
10 hari menjelang pernikahan Clara masih menjalani aktivitasnya seperti biasa. Tiap hari dia berangkat ke kantor bersama Hana. Sampai saat ini Cakra belum datang menemuinya. Saat di kantor, Cakra dan Clara tidak pernah bertemu. Hana juga tidak mengetahui kakaknya itu ada dimana karena maminya tidak memberi tahu apapun tentang Cakra.
Malam hari mami Anita dan papi Wibowo mengajak Clara untuk bertemu dengan orang tuanya disebuah restoran. Hana tidak ikut bersama mereka sedangkan Cakra masih belum menemui Clara. Clara merasa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Tangannya teraba dingin. Mami Anita yang duduk bersamanya dikursi belakang memegang erat tangan Clara berusaha menguatkannya.
"Mami bersamamu sayang." Ucapnya menatap Clara dengan penuh kasih sayang.
"Mami, aku sangat beruntung bisa bertemu orang seperti kalian, andai ibuku bisa sepertimu.." Clara terharu dengan perlakuan Mami Anita terhadapnya.
"Sttt..tidak boleh ngomong gitu sayang.. biar bagaimanapun mereka adalah orang tuamu. Kamu harus tetap menghargai mereka. Mami tidak ingin kamu menyayangi mami melebihi kasih sayangmu terhadap orang tuamu."
"Mami.." Clara memeluk mami Anita dengan erat.
Mobil sudah memasuki area restoran dan sopir pribadi papi Wibowo sudah memarkirkan mobil mereka. Papi dan mami sudah keluar dari dalam mobil sedangkan Clara duduk sejenak menarik nafas panjang lalu keluar dari dalam mobil.
"Clara, ayo sayang, bukannya kamu merindukan mereka..?" Mami Anita menarik tangan Clara dan berjalan bersama masuk kedalam Restoran.
__ADS_1
Clara melihat jelas kedua orang tuanya duduk di meja sedang menatapnya berjalan menuju arah mereka duduk. Clara menarik nafas panjang berharap inilah waktunya keluarganya bisa akur kembali.
"Clara.. ? Ibu sangat merindukanmu nak." Ibunya berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Clara. Sedangkan ayahnya seakan tidak peduli dengan kehadirannya.
"Bisa kita mulai, aku sudah bosan menunggu..!" Ucap ayah Clara. Ia terlihat sangat tidak kooperatif dengan pertemuan ini.
"Maaf membuat anda menunggu lama." Tuan Wibowo menjabat tangan ayahnya.
"Iya, silahkan." Ayahnya hanya duduk bersandar dikursi dengan santainya seperti orang yang tidak punya sopan santun.
"Baiklah, bagaimana mungkin aku tidak akan mendampingi putriku saat pernikahannya. Ibu akan datang sayang jadi kamu tidak perlu khawatir dengan hal itu." Ibunya membelai rambut Clara.
"Saya tidak bisa janji akan datang dan sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Ayahnya lalu pergi tanpa pamit ataupun menjabat tangan Nyonya Anita dan Tuan Wibowo.
"Itu yang membuatku tidak bisa bertahan dengannya." Ibunya menatap ayahnya yang telah pergi.
__ADS_1
Nyonya Anita dan Tuan Wibowo hanya bisa terdiam melihat sifat ayahnya yang tidak punya sopan santun.
"Tidak usah terlalu dipikirkan, sekarang mari kita makan." Nyonya Anita berusaha menenangkan ibunya yang sudah terlihat emosi.
Setelah cukup lama mereka bercakap akhirnya orang tua Cakra mengakhiri pertemuan mereka.
"Clara, mami akan menunggumu di mobil, kamu silahkan melepas rindu bersama ibumu." Nyonya Anita dan Tuan Wibowo saling bergandengan tangan keluar dari restoran sedangkan Clara bersama ibunya masih duduk ditempat yang sama.
"Jadi selama ini kamu tinggal bersama mereka? Ibu telah mencarimu kesana kemari tapi tidak bisa menemukanmu."
"Iya bu, bagaimana kabar ibu sekarang?" Clara benar-benar merindukan ibunya saat ini.
"Maafkan ibu sayang, ibu telah menikah lagi. ibu akan memperkenalkan kamu dengan suami ibu." Ibunya merasa sangat bersalah terhadap Clara.
"Aku sangat mendukung keputusan ibu selama itu bisa membuat ibu bahagia. Aku fikir kalau Ayah tidak bisa mendampingiku saat dipelaminan mengapa bukan suami ibu saja yang mendampingiku?"
__ADS_1
"Benarkah kamu menyetujuinya..?" Ibunya terlihat terkejut dengan keputusan Clara. "Ternyata kamu sekarang sudah dewasa sayang, ibu sangat menyayangimu."