Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
Suamiku bosku two, part 38


__ADS_3

Pagi hari, Tania sedang memasak didapur. Tania memang suka memasak makanannya sendiri dibandingkan harus membeli makanan diluar. Baginya memasak itu adalah hal yang unik dimana kita bisa memadukan beberapa bumbu sehingga tercipta suatu masakan yang bisa membuat lidah tak berhenti untuk mencobanya.


Tania mengenakan celemek, rambutnya dia ikat ke atas hingga bisa terlihat lehernya yang putih. Tangannya begitu lihai memegang spatula, kali ini dia memasak nasi goreng.


Tring..tring..tring.. bunyi bel apartemen.


Tania mematikan kompornya dan langsung menuju pintu untuk membuka pintu.


"Tania, boleh kami masuk..?" Ucap seorang wanita paruh baya.


"Ibu..? kakak..? Kalian tahu dari mana aku berada disini..? silahkan masuk." Tania masih memegang spatulanya.


"Tania, kami minta maaf, sebenarnya malam itu ibu sudah tertidur jadi tidak mendengarmu mengetuk pintu." Ucap ibunya terlihat gugup didepan Tania, begitupun dengan kakaknya


dia tidak berani beradu pandang dengan Tania.


"Sudahlah bu, aku sudah melupakan kejadian itu. Ibu dan kakak mau makan? Kebetulan aku sedang memasak nasi goreng kesukaan kalian." Tania terlihat senang melihat kakak dan ibunya datang berkunjung ke apartemennya.


"Tidak perlu Tania, ibu dan kakak sudah kenyang. sebenarnya ibu datang kesini mau.."


"Aku lapar sayang.." Calvin sudah berdiri didepan pintu, Calvin datang tiba-tiba membuat ibunya dan kakaknya menjadi tambah gugup. Bibir mereka terlihat gemetar, mereka pun tidak berani melihat sosok Calvin yang berdiri didepan pintu.


"Sayang..? ya ampun datang kok nggak bilang-bilang." Tania sangat bahagia melihat Calvin dan lebih bahagia melihat keluarganya datang menjenguknya.


"Kalau datang bilang sama kamu itu bukan kejutan sayang." Calvin masuk dan duduk disamping Tania sambil merangkul Tania.

__ADS_1


"Kebetulan sekali sayang, ibu dan kakakku juga datang berkunjung. Bagaimana kalau kita makan bersama..?" Ucap Tania.


"Mereka sudah kenyang sayang, lihat wajah mereka tidak ada tanda kelaparan. Benarkan kalian sudah kenyang..?" Ucap Calvin halus tapi tatapannya memperlihatkan ancaman.


"Iya Tan, aku dan ibu sudah kenyang, kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan makan untuk kami." Kakaknya terlihat sangat ketakutan melihat Calvin.


"Oh iya deh, padahal aku masak agak banyak cukuplah untuk kita berempat makan."


"Tania, ibu dan kakakmu mau pamit pulang., lain kali ibu akan mengunjungimu lagi." Ibunya hendak berdiri.


"Eh bu tunggu, Tania hampir lupa, ibu mau ngomong apa tadi..? soalnya terputus saat Calvin datang."


"Eh anu Tan, lain kali saja yah. Soalnya ibu sangat buru-buru."


"Bicaralah anggap saja aku tidak berada disini..!" Kata Calvin tegas.


"Aku bilang bicara, yah bicara...! apa kalian tidak mendengarkan aku..? atau kalian mau semua fasilitas itu aku ambil kembali hingga kalian jadi gembel dijalanan." Nada suara Calvin terdengar begitu keras hingga Tania yang berada disampingnya ikut takut.


"Lihat, karena kalian Tania jadi takut, Aku tidak marah sayang. Tenggorokanku sekarang lagi sakit jadi bicara harus keras agar mereka mendengarnya." Calvin melihat Tania begitu pucat lalu dia memengang tangan Tania yang sudah teraba dingin karena takut melihatnya marah.


Tania tidak menjawab, dia hanya diam, begitupun dengan kakak dan ibunya. Akhirnya Calvin langsung fokus ke Tania.


"Pergilah....! kali ini Tania menyelamatkan kalian untuk kesekian kalinya." Bentak Calvin kepada ibu dan kakaknya.


Mereka pun pergi meninggalkan apartemen Tania dengan perasaan takut.

__ADS_1


Calvin berjongkok didepan Tania, dia melihat Tania masih sepucat tadi.


"Tan, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku hanya ingin melindungimu dari mereka, aku tidak ingin mereka mengganggu hidupmu lagi karena tidak ingin air matamu yang berharga itu harus keluar lagi karena mereka." Calvin memegang tangan Tania.


"Maafkan ibu dan kakakku sayang, aku mohon aku mewakili mereka. Aku mohon jangan mengambil apapun dari mereka aku rela menebus kesalahan mereka. Walaupun mereka seperti itu tapi aku sangat menyayangi mereka. Aku berharap suatu saat mereka bisa menyadari kesalahan mereka kepadaku., aku tahu aku bodoh tapi tanpa mereka aku tidak bisa duduk bersamamu disini." Mata Tania kembali berkaca-kaca.


Calvin langsung memeluk Tania.


"Tania, kamu memang malaikat. Aku tidak pernah menyesal bertemu dengan wanita sebaik kamu. Mengapa kamu begitu pemaaf padahal mereka telah menyakitimu. Aku sungguh beruntung memilikimu Tania, aku mencintaimu." Calvin mengecup kening Tania dengan cukup lama.


"Tapi kamu harus janji untuk tidak menganggu mereka sayang." Ucap Tania.


"Akan aku lakukan yang kau pinta Tania sayang, aku akan membuang semua egoku dan menuruti semua perintahmu. Kamu tuan putriku sekarang."


"Terima kasih tuan muda." Taniapun kembali tersenyum.


"Boleh kita makan, aku benar-benar lapar." Calvin memegang perutnya.


"Aku juga sayang." Ucap Tania.


***


Dimeja makan Tania mengatur makanan dimeja dan tak lupa dia menuangkan air digelas untuk Calvin. Calvin sudah mencicipi masakan Tania yang sudah hampir dingin.


"Sayang masakanmu sungguh lezat, aku tidak bohong. Rupanya kamu bukan hanya cantik, tapi juga pandai masak. Mudah mudahan saja setelah menikah kamu juga pandai diranjang." Calvin sedikit tertawa.

__ADS_1


"Haaahh, aku hampir tersedak mendengar perkataanmu. Otakmu masih seliar dulu." Kata Tania melototi Calvin.


"Bercanda sayang, I love You deh untukmu Tania." Calvin dan Tania pun ikut tertawa bersama.


__ADS_2