelaskan kepada Calvin tentang kondisi kandungan Tania dan setelah cukup lama Calvin berbicara akhirnya dokter memberikan selembar kertas persetujuan tentang tindakan operasi yang akan dilakukan. Calvin kemudian dengan yakin menandatangani selembar kertas yang diberikan kepadanya.


"Baiklah, silahkan tunggu diluar pak. Kami mengharapkan doa dari pak Calvin untuk kelancaran operasi ini."


"Iya dok, tapi boleh saya bertemu dengan istri saya sebelum operasi dilakukan."


"Iya silahkan." Ucap dokter tersebut.


Calvin langsung menemui Tania didalam ruangannya.


"Aku takut tidak bisa bertemu kamu lagi, aku takut tidak bisa melihat anakmu ini lahir kedunia. Aku........." Sambil menangis.


"Stop sayang, tenangkan dirimu tidak akan terjadi apa-apa dengan kamu. Kita akan bersama kembali dan hidup bahagia dengan anak kita." Jawab Calvin penuh keyakinan sesungguhnya dalam hatinya sama seperti yang Tania rasakan. Dia takut dengan kondisi kandungan Tania yang belum cukup bulan dan dia takut jika terjadi apa-apa dengan Tania.


"Tolong beri nama anak kita 'Laura Alexa'."


"Ayolah sayang jangan berbicara seperti itu, kamu akan baik-baik saja. Aku akan menunggumu disini dan kamu orang pertama yang akan memanggil namanya." Jawab Calvin sambil meneteskan air mata, entah kenapa hatinya begitu gundah saat ini dan ketakutannya semakin bertambah setelah melihat jam tangannya menunjukan tidak lama lagi Tania akan masuk kedalam ruang opesari.


"Maaf pak Calvin, kami akan membawa nyonya Tania masuk ke ruang operasi."

__ADS_1


Jantung Calvin semakin berdetak cepat, tangannya semakin erat menggengam tangan Tania. Dia memeluk Tania dan air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya dan masih berada dipelukan Tania.


Tania mengelus lembut kepalanya.


"Aku akan baik-baik saja tuan muda." Ucap Tania sambil mengelus kepala Calvin.


"Aku rindu dengan panggilan itu." Jawab Calvin tidak ingin melepaskan Tania.


"Pak Calvin, sekarang sudah waktunya nyonya Tania pergi." Seru seorang bidan tersebut.


"Sayang, katakan kamu mencintaiku?" Ucap Tania.


"Aku tidak akan mengatakannya." Jawab Calvin sambil terisak.


"Ayolah tuan muda aku ingin mendengarnya." Ucap Tania.


"Aku akan menunggumu disini. Aku ingin Laura mendengar bahwa aku mencintaimu, mencintai mamanya. Aku akan mengatakannya saat kita bertiga bisa bersama sayang."


"Baiklah, biar aku yang mengatakan. AKU MENCINTAIMU TUAN MUDA CALVIN."


Tania akhirnya keluar dari dalam ruangannya dan masuk kedalam ruang operasi. Calvin masih terpaku ditempatnya dengan perasaan khawatir menghantuinya saat ini.


Tak berapa lama dari kepergian Tania, orang tuanya datang dan terlihat Ardian juga datang bersama orang tuanya. Calvin langsung memeluk mami Clara dengan tangisannya yang semakin keras.


"Berhenti menangis, Tania akan baik-baik saja."

__ADS_1


"Aku tidak bisa mi, aku sangat takut." Jawab Calvin.


"Semua akan baik-baik saja nak." Papi Cakra memegang pundaknya berusaha menenangkan anaknya.


__ADS_2